Tak ada Pikiran dan Kata-kata Dalam Balon Kata: Sebuah Kasus

Tak ada Pikiran dan Kata-kata Dalam Balon Kata: Sebuah Kasus

Oleh -
0 340
Ceiling

Mungkin saya jarang melihat pada sebuah komik, sebuah balon kata yang konvensinya menyimpang dari trah-nya sebagai penyimpan dialog atau kata-kata karakter. Setidaknya ini pengalaman saya.

Dari komik-komik yang saya baca sebelumnya, paling banter saya menemukan konvensi balon yang murni berisi dialog antara dua karakter komik atau lebih. Jadi pandangan saya tentang apa yang namanya konvensi balon sangatlah sempit. Mungkin juga ini disebabkan karena konvensi balon kata yang kerap saya temukan sudah terstandarisasi sebagai salah satu ciri-ciri komik yang khas. Nah, Beberapa saat lalu menemukan konvensi yang menurut saya berbeda dari apa-apa yang sudah saya lihat selama ini. Sebelum mulai membicarakan temuan saya, tidak ada salahnya untuk menengok sebentar tentang konvensi formal-estetik balon. Tentang konvensi ini, David Carrier menulis demikian:

“The balloon can contain any image combined with any words; it may even be completely blank, showing that character has no thoughts” (Carrier, 2000: 31)

Gambar apakah yang saya maksudkan sebagai sesuatu yang “berbeda”? Coba kita tengok dari satu ilustrasi di bawah.

Contoh penggunaan balon kata
Kim Jung Gi
Staedtler pen and watercolor on paper

Ilustrasi di samping saya ambil dari dinding Facebook Akademi Samali. Dari keterangan yang ada si sana, sang pengunggah ilustrasi (Lulu Ratna) mengarahkan gambar itu ke sumber aslinya, di mana pengunjung bisa menemukan informasi bahwa ilustrasi itu adalah milik Kim Jung Gi yang dipublikasikan di “Monthly! Spirits”, sebuah majalah komik yang terbit di Jepang.

Terus terang saja, konvensi balon dengan gambar di dalamnya sangat asing bagi saya meskipun sebetulnya ilustrasi yang saya tunjuk tidak jauh berbeda dengan konvensi balon seperti yang diutarakan David Carrier di atas. Artinya, ilustrasi tersebut turut memperkuat basis konseptual dari balon itu sendiri, yang merujuk kepada sebuah fungsi, yakni sebagai wadah di mana gambar atau kata-kata bisa mengada. Tentu saja fungsi semacam itu sudah jamak. Sudah banyak orang tahu. Oleh karena itu, mungkin kita perlu sedikit mengacu kembali kepada pengembangan konsep balon ala Carrier – yang sebetulnya merujuk kepada wadah untuk menempatkan isi pikiran di luar tempurung kepala, yang mana kita tidak bisa melihat apa yang disimpan di pikiran seseorang kecuali lewat gesture dan kata-kata. Balon memungkinkan orang untuk melihat isi kepala karakter, atau lebih tepatnya, pikiran karakter dengan gamblang. Carrier melanjutkan: “Balon memperlihatkan apa yang mungkin dimimpikan oleh filsuf pikiran (philosopher of mind), yakni bahwa pikiran orang lain diperlihatkan secara pasti dan transparan” (Carrier, 2000: 30). Berbekal konsep tentang konvensi balon kata, saya jadi bertanya-tanya: benarkah apa yang diperlihatkan oleh ilustrasi di atas adalah pikiran sang penembak jitu?

Mungkin tidak, dan di sinilah kita menemukan sedikit perbedaan: si perempuan penembak jitu bukan lagi memperlihatkan isi pikirannya, melainkan memperlihatkan kepada penikmatnya tentang sasaran tembak si perempuan. Dengan kata lain, sasaran yang ingin ditembak diproyeksikan melalui balon kata. Si penembak tidak memperlihatkan isi pikirannya kepada penikmatnya, melainkan memperlihatkan siapa yang akan ia tembak. Jadi, balon kata di sini adalah signifier, aspek material di mana penikmat ilustrasi jadi tahu apa yang disasar si perempuan.

Melalui satu contoh tersebut, kita diperlihatkan dua event (peristiwa) berbeda yang hadir dalam satu waktu: penembak perempuan yang berada di dalam kelas, dan sasaran laki-laki yang berada di luar kelas. Tanpa balon kata yang keluar dari kebiasaan, dua event tidak akan terkoneksi. Orang tak bisa tahu siapa yang disasar si perempuan. Tanpa keberadaan balon tersebut, kita bisa bergumam: jangan-jangan dia hanya sedang menyasar seekor burung.

Referensi: David Carrier. 2000. The Aesthetics of Comics. USA: Pennsylvania State University

Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.