Catatan Komik Akhir Tahun 2015

Catatan Komik Akhir Tahun 2015

Oleh -
0 165

Bahwasanya Budaya Dalam Berkomik Bisa Dibangun

Komik dua Panel Kurnia Harta Winata

Catatan: Kurnia Harta Winata, komikus punggawa studio KOEBOES Yogyakarta, menulis sebuah catatan komik akhir tahun. Tulisan tersebut mulanya hanya dimuat di Notes Facebook Kurnia, dan sekarang kami pindahkan kesini untuk kepentingan penyebaran wacana komik Indonesia.

Komik Indonesia di tahun 2015 dapat dirayakan dengan berjamurnya majalah komik. Shonnen Fight, disusul Kosmik, KMI Roket, Kopimix, Gorengan, dan entah apa lagi yang mungkin luput dari radar.

Ide mengenai majalah komik Indonesia yang memuat beberapa komik bersambung pertama kali saya dengar di awal 2000-an. Setelah itu, berbagai majalah komik dengan konsep yang mengadaptasi majalah komik Jepang muncul dan kemudian tenggelam. Muncul semacam mitos, kalau majalah komik tidak mungkin bertahan lama. Muncul sinisme, bahwa komik bersambung tidak ada yang tamat. Keburu rubuh di tengah jalan.

Namun majalah komik terus saja muncul dan muncul. Tidak mau tahu, sering hanya modal nekat. Seperti pejuang yang menjemput peluru.Dan akhirnya, di atas bangkai-bangkai majalah komik yang lebih dahulu muncul, majalah komik kini menjadi primadona. Yang dulu dianggap tindakan bunuh diri, kini jadi harapan bagi perkembangan komik Indonesia.

Betapa waktu dan perubahan kondisi membuat yang dahulu tidak mungkin menjadi mungkin. Trend majalah komik juga menunjukkan perkembangan yang lain. Editorial. Komikus yang marah-marah saat mendapat masukan dari editor kini jadi nostalgia yang bisa diceritakan sambil tertawa-tawa. Kini yang terdengar adalah kesah komikus yang mengeluh bahwa editornya tidak memberi masukan apapun.

Bahkan dalam lingkaran kecil komikus yang saya ikuti, pembahasan sebuah naskah komik bisa dilakukan secara terbuka. Sejak dalam konsep sebuah komik berhasil dibedah secara bersama dan masukan diterima dengan kepala dingin. Itu tidak hanya berlaku pada senior ke junior, tapi juga junior ke senior. Pemahaman mengenai unsur lokal dalam karya juga berkembang. Dahulu kelokalan hanya identik dengan wayang, sejarah, atau cerita sehari-hari di lingkungan komikusnya. Kini tengoklah “Tawur” di Re:On yang mengangkat fenomena perkelahian antar sekolah, yang secara menyedihkan, begitu akrab dengan keseharian kota besar. Atau “Manungsa” di Kosmik, yang secara metafora memotret ketidakmanusiawian ibukota kita.

Komunitas-komunitas komik terus bertumbuhan. Banyak pelaku masih berada di bangku sekolah atau kuliah. Ini menandakan regenerasi komik berlangsung dengan baik. Kabar baiknya, kebanyakan dari mereka sudah memakai komikus Indonesia yang lebih senior sebagai acuan. Saya berkeyakinan, ini adalah langkah terpenting bagi komik Indonesia agar bisa memiliki identitas tersendiri.

Menakjubkan melihat kondisi komik Indonesia yang dicita-citakan pada masa lalu dapat dicapai di masa kini. Hal ini memberi keyakinan bahwa semua yang diperjuangkan oleh para penggiat, termasuk kegagalan-kegagalan yang kemudian diulangi dan diulangi lagi selanjutnya, tidaklah sia-sia sama sekali. Masih banyak yang harus dikerjakan agar tercipta ekosistem komik yang lebih baik.

Lahirnya generasi-generasi baru pecinta komik harus dibarengi dengan dibangun dan dijaganya koneksi dengan generasi-generasi sebelumnya. Ini menjaga agar segala pengetahuan dan pengalaman yang telah dihimpun generasi terdahulu tidak terbuang begitu saja. Generasi baru tidak perlu untuk bersusah payah memulai kembali dari nol. Koneksi ini dapat dibangun melalui acara-acara komik maupun forum-forum diskusi. Baik di dunia nyata ataupun daring.

Terbuka dengan masukan dari editor tidaklah cukup. Komikus perlu dibudayakan juga untuk terbuka dalam menerima kritik. Terutama kritik yang membangun, terlepas apakah bahasanya lembut atau tegas. Untuk itu diperlukan lebih banyak lagi ulasan-ulasan, atau kritik, yang dengan berani membahas kelemahan suatu komik. Juga diperlukan sikap lapang hati dari komikus yang menjadi sasaran. Seyogyanya ini malah bisa dimulai (dan sebenarnya sudah dimulai) dari komikus yang sudah diakui kehandalannya, yang kualitasnya tidak akan goyah dengan sekedar “cubitan” perhatian dari sesama pecinta komik.

Keragaman komik juga perlu didorong agar mampu terus menjawab fenomena-fenomena sosial yang muncul dalam masyarakat kita. Sekaligus mencari celah-celah pencapaian baru dalam perkembangan gaya visual maupun cara tutur komik Indonesia. Tidak lupa, pelaku komik juga terus dituntut untuk mencari dan membangun distribusi alternatif agar tidak tergantung pada satu saluran.

Menjadi pelaku komik Indonesia dengan level rata-rata seperti saya cukup mendebarkan. Optimisme dan pesimisme datang silih berganti. Sikap optimis membuat kita terus bertahan. Pesimisme memaksa kita memutar akal untuk mencari celah baru.

Secara umum saya senang dengan perkembangan saat ini. Komik kita terus meraih capaian-capaian baru meski didera berbagai masalah pelik. Semoga pondasi yang telah dibangun bersama dan keuletan pelakunya cukup kuat untuk menahan guncangan-guncangan yang datang.

Saya ingin menutup catatan ini dengan selarik kalimat dari puisi Chairil Anwar, Karawang Bekasi. Sekalian mengenang para mantan pelaku komik yang impiannya gugur di tengah jalan;

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa