B
Beng Rahadian
B
Tiga Manula ke Singapura
B
B
Bagus Wahyu
B

Oleh -
0 206
Beng Rahadian

Hampir semua orang yang menggeluti medan komik Indonesia pernah mendengar nama Beng Rahadian. Jurnal komik Online kali ini akan menghadirkan profilnya. 

“Pertama kali saya mendengar nama Beng Rahadian, saya kira dia orang yang keras dan tipikal pria dengan tingkat emosi tinggi. Ya pokoknya sangar gitu deh (tertawa)”, demikian kata editor kami MHadid.

“Karena ya, saya pertama kali tahu Beng Rahadian – tahu loh ya, bukan ‘pertama kali kenal’ – dari tulisannya di situs Komikaze yang terdaftar di Tripod. Sekarang situsnya sendiri sudah mati. Namun harus saya akui beberapa tulisannya di sana sangat berenergi dan kritis. Saya menyukai tulisannya itu. Dan mungkin ini agak ironis, walau dia komikus juga tetapi saya pertama-tama tahu dia karena tulisannya, bukan karena komiknya. Ya, saya juga tahu dia penggemar kopi”, kata MHadid melanjutkan.

Portal Tnol.co.id menulis perihal Beng Rahadian dan menyebutnya sebagai seorang yang bakat menggambarnya sudah muncul sejak usia Sekolah Menengah Pertama. Sedangkan Henry Ismono menyebutnya sebagai seorang yang komplit: pendiri lembaga komik, editor komik, dan komikus juga. Beng lulus dari Sekolah Menengah Seni Rupa di Bandung, dan ketika tahun 1994 ia pernah bekerja di Animik World, tempat yang sama di mana Ahmad Zeni juga pernah bekerja paruh waktu. Selepas SMA ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta. Di kampus ini, katanya: “saya berhadapan dengan orang-orang yang begitu lepas dan lugas dalam mengemukakan pendapatnya, entah itu dengan lisan atau dengan coretan-coretannya.”

Di Jogja lah Beng menemukan kemerdekaan pada tataran gagasan. Apa saja, menurut Beng, bisa hidup di kota itu. “Sebab semuanya berjalan sangat dinamis. Saya menemukan sebuah komik pada dinding tembok, pada kanvas, tong yang dibelah, karya grafis, dan banyak lagi eksplorasi memukau lainnya, yang belum pula dapat saya jelaskan,” dia kemudian melanjutkan.

Beng sendiri mulai menciptakan karya dalam bentuk komik pada tahun 1999, atau setelah ia bergabung dalam komunitas Studi Komik Teh Jahe dengan teman-temannya di Jogja. Nama itu ditemukan secara tak sengaja. Karena setiap kali anggotanya kumpul di angkringan, minuman yang dipesan adalah teh jahe.

Di komunitas itulah ia membuat komik-komik Indie. Beng Rahadian mulai mengibarkan panjinya ketika pada tahun 2001 ia memenangkan lomba mengkomikkan Jogja berkat Selamat Pagi, Urbaz! Ia juga pernah memenangkan Kosasih award pada tahun 2007 berkat karyanya yang berjudul Tidur Panjang. Sebagai komikus, gaya visualnya dipengaruhi oleh komik wayang garapan RA Kosasih serta dalam derajat tertentu dipengaruhi komik silat juga. Nama Ahmad Faisal Dwi Ismail juga sempat disebutnya sebagai seorang yang diidolainya. Karya Ismail yang menggarap komik strip Sukribo di Kompas menjadi semacam model bagi beng.

Beng Rahadian sempat bergabung dengan Masyarakat Komik Indonesia sebelum akhirnya mendirikan Akademi Samali bersama Hikmat Darmawan dan Zarki. Selamat Pagi Urbaz! diterbitkan pada tahun 2004. Setahun setelah penerbitan komik tersebut, Beng ditawari untuk mengisi kolom komik strip di Koran Tempo edisi Minggu. Jadilah sekarang strip Lotif yang bisa kita nikmati setiap minggu di koran tersebut. Kumpulan strip Lotif dari tahun 2005-2009 juga telah diterbitkan oleh Cendana Art Media (tempat Beng bekerja sebagai editor komik) dengan judul Kumpulan Komik Strip: Lotif versi Pasbook. Namun karirnya di bidang komik strip mingguan tidak hanya berhenti di Koran Tempo semata, melainkan juga di Koran Seputar Indonesia (Sindo). Di Sindo dia mengisi strip yang berisi candaan di seputar kopi dan penikmatnya. Karya Beng bersama Tomas Soejakto dan Ridwan Syahroni, Enjah, juga melengkapi daftar komiknya yang patut disimak.

*Ditulis dengan bahan diambil dari berbagai sumber

Canda Kopi
Hak Cipta Karya: Beng Rahadian

Oleh -
0 140
Tiga Manula ke Singapura

Situs Ensiklopedi tokoh Indonesia menyebut Benny Rachmadi sebagai kartunis yang senang mengamati segala hal sekaligus menuangkan hasil amatannya itu ke sebuah gambar. Meski disebut sebagai kartunis, kami lebih senang melengkapinya dengan sebutan komikus. Mungkin anda lebih mengenal Benny sebagai teman duet Muhammad ‘Mice’ Misrad. Tapi itu dulu. Sekarang keduanya telah berpisah. Berjalan sendiri-sendiri, mungkin juga dengan idealismenya masing-masing.

Benny lahir di Samarinda 23 Agustus 1969. Selepas SMA Benny memutuskan untuk masuk Institut Kesenian Jakarta jurusan Desain Grafis. Di kampus itulah ia bertemu Mice yang kelak akan menjadi teman duetnya. Konon menurut cerita awal duet Benny dan Mice dimulai dari koran dinding IKJ. Ini terjadi pada tahun 1989-1990 ketika mereka diserahi menggarap koran dinding. Majalah Rolling Stone Indonesia edisi Mei 2008 merilis sebuah artikel wawancara dengan Benny dan Mice dan sempat mengungkap sedikit cerita tentang koran dinding itu. Sebelum mereka berdua ‘merombak’ koran dinding IKJ, medium itu lebih banyak berisi tulisan ilmiah seputar dunia seni. Singkat cerita, mereka berdua merubah konten, dari yang tadinya berisi banyak tulisan menjadi berisi lebih banyak gambar. “Kami bikin deh, gambar ngaco, tulisan juga ngaco”, demikian kata Benny. Akan tetapi dari koran dinding merekalah dimulai jenis gambar yang merepresentasikan tingkah polah orang lain. Kemudian sebagaimana kita tahu, jadilah cara ini sebuah ciri khas mereka berdua yang bisa dinikmati lewat seri Lagak Jakarta. 

Benny dan Mice sempat lama berduet. Pertama-tama untuk koran dinding kampus, dan kemudian berlanjut di seri Lagak Jakarta (1997-2007) serta komik strip Benny dan Mice di harian Kompas Minggu (sejak tahun 2003 sampai 2010). Editor kami memiliki kesan tersendiri terhadap Benny. Mungkin bila dibandingkan dengan Mice, Benny cenderung lebih pasif dan kalem. Irit bicara. Tentang kesan ini ada cerita di tahun 2009 ketika Benny dan Mice menghadiri acara peluncuran buku Lost in Bali di Gramedia Ambarukmo Plaza Yogyakarta. Ketika itu editor kami mengingat suasana diskusi di mana yang aktif berbicara di depan adalah Mice, sementara Benny lebih banyak diam. Di lain waktu, ada teman kami pernah bercerita di sebuah acara di mana Benny dan Mice hadir sebagai pemateri lokakarya. Kata teman kami itu, ketika Mice asyik memberi materi, Benny malah nongkrong di luar ruangan, merokok, dan mengambil beberapa foto dari kameranya. Mungkin Benny adalah tipikal komikus yang tidak senang ingar-bingar keramaian. Namun kami tidak tahu bagaimana pastinya kepribadian Benny. Apa yang kami lihat dan kami dengar dari orang lain hanyalah petilan pemanis cerita.     

Benny sempat berkarir di harian Kompas dan tabloid serta harian Kontan. Ia juga sempat mengajar di IKJ dari tahun 1993-2002. Selain hidup sebagai kartunis dan komikus, Benny juga pernah meraih sejumlah penghargaan, misalnya Penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) untuk kategori ilustrator buku anak-anak terbaik. Ini diperolehnya pada tahun 1995. Selain penghargaan dari IKAPI, Benny Rachmadi juga pernah memenangi penghargaan Sequential Art pada International Competition Student Artist tahun 1996.  Ia disebut-sebut sebagai komikus yang mengidolai Dwi Koendoro dan kartunis Tempo Priyanto.

Dalam karirnya sebagai kartunis, Benny pernah mengikuti beberapa pameran kartun, misalnya pameran kartun untuk Demokrasi pada tahun 2000 serta pameran kartun internastional yang diinisiasi oleh Pusat Kebudayaan Jepang pada tahun 2007.  Berikut daftar komikografi, atau karya-karya Benny yang pernah dibukukan:

 

Bersama Muhammad Misrad

  • Lagak Jakarta: Trend dan Perilaku (Penerbit KPG, 1997)
  • Lagak Jakarta: Transportasi (Penerbit KPG,  1997)
  • Lagak Jakarta: Profesi (Penerbit KPG, 1997)
  • Lagak Jakarta: Krisis…Oh…Krisis (Penerbit KPG, 1998)
  • Lagak Jakarta: Reformasi (Penerbit KPG, 1998)
  • Lagak Jakarta: (Huru-Hara)Hura-Hura Pemilu ’99 (Penerbit KPG, 1999)
  • Lagak Jakarta: 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta (Penerbit KPG, 2007)
  • Jakarta Luar Dalam (Penerbit Nalar, 2007)
  • Jakarta Atas Bawah (Penerbit Nalar, 2008)
  • Talk About Hape (Penerbit Nalar, 2008)
  • Hidup Hirau Hijau (Penerbit KPG, 2009)
  • Lost In Bali 1 (Penerbit KPG, 2009)
  • Lost in Bali 2 (Penerbit KPG, 2009)

 

Karya tunggal

  •  Dari Presiden ke Presiden 1 (Tingkah Polah Elite Politik) (Penerbit KPG, 2009)
  • Dari Presiden ke Presiden 2 (Karut marut Ekonomi) (Penerbit KPG, 2009)
  • 100 Peristiwa Yang Sering Menimpa Anda (Penerbit KPG, 2011)
  • Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura (Penerbit KPG, 2011 dan 2013 [extended version])
  • Tiga Manula Jalan-jalan ke Pantura (Penerbit KPG, 2012)
  • Tiga Manula Jalan-jalan ke Selatan Jawa (Penerbit KPG, 2013)

Sumber utama | sumber sekunder

Hak cipta karya: Benny Rachmadi

Oleh -
0 139

Bayu Harditama menuturkan perihal pengalaman pertamanya menciptakan komik, yang dimulai sejak kelas 4 SD. Pada waktu itu ia berinisiatif melanjutkan masterpiece Akira Toriyama berjudul Dragon Ball karena rupanya ia tidak sabar menunggu edisi berikutnya yang tidak juga kunjung terbit. Di usia itu ia sering bertindak sedikit nakal, karena ia menggambar komik di kelas bukan malah mendengarkan guru menerangkan pelajaran di depan.

Bayu tidak pernah mendapatkan pendidikan formal seni, namun ia mengasah teknik berkomiknya dengan cara belajar dari orang lain yang lebih jago. Resep yang dipakainya untuk meningkatkan keahlian berkomik terbilang cukup sederhana: ambil ilmu dari komikus lain, terapkan ke karya, lakukan evaluasi, belajar lagi, lagi, dan lagi. Dari resep itu pula ia mengasah teknik menciptakan komik dan mengenal apa itu bahasa visual komik.

Selain resep tersebut, Bayu juga menyerap banyak teknik berkomik dari komik yang ia nikmati. Ia tidak pernah merasa nyaman untuk belajar teknik komik dari buku-buku semacam How to Make Comic karena sebagian besar isi buku-buku tersebut dirasakannya tidak berguna. Pengecualian untuk buku yang ditulis Hikmat Darmawan, karena menurutnya buku itu masih membahas tentang komik, lebih tepatnya cara bikin komik, dan bukan cuma cara menggambar komik.

Bayu lahir di Balikpapan, 22 Mei 1990. Ia bukan komikus yang secara formal pernah mengikuti pendidikan seni. Penggemar Sweta Kartika dan Eichiro Oda ini berpandangan bahwa tidak mengapa jika di awal gaya gambarnya masih dianggap meniru gaya-gaya luar yang telah mapan. Baginya perubahan gaya, penemuan gaya personal itu merupakan proses yang tidak bisa langsung sekejap kelihatan hasilnya. Dalam proses penciptaan komik, bayu selalu melakukan riset yang diperlukan untuk membuat visualisasi objek yang sesuai dengan realitasnya. Misalnya ia sedang membuat komik dengan latar bangunan Rusia, maka ia akan mencari referensi visual yang sesuai dengan itu. Tipikal komikus yang berusaha merepresentasikan objek dengan cara seaktual mungkin.

Ketika menciptakan komik, ia selalu memikirkan perasaan pembaca dalam arti Bayu masih mau memikirkan apa sebenarnya yang diinginkan pembaca komik Indonesia. Ia mengeluh perihal industri komik Indonesia yang menurutnya masih belum bisa memberi makan komikusnya dengan baik dan benar. Ia yakin jika komikus dihargai dengan layak – secara materi – maka karya-karya yang ada akan bisa lebih bagus lagi.

Terhitung sejak 2011, Bayu telah merilis empat judul komik. Dua yang pertama, yakni Jalan Komik (2011) dan 1000 Gigavolts (2011) telah diterbitkan oleh Koloni. Sementara dua yang lain, yakni Pumpkin Exorsit (2011) dan Gigavolt (2012) diterbitkan secara digital, masing-masing bisa ditemukan di situs Wayangforce.com dan Lesehanstudio.com. Bayu tinggal di Yogyakarta setidaknya sampai 2013, dan pernah bersama Matto, Fajar, dan Alfa turut bekerja menghidupkan aktivitas di Lesehan Studio.

Bayu's artwork
Hak Cipta Karya: Bayu Harditama

Oleh -
0 150
Bagus Wahyu

Ada yang menggemari Aji Prasetyo atau Kharisma Jati? Nah, Bagus Wahyu Ramadhan merupakan salah satu komikus yang menyenangi mereka berdua, bukan dalam arti secara perasaan melainkan suka karena gaya gambar yang diusung mereka berdua. Mahasiswa jurusan DKV Insitut Kesenian Yogyakarta yang lahir di Jakarta pada 18 Maret 1991 ini mulai menggambar komik sejak duduk di bangku kuliah, meskipun ia mengaku bahwa ia sudah menyukai komik sejak lama – mungkin sejak masih anak-anak.

Tadinya, Bagus membenci gaya gambar manga karena dianggapnya terlalu mainstream. Sejurus, pandangannya berubah – berkat membaca buku Scott McCloud, ia kini lebih demokratis dalam soal gaya yang dipilih. Resepnya: pilih yang bagus, dan buang yang jelek. Sesederhana itu. Hanya saja, ketika menciptakan komik, Bagus tidak mau karakternya memiliki citra visual yang serupa dengan nilai estetik manga. Bagus sangat menyadari bahwa pengaruh gaya dari komikus lain tidak bisa dihindari secara total. Dari Kharisma Jati, misalnya, Bagus mencoba mengapropriasi dan menuangkan ke karya komiknya sentuhan-sentuhan arsiran Jati yang menurutnya sangat menarik dari segi bentuk.

Sementara untuk urusan membuat cerita, Bagus banyak mengambilnya dari buku-buku semacam How to Make Comic (agaknya pula referensi yang banyak ia pakai justru bersumber dari karya Scott McCloud yang berjudul Making Comics. Story Telling Secret of Comics, Manga, and Graphic Novels). Sampai sekarang Bagus tinggal di Yogyakarta dan pernah ikut mengasuh Komik Club DKV ISI Yogyakarta. Sampai saat ini pula Bagus dikenal sebagai salah seorang komikus yang ikut menyumbang komik di kompilasi Kotagede Dalam Komik. Di kompilasi itu komiknya diberi judul “Dibalik Kotagede”. Bagus juga ikut menjembatani para komikus Jogja yang tergabung dalam grup non-formal bernama Forum Komik Jogja.

Bagus' artwork III
Hak Cipta Karya: Bagus Wahyu Ramadhan

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu