Art Spiegelman Menunjukkan Kekuatan Komik di Sanders Stage

Art Spiegelman Menunjukkan Kekuatan Komik di Sanders Stage

Oleh -
0 33
Art-Spiegelman

Berbekal gambar dan kata-kata tertulis, Art Spiegelman mengilustrasikan sejarah komik dan karir pribadinya di Sanders Theatre. Dia melakukan itu di ajang “what the %@&*! Happened to Comics?” yang digelar oleh sebuah organisasi bernama Celebrity Series of Boston.

Art-SpiegelmanPhoto Credit: AP
Pada acara itu, Spiegelman, yang mendapatkan pujian untuk “novel grafis” bertema Holocaust, Maus, menjabarkan sejarah komik dan karir pribadinya sebagai komikus dengan cara menunjukkan cetak biru (sketsa) dan gambar yang dikerjakan di awal karirnya. Sebagaimana dilansir oleh TheCrimson, gambar-gambar yang ditunjukkan oleh Spiegelman memperlihatkan kekuatan teknik visual, terutama pada bagian di mana ia menunjukkan bagaimana mengalih-rupakan atribut fisik seperti rahang dan struktur hidung guna mengubah seorang kutu buku menjadi seorang gangster, atau seorang pria kulit putih menjadi seorang pria kulit hitam. Sayangnya kami tidak berhasil mendapat video atau dokumentasi lain yang mungkin bisa menunjukkan kepada kita tentang bagaimana Spiegelman melakukan hal tersebut.

Menarik untuk mengutip pendapatnya: “bahasa visual telah berkontribusi dalam membentuk dan memperkuat rasisme serta stereotype kultural”. Kita tentu sudah mengetahui – antara lain lewat buku The Power of Comics: History, Form, and Culture” – bahwa karena sifat dua dimensional sudah menjadi karakteristik gambar pada komik, maka unsur stereotype menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Artinya pada komik lah bisa terjadi generalisasi yang didasarkan pada bentuk fisik, model rambut, postur tubuh, jenis pakaian dan berbagai atribut lainnya, terutama di segi perwajahan/karakteristik wajah manusia. Meski demikian saya tidak yakin apakah yang dimaksud oleh Spiegelman dengan stereotype kultural sama dengan pemahaman tentang stereotype visual (sebagai ciri khas komik) yang dijelaskan di dalam buku tersebut.

Di ajang itu dia juga bercerita banyak tentang struktur berbeda yang dimiliki oleh komik, yang disebutnya sangat berguna untuk mengkomunikasikan pesan yang biasanya sangat sulit untuk diilustrasikan lewat kertas. Ingatan, contohnya, bisa ditunjukkan dalam satu halaman, dengan cara menampilkan dua kejadian berbeda yang terjadi dalam waktu yang sama.

Di sesi pemaparan sejarah komik, Spiegelman menunjukkan seri-seri komik terkenal. Dia menjelaskan bagaimana komikus memanipulasi masing-masing halaman dengan gambar-gambar dan aksi berbeda, guna membantu mata pembaca menjelajahi panil-panil sesuai dengan kemauan sang komikus. Ceritanya kemudian berguliar pada penjelasan tentang bagaimana komik bisa menyokong isu-isu politik. Dia memberi contoh lewat kartun politik yang pada Perang Dunia II digunakan untuk mendukung pemboman kota Hiroshima – sayangnya, Jurnal Komik Online tidak berhasil menemukan kartun yang dimaksud Spiegelman .

Pada satu sesi di acara yang sama dia mendiskusikan sebuah kartun di halaman pertama yang diciptakannya untuk majalah The New Yorker pada tahun 1993. Kartun tersebut, yang menampilkan gambar seorang Yahudi Hasidim mencium seorang perempuan etnis Afrika-Amerika, merupakan sebuah respon pribadi terhadap konflik rasial antar keduanya yang terjadi di New York pada waktu itu. Kartun itu sangat kontroversial, dan Spiegelman mengatakan bahwa dia menerima banyak surel berisi kritikan setelah kartun tersebut dipublikasikan.

the-NewyorkerArt Spiegelman
Spiegelman percaya dengan kedatangan momen yang dia sebut dengan “post-literature world”, di mana dalam dunia itu dia membayangkan bahwa komik akan memperoleh popularitasnya kembali disebabkan karena sifatnya yang mudah dibaca dan kegunaan praktisnya untuk menampilkan humor dan informasi lainnya.

Anda setuju dengan pendapat tersebut?