C Suryo Laksono

C Suryo Laksono

Oleh -
0 257

C Suryo Laksono menuturkan kepada kami perihal awal karirnya sebagai komikus, yang ternyata baru dimulai pada tahun 2001. Waktu itu usianya masih usia SMP, dan tertarik untuk menciptakan komik karena melihat temannya yang bikin komik sendiri. Di situlah dimulai perjalanannya sebagai seorang komikus.

Kebanyakan komikus mungkin sudah mulai menggambar komik sejak masih usia kanak-kanak, misalnya dengan cara menjiplak mentah-mentah (orang menyebutnya: nge-blat) komik di hadapannya. Ini bukanlah cerita yang dikarang-karang, melainkan sungguh-sunguh terjadi. Nah, Suryo bukan termasuk komikus macam itu. Ia sedari kecil memang sudah mulai menggambar, namun bukan menggambar bentuk yang lebih spesifik seperti komik. Sama seperti anak sebayanya yang lahir di era 1980-an, Suryo juga menggemari acara-acara televisi semisal Doraemon, Dragon Ball, dan Detektif Conan. Dengan kegemarannya pada serial-serial televisi populer, apakah kemudian mereka ini menanamkan pengaruh kuat bagi penciptaan komiknya?

Ternyata tidak. Suryo awalnya justru sangat terpengaruh Nobuhiro Watsuki (Samurai X), terutama di sisi sajian tema yang serius, yang menghadirkan narasi yang rumit secara psikologis. Karena itu jangan heran jika Suryo adalah juga penggemar Naoki Urasawa (dengan Monster dan 20th Century Boys), serta oun In-Wan dan Yang Kyung-Il (dengan Shin Angyo Onshi). Dia lebih menyukai cerita komik yang menyajikan kedalaman psikologis, utamanya yang berkaitan dengan interaksi antar manusia serta sebab-akibat yang mungkin muncul darinya. Hasilnya bisa kita lihat pada judul SEER – The Genchildren yang menurut Suryo adalah komik satir isu sosial yang dikemas dalam bentuk sci-fi. Oh ya, komik pertama yang ia ciptakan berjudul Eternity yang bercerita tentang pria yang terlempar ke dunia lain untuk melawan kejahatan. Kalau dilihat dari tema-tema komik yang disodorkannya kepada pembaca, bisa kita duga bahwa Suryo adalah komikus Indonesia yang gemar membikin cerita sci-fi. Meski demikian, tebakan ini tidaklah benar, sebab ia ternyata adalah seorang yang demen membikin cerita komik yang absurd.

Mengenai pengaruh, Suryo banyak mengambil referensi dari cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma. Malah, komik SEER awalnya mengambil inspirasi dari cerita-cerita sastrawan Indonesia itu, serta tidak boleh dilupakan anime kino no tabi (kino’s journey). Bagi dia, baik cerita Seno maupun anime tersebut adalah jenis cerita yang mengangkat tema-tema sosial dalam bentuk metafor. Dari Seno dia mengambil unsur absurditasnya.

Sempat dia bercerita mengenai titik baliknya sebagai seorang komikus, yakni ketika dia mengetahui berita tentang kemunculan penerbit Koloni. Waktu penerbit tersebut muncul, Suryo berpkir bahwa akhirnya ada jalan baginya supaya karyanya dibaca banyak orang. Bagi Suryo yang ketika itu belum tahu banyak tentang situasi industri komik Indonesia, kemunculan Koloni bak air mata segar di tengah padang pasir. Ia juga sempat menggarap proyek komik berjudul Klandestein yang sempat diterbitkan di situs Makko. Namun proyek ini kemudian terhenti di tengah jalan karena situs Makko-nya sendiri juga bubar.

Anak anak Bumi
Hak Cipta Karya: C Suryo Laksono
a 'Yes' man

ARTIKEL SERUPA

Kho-Wan-Gie

0 117
Excerpt from Happy Ending - Azisa Noor

0 151
Beng Rahadian

0 206
Iblis Mengamuk di Mataram

0 164
Tiga Manula ke Singapura

0 140

0 287