Ganes TH: Orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia (bagian 3)

Ganes TH: Orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia (bagian 3)

Oleh -
0 503
Komik Tionghoa

Ini adalah bagian ketiga dari seri tulisan orang-orang Tionghoa di medan komik Indonesia. Anda bisa menikmati seri pertama dan seri kedua di bagian lain dari laman Jurnal Komik Online.


Oleh: Iqra Reksamurty

Ekstrak-karya-Ganes-THKomikus Ganes TH lahir di Tanggerang Jawa Barat pada Tanggal 10 Juli 1935, ia merupakan salah satu legenda dunia komik Indonesia, bisa dibilang karya legendaris-nya adalah Si Buta Dari Gua Hantu, yang merupakan serial komik silat nomor satu di Indonesia saat itu. Ganes mengatakan bahwa inspirasi Si Buta Dari Gua Hantu berasal dari film koboi buta Italia yang dibintangi Cameron Mitchell, The Blind Gunfighter. Ganes juga juga menyangkal kalau komiknya dikatakan terinspirasi dari komik Jepang Zato Ichi tentang samurai pemijat buta.

Selain Si Buta Dari Gua Hantu, sebagian besar karyanya yang lain berlatar belakang Betawi tempo dulu seperti: Tuan tanah Kedawung, Jampang, Taufan, dan Reo Anak Serigala.  Ganes bukan hanya berkiprah di dunia komik tapi juga menerobos dunia film sebagai menulis skenario merangkap penata kostum.

Ganes sebenarnya bukanlah  nama asli sang komikus Si Buta Dari Goa Hantu, namun nama pena yang ia pakai dan diambil dari  nama  putra pertamanya yang meninggal muda. Nama tersebut kemudian disandingkan dengan nama lengkapnya: Ganes Thiar Sansota.

Ganes Th semenjak kecil sudah tertarik pada lukisan dan sempat kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta. Setelah kembali ke Jakarta, ia meneruskan melukis dan memasok ilustrasi pesanan khususnya karikatur untuk sebuah harian komunis Wartha Bakti. Kegiatan itulah yang sempat membuat posisinya terancam pasca peristiwa tahun 1965.

Ganes kemudian mencoba membuat komik, yang dimulainya dengan membuat komik roman meski akhirnya ia memilih banting setir ke arah komik silat (Siaw Tik Kwie/Otto Swastika diperkirakan memiliki andil dalam pilihannya itu), di mana genre ini lah yang kemudian menaikan namanya. Ganes sangat giat saat ia berada dalam IKASTI*.

Komik-komik Ganes membawa pesan “Wawasan Nusantara” dan semangat cinta tanah air. Hal ini tercermin jelas pada serial Si Buta Dari Goa Hantu, dengan tokoh manusia Indonesia dan dialek Indonesia serta “rute” jalan cerita yang jelas menggambarkan wawasan Nusantara.

Barda Mandrawata merupakan nama yang terkesan seperti nama-nama orang Jawa Barat. Dalam petualangannya, si buta melakukan perjalanan antropologis di nusantara. Tempat-tempat yang ia kunjungi jelas menggambarkan tempat-tempat yang ada di Indonesia, seperti Borobudur (Jawa Tengah), Pantai Sanur (Bali), Tambora, Teluk Bone (Sulawesi), dan seterusnya.

Akan tetapi setting Si Buta Dari Gua Hantu sendiri tidak pernah jelas berada dalam periode kapan, tentang kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, maupun Islam juga tidak pernah mendapat bahasan khusus sebagai latar belakang – barangkali agar bisa tetap netral. Namun si Buta beberapa kali bertemu dengan orang Asing (VOC), dan bertempur melawan mereka. Pertemuan atau pertempuran dengan orang asing tersebut biasanya bukan urusan politik, namun lebih pada aspek kemanusiaan yang disebabkan keserakahan orang-orang asing tersebut.

Ganes juga pernah membuat komik yang ceritanya bersumber dari kisah-kisah Cina asli seperti salah satu cerita dari zaman tiga kerajaan. Komikus selain Ganes yang juga menggambar komik yang berdasarkan cerita-cerita dari Cina adalah Hans Jaladara, namun tidak seperti Hans yang menggunakan nama samaran lain agar komiknya dikira karya orang luar, Ganes tetap memakai nama Ganes Th saat menggarap karya-karya asing tersebut.

Salah satu karya Ganes yang menarik lainnya adalah Serigala Kota Intan yang dimuat dalam majalah Hai. Komik tersebut dimuat pada tahun 1985 secara berseri. Serigala Kota Intan memakai etnis Tionghoa dalam kisahnya, ia juga tidak segan-segan untuk memperlihatkan tradisi Tionghoa dan juga Tarian Barongsai pada halaman pertama komik tersebut. Setting kota Intan di sini bukanlah reka-reka, namun sebuah tempat yang berada di daerah Glodok sebuah daerah pecinan yang berada di Jakarta pusat. Jembatan kota intan yang menjadi tempat perkelahian dalam puncak cerita  di sekitarnya terdapat pasar ikan tergambarkan dengan baik.

Ekstrak-karya-Ganes-TH-2

Karakter-karakter dalam Serigala Kota Intan semuanya adalah orang-orang Tionghoa atau peranakan, baik protagonis maupun Antagonis. Dari sini dapat dilihat orang-orang Tionghoa yang sebenarnya sudah sedikit banyak membaur dengan kebudayaan-kebudayaan masyarakat “pribumi”. Seperti tokoh perempuan yang masih bernama Tionghoa tapi pakaiannya sudah mengenakan pakaian-pakaian penduduk setempat, juga ayahnya yang mengenakan peci dan sarung. Penampilan dari tokoh antagonis tidak jauh berbeda, akan tetapi tempat mereka tinggal memang masih lebih kuat unsur tanah asal mereka.

Sebenarnya Serigala Kota Intan adalah reka ulang dan pengembangan dari komik Ganes sebelumnya yaitu Kali Djodo. Keduanya memiliki cerita yang sama. Akan tetapi kapan Kali Djodo tidak diketahui dengan pasti (tanggal terbitnya – ed) karena tidak tercantum tanggal perederannya.

Seperti komikus lainnya, kehidupan pribadi Ganes juga mempengaruhinya dalam berkarya. Awalnya Ganes memang terhitung sadis dalam menggambar adegan, dalam Prahara di Bukit Tandus (1968) si buta tidak segan-segan untuk membunuh siapa pun yang menyerangnya, walau itu hanya sekedar refleks. Namun belakangan hal-hal sadis tersebut semakin dikurangi, bahkan dalam Si Buta kontra Si Buta (1978) Barda Mandrawata masih membiarkan antagonis dalam cerita tersebut hidup untuk menembus dosanya pada orang-orang yang telah dizaliminya. Akan tetapi kematian istri Ganes pada tahun 1989 membuat komikus ini mengalami depresi, akibatnya dalam Mawar Berbisa suasana suram sangat terlihat, dan si Buta kembali menjadi sadis dalam cerita ini.  Ganes TH meninggal pada tanggal 10 Desember 1995.

Catatan Editor

* IKASTI:  Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia