Hans Jaladara: Etnis Tionghoa di Medan Komik Indonesia (bagian 4)

Hans Jaladara: Etnis Tionghoa di Medan Komik Indonesia (bagian 4)

Oleh -
0 265
Komik Tionghoa

Seri keempat dari rangkaian tulisan “orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia”. Di bawah ini tautan untuk menikmati seri pertama sampai seri ketiga yang telah dimuat di hari-hari sebelumnya:


Oleh: Iqra Reksamurty

Lahir dengan nama Liem Tjong Ha, Hans adalah anak dari Tjioe Kim Lian (Haliman Linggodigdo) dan Tjioe Kim Lian (Yana Martina) yang dilahirkan di Kebumen pada tanggal 4 April 1947. Orang yang memiliki nama Indonesia Rianto Sukandi ini adalah anak ketiga dari 4 bersaudara. Ia memiliki seorang kakak laki-laki, seorang kakak perempuan, dan juga adik perempuan yang bernama Eveline. Awalnya Hans Jaladara memakai nama pena Hans Saja, namun kemudian ia menambahkan Jaladara untuk membedakannya dengan Dokter Hans, seorang dokter yang terkenal pada masa itu.

Hans Jaladara seorang komikus yang mampu merepresentasikan komik Indonesia pada masa Orde Baru. Karyanya yang paling populer yaitu Panji Tengkorak, yang bukan hanya dicetak ulang tetapi juga dibuat ulang sampai 2 kali yaitu pada tahun 1985 dan 1996, tetapi juga diberi revisi serta perbaikan-perbaikan oleh Hans sendiri.

Serial Panji Tengkorak kemudian menjadi sebuah  seri yang  panjang yang tidak hanya berhenti begitu satu seri tamat; namun disusul dengan seri yang lainnya yang  saling bersambung satu sama lain dalam urutan: Walet merah, Si Rase Terbang, Kembalinya si Rase Terbang, Pandu Wilantara dan  Dian dan Boma.

Selain Panji Tengkorak, Walet Merah juga sempat dibuat ulang dan diterbitkan pada tahun 2002. Sebenarnya Hans sudah menyiapkan versi perbaikan dan revisi untuk sekuelnya, yaitu Si Rase Terbang (naskah selesai dibuat pada tahun 2002 juga). Akan tetapi belum ada penerbit yang mau menerimanya.

Diterbitekstrak-karya-Hans-Jaladarakannya Panji Tengkorak pada tahun 1996 dalam gaya gambar manga membuat banyak anggapan bahwa Hans telah membanting gaya gambarnya ke arah manga. Hans menampik hal tersebut, walaupun ia sendiri mengakui bahwa tuntutan penerbit pada akhirnya memberi pengaruh pada hasil gambarannya.

Hans mengatakan bahwa gaya gambarnya bukan gaya gambar Jepang, akan tetapi diduga bahwa ia diminta oleh penerbit (Elex Media Komputindo) karena memang ada kedekatan antara gaya gambarnya dengan gaya gambar Jepang. Bila kita melihat karya-karyanya dari awal, terutama pada tahun 80an (Dewi Kwan In sampai kembalinya Si Rase Terbang), maka akan terlihat transisi yang akan membentuk gaya gambar yang tertuang pada Panji Tengkorak (1996).

Komik-komik milik Hans memiliki nuansa Tiongkok yang sangat kental, hal ini disebabkan karena Hans banyak menonton film-film dari Hong Kong dan Amerika. Bahkan dalam Serial Kembalinya Si Rase Terbang, Suwita Yajengsari pendekar wanita yang menyandang gelar Si Rase terbang tidak bertualang di negerinya sendiri, namun di negeri seberang yang bernama Negeri Matahari yang saat itu tengah dikooptasi oleh Negeri Naga Kuning. Simbolisme itu terlihat cukup jelas bahwa tempat Suwita berkelana adalah Jepang yang sedang diokupasi oleh tentara-tentara Tiongkok.

Kondisi negeri matahari sedang dikuasai oleh militer yang berkuasa. Dimana rakyatnya sedang menghimpun kekuatan untuk melawan para “penjajah mereka”. Suwita sendiri terlibat dalam urusan politik luar negeri tersebut karena ia memang diminta untuk membantu dalam urusan tersebut sebagai syarat untuk mendapatkan obat yang digunakan untuk mengobati Pandu Wilantara.

Ekstrak-karya-Hans-Jaladara-2

Meskipun berlokasi di “negeri matahari” tapi unsur Jepang kurang terlihat sama sekali selain dari keberadaan pendekar kuncung, Yogi barangkali adalah karakter penduduk asli yang mampu ilmu bela diri. Akan tetapi cukup jelas kalau karakter ini lebih seperti Bruce Lee apalagi dengan senjata double-stick-nya. Unsur Tiongkok sangat kental sekali di sini. Barangkali serial “Kembalinya si Rase terbang” ini lebih bisa dikatakan sebagai komik silat China daripada komik silat Indonesia

Hans juga pernah membuat komik dengan setting Tiongkok pada tahun 1985, yang berkisah tentang dewi Kwan In, sang dewi  welas asih. Dalam komik ini beliau tidak menggunakan nama Hans Jaladara, namun memakai nama Lim C. H

Selain membuat ulang Panji Tengkorak dan juga sekuelnya Walet Merah, di tahun 1990-an hans masih membuat komik, antara lain Roy (sebuah komik silat modern) dan juga Putri Zhiha (komik fiksi ilmiah robot.) Pada tahun 2004 hans juga masih membuat sekuel Walet Merah dan Si Rase Terbang, akan tetapi belum ada penerbit yang mau membeli naskah tersebut. Kebanyakan penerbit memintanya agar dia membuat Si Rase Terbangd engan model lamanya seperti komik-komik era 1970-an. Akan tetapi Hans tetap bersikukuh bila ada yang ingin menerbitkan Si Rase Terbang kembali haruslah memakai versi baru yang telah ia revisi sendiri. Komik terakhir Hans yang terbaru adalah Intan Permata Rimba, komik silat yang sebelumnya dimuat di koran Suara Merdeka dari tahun 2006 sampai 2009 dengan nama Intan Perawan Rimba.