Alex Irzaqi

Alex Irzaqi

Oleh -
0 172
Alez Irzaqi

“Sebelum bisa menulis, aku sudah bisa menggambar” – Alex Irzaqi

Kutipan di atas mungkin terdengar hiperbol, dan meski tidak diketahui kadar kebenarannya, demikianlah yang diakui oleh Alex kepada editor kami pada sebuah wawancara. Menurutnya pula, usia taman kanak-kanak merupakan usia di mana ia pertama kali ngomik. Jika ditotal sampai sekarang tentu saja karirnya menjadi sangat panjang. Total sepanjang 23 tahun ia telah (dan masih) berkarir di bidang komik! Alex lahir di Gresik pada tahun 1986.

Cerita tentang karir ngomiknya dimulai ketika Alex kecil gemar menggambari tokoh kura-kura ninja yang ditontonnya saban hari di TVRI. Sejauh ingatannya yang juga terbatas, Alex mengaku bahwa ketika kecil ia gemar menggambari dinding rumahnya dengan kapur. Mungkin di dinding itulah dia menggambar tokoh kura-kura ninja-nya. Sebagaimana orang-orang yang juga lahir di pertengahan 1980-an, Alex juga seorang komikus yang menggemari Dragon Ball karya Akira Toriyama. Bahkan ia sempat menjadikan gaya Akira Toriyama sebagai kiblat. Tentang Dragon Ball ini, Alex Irzaqi mengaku bahwa dulu dia pernah membuat serial kembaran Dragon Ball berjudul Dragon Cliff. Di kesempatan lain, ia juga pernah menjiplak mentah-mentah Dragon Ball nomor 41 secara utuh. Ia melakukannya karena dulu tidak punya nomor tersebut! Susah payah juga ia menjilid jiplakan itu hingga persis dengan buku aslinya.

Karya-karya lawasnya yang dibuat sewaktu kanak-kanak masih disimpannya. Yang tertua berjudul Jaguar yang digarapnya sewaktu kelas 5 Sekolah Dasar. Walau agaknya sudah lama menyiapkan diri sebagai komikus, Alex baru benar-benar terjun ke medan komik Indonesia ketika penerbit Koloni menawarinya menggarap Gajahmada. Pada akhirnya komik ini terbit bukan dengan judul tersebut, melainkan dengan judul Dharmaputra Winehsuka yang diterbitkan Koloni pada tahun 2010. Gajahmada sendiri adalah judul untuk komik Tugas Akhir. Alex Irzaqi memang dulunya mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Komputer Indonesia Bandung.

Gajahmada sendiri dibuatnya tanpa beban, sebab dulunya itu bukanlah halaman demi halaman yang ia harapkan bisa menghasilkan uang. Alex Irzaqi menyebutnya sebagai komik hasil panggilan jiwa untuk berbagi cerita. Ketika mengerjakan komik itu pun ia sudah magang sebagai ilustrator di sebuah majalah. Kebiasannya ngomik sejak usia Sekolah Dasar membuatnya menyerap berbagai teknik secara otodidak. Pendek kata: ia pembelajar yang alami dan semua hal tentang bagaimana membuat komik ia dalami secara pelan-pelan. Apakah sekarang ia matang sebagai komikus? Itu urusan lain.

Cara belajar paling alami kan ya nyontek.

Alex Irzaqi memang banyak belajar dari mencontek komik-komik favoritnya, termasuk X-Men, Legenda Putra Langit, Tinju Bintang Utara, Dragon Ball, serta Blade of Immortal-nya Hiroaki Samura. Ketika mewawancarainya beberapa tahun lalu, ia mengaku judul yang terakhir itulah yang ketika itu jadi kitab sucinya. Menurutnya, Samura memiliki tarikan garis yang ekspresif serta permainan shading yang bagus, juga pengambilan sudut gambar yang unik. Gaya penceritaan Alex konon bersumber dari dari cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma (nama ini entah kenapa selalu jadi referensi beberapa komikus yang kami wawancarai. Selain Alex, Suryo Laksono adalah salah satunya). 

Alex tampaknya memang banyak berkonsentrasi di penciptaan komik laga campur sejarah kerajaan-kerajaan kuno di Jawa. Selain Dharmaputra Winehsuka, dua komik lainnya yang punya genre serupa adalah Raibarong (dulu sempat tayang di situs Makko) serta Carakan (tayang di Komikoo). Di tahun 2013 Alex memenangkan The Winner Award pada Silent Manga Audition yang diselenggarakan majalah Comic Zenon Jepang.

komik humor gak bisa membakar darah. Aku suka bakar-bakar. Mengobarkan api semangat.

artefak Alex Irzaqi
Hak cipta karya: Alex Irzaqi
a 'Yes' man

ARTIKEL SERUPA

astrajingga-saardisoma

0 260
Kho-Wan-Gie

0 117
Excerpt from Happy Ending - Azisa Noor

0 151
Beng Rahadian

0 206
Iblis Mengamuk di Mataram

0 164
Tiga Manula ke Singapura

0 140