Komiklopedia

Oleh -
0 198
Erwin Prima Arya

Di suatu siang yang panas di bulan Agustus 2016, saya sedang iseng membuka faceboook dan mengikuti sebuah perbincangan panjang tentang kontroversi komik si Gagu dari Gua Hantu karya A. Tatang S. Terus terang, komik komik lawas begini sangat sedikit yang sudah saya baca, karena cukup sulit untuk mendapatkannya, juga mahal. Yang sudah saya baca kebanyakan adalah karya karya Ganes TH yang sudah diremaster alias ditusir ulang. Nah, ngomong ngomong soal komik remaster/tusir ulang ini, tiba tiba saja saya kepikiran untuk mengobrol dengan Erwin Prima Arya. Jadilah saya menghubunginya via facebook.

Siapakah Erwin Prima Arya? Erwin adalah  tokoh yang menusir ulang komik komik Ganes TH sehingga bisa kita nikmati kembali tersebut. Beberapa judul yang sudah ditusir ulang dan dicetak kembali adalah komik berjudul Taufan dan  Djampang Jago Betawi. Selain mengerjakan remastering pada komik komik Gane TH –dan sekarang Teguh Santosa-, Erwin juga pernah membuat komik dengan cerita yang diadaptasi dari sebuah cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul Taxi Blues.
 
Berikut petikan obrolan singkat saya dengan Erwin:

PGB: Saya
EPA: Erwin Prima Arya

PGB: Halo Mas Erwin, lagi sibuk enggak nih? Aku pengen bikin wawancara nih sama mas Erwin. Boleh ya?

EPA: Hahaha… boleh.

PGB: Siiip… pertanyaan dimulai ya…

EPA: Siap… tapi santai ya? Kalau ada kerjaan mendadak jawabannya delayed.

PGB: Santai bangeeeeeet mas… Mas Erwin kan kukenal dari komik komik remaster lawas nih. Nah, sebenernya tujuan meremaster komik komik lawas itu apa sih mas? Selain motif ekonomi yaaaa…

EPA: Oke. Tujuan utamanya sebenarnya biar aku punya lagi komik komik bagus dan penting itu yang aku punyai dulu…

Kedua buat pelestarian, hingga bisa diterbitkan terus berkelanjutan seperti komik komik Tintin di Eropa misalnya.

PGB: Waah, motif pertamanya sangat personal ya…

EPA: Iya. Itu kulakukan spontan ketika mendapatkan komik ‘Banjir Darah Di Pantai Sanur’ (komik Ganes TH; red) di tahun 2003 dari Andy Wijaya dan Syamsuddin (baru kenal saat itu).

…setelah puluhan tahun enggak liat komik itu.

PGB: Berarti dorongan pribadi ya mas? Sebelum Mas Erwin pernah ada yang meremaster komik enggak? Atau memang Mas Erwin yang pertama melakukannya di Indonesia?

EPA: Ada. Anak Jogja…. komik Teguh Santosa. Tahun 90an. Judulnya Sebuah Tebusan Dosa. Tapi masih asal-asalan remasteringnya.

PGB: Anak Jogjanya siapa mas? Mas Erwin terinspirasi dari dia?

EPA:  Lupa aku… Enggak juga. Komik itu enggak berkesan buatku karena enggak bagus tusirannya. Malah kecewa begitu beli.

PGB: Oh oke. Lanjut ya… Dulu kan Mas Erwin juga bikin komik tuh, Taxi Blues. Nah, dari jumlah pembelian, jika dibandingkan komik sendiri sama remaster, lebih banyak mana mas peminatnya?

EPA: Kalau dari jumlah pembelian dan cepat habis… kayaknya Taxi Blues lebih baik.

PGB: Oh ya? Kupikir malah sebaliknya, hehe… Sebenarnya segmen pasar komik remastered ini siapa sih mas? Pernah tahu enggak seberapa banyak pembeli yang berasal dari anak anak muda?

EPA: Segmennya sepertinya masih berkutat di orang orang dulu yang mengalami langsung. Masih dikit yang anak anak muda mah. Sheila Rooswitha (komikus, better known as Lala; red) aja enggak suka.

PGB: Soalnya aku merasa komik remastered ini ditujukan untuk kolektor komik komik lawas, semacam menjual nostalgia begitu. Benar begitu enggak sih mas?

EPA: Apa boleh buat… jadinya seperti itu. Padahal maunya sih buat anak anak baru juga yang belum tahu.

PGB: Lanjut ya mas. Komik remastered ini kan komersil, artinya dijual bebas. Masalah enggak sama hak cipta komikus aslinya?
 
EPA: Masalah dong kalau enggak ijin. Harus beres dulu urusan itu kalau mau dijual bebas.

PGB: Tapi sudah beres untuk Ganes TH dan Teguh Santosa?

EPA: Iya dong… Ganes dengan Gienardy… Teguh dengan Dhany Valiandra

PGB: Oiya, balik lagi nih ke masalah kurang sukanya anak anak muda ke komik komik lawas Indonesia. Mas dan penerbit pernah analisis enggak kenapa itu terjadi? Soalnya menurutku komik komik lawas itu menarik banget sih. Cuma kelemahannya adalah harganya mahal… wkwkwkwk…

EPA: Analisis secara bener bener sih belum pernah karena masih pada sibuk dengan urusan masing2, hehe…
Eh itu sudah murah lho… kalau mau pakai harga beneran mah bakalan muahaal banget.
Biaya remastering itu mahal lo…. Aku ngerjain cleaning dan texting untuk komik Belanda dibayar 25 euro per halaman, padahal kerjaannya ecek ecek doang kalo dibandingkan dengan remastering yang kulakukan ini.

Remastering = EXTREME CLEANING.

PGB: Wah iya sih bener, makanya secara pribadi aku mengucapkan terima kasih buat Mas Erwin, kalo enggak ada remastered edition aku enggak bakal bisa baca komik komik itu. Harga komik aslinya yang dilelang itu mahal mahal banget.

By the way Mas Erwin masih ngikutin perkembangan komik Indonesia sekarang enggak? Dalam artian beli dan baca komik komik terbitan baru. Ada pendapat soal itu?

EPA: Ngikutin dikit… tapi belum ada yang keren kayaknya ya? Artinya… belum bagus jadi satu karya yg utuh. Bagus gambarnya… ceritanya kedodoran, misalnya.

PGB: Secara umum bisa dibilang gitu sih, in my opinion… Suka kesal juga kalau beli komik mahal tapi isinya jelek.

EPA: Artis komik (baru) yg ‘komplit’ itu yg kutahu baru Apri (Apriyadi Kusbiantoro; red) dan Aji Prasetyo. Itu ‘Setan Kerambit’ Aji Prasetyo kalau terbit bakalan jadi milestone juga kurasa. Sayangnya Aji belum selesai selesai menggarapnya.

PGB: Wah aku malah belum baca. Tapi pernah dengar…

EPA: Memang belum diumumkan karena belum selesai. Aku hanya dikasih liat kalau ketemu langsung.

PGB:  Oooh. Aku tahunya dari komik Hidup itu Indah, kalau enggak salah Setan Kerambit  itu dimention di situ kayaknya.

EPA: Lihat aja itu komik Harimau Madiun… gokil kan penulisannya?

PGB: Iya. Menurutku Aji Prasetyo salah satu yang (komikus; red) terbaik saat ini kayaknya.
Ngomong ngomong, kalau menurut Mas Erwin, kritik komik, atau setidaknya review komik di media massa, online ataupun cetak, penting enggak sih?

EPA: Penting dong… kan buat promo juga. Kan berarti ada yg peduli.

PGB: Nah itu, kalau dilihat di dunia musik, kayaknya musik lokal itu terbantu sama banyaknya majalah majalah musik yang mengulas musik musik tanah air. Kalo di komik, menurut mas gimana?
 
EPA: Sepiiii… Makanya aku seneng banget dengan tulisan John Derantau yg 100 komik itu. Pingin rasanya aku bikin jadi buku.

PGB: Hahaha… walaupun yang komentar jadi beraneka rupa gitu ya (kasus Si Gagu dari Goa Hantu)
 
EPA: Iyaa.. enggak apa apa. Seru kan?

PGB: Serulaaah… dedengkot komiknya pada keluar semua.

EPA: Hehe… dan banyak kisah kisah yang baru terungkap setelah puluhan tahun.

PGB: Kalau kurangkum jadi artikel berdasarkan obrolan di facebook gitu boleh enggak ya?

EPA: Boleh aja kurasa… malah buku yg kubayangkan, akan kumasukkan juga semua komen2 di bawahnya itu biar terekam semua.

PGB: By the way mas, setelah proyek remaster ini Mas Erwin enggak pengen bikin komik sendiri?

EPA: Pengen sih…

PGB: Tapi belum? Apa sedang progress juga?

EPA: Belum. Belum ketemu tulisan yang bikin nafsu, hehehe…

PGB: Wah.. kayaknya kesempatan buat bikin cerita nih…  Oiya mas, ini nanti bakalan dimuat di sekuensi.com. Enggak masalah kan mas?

EPA: Siaap… no problem.

PGB: Ngomong ngomong Mas Erwin pernah baca sekuensi.com belum?

EPA: Belum, hehe… ku klik deh.

PGB: Hehehe… oke deh… nanti kalau sudah baca kasih komentar dong mas…

EPA: Ok… 🙂

PGB: Oke mas… terima kasih banyak untuk waktunya yaa…Sukses selalu, semoga Trilogi Sandhoranya cepat kelar.

EPA: Sama sama bro.. sukses selalu.

Oleh -
0 123
Komik Beringas Vol. 1 Terbitan Barasub Press
Sampul depan Beringas Vol. 1

Informasi Teknis

Nomor ArsipAS0003KmK
JudulBeringas Vol. 1
KomikusRam, Chrisna Fernand, Reza Kutjh, Rachmad Afandi, Haidra Wening, Ricky Prayudi, Enka Nkomr, Rangga P.P, Trianto Kintoko
Penerbit/Tahun TerbitBarasub Press - Tan Kinira Books / Desember 2015 (cetakan 1)
Jumlah Halaman188 + vi
Ulasan n/a

BERINGAS: Sebuah Preview

Komik Beringas Vol. 1 adalah sebuah buah kompilasi komik Indonesia yang diterbitkan pada bulan Desember 2015. Kompilasi ini memuat sembilan karya komikus dengan total halaman sebanyak 188. Chrisna Fernand, dalam pengantar berjudul “Berseruah Dihadapan Hambar, Album Asosiasi Bebas” menulis:

“Kita belajar cinta dari benci. Maka dari itu saya membenci komik. Benda yang dari kecil saya sukai itu kini saya benci. Cinta pergi menuju benci. Ada sesuatu di antara cinta dan benci. Pertemuan, pengetahuan, proses, berfikir, dan karena benci sendiri memang adalah cinta yang menyamar. Saya membenci komik karena dia tidak pernah mengajak saya bermain di mana hal-hal di atas berada. Kini dia hanya menunjukkan bahwa cinta adalah cinta. Tertawa adalah tertawa. Tanpa perlu tahu kenapa saya tertawa. Mendikte setiap waktu membuat saya membenci.”

Ekspresi dari sebuah agoni? bisa jadi, namun setidaknya apa yang ditulis oleh Chrisna kemudian menjelaskan kenapa komik Beringas lahir dari rahim percetakan dan tinta. Bunyi paragraf terakhir dalam kata pengantar itu terbaca demikian:

“BERINGAS adalah sebuah album rekaman. Dan album volume I ini berisi rekaman cergam dari sembilan peninta yang berdomisili di Yogyakarta. Tema BERINGAS Vol. 1 ini adalah tanpa tema. Tidak lain disebut asosiasi bebas. Dapat di artikan bicara bebas, sesuatu yang tak lebih dari apa yang terlintas di dalam kepala. Beralih dari topik menuju topik yang lain dan bergerak bebas. Kebebasan ini sebenarnya adalah ketidakbebasan yang masih bisa dibaca dan dilihat, karena alam bawah sadar selalu merekam memori kesadaran tentang apa yang ada di sekitar peninta. Pola bebas yang masih kami anggap penting.”

Demikianlah ihwal mengapa karya kompilasi ini lahir. Satu hal juga yang perlu dicatat adalah kumpulan narasi yang nyaris tidak memiliki benang merah. Artinya, Beringas Vol. 1 tidak bertema dan karenanya bukanlah sebuah kompilasi yang dibangun dari kesepakatan tematis tertentu. Bebas-bebas saja.

Preview Isi

Oleh -
0 182
Aksen-Sepenggal-Catatan-Merah

Informasi Teknis

Nomor ArsipAS0002KmK
JudulSepenggal Catatan Merah
KomikusHendra Bhakti
Penerbit/Tahun TerbitGrafisosial-Gema INTI-Aikon / 2013
Jumlah Halaman102
Ulasann/a

Preview

Bila seseorang berminat membuat daftar komik Indonesia terbaik dalam rentang satu dekade belakangan, maka Sepenggal Catatan Merah bisa menjadi bahan rujukan yang pas untuk membantunya membuat daftar semacam itu.

Sepenggal Catatan Merah disebut oleh Terry Irawan (Kyoto Review) sebagai salah satu dari dua buku komik Indonesia yang memvisualisasikan episode terburuk dalam sejarah Orde Baru Indonesia. Satunya lagi adalah karya Evans Poton yang berjudul Djinah 1965, Years of Silence.

Berbicara tentang Sepenggal … , buku komik yang satu ini dibuka dengan prolog yang menarasikan sejarah singkat rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. Setelah sejarah singkat, pembaca akan dibawa untuk menyelami bagaimana era reformasi dan gerakannya yang turut menumbangkan Soeharto, dimulai – yang bagi Hendra Bhakti (komikus Sepenggal….) dimulai ketika pada 27 Juli 1996 terjadi pembunuhan dan penyerangan terhadap pendukung Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pro-Megawati.

Halaman-halaman selanjutnya pada komik Sepenggal … menampilkan rangkaian sekuensial-visual yang mengilustrasikan gerakan reformasi dan gejolak-gejolak yang terjadi selama 1998-1999. Buku komik tersebut merekam banyak hal, termasuk tragedi mei 1998, ketika empat mahasiswa Trisakti tewas tertembak timah panas aparat, kerusuhan, dan pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa, terjadi menjelang dan sesudah Soeharto turun.

Total 102 halaman komik disajikan di atas kertas HVS 100 gram. Komikusnya memilih untuk membagi karyanya itu ke dalam 11 bagian, yakni “Pengantar”, “Prolog”, “Timah Panas untuk Mahasiswa”, “Pesta RAkyat”, “Gelap Metropolitan”, “Telepon Misterius”, “Memori”, “Penutup”, “Data dan Fakta”, “Gejolak 98-99 dalam Fotografi”, dan “Sumber Komik dan Data”.

Apa yang disodorkan komik Sepenggal Catatan Merah jadinya bukanlah sebuah fiksi, melainkan sebuah visualisasi, atau persisnya usaha untuk mengilustrasikan apa yang terjadi pada bulan Mei 1998, yang merupakan satu bulan yang dikenang sebagai era pembuka jalan ke reformasi. Rasanya tidak salah bila kami menyebutnya sebagai komik pendidikan (sejarah).

Buku komik Sepenggal … juga menampilkan sejumlah dokumentasi dalam bentuk foto, yang memberikan banyak informasi tentang bagaimana kondisi Jakarta pada bulan Mei 1998, ketika sekelompok besar mahasiswa menduduki gedung DPR menuntut Soeharto turun. Dengan cara itu, Sepenggal Catatan Merah menampilkan diri sebagai komik yang dokumentatif sifatnya.

Galeri

Oleh -
0 1361
Aksen-Hikayat-Musang-Berjanggut

Nomor ArsipAS0001KmK
JudulHikayat Musang Berjanggut
KomikusTaguan Harjo
Penerbit/Tahun TerbitGrafiti / 1991
Jumlah Halaman66
Ulasann/a

Hikayat Musang Berjanggut: Preview

Suatu kali saya membongkar tautan berita di laman Facebook, dan di sana saya bertemu dengan sebuah komik (sebagian orang menyebutnya cergam, cerita bergambar) berjudul Hikayat Musang Berjanggut karya Taguan Harjo. Komik tersebut dijual cukup murah di sebuah laman Facebook yang agaknya diciptakan khusus untuk kolektor komik kelas berat (baca: mereka yang mau membeli komik klasik Indonesia berharga mahal). Spontan saya memesannya dan jadilah sekarang komik tersebut sebagai koleksi saya.

Sudah lama saya penasaran dengan Taguan Harjo. Bukan apa-apa. Dia berkali-kali disebut oleh teman saya sebagai pencerita ulung. Dan ihwal itulah yang menarik perhatian saya terhadap komikus yang termasuk bagian dari generasi emas komik medan tahun 1950-an sampai awal 1960-an (oleh Marcell Bonneff, komik medan periode 1960-1963 disebut-sebut sebagai salah satu periode gemilang dalam sejarah komik Indonesia). Dalam sebuah obrolan ringan dengan Hasmi, bapak yang membidani kelahiran Gundala Putera Petir, sang komikus senior itu juga menyebut Taguan sebagai komikus yang punya kualitas lebih. Rupanya dia menyukai Taguan.

Singkat cerita, saya ingin tahu sejauh mana kualitas figur Taguan sebagai seorang pencerita ulung. Namun dengan sangat terpaksa saya belum mampu menilai kualitasnya secara keseluruhan, oleh sebab saya kekurangan koleksi komik Taguan Harjo. Akan sangat tidak adil bila saya menilai kualitas karya Taguan hanya berdasarkan sebuah Hikayat Musang Berjanggut belaka.

Musang Berjanggut berjumlah 66 halaman, di mana masing-masing halaman disodorkan dengan meninggalkan format komik seperti yang kita tahu sekarang – yang secara umum digunakan oleh kebanyakan komikus kontemporer. Artinya, orang akan sulit menemukan sebuah panil demi panil yang berisi balon kata, caption, maupun onomatope. Bentuk seperti itu ditinggalkan jauh oleh Taguan. Dia memilih untuk menghantarkan ceritanya dengan cara menjereng gambar terpisah dengan kata-kata. Dalam satu halaman ada empat baris. Baris pertama khusus untuk visual, baris kedua untuk kata-kata; baris ketiga untuk visual, baris keempat untuk kata-kata. Format semacam itu membuat visual dan kata-kata saling bergantung satu sama lain.

Hikayat Musang Berjanggut mula-mula terbit sebagai cergam bersambung di harian WASPADA Medan, pada tahun 1957. Oleh pengantar penerbit yang diletakkan di halaman pertama, cergam bersambung tersebut mula-mula diberi judul Mencari Musang Berjanggut. Versi yang ada di tangan saya adalah versi terbitan yang baru, dengan kerangka cerita yang – oleh penerbitnya – disebut tidak banyak menyimpang dari aslinya. Bedanya – masih menurut penerbit – terletak pada isi ilustrasi, jumlah panel, nama, dan peran beberapa tokoh kunci, serta desain halaman.

Kisah dalam komik tersebut sebetulnya digubah dari cerita Melayu berjudul The Bearded Civet Cat. Taguan sendiri menyebut karyanya itu sebagai usaha untuk “menghadirkan kembali khazanah (cerita – red) lama […] untuk generasi baru yang belum mengenalnya”. Dalam bentuk buku, Musang Berjanggut didesain sebagai buku dengan format besar ukuran 21x29cm. Jika sulit membayangkan ukuran Hikayat Musang Berjanggut, cobalah Anda bayangkan ketika tangan memegang komik Asterix yang terjemahannya sudah diterbitkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Hikayat Musang Berjanggut: Galeri

Oleh -
0 57
Aksen-Island-of-Images
Nomor ArsipAS0001KT
JudulIndonesian Comics in Island of Images
PengarangIwan Gunawan & Hikmat Darmawan (editor)
Tahun Terbit2015
Jumlah Halaman24
PenerbitComics Exhibition Team of Indonesian Guest of Honor Franfurt Book Fair 2015 & re:ON Comics

Island of Images: Preview

Kebanyakan orang sudah tahu bahwa tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di ajang Frankfurt Book Fair (FBF)yang sudah berlangsung pada 19-23 Oktober 2015 silam. Ajang yang mempertumkan para pelaku bisnis buku di seluruh negara itu juga menghadirkan komik-komik Indonesia, yang mendapatkan tempat untuk dipajang di sana.

Kharisma Jati dan Aji Prasetyo, dua komikus Indonesia yang berkesempatan hadir di ajang tersebut, kembali ke Indonesia dengan membawakan oleh-oleh berupa buku kecil dengan visual sampul berwarna hitam yang terlihat sederhana. Buku tersebut berjudul Indonesian Comics in Island of Images. 24 halaman buku tersebut memuat dua tulisan kuratorial tentang komik Indonesia.

Satu ditulis oleh Iwan Gunawan berjudul Brief History of Indonesia Comics; sementara satu lagi ditulis oleh Hikmat Darmawan dan berjudul Indonesian Comics in the Map of World Graphic Novel. Kedua penulis tersebut sekaligus adalah kurator untuk pameran komik di FBF 2015.

Halaman-halaman lain di dalam buku tersebut berisi profil singkat masing-masing komikus yang berangkat ke Frankfurt dan juga siapa kurator yang bertanggung jawab menyeleksi komik-komik yang dipajang di ajang tersebut.

Tampaknya buku tersebut ditujukan bagi para pembaca/penikmat komik di luar Indonesia (baca: para bule yang ingin tahu tentang komik Indonesia, yang datang ke FBF) yang ingin mengetahui sedikit gambaran tentang medan komik Indonesia.

Hanya saja, meski ada label “kurator” yang disematkan sebagai keterangan di dalam Island of Images, buku kecil tersebut tidak memberikan keterangan lengkap tentang karya mana saja yang turut berangkat dan dipajang di Frankfurt Book Fair.

Memang di tulisan kedua kurator – Hikmat Darmawan dan Iwan Gunawan – pembaca akan menemukan sejumlah gambar komik yang dilengkapi keterangan siapa komikus yang menciptakannya; namun sulit ditemukan keterangan lanjutan, terutama yang bisa menjawab pertanyaan di atas.

Island of Images: Galeri

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu