Arsip

Oleh -
0 123
Komik Beringas Vol. 1 Terbitan Barasub Press
Sampul depan Beringas Vol. 1

Informasi Teknis

Nomor ArsipAS0003KmK
JudulBeringas Vol. 1
KomikusRam, Chrisna Fernand, Reza Kutjh, Rachmad Afandi, Haidra Wening, Ricky Prayudi, Enka Nkomr, Rangga P.P, Trianto Kintoko
Penerbit/Tahun TerbitBarasub Press - Tan Kinira Books / Desember 2015 (cetakan 1)
Jumlah Halaman188 + vi
Ulasan n/a

BERINGAS: Sebuah Preview

Komik Beringas Vol. 1 adalah sebuah buah kompilasi komik Indonesia yang diterbitkan pada bulan Desember 2015. Kompilasi ini memuat sembilan karya komikus dengan total halaman sebanyak 188. Chrisna Fernand, dalam pengantar berjudul “Berseruah Dihadapan Hambar, Album Asosiasi Bebas” menulis:

“Kita belajar cinta dari benci. Maka dari itu saya membenci komik. Benda yang dari kecil saya sukai itu kini saya benci. Cinta pergi menuju benci. Ada sesuatu di antara cinta dan benci. Pertemuan, pengetahuan, proses, berfikir, dan karena benci sendiri memang adalah cinta yang menyamar. Saya membenci komik karena dia tidak pernah mengajak saya bermain di mana hal-hal di atas berada. Kini dia hanya menunjukkan bahwa cinta adalah cinta. Tertawa adalah tertawa. Tanpa perlu tahu kenapa saya tertawa. Mendikte setiap waktu membuat saya membenci.”

Ekspresi dari sebuah agoni? bisa jadi, namun setidaknya apa yang ditulis oleh Chrisna kemudian menjelaskan kenapa komik Beringas lahir dari rahim percetakan dan tinta. Bunyi paragraf terakhir dalam kata pengantar itu terbaca demikian:

“BERINGAS adalah sebuah album rekaman. Dan album volume I ini berisi rekaman cergam dari sembilan peninta yang berdomisili di Yogyakarta. Tema BERINGAS Vol. 1 ini adalah tanpa tema. Tidak lain disebut asosiasi bebas. Dapat di artikan bicara bebas, sesuatu yang tak lebih dari apa yang terlintas di dalam kepala. Beralih dari topik menuju topik yang lain dan bergerak bebas. Kebebasan ini sebenarnya adalah ketidakbebasan yang masih bisa dibaca dan dilihat, karena alam bawah sadar selalu merekam memori kesadaran tentang apa yang ada di sekitar peninta. Pola bebas yang masih kami anggap penting.”

Demikianlah ihwal mengapa karya kompilasi ini lahir. Satu hal juga yang perlu dicatat adalah kumpulan narasi yang nyaris tidak memiliki benang merah. Artinya, Beringas Vol. 1 tidak bertema dan karenanya bukanlah sebuah kompilasi yang dibangun dari kesepakatan tematis tertentu. Bebas-bebas saja.

Preview Isi

Oleh -
0 182
Aksen-Sepenggal-Catatan-Merah

Informasi Teknis

Nomor ArsipAS0002KmK
JudulSepenggal Catatan Merah
KomikusHendra Bhakti
Penerbit/Tahun TerbitGrafisosial-Gema INTI-Aikon / 2013
Jumlah Halaman102
Ulasann/a

Preview

Bila seseorang berminat membuat daftar komik Indonesia terbaik dalam rentang satu dekade belakangan, maka Sepenggal Catatan Merah bisa menjadi bahan rujukan yang pas untuk membantunya membuat daftar semacam itu.

Sepenggal Catatan Merah disebut oleh Terry Irawan (Kyoto Review) sebagai salah satu dari dua buku komik Indonesia yang memvisualisasikan episode terburuk dalam sejarah Orde Baru Indonesia. Satunya lagi adalah karya Evans Poton yang berjudul Djinah 1965, Years of Silence.

Berbicara tentang Sepenggal … , buku komik yang satu ini dibuka dengan prolog yang menarasikan sejarah singkat rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. Setelah sejarah singkat, pembaca akan dibawa untuk menyelami bagaimana era reformasi dan gerakannya yang turut menumbangkan Soeharto, dimulai – yang bagi Hendra Bhakti (komikus Sepenggal….) dimulai ketika pada 27 Juli 1996 terjadi pembunuhan dan penyerangan terhadap pendukung Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pro-Megawati.

Halaman-halaman selanjutnya pada komik Sepenggal … menampilkan rangkaian sekuensial-visual yang mengilustrasikan gerakan reformasi dan gejolak-gejolak yang terjadi selama 1998-1999. Buku komik tersebut merekam banyak hal, termasuk tragedi mei 1998, ketika empat mahasiswa Trisakti tewas tertembak timah panas aparat, kerusuhan, dan pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa, terjadi menjelang dan sesudah Soeharto turun.

Total 102 halaman komik disajikan di atas kertas HVS 100 gram. Komikusnya memilih untuk membagi karyanya itu ke dalam 11 bagian, yakni “Pengantar”, “Prolog”, “Timah Panas untuk Mahasiswa”, “Pesta RAkyat”, “Gelap Metropolitan”, “Telepon Misterius”, “Memori”, “Penutup”, “Data dan Fakta”, “Gejolak 98-99 dalam Fotografi”, dan “Sumber Komik dan Data”.

Apa yang disodorkan komik Sepenggal Catatan Merah jadinya bukanlah sebuah fiksi, melainkan sebuah visualisasi, atau persisnya usaha untuk mengilustrasikan apa yang terjadi pada bulan Mei 1998, yang merupakan satu bulan yang dikenang sebagai era pembuka jalan ke reformasi. Rasanya tidak salah bila kami menyebutnya sebagai komik pendidikan (sejarah).

Buku komik Sepenggal … juga menampilkan sejumlah dokumentasi dalam bentuk foto, yang memberikan banyak informasi tentang bagaimana kondisi Jakarta pada bulan Mei 1998, ketika sekelompok besar mahasiswa menduduki gedung DPR menuntut Soeharto turun. Dengan cara itu, Sepenggal Catatan Merah menampilkan diri sebagai komik yang dokumentatif sifatnya.

Galeri

Oleh -
0 1361
Aksen-Hikayat-Musang-Berjanggut

Nomor ArsipAS0001KmK
JudulHikayat Musang Berjanggut
KomikusTaguan Harjo
Penerbit/Tahun TerbitGrafiti / 1991
Jumlah Halaman66
Ulasann/a

Hikayat Musang Berjanggut: Preview

Suatu kali saya membongkar tautan berita di laman Facebook, dan di sana saya bertemu dengan sebuah komik (sebagian orang menyebutnya cergam, cerita bergambar) berjudul Hikayat Musang Berjanggut karya Taguan Harjo. Komik tersebut dijual cukup murah di sebuah laman Facebook yang agaknya diciptakan khusus untuk kolektor komik kelas berat (baca: mereka yang mau membeli komik klasik Indonesia berharga mahal). Spontan saya memesannya dan jadilah sekarang komik tersebut sebagai koleksi saya.

Sudah lama saya penasaran dengan Taguan Harjo. Bukan apa-apa. Dia berkali-kali disebut oleh teman saya sebagai pencerita ulung. Dan ihwal itulah yang menarik perhatian saya terhadap komikus yang termasuk bagian dari generasi emas komik medan tahun 1950-an sampai awal 1960-an (oleh Marcell Bonneff, komik medan periode 1960-1963 disebut-sebut sebagai salah satu periode gemilang dalam sejarah komik Indonesia). Dalam sebuah obrolan ringan dengan Hasmi, bapak yang membidani kelahiran Gundala Putera Petir, sang komikus senior itu juga menyebut Taguan sebagai komikus yang punya kualitas lebih. Rupanya dia menyukai Taguan.

Singkat cerita, saya ingin tahu sejauh mana kualitas figur Taguan sebagai seorang pencerita ulung. Namun dengan sangat terpaksa saya belum mampu menilai kualitasnya secara keseluruhan, oleh sebab saya kekurangan koleksi komik Taguan Harjo. Akan sangat tidak adil bila saya menilai kualitas karya Taguan hanya berdasarkan sebuah Hikayat Musang Berjanggut belaka.

Musang Berjanggut berjumlah 66 halaman, di mana masing-masing halaman disodorkan dengan meninggalkan format komik seperti yang kita tahu sekarang – yang secara umum digunakan oleh kebanyakan komikus kontemporer. Artinya, orang akan sulit menemukan sebuah panil demi panil yang berisi balon kata, caption, maupun onomatope. Bentuk seperti itu ditinggalkan jauh oleh Taguan. Dia memilih untuk menghantarkan ceritanya dengan cara menjereng gambar terpisah dengan kata-kata. Dalam satu halaman ada empat baris. Baris pertama khusus untuk visual, baris kedua untuk kata-kata; baris ketiga untuk visual, baris keempat untuk kata-kata. Format semacam itu membuat visual dan kata-kata saling bergantung satu sama lain.

Hikayat Musang Berjanggut mula-mula terbit sebagai cergam bersambung di harian WASPADA Medan, pada tahun 1957. Oleh pengantar penerbit yang diletakkan di halaman pertama, cergam bersambung tersebut mula-mula diberi judul Mencari Musang Berjanggut. Versi yang ada di tangan saya adalah versi terbitan yang baru, dengan kerangka cerita yang – oleh penerbitnya – disebut tidak banyak menyimpang dari aslinya. Bedanya – masih menurut penerbit – terletak pada isi ilustrasi, jumlah panel, nama, dan peran beberapa tokoh kunci, serta desain halaman.

Kisah dalam komik tersebut sebetulnya digubah dari cerita Melayu berjudul The Bearded Civet Cat. Taguan sendiri menyebut karyanya itu sebagai usaha untuk “menghadirkan kembali khazanah (cerita – red) lama […] untuk generasi baru yang belum mengenalnya”. Dalam bentuk buku, Musang Berjanggut didesain sebagai buku dengan format besar ukuran 21x29cm. Jika sulit membayangkan ukuran Hikayat Musang Berjanggut, cobalah Anda bayangkan ketika tangan memegang komik Asterix yang terjemahannya sudah diterbitkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Hikayat Musang Berjanggut: Galeri

Oleh -
0 57
Aksen-Island-of-Images
Nomor ArsipAS0001KT
JudulIndonesian Comics in Island of Images
PengarangIwan Gunawan & Hikmat Darmawan (editor)
Tahun Terbit2015
Jumlah Halaman24
PenerbitComics Exhibition Team of Indonesian Guest of Honor Franfurt Book Fair 2015 & re:ON Comics

Island of Images: Preview

Kebanyakan orang sudah tahu bahwa tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di ajang Frankfurt Book Fair (FBF)yang sudah berlangsung pada 19-23 Oktober 2015 silam. Ajang yang mempertumkan para pelaku bisnis buku di seluruh negara itu juga menghadirkan komik-komik Indonesia, yang mendapatkan tempat untuk dipajang di sana.

Kharisma Jati dan Aji Prasetyo, dua komikus Indonesia yang berkesempatan hadir di ajang tersebut, kembali ke Indonesia dengan membawakan oleh-oleh berupa buku kecil dengan visual sampul berwarna hitam yang terlihat sederhana. Buku tersebut berjudul Indonesian Comics in Island of Images. 24 halaman buku tersebut memuat dua tulisan kuratorial tentang komik Indonesia.

Satu ditulis oleh Iwan Gunawan berjudul Brief History of Indonesia Comics; sementara satu lagi ditulis oleh Hikmat Darmawan dan berjudul Indonesian Comics in the Map of World Graphic Novel. Kedua penulis tersebut sekaligus adalah kurator untuk pameran komik di FBF 2015.

Halaman-halaman lain di dalam buku tersebut berisi profil singkat masing-masing komikus yang berangkat ke Frankfurt dan juga siapa kurator yang bertanggung jawab menyeleksi komik-komik yang dipajang di ajang tersebut.

Tampaknya buku tersebut ditujukan bagi para pembaca/penikmat komik di luar Indonesia (baca: para bule yang ingin tahu tentang komik Indonesia, yang datang ke FBF) yang ingin mengetahui sedikit gambaran tentang medan komik Indonesia.

Hanya saja, meski ada label “kurator” yang disematkan sebagai keterangan di dalam Island of Images, buku kecil tersebut tidak memberikan keterangan lengkap tentang karya mana saja yang turut berangkat dan dipajang di Frankfurt Book Fair.

Memang di tulisan kedua kurator – Hikmat Darmawan dan Iwan Gunawan – pembaca akan menemukan sejumlah gambar komik yang dilengkapi keterangan siapa komikus yang menciptakannya; namun sulit ditemukan keterangan lanjutan, terutama yang bisa menjawab pertanyaan di atas.

Island of Images: Galeri

Oleh -
0 61
Aksen-Reka-reka-Reklame

Informasi Teknis

Nomor ArsipAS0001TA
JudulReka-reka Reklame
KomikusEdi Jatmiko
Tahun Terbit2012
Jumlah Halamann/a
Ulasann/a

Reka-Reka Reklame: Preview

Reka-reka Reklame adalah sebuah komik Tugas Akhir (sebutan untuk komik yang diproduksi untuk keperluan tugas akhir kuliah). Digambar dan disusun oleh Edi Jatmiko, komik ini menawarkan pengetahuan penting mengenai dunia periklanan yang dibagi dalam beberapa bab, yakni reklame mula-mula, mengenal iklan, garis waktu sejarah periklanan, strategi iklan, iklan dan pencitraan, iklan dan perempuan, iklan dan gaya hidup, serta iklan dan lingkungan.

Halaman-halaman pertama dari Reka-reka reklame menyuguhkan halaman demi halaman penuh ilustrasi dan teks yang mudah menjerumuskan kita ke dalam anggapan awal, bahwa komik tersebut bakal memaparkan bagaimana industri periklanan bekerja, serta lengkap dengan sejarah iklan dari masa ke masa. Singkat kata, mula-mula pembaca disodorkan sebuah buku teks mengenai periklanan a la McCloud. Meski kemudian anggapan tersebut sama sekali salah begitu kita membuka bab mulai dari strategi iklan.

Di bagian strategi iklan, misalnya, Edi memaparkan – secara visual – sejumlah contoh slogan periklanan yang didesain sedemikian rupa supaya enak dibaca dan memiliki bunyi yang enak ketika dilisankan. Yang menarik adalah cara memaparkannya, yang disusun sedemikian rupa hingga mirip tembok batu bata. Banyak slogan ditempatkan di sana, dan masing-masing diletakkan secara horizontal maupun vertikal. Menarik. Sejumlah slogan produk sering diperdengarkan dan sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari.

Reka-reka Reklame merupakan tipikal komik yang hadir dengan gaya McCloud (ketika menikmatinya Anda mungkin dengan mudah mengingat trilogi Making Comics garapannya, dalam arti bila dianggap sebagai komik yang bermaksud menyebarkan pengetahuan), meski gaya tersebut tidak sepenuhnya ditiru oleh Edi – sebagai contoh: McCloud sebagai individu muncul di triloginya itu, sementara Edi tidak muncul di komiknya.

Teks dan ilustrasi bercampur baur menjadi satu, dan terkadang teks bisa menjadi sangat penuh dengan agitasi. Ini bisa kita lihat pada bab iklan dan gaya hidup, di mana pada satu titik ilustrasi Edi bercerita kepada pembaca tentang banyak produk yang menopang hidup sehari-hari, yang “dibuat di negara-negara yang sangat miskin dengan upah buruh yang sangat rendah, nyaris seperti budak”.

Edi bercerita tentang propaganda iklan; bagaimana iklan bekerja merayu konsumen. Di saat bersamaan, rasanya Edi juga memprogandakan wicara yang bekerja melampaui apa yang diilustrasikannya lewat Reka-reka Reklame

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu