Komikus
astrajingga-saardisoma
A
komikus-Hans-Jaladara
H
Kho-Wan-Gie
K
Excerpt from Happy Ending - Azisa Noor
A
Beng Rahadian
B

Oleh -
0 260
astrajingga-saardisoma

Berikut profil Ardisoma yang, karena kekurangan bahan penulisan, disajikan sesingkat mungkin. Kami akan berusaha mengembangkan profilnya lagi nanti.

Mereka yang bekerja di medan komik Indonesia lebih mengenal Ardisoma sebagaimana adanya – sebagai komikus yang menggarap Wayang Purwa. Walau demikian, nama Ardisoma adalah nama ayahnya.Saleh adalah nama sebenarnya dari komikus yang dikenal sebagai Ardisoma.

Nama depan ‘Saleh’ kerapkali ditambahkan sebelum ‘Ardisoma, dan karenanya nama dia kerap disebut menjadi Saleh Ardisoma, S.A.S, atau S. Ardisoma. Nama-nama ini kerap kali ditorehkannya dalam panil-panil komik yang konon kemudian menjadi salah satu produk yang paling dikenal di medan komik Indonesia tahun 1950-1960-an.

Beberapa orang merujuk judul-judul seperti Wayang Purwa, Ulamsari, dan Djakawana sebagai karya-karya Ardisoma yang paling menonjol. Semua judul-judul tersebut terbit di bawah bendera penerbit Melodi, yang dulu kerap kali melakukan inovasi tema untuk komik-komik yang mereka terbitkan pada tahun 1950-an.

Karyanya yang berjudul Wayang Purwa diterbitkan ulang pada Januari 2010. Seorang pembaca di situs Goodreads menilai Ardisoma sebagai komikus yang “tokoh-tokoh komiknya selalu tampil layaknya gadis China dengan kakinya yang mungil. Konon Wayang Purwa telah menjadi salah satu mahakarya komik Indonesia yang ceritanya mengalir lancar dan lugas.

Oleh -
0 67
komikus-Hans-Jaladara

Hans Jaladara sebetulnya adalah nama pena yang dipakai oleh komikus bernama Hans Rianto Sukandi. Hans lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 4 April 1947. Dia adalah salah seorang komikus yang lebih dikenal lewat serial Panji Tengkorak. 

Kendati demikian, nama pena tersebut baru dipakai olehnya pada awal tahun 1970-an. ‘Jaladara’ diambilnya dari tokoh bernama Wiku Paksi Jaladara yang merupakan toko dalam komik wayang karya Ardi Soma.

Komikus Hans Jaladara awalnya bukanlah komikus yang menggarap cerita silat. Konon menurut kabar ia dulu diminta penerbit untuk membuat komik yang serupa dengan Si Buta dari Goa Hantu (Ganes TH). Waktu itu karya Ganes memang sedang menjadi idola baru di antara para penggemar komik. Tahun 1968 Hans menciptakan Pandji Tengkorak yang rupanya sangat sukses di pasaran. Akhirnya komik tersebut diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama. Mereka yang bermain dalam film tersebut adalah: Maruli Sitompul, Lenny Marlina, Rita Zahara, Shan Kuan Ling Fungm dan Deddy Sutomo.

Komikus Hans Jaladara disebut-sebut sebagai kreator yang pandai berimajinasi. Segala macam gerakan silat yang digambarkan lewat komik garapannya terinspirasi dari gerakan-gerakan kungfu. Hans dulu memang sempat belajar bela diri tersebut di perguruan Cheng Bu. Selain Kungfu, dia juga pernah belajar judo pada Tjoa Kek Tiong.

Anda bisa menikmati profil lengkapnya dengan membaca artikel berjudul Hans Jaladara: Etnis Tionghoa di Medan Komik Indonesia yang dimuat di bagian lain dari Jurnal Komik Online.

Oleh -
0 117
Kho-Wan-Gie

Kho Wan Gie (1908-1983) merupakan salah satu tokoh komik legendaris yang – menurut catatan Budaya-Tionghoa.net – aktif ngomik pada kurun waktu 1930 sampai 1960-an. Selain dia, ada nama-nama komikus Tionghoa yang juga dikenal ketika itu, yakni Kong Ong, John Lo, Kwik Ing Hoo, Lie Ay Poon serta Siauw Tik Kwie. Orang lebih mengenal Kho Wan Gie sebagai komikus yang menggarap seri Put On.

Catatan lebih lengkap tentang profil Kho Wan Gie bisa dibaca di Kho Wan Gie: Orang-Orang Tionghoa di medan Komik Indonesia (bagian 2)

Oleh -
0 151
Excerpt from Happy Ending - Azisa Noor

“Cerita orisinal ditambah konten yang mengapresiasi kelokalan negeri ini tentu akan lebih memikat para pembaca komik yang mayoritasnya adalah remaja,” kata Azisa Noor seperti dikutip laman Sastra-Indonesia.com. Kata Zisa (panggilan akrab untuk Azisa Noor, tidak masalah apabila komikus terpengaruh gaya gambar komik Jepang.

Namun yang paling penting baginya adalah isi cerita yang disampaikan lewat komik. Situs Sastra-Indonesia mengisyaratkan kepada pembacanya, bahwa Zisa adalah komikus yang peduli pada penyampaian nilai-nilai sejarah, sosial budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk menyampaikannya, riset dibutuhkan terlebih dulu supaya data bisa dipakai dan diungkapkan dengan benar. Azisa Noor konon sudah mulai ngomik sejak duduk di bangku SD. Dia yang menurut kabar telah menciptakan 15 judul komik menampik anggapan umum yang mengatakan bahwa komik semata adalah medium untuk menghibur.

Di masa lalu dia telah memenangkan banyak kompetisi komik, termasuk pada lomba pekan komik merdeka di kampus Institut Teknologi Bandung (1999) untuk karyanya yang berjudul Dunia Tanpa, juara kedua lomba komik fiksi ilmiah yang diselenggarakan Depdikbud Indonesia, Jakarta (2003) untuk komiknya yang berjudul Hutan Juara, serta juara ketiga kompetisi Pekan Komik Nasional di Universitas Petra, Surabaya (2006) untuk komiknya yang berjudul Afterdark.  Pendek kata, ada banyak penghargaan yang telah diterimanya sebagai seorang komikus. Akan tetapi dari sekian banyak kompetisi komik yang dia ikuti, Zisa tampaknya sangat terkesan dengan kegiatan Lingua Comica yang diselenggarakan ASEAN European Foundation. Ceritanya ketika itu (2007), dia bekerjasama dengan Gabor Kissgz membuat komik dengan cerita hantu kontemporer yang yang diadaptasi dari novel Hendry James, Turn of His Grow. Waktu itu dia sama sekali tidak pernah bertatap muka dengan Kissgz. Semua pekerjaan mencipta antar keduanya dilakukan dengan cara ngobrol melalui fasilitas chat online. Dia bari bertemu dengan Kissgz di London.

Selain ngomik dan mengikuti kompetisi, Azisa Noor juga adalah pendiri rumah komik bernama KOMIKARA yang berpusat di Bandung. Imansyah Lubis lewat ComiConnexions menyebut Zisa sebagai komikus yang tekniknya agak jarang ditemukan, sebab sang komikus menciptakan komik dengan cara manual serta memakai medium cat air untuk membentuk objek komikal. Zisa sendiri menyebut dirinya sebagai perupa dalam industri komik (kami juga penasaran kenapa dia menyebut dirinya dengan cara seperti itu), di mana pendekatan manual digunakan ketika berkarya. Karya-karya Zisa yang pernah diterbitkan meliputi Kaki Lima (2011), Mantra (2011), Satu Atap 2 (2010), Perempuan di Atas Pohon (2010), Ramadhan 200 H (2009), Satu Atap (2009), Crossroads (2009), Bandung Faerie Project (2008), Asa (2007), serta Legenda (2006). Dia bisa ditemukan di Azisanoor.com.

*Ditulis dengan bahan dari berbagai sumber*

Oleh -
0 206
Beng Rahadian

Hampir semua orang yang menggeluti medan komik Indonesia pernah mendengar nama Beng Rahadian. Jurnal komik Online kali ini akan menghadirkan profilnya. 

“Pertama kali saya mendengar nama Beng Rahadian, saya kira dia orang yang keras dan tipikal pria dengan tingkat emosi tinggi. Ya pokoknya sangar gitu deh (tertawa)”, demikian kata editor kami MHadid.

“Karena ya, saya pertama kali tahu Beng Rahadian – tahu loh ya, bukan ‘pertama kali kenal’ – dari tulisannya di situs Komikaze yang terdaftar di Tripod. Sekarang situsnya sendiri sudah mati. Namun harus saya akui beberapa tulisannya di sana sangat berenergi dan kritis. Saya menyukai tulisannya itu. Dan mungkin ini agak ironis, walau dia komikus juga tetapi saya pertama-tama tahu dia karena tulisannya, bukan karena komiknya. Ya, saya juga tahu dia penggemar kopi”, kata MHadid melanjutkan.

Portal Tnol.co.id menulis perihal Beng Rahadian dan menyebutnya sebagai seorang yang bakat menggambarnya sudah muncul sejak usia Sekolah Menengah Pertama. Sedangkan Henry Ismono menyebutnya sebagai seorang yang komplit: pendiri lembaga komik, editor komik, dan komikus juga. Beng lulus dari Sekolah Menengah Seni Rupa di Bandung, dan ketika tahun 1994 ia pernah bekerja di Animik World, tempat yang sama di mana Ahmad Zeni juga pernah bekerja paruh waktu. Selepas SMA ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta. Di kampus ini, katanya: “saya berhadapan dengan orang-orang yang begitu lepas dan lugas dalam mengemukakan pendapatnya, entah itu dengan lisan atau dengan coretan-coretannya.”

Di Jogja lah Beng menemukan kemerdekaan pada tataran gagasan. Apa saja, menurut Beng, bisa hidup di kota itu. “Sebab semuanya berjalan sangat dinamis. Saya menemukan sebuah komik pada dinding tembok, pada kanvas, tong yang dibelah, karya grafis, dan banyak lagi eksplorasi memukau lainnya, yang belum pula dapat saya jelaskan,” dia kemudian melanjutkan.

Beng sendiri mulai menciptakan karya dalam bentuk komik pada tahun 1999, atau setelah ia bergabung dalam komunitas Studi Komik Teh Jahe dengan teman-temannya di Jogja. Nama itu ditemukan secara tak sengaja. Karena setiap kali anggotanya kumpul di angkringan, minuman yang dipesan adalah teh jahe.

Di komunitas itulah ia membuat komik-komik Indie. Beng Rahadian mulai mengibarkan panjinya ketika pada tahun 2001 ia memenangkan lomba mengkomikkan Jogja berkat Selamat Pagi, Urbaz! Ia juga pernah memenangkan Kosasih award pada tahun 2007 berkat karyanya yang berjudul Tidur Panjang. Sebagai komikus, gaya visualnya dipengaruhi oleh komik wayang garapan RA Kosasih serta dalam derajat tertentu dipengaruhi komik silat juga. Nama Ahmad Faisal Dwi Ismail juga sempat disebutnya sebagai seorang yang diidolainya. Karya Ismail yang menggarap komik strip Sukribo di Kompas menjadi semacam model bagi beng.

Beng Rahadian sempat bergabung dengan Masyarakat Komik Indonesia sebelum akhirnya mendirikan Akademi Samali bersama Hikmat Darmawan dan Zarki. Selamat Pagi Urbaz! diterbitkan pada tahun 2004. Setahun setelah penerbitan komik tersebut, Beng ditawari untuk mengisi kolom komik strip di Koran Tempo edisi Minggu. Jadilah sekarang strip Lotif yang bisa kita nikmati setiap minggu di koran tersebut. Kumpulan strip Lotif dari tahun 2005-2009 juga telah diterbitkan oleh Cendana Art Media (tempat Beng bekerja sebagai editor komik) dengan judul Kumpulan Komik Strip: Lotif versi Pasbook. Namun karirnya di bidang komik strip mingguan tidak hanya berhenti di Koran Tempo semata, melainkan juga di Koran Seputar Indonesia (Sindo). Di Sindo dia mengisi strip yang berisi candaan di seputar kopi dan penikmatnya. Karya Beng bersama Tomas Soejakto dan Ridwan Syahroni, Enjah, juga melengkapi daftar komiknya yang patut disimak.

*Ditulis dengan bahan diambil dari berbagai sumber

Canda Kopi
Hak Cipta Karya: Beng Rahadian

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu