Abdulsalam

Abdulsalam

Oleh -
0 791
Abdulsalam

Mia Bustam menyebutnya sebagai “pelukis cerita bergambar (cergam)” yang karyanya banyak di seputar tema perjuangan dan cerita-cerita rakyat. Ketimbang menyebutnya sebagai komikus (julukan modern untuk seorang yang berprofesi sebagai penggambar komik), beberapa orang lebih nyaman menyebutnya sebagai seniman yang hidup di tiga zaman: Hindia Belanda, pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Abdulsalam lahir di Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah pada 9 April 1913.

Ia lahir dari keluarga berada yang cukup terpandang. Konon katanya ayahnya tadinya tidak mengarahkannya sebagai seniman atau cergamis, melainkan menginginkannya menjadi pamong praja atau priyayi yang waktu zaman Hindia Belanda menjadi idaman para orang tua. Bersama Agus Djaja, Sudjojono, dan S Tutur, Abdulsalam aktif di Persagi (Persatoean Ahli Gambar Indonesia) yang dibentuk pada 23 Oktober 1938. Sejarah seni rupa Indonesia mencatat Persagi sebagai oposisi langsung dari kelompok pelukis kolonial dan beberapa pelukis pribumi yang mengusung faham mooi indië (sebuah faham yang berkiblat pada aliran lukis naturalisme dan impresionisme).

Mia Bustam menceritakan hal menarik perihal salah satu fragmen kehidupan Abdulsalam di zaman pendudukan Jepang. Ketika itu oleh pemerintahan pendudukan ia disuruh membuat poster propaganda menabung. Ajakan menabung yang digalakkan oleh pemerintah rupanya memiliki misi terselubung, yakni: hasil tabungan akan digunakan untuk membiayai perang mereka. Di poster yang digarapnya, Abdulsalam menciptakan semboyan “Moeda Menaboeng, Toea Beroentoeng”. Sayang Akademi Sekuensial tidak memiliki contoh posternya, namun konon slogan ini, beserta gambar yang sesuai, berhasil membuat Jepang senang pada awalnya. Singkat cerita poster itu kemudian dipasang di mana-mana. Jalan ceritanya kemudian adalah: poster tersebut pada slogannya ditambahi kata “saudara” yang diletakkan di depan kata “moeda” dan “toea”. Jadilah “Saudara Moeda menaboeng, saudara toea beroentoeng”. Jepang marah.

Mungkin ia adalah seorang seniman yang berbakat, sebab tak hanya komik yang diciptakannya, melainkan juga poster dan ilustrasi. Abdulsalam – bersama Surono – juga dikenal sebagai orang-orang yang membidani (mendesain) mata uang RI pertama. Catatan tentang Abdulsalam yang ditulis oleh buku terbitan Bentara Budaya Yogyakarta menyebut bahwa sebagai seorang komikus, ia menciptakan komik Kisah Pendudukan Jogja yang dimuat pada tahun 1952 di harian Kedaulatan Rakyat. Komik ini mungkin awalnya hadir dalam bentuk strip bersambung, yang kemudian dibukukan pada tahun yang sama. Selain Kisah Pendudukan Jogja, Abdulsalam juga menciptakan beberapa judul lain seperti Untung Surapati, Pangeran Diponegoro, Djaka Tingkir, Timun Emas, dan Pandji Asmarabangun. Kami menduga judul-judul tersebut sekarang ini sudah menjadi sangat langka. Ada satu “komik” (ya, dengan tanda kutip) lain yang pernah ia bukukan pada tahun 1963, judulnya Menudju Kemerdekaan jilid 1. Akademi Sekuensial tidak melihat judul yang disebut terakhir ini sebagai komik, melainkan penuh dengan bentuk gambar ilustratif dan disertai teks. Konon Kisah Pendudukan Jogja adalah komik Indonesia pertama yang dibukukan. Di dunia seni rupa, ia lebih dikenal sebagai pionir seni ilustrasi grafis. Abdulsalam meninggal pada tahun 1987 di Yogyakarta.

Referensi:

  • Bustam, Mia. 2013. Sudjojono dan Aku. Jakarta. Institut Studi Arus Informasi
  • Hermanu. 2011. Cerita Bergambar Menuju Kemerdekaan RI karya Abdulsalam. Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta
a 'Yes' man

ARTIKEL SERUPA

astrajingga-saardisoma

0 260
Kho-Wan-Gie

0 117
Excerpt from Happy Ending - Azisa Noor

0 151
Beng Rahadian

0 206
Iblis Mengamuk di Mataram

0 164
Tiga Manula ke Singapura

0 140