Absurditas Methal Pertiwi

Absurditas Methal Pertiwi

Oleh -
0 268
Methal Pertiwi

Oleh: Mohammad Hadid

Dengan karyanya berjudul Methal Pertiwi, Sofyan S dan Aditya S menyajikan imajinasi silat-komikal melalui sudut pandang tokoh utama pendekar bernama Jagorockk yang berwajah serem. Adapun hal pertama yang bisa saya pakai untuk menakar “Methal Pertiwi” adalah nuansa karya itu sendiri memang bermaksud menyajikan citra-citra umum yang biasanya melekat pada tubuh cerita silat: imaji-imaji eksotisme alam dan representasi kehidupan masyarakat tradisional.

Aditya sendiri mengakui lewat Jakarta Globe bahwa humor dalam Methal Pertiwi sebenarnya adalah “soal memindahkan humor dalam hidup keseharian [mereka] ke dalam bentuk komik, sedikit banyak ini berasal dari kisah nyata [mereka]”. Dan rupanya visi yang diemban Aditya melalui karya yang dikerjakannya bareng Sofyan secara “independen” itu juga tidak serius-serius amat, sebab selain “tujuan [mereka] hanyalah untuk kesenangan” mereka juga meniatkan diri untuk “mengeksplorasi banyak hal melalui komik dengan gaya norak, baik dari segi konten maupun pengemasan”.

Apa pentingnya kejujuran seperti ini? Bagi saya kejujuran seperti itu penting supaya orang lebih bisa memahami apa mau komikus. Setidaknya itu membantu saya bertanya: benarkah Methal Pertiwi cukup norak? Bagaimana mengukur kenorakan itu sendiri? Berhasilkah kenorakan yang anda memancing penikmatnya untuk setidaknya tersenyum geli?

Pada pengakuan komikus tersebut, beserta hal lain seperti konvensi bentuk komik itu sendiri dan relasinya dengan elemen anatomi-ekspresif karakter komik (yaitu apa yang disebut oleh – komikus cum teoretikus komik Scott McCloud – sebagai ekspresi wajah yang menghadirkan emosi pada karakter dengan tujuan untuk memprovokasi emosi pembaca), komik ini cukup menarik sebagai hiburan. Faktor berupa anatomi-espresif itulah yang menjadi konvensi visual yang dominan di setiap panel dan halaman yang disajikan Methal Pertiwi kepada penikmatnya.

***

Ada banyak tulisan dengan penilaian singkat, dan kebanyakan dari yang saya temukan memang tidak lepas dari penilaian bahwa komik tersebut menyajikan komedi sebagai unsur penceritaan yang paling dominan. Artikel di situs Jakarta Globe tertanggal 14 Oktober 2011 – yang juga memuat wawancara dengan Sofyan S seperti yang saya kutip di atas – misalnya, menyebut bahwa Methal Pertiwi adalah “sebuah komik […] dengan campuran liar antara aksi yang tidak masuk akal dan humor jenaka”. Methal Pertiwi seri pertama misalnya, bercerita tentang perjalanan tokoh Jago dan macan yang diperintahkan gurunya untuk datang ke acara pernikahan saudara seperguruan Pakarrock, guru Jago. Sementara seri kedua, Romansa Biru Bulan September, bercerita dengan tipe alur yang sama. Artinya Jago masih diperlihatkan melakukan perjalanan namun kali itu ia melakukannya karena diperintahkan gurunya untuk menimba pengalaman.

Nyaris tidak ada konflik serius yang menghalangi perjalanan Jago maupun macan. Contoh terbaik mengenai minimnya konflik bisa dilihat pada Methal Pertiwi, misalnya. Halaman demi halaman, dan panel-panel yang diperlihatkan kepada pembaca menunjukkan superioritas protagonis tokoh Jago yang hampir tidak pernah mengemui kesulitan berarti ketika dia mesti bertarung dengan sekumpulan Tigala, siluman, maupun ular piton yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Semua musuhnya mudah dikalahkan, dan yang lebih penting lagi, adegan pertarungan berjalan di antara panel dalam waktu yang sangat singkat. Agaknya memang bukan cerita yang rumit dengan konflik yang juga rumit, melainkan kesan keseluruhan yang saya tangkap dari cerita kedua seri Methal Pertiwi tersebut adalah absurditas komikal.

Artinya keasyikan kedua komik itu memang bukan pada sajian cerita dunia kangouw yang penuh intrik, tipu muslihat, pertarungan antara baik dan jahat; melainkan dunia kolong jagad di mana semua hal terlihat absurd. Masa’ ada pendekar yang ketika kecil berwajah normal tapi ketika dewasa bermuka tengkorak. Masa’ ada konsep minimart, penjual balon, biro travel, pedagang seluler di tengah-tengah pretensi setting komik tersebut yang maunya menyajikan nuansa eksotisme alam dan masyarakat tradisional. Pendek kata, segala jenis harapan yang mungkin disematkan oleh penggemar komik silat, tentang hiruk pikuk dunia kangouw dan jurus-jurus silat yang megah, misalnya, boleh dibilang absen.

Lebih jauh lagi, salah satu contoh absurditas komikal yang kentara diceritakan pada adegan di mana macan dan Jago menemukan seorang tukang nasi goreng ketika bermalam di sebuah pegunungan yang sepi. Pembaca akan merasakannya sebagai sebuah keadaan yang tidak wajar. Untuk apa seorang tukang nasi goreng berdagang di pegunungan sepi? Terhadap pertanyaan yang muncul di tengah kondisi di luar kewajaran tersebut, macan nyeletuk bahwa dia yakin si tukang nasi goreng adalah “visioner bisnis sejati. Dia yakin suatu hari di sini bakalan rame. Orang sukses adalah yang melakukan yang nggak kepikiran sama orang lain” (Methal Pertiwi, hlm 21). Baik Sofyan S dan Aditya S berhasil menceritakannya sedemikian rupa sehingga pembaca merasakannya sebagai olok-olok yang mustahil terjadi.

Absurditas dikerjakan dengan cara memberikan kepada pembaca beberapa referensi ikonografi yang umum ditemukan di kehidupan modern, yang bertolak belakang dengan imajinasi setting komik yang pretensinya memang berusaha memperlihatkan tradisionalisme masyarakat sekaligus eksotisme alam tropis.

Dua oposisi biner tersebut, tradisionalisme masyarakat vis a vis ikonografi modern, diletakkan dalam kesejajaran yang ditampakkan sebagai sesuatu yang alamiah. Semua ikonografi yang sebetulnya tidak bisa berada dalam satu aliran waktu-dalam-panel tampak eksis begitu saja.  Percampuran semacam itu menjadi masuk akal karena Methal Pertiwi memang terkesan mbeling/main-main. Meskipun begitu saya tidak menganggapnya sebagai komik norak, sebagaimana yang diakui komikusnya sendiri. Malah, justru lewat oposisi biner yang hidup berbarengan lewat panel-panel itulah, pembaca menemukan salah satu unsur humor yang dikonstruksikan lewat situasi Kolong Jagad, yakni yang dijajarkan melalui kombinasi sintagmatik citra-citra visual yang menyalahi aturan dan logika waktu.

Baik Methal Pertiwi maupun Romansa Biru Bulan September bukanlah komik silat ala Tony Wong yang berdarah-darah, penuh dengan intrik jurus-jurus silat yang kelihatan megah. Juga tidak menceritakan intrik dunia persilatan di mana satu perguruan dengan yang lain bermusuhan, atau menceritakan jagat persilatan di mana aliran putih dan aliran hitam berperang. Semua tampak sebagai sesuatu yang diceritakan secara alami, tidak ada baik dan jahat yang absolut. Juga persoalan-persoalan seperti perempuan yang diserang monster jahat atau Jago yang hampir dimangsa siluman tampak terjadi begitu saja; bukan disebabkan oleh perkara-perkara besar seperti Kolong Jagad yang dikuasai oleh siluman, merajalelanya ilmu hitam, dan hal-hal lain yang mungkin bisa kita bayangkan lewat sebuah komik silat.

***

Satu lagi konvensi yang juga menarik dari Methal Pertiwi menurut saya adalah permainan eskpresi wajah karakter-karakter yang hidup di dalamnya. Cukup menyenangkan untuk melihat perubahan-perubahan mimik wajah karakter dalam pergerakan beberapa panel yang dinamis. Cobalah kita lihat halaman 64 Methal Pertiwi yang menampilkan adegan main tebak-tebakan antara Jago dan Macan.

Pada halaman tersebut, apa yang diperlihatkan kepada pembaca adalah intensitas perubahan emosi Jago yang diwakili lewat perubahan mimik wajah dari panel ketiga sampai keenam. Di sini emosi Jago perlahan-lahan berubah karena ketidakantusiasan macan dalam bermain tebak-tebakan. Singkatnya, dari yang tadinya antusias menjadi malas melanjutkan permainan, semua tingkatan emosi karakter diperlihatkan melalui perubahan pada mimik wajah. Pada Methal Pertiwi, permainan emosi yang menunjuk pada perubahan mimik wajah mengisyaratkan salah satu kecenderungan utama. Cerita yang minim konflik tidak menjadi soal.

Barangkali justru itulah soal yang mesti dibicarakan ketika pembaca menikmati dua seri Methal Pertiwi. Baik Sofyan maupun Aditya menurut saya terprovokasi oleh sebuah keinginan untuk merisalahkan absurditas komikal, binaritas ikonografi yang berada di campuran imaji-imaji alam modern dan yang tradisional, dan perubahan emosi karakter yang konstan.