Aku, Humor, Takdir: Representasi ’65-66 Dalam Komik Indonesia

Aku, Humor, Takdir: Representasi ’65-66 Dalam Komik Indonesia

Oleh -
1 265
Komik-tema-G30S

Saya kebetulan mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara pada seminar “The Boxer & Sejarah dalam Komik”, yang menjadi rangkaian acara ‘Comiconnexions Comics Week! Yogyakarta’ yang diselenggarakan Goethe Institut berkerjasama dengan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Seminarnya sendiri diadakan di IVAA, pada 27 September 2014.

Untuk keperluan seminar itu saya menulis ihwal komik-komik Indonesia yang mengangkat tema seputar G30S serta pembantaian terhadap orang-orang komunis maupun mereka yang dituduh berafiliasi dengannya, yang terjadi pada periode 1965-1966. Esei berjudul ‘Aku, Humor, Takdir: Representasi ’65-66 Dalam Komik Indonesia‘ bisa Anda baca melalui tautan di bawah ini.

Dalam kondisi di mana tidak banyak karya komik yang mengangkat tema G30S maupun akibat yang muncul setelahnya (pembantaian dan penangkapan orang komunis maupun mereka yang dituduh demikian, di sepanjang 1965-1966), perkaranya kemudian bukan cuma soal bagaimana sejarah direpresentasikan lewat medium yang memiliki kekhasan bentuk seperti komik (lewat ruang serta temporalitasnya yang khusus), tetapi juga menyentuh soal etika.Dengan mengangkat soal etika, saya tidak hendak mengarahkan tujuan esei ini ke wilayah di mana ia berperan sebagai penjaga moral, namun dari sana kita bisa melakukan ziarah dengan memfokuskan diri pada soal sejauh mana sejumlah pertimbangan kultural digunakan untuk merepresentasikan tragedi 1965-1966 secara sekuensial.

Aku, Humor, Dan Takdir by AkademiSekuensial