9 Ciri Negatif Manusia Indonesia: Imajinasi Kelas dan Bangsa dalam Komik

9 Ciri Negatif Manusia Indonesia: Imajinasi Kelas dan Bangsa dalam Komik

Oleh -
0 374
kaver 9 ciri negatif Manusia Indonesia

Oleh: Mohammad Hadid

Memoir yang ditulis Sir Thomas Stamford Raffles yang diterbitkan pada tahun 1835 menyebut bahwa ciri orang Melayu yang paling melekat adalah mereka tidak cukup beruntung merasakan perkembangan intelektual yang tinggi, dan bahwa menurutnya “[k]arakter bangsa Melayu yang relatif primitif dan tak beradab” tidak mungkin dari sumber-sumber khasanah literatur resmi, melainkan cukup membuka mata dan telinga terhadap “[…] gagasan sederhana; yang diutarakan secara sederhana, [yang] bahkan dapat menggambarkan karakter [Melayu] lebih baik daripada laporan keilmuan atau karangan yang halus”.

Pokok penting dari pendapat Raffles tersebut ada pada gagasan sederhana tentang penilaian atas bangsa Melayu yang diutarakan tidak secara resmi. Apakah kita bisa memahaminya? Saya sedang berusaha mengaktualisasikan ujaran Rafflers melalui imajinasi atas sosok dua orang yang terlibat dalam obrolan sederhana yang berlangsung di warung kopi; tanpa dibatasi oleh metode-metode penelitian yang ketat, dua orang itu mulai bertukar pikiran tentang karakter bangsa lain, juga karakter Indonesia pada umumnya. Begitulah yang mungkin dimaksud oleh Raffles, dan yang mungkin terjadi ketika obrolan sederhana tentang penilaian atas karakteristik orang Indonesia dimulai. Situasi semacam itu mudah dijumpai di manapun, sekalipun mungkin dalam konteks-situasi yang berbeda. Kesederhanaan yang kurang lebih serupa juga bisa kita lihat pada karya berjudul 9 Ciri Negatif Manusia Indonesia dalam Komik karya Kickers Arsyad dan Kurnia Harta Winata.

Kesederhanaan yang saya maksudkan bisa dilihat pada karya komik itu sendiri, yang memang mengesankan sebagai medium dengan kesederhanaan citra-citra visual, garis-garis yang konservatif yang membuat objek yang kehilangan detail, dan hitam-putih. Tetapi dengan kesederhanaan semacam itupun 9 Ciri Negatif Manusia Indonesiadibebani oleh misi kultural yang serius. Apa yang menarik dari komik ini, dan sekaligus merangsang minat orang untuk menikmatinya adalah misi kultural yang diusungnya.

Ini setidaknya terekam dalam kata pengantar yang ditulis oleh Beng Rahadian, di mana ia menyebut komik 9 Ciri Negatif merupakan percobaan untuk memperkenalkan ciri-ciri manusia Indonesia yang “[mereka] yakin, kita semua sudah mengenalnya”. Karena itulah karya komik ini dipretensikan akan memenuhi trah-nya sebagai media untuk bercermin. Tentu saja sebelum bertanya lebih lanjut tentang apa yang mesti dipantulkan dari sebuah cermin, penikmat komik tersebut sudah tahu dari judul yang mereka baca. Bahwa komik ini akan membantu mereka mencari tahu apa saja ciri negatif manusia Indonesia yang direkam dalam komik. Dengan menikmati ciri negatif yang ada, pembaca diharapkan bisa bercermin melaluinya, “menyadari, memahami, dan lantas mengubah negatifnya”, demikian lanjut Beng; sebuah beban yang terlalu berat untuk sebuah komik sederhana yang masing-masing stripnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari para tokoh komik.

Meskipun begitu, anasir-anasir pernyataan semacam itu menurut saya sangat menarik karena dengan jelas menempatkan kategori manusia Indonesia dalam kerangka negativitas. Apa yang perlu diperjelas kemudian adalah Indonesia dalam kategori macam apa yang dibayangkan oleh komik tersebut. Indonesia sebagai sebuah Negara? Sebagai sebuah bangsa? Tampaknya yang terakhirlah yang paling mendekati maksud dari Indonesia yang dituju oleh 9 Ciri Negatif. Jika demikian halnya, agaknya konsep Indonesia sebagai nasion atau bangsa di mana komunitas politis yang dibangun dan dibayangkan menjadi cocok untuk dipakai mengevaluasi komik ini, di samping faktor-faktor lain seperti konvensi bentuk komik strip itu sendiri di mana relasi intertekstual (situasi di mana karya yang mendahuluinya meninggalkan jejak yang tradisinya diikuti oleh varian strip lainnya yang muncul kemudian – yang oleh Robert C Harvey, disebut sebagai salah satu kriteria kritis untuk mengevaluasi komik) terbentuk antara satu komik strip dengan strip lain dalam sejarah komik Indonesia. Dan juga proses pembayangan Indonesia melalui kategori kelas, yaitu bagaimana sebuah bangsa dipersepsikan melalui kelas tertentu.

***

Seperti apakah ciri negatif yang dipersepsikan oleh Arsyad dan Kurnia lewat komiknya? Jawabannya sudah jelas terpapar melalui sampul belakang 9 Ciri Negatif, diantaranya sombong, munafik, malas, ramah, tidak disiplin, korupsi, emosional, dan individualis. Dengan kata lain, kategori ciri yang dimaksudkan sudah cukup terang dan mudah dipahami, namun yang kemudian menjadi krusial ada di seputar pertanyaan kepada siapa kategori ciri tersebut dilekatkan. Atau atas nama siapa dan apa Indonesia dibayangkan.

Semua ciri yang dibayangkan dalam 9 Ciri Negatif dilekatkan kepada lima karakter utama, yakni pak Win, Wiwit Didit, Polem, dan Menuk. Mereka inilah yang diberi tugas untuk mewakili kategori bangsa; manusia Indonesia yang dipretensikan memiliki lebih banyak ciri negatif dibandingkan positifnya. Menikmati strip-strip pembuka 9 Ciri Negatif berarti juga melihat penampakan satu ciri manusia yang sebenarnya tampak lebih positif daripada yang terlihat, yakni ramah. Maksud saya, keramahan sebagai sikap positif diletakkan dalam kerangka peyoratif. Ini terlihat misalnya pada strip berjudul “Berdasar Kebutuhan”, yang memperlihatkan kepada kita tentang situasi di mana Polem dan pak Win saling menyapa di satu pagi karena ada maunya. Lalu, kesadaran apakah yang ditimbulkannya? Kenapa percakapan dua orang tetangga di sebuah pagi, yang walaupun penuh dengan pamrih, ditekankan sebagai ciri bangsa Indonesia? Jika saya menganggap situasi yang dihadapi oleh pak Win dan Polem tersebut sebagai ciri orang Indonesia, maka interpretasi saya itu bakal keterlaluan betul. Strip tersebut menurut saya lebih tepat untuk dikatakan sebagai sifat karakter yang melekat pada Polem saja.

Pola-pola naratif dengan penyejajaran dua imaji karakter atau lebih dalam 5 sampai 6 panel terus berlanjut ketika orang membaca halaman demi halaman 9 Ciri Negatif. Model panel semacam itu agaknya yang menyebabkan ruang dalam sebuah strip pun tampak menyempit, dari satu panel ke yang lainnya. Mungkin karena itu pula fokus perpindahan tiap-tiap angle pada komik ini ada pada tingkah polah karakter, bukan pada dimensi representasi-non-realis atas objek visual, benda-benda, dansetting di mana karakter yang ada dihidupkan.  Walau begitu anomali bisa terlihat, di mana ruang panel yang sempit itu justru membantu orang untuk mengevaluasi pretensi sekaligus persepsi kultural atas manusia Indonesia. Dengan kata lain, komunitas politik macam apa yang dibayangkan oleh 9 Ciri Negatif bisa dilihat berdasarkan representasi atas konsumsi objek-objek dan benda-benda yang divisualisasikan melalui konvensi non-realis itu.

Apa yang saya maksudkan bisa kita lihat pada keempat tokoh komik yang hidup di lingkungan perumahan yang dikatakan mewah tidak, namun dikatakan perumahan kaum miskin pun tidak memenuhi syarat. Sama halnya dengan para tokoh yang seringkali terlihat berkecukupan dari segi materi. Berkali-kali karakter Polem dan Menuk, misalnya, diperlihatkan sebagai golongan/kelas yang secara ekonomi berkecukupan. Satu contoh komik strip yang berjudul “Kulitnya Saja” agaknya merupakan perwakilan yang pas untuk memperlihatkan soal Polem dan Menuk, pasangan suami istri kaya dengan kepemilikan barang-barang pribadi yang cukup mewah seperti mobil, kulkas, dan AC. Walau gambaran semacam ini tidaklah mutlak, karena toh dalam strip itu juga digambarkan seorang Polem yang bekerja sebagai pedagang kaki lima (“Merampas Fasilitas Umum”) dan kadang-kadang buruh angkut (“Yang Efisien Dong”), namun semua karakter dalam 9 Ciri Negatif tidak pernah sedikitpun digambarkan sebagai kelas yang serba kekurangan secara materi. Baik Didit, pak Win, Polem, Wiwit, dan Menuk hidup dalam suasana yang menyenangkan sekaligus menggemaskan. Di sini simbol-simbol yang dipakai untuk memutlakkan status diri kelima karakter itulah yang membuat pembayangan diri negeri Indonesia, dan juga ciri bangsanya, terkesan simplistis.

Pemakaian simbol-simbol kekayaan dan sempitnya persepsi tentang komunitas politik yang bernama Indonesia, seperti yang diperlihatkan 9 Ciri Negatif,  melalui kesejajaran sintagmatik antara judul dengan isi karya membuat imajinasi atas Indonesia menjadi kering. Indonesia tentu saja bukan hanya sekedar bayangan tentang betapa menyenangkan dan membahagiakannya kehidupan kelas atas. Ada banyak konteks budaya dan kehidupan sehari-hari di Indonesia yang sudah dengan pasti akan memperlihatkan diferensiasi kelas di antara sekian lusin suku bangsa yang hidup di Indonesia. Ini sekaligus berarti bahwa ada simplifikasi yang sebetulnya akan dengan mudah meruntuhkan bangunan ciri negatif manusia Indonesia yang dalam komik ini dipresentasikan melalui semangat esensialis, seolah-olah sudah kekal dari sananya, seolah-olah semangat dan gaya hidup kelas atas Indonesia sudahlah mewakili secara utuh gambaran tentang Indonesia itu sendiri.

Gampangnya, apakah komik ini sudah memperhatikan konteks budaya tertentu, misalnya pedagang pasar tradisional yang sudah bangun di pagi buta untuk menjajakan dagangannya. Atau apakah pernah diperhatikan tentang distributor koran yang sudah berkumpul sejak pagi buta untuk menjajakan dagangannya ke pengecer. Atau seorang mahasiswa rajin yang bahkan sudah lulus hanya dalam waktu tiga tahun. Tiga contoh yang saya sebutkan itu tentu saja akan dengan mudah membantah klaim bahwa manusia Indonesia adalah, misalnya, pemalas. Kemalasan untuk memperluas perspektif komikal semacam ini mungkin membuat judulnya lebih cocok untuk disebut sebagai 9 Ciri Negatif Polem dan Tetangganya.

***

9 Ciri Negatif secara tematis memiliki kemiripan dengan khasanah seriJakarta Luar Dalem dan Jakarta Atas Bawah. Ambilah contoh pada seorang seorang tokoh bernama Polem, misalnya, di mana ia ditekankan sebagai tokoh yang tengil, menyebalkan, semaunya sendiri, bahkan mungkin terkesan penuh kepura-puraaan karena ia tidak betul-betul tulus bersikap ramah. Tokoh Polem, dengan segala sikapnya serta caranya berhadapan dengan banyak situasi dalam keseharian hidupnya, mengingatkan saya kepada tokoh-tokoh Benny dan Mice dalam dua judul karya tentang Jakarta itu.  Walaupun suspensi humor pada 9 Ciri Negatif tidaklah senorak apa yang telah dikerjakan Benny dan Mice lewat judul Jakarta­-nya itu, namun paling tidak kemiripan itu mengemuka  lewat kesamaan tema dari keduanya yang sama-sama memperlihatkan absurditas tema komikal tentang hidup sehari-sehari para tokoh yang dihadirkan lewat masing-masing strip.

Berdasarkan hal-hal inilah saya tidak setuju bila komik 9 Ciri Negatif dibebankan secara kultural sebagai cerminan untuk “menyadari, memahami, dan lantas mengubah [ciri] negatif” orang Indonesia.  Penikmat komik ini tidak bisa menemukan esensi Indonesia beserta keragaman etnis, kelas, dan suku bangsa di sana; yang bisa kita lihat adalah orang yang hidup dengan berbicara bahasa Indonesia. Yang paling mungkin bisa dimaknai dari komik ini adalah orang bisa menganggapnya sebagai bentuk karya yang memperlihatkan tema tentang kenyataan hidup sehari-hari Polem, Menuk, Pak Win, Didit, dan Wiwit sebagai orang-orang dari golongan atas dengan segala tingkah laku konyol.

a 'Yes' man