Komikus

Oleh -
0 164
Iblis Mengamuk di Mataram
Sumber gambar

Henry Ismono menyebut Yohan Yohanes, alias Yanes, sebagai komikus yang tidak banyak menghasilkan karya dalam bentuk komik, namun menghadirkan warna tersendiri oleh karena ia sendiri disebut sebagai seniman serba bisa. Mengapa demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, rasanya lebih dulu perlu disebutkan bahwa nama Yohan Yohanes mungkin bukan merupakan nama yang populer di dunia komik Indonesia. Mungkin tidak banyak generasi komikus kontemporer yang mengenal nama tersebut. Kami sendiri pun rasanya tidak akan mendengar nama itu jika tidak membaca sebuah tulisan yang memprofilkan komikus dari Solo itu. Tulisan yang kami baca berjudul Yanes, Komik Baru Bernapas Mataram, dan terpampang di blog pribadi Henry Ismono. Rasanya kami bisa meminjam apa yang telah ditulis oleh Henry untuk keperluan penulisan profil Yanes di sini.

Henry sendiri menyebut Yanes sebagai seniman serba bisa oleh karena ia tidak hanya menggeluti komik melainkan juga seni bela diri, tari, nyanyi, seni lukis, dan juga bela diri. Meski disebut seniman serba bisa, namun ia tampaknya lebih dikenal sebagai ilustrator untuk cersil garapan Kho Ping Hoo.

Yanes disebut oleh Henry sebagai seorang komikus yang mengidolai Ganes TH dan Jan Mintaraga. Namun meski menggemari dua nama terkenal di dunia komik Indonesia itu, ia tergolong sebagai seorang komikus yang kurang produktif lantaran jalan hidupnya yang agaknya lebih banyak berkutat di bidang ilustrasi. Meski begitu ia sempat menciptakan beberapa judul komik yang tidak seberapa banyak, antara lain Patung Dewi Kwan Im, Jembatan Gantung, dan Carang Wewe.

Karya dalam bentuk komik yang paling mutakhir dari Yanes adalah Mengamuk di Mataram, sebuah komik yang diangkat dari salah satu cersil karya Koo Ping Hoo.

Sumber utama: Henry Komik

Iblis Mengamuk di Mataram
Cover Iblis Mengamuk di Mataram. Sumber

Oleh -
0 140
Tiga Manula ke Singapura

Situs Ensiklopedi tokoh Indonesia menyebut Benny Rachmadi sebagai kartunis yang senang mengamati segala hal sekaligus menuangkan hasil amatannya itu ke sebuah gambar. Meski disebut sebagai kartunis, kami lebih senang melengkapinya dengan sebutan komikus. Mungkin anda lebih mengenal Benny sebagai teman duet Muhammad ‘Mice’ Misrad. Tapi itu dulu. Sekarang keduanya telah berpisah. Berjalan sendiri-sendiri, mungkin juga dengan idealismenya masing-masing.

Benny lahir di Samarinda 23 Agustus 1969. Selepas SMA Benny memutuskan untuk masuk Institut Kesenian Jakarta jurusan Desain Grafis. Di kampus itulah ia bertemu Mice yang kelak akan menjadi teman duetnya. Konon menurut cerita awal duet Benny dan Mice dimulai dari koran dinding IKJ. Ini terjadi pada tahun 1989-1990 ketika mereka diserahi menggarap koran dinding. Majalah Rolling Stone Indonesia edisi Mei 2008 merilis sebuah artikel wawancara dengan Benny dan Mice dan sempat mengungkap sedikit cerita tentang koran dinding itu. Sebelum mereka berdua ‘merombak’ koran dinding IKJ, medium itu lebih banyak berisi tulisan ilmiah seputar dunia seni. Singkat cerita, mereka berdua merubah konten, dari yang tadinya berisi banyak tulisan menjadi berisi lebih banyak gambar. “Kami bikin deh, gambar ngaco, tulisan juga ngaco”, demikian kata Benny. Akan tetapi dari koran dinding merekalah dimulai jenis gambar yang merepresentasikan tingkah polah orang lain. Kemudian sebagaimana kita tahu, jadilah cara ini sebuah ciri khas mereka berdua yang bisa dinikmati lewat seri Lagak Jakarta. 

Benny dan Mice sempat lama berduet. Pertama-tama untuk koran dinding kampus, dan kemudian berlanjut di seri Lagak Jakarta (1997-2007) serta komik strip Benny dan Mice di harian Kompas Minggu (sejak tahun 2003 sampai 2010). Editor kami memiliki kesan tersendiri terhadap Benny. Mungkin bila dibandingkan dengan Mice, Benny cenderung lebih pasif dan kalem. Irit bicara. Tentang kesan ini ada cerita di tahun 2009 ketika Benny dan Mice menghadiri acara peluncuran buku Lost in Bali di Gramedia Ambarukmo Plaza Yogyakarta. Ketika itu editor kami mengingat suasana diskusi di mana yang aktif berbicara di depan adalah Mice, sementara Benny lebih banyak diam. Di lain waktu, ada teman kami pernah bercerita di sebuah acara di mana Benny dan Mice hadir sebagai pemateri lokakarya. Kata teman kami itu, ketika Mice asyik memberi materi, Benny malah nongkrong di luar ruangan, merokok, dan mengambil beberapa foto dari kameranya. Mungkin Benny adalah tipikal komikus yang tidak senang ingar-bingar keramaian. Namun kami tidak tahu bagaimana pastinya kepribadian Benny. Apa yang kami lihat dan kami dengar dari orang lain hanyalah petilan pemanis cerita.     

Benny sempat berkarir di harian Kompas dan tabloid serta harian Kontan. Ia juga sempat mengajar di IKJ dari tahun 1993-2002. Selain hidup sebagai kartunis dan komikus, Benny juga pernah meraih sejumlah penghargaan, misalnya Penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) untuk kategori ilustrator buku anak-anak terbaik. Ini diperolehnya pada tahun 1995. Selain penghargaan dari IKAPI, Benny Rachmadi juga pernah memenangi penghargaan Sequential Art pada International Competition Student Artist tahun 1996.  Ia disebut-sebut sebagai komikus yang mengidolai Dwi Koendoro dan kartunis Tempo Priyanto.

Dalam karirnya sebagai kartunis, Benny pernah mengikuti beberapa pameran kartun, misalnya pameran kartun untuk Demokrasi pada tahun 2000 serta pameran kartun internastional yang diinisiasi oleh Pusat Kebudayaan Jepang pada tahun 2007.  Berikut daftar komikografi, atau karya-karya Benny yang pernah dibukukan:

 

Bersama Muhammad Misrad

  • Lagak Jakarta: Trend dan Perilaku (Penerbit KPG, 1997)
  • Lagak Jakarta: Transportasi (Penerbit KPG,  1997)
  • Lagak Jakarta: Profesi (Penerbit KPG, 1997)
  • Lagak Jakarta: Krisis…Oh…Krisis (Penerbit KPG, 1998)
  • Lagak Jakarta: Reformasi (Penerbit KPG, 1998)
  • Lagak Jakarta: (Huru-Hara)Hura-Hura Pemilu ’99 (Penerbit KPG, 1999)
  • Lagak Jakarta: 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta (Penerbit KPG, 2007)
  • Jakarta Luar Dalam (Penerbit Nalar, 2007)
  • Jakarta Atas Bawah (Penerbit Nalar, 2008)
  • Talk About Hape (Penerbit Nalar, 2008)
  • Hidup Hirau Hijau (Penerbit KPG, 2009)
  • Lost In Bali 1 (Penerbit KPG, 2009)
  • Lost in Bali 2 (Penerbit KPG, 2009)

 

Karya tunggal

  •  Dari Presiden ke Presiden 1 (Tingkah Polah Elite Politik) (Penerbit KPG, 2009)
  • Dari Presiden ke Presiden 2 (Karut marut Ekonomi) (Penerbit KPG, 2009)
  • 100 Peristiwa Yang Sering Menimpa Anda (Penerbit KPG, 2011)
  • Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura (Penerbit KPG, 2011 dan 2013 [extended version])
  • Tiga Manula Jalan-jalan ke Pantura (Penerbit KPG, 2012)
  • Tiga Manula Jalan-jalan ke Selatan Jawa (Penerbit KPG, 2013)

Sumber utama | sumber sekunder

Hak cipta karya: Benny Rachmadi

Oleh -
0 287

Harian Pikiran Rakyat tertanggal 15 April 2012 menulis profil pendek San Wilantara yang disebut-sebut sebagai komikus lawas yang masih jagjag waringkas (artinya kurang lebih: sangat sehat). Ia disebut-sebut sebagai komikus yang fokus pada genre silat. Kalau anda menemukan komik-komik silat yang terbit pada periode 60-an sampai 80-an dan menemukan nama pendek San, maka bisa dipastikan bahwa yang dimaksud adalah San Wilantara (entah jika ada komikus lain dengan nama pendek yang serupa. San mulai berkarya visual dalam bentuk komik sejak ia masih duduk di STM.

Meski sudah cukup lama berkarir di dunia komik, namun karya pertamanya baru diterbitkan pada tahun 1968. Nama RA Kosasih disebut-sebut sebagai seorang yang memberinya inspirasi. Maksudnya, ia memutuskan untuk terjun di dunia komik karena sering menikmati karya-karya RA Kosasih. Dalam perjalanan karirnya, San Wilantara mula-mula menilis komik dongeng yang ditujukan untuk anak-anak. Ia sendiri, sebagaimana beberapa komikus Indonesia lainnya, belajar menggambar secara otodidak. Komik pertamanya diterbitkan oleh penerbit Toko Bandung.

Sayang sekali harian Pikiran Rakyat tidak menyebut judul komik pertama San yang diterbitkan secara massal. Artikel tersebut hanya menyebutkan bahwa ketika itu ia menerima honor yang cukup besar, yakni lima belas ribu rupiah. Selain komik dongeng, San juga menggarap segmen genre lain, yakni misteri dan silat. Harian yang sama mencatat 35 judul komik karya San Wilantara yang telah diterbitkan hingga tahun 1985. Satu judul komik saja rata-rata sepanjang 24 episode, jauh lebih banyak dibandingkan dengan kebanyakan komik Indonesia yang terbit di era milenium ini. Dengan produktifitas yang sangat kencang, wajar bila penghasilan San ketika itu terbilang tinggi, dan yang lebih penting lagi, honor untuknya dibayar langsung ketika komik selesai (bukan seperti sekarang, terbit dulu baru dibayar). Ambil contoh misalnya pada tahun 1976 di mana ia memperoleh penghasilan sebanyak tujuh ratus ribu rupiah untuk setiap episode komik yang digarapnya. Angka ini mungkin kecil untuk zaman sekarang, namun jelas sangat tinggi di zaman itu.

Dalam waktu sebulan ia bisa menyelesaikan enam sampai delapan episode komik.Namun era 1980-an yang juga dikenal sebagai periode gelap bagi industri komik Indonesia segera membuat nama San Wilantara dan komik silatnya tenggelam. Meski demikian, sama seperti komikus yang berkarya pada periode yang sama, ia tetap menulis meski pindah haluan industri: ke dunia penulisan naskah sinetron. Kisah-kisah TVRI lawas seperti Sarkawi, Si Itok Anak Kabayan, dan Ngalonyeng Jero Eunteung merupakan sebagian sinetron yang lahir dari naskah garapan San. Ia juga tampaknya pernah menggarap buku mitos dan legenda juga. Namanya, berserta Rio Purbaya, disebut-sebut dalam buku Oral Traditions of Southeast Asia and Oceania: a Bibliography sebagai aktor di balik buku Asal Muasal Kampung Marunda: legenda rakyat Betawi /Sutan Iwan Soekri Munaf yang diterbitkan Pionir Jaya pada tahun 1986. San sendiri seangkatan dengan komikus lain seperti Judah Nur, Abuy RAvana, Kus Bram, Har, Rim, Jan, dan U Sjah Budin.

San Wilantara juga adalah kreator maskot Komisi Pemilihan Umum (KPU) kota Bandung pada tahun 2008. Ia – setidaknya menurut catatan Pikiran Rakyat  – masih tetap berkarya dalam bentuk komik. Ia telah menciptakan 10 episode komik kepahlawanan, namun sampai tahun 2012 mereka ini belum jua diterbitkan.

Beberapa karya San Wilantara yang pernah diterbitkan mencakup judul-judul sebagai berikut:

  • Raja Akhirat 1-2
  • Pengantin mayat 1-16
  • Kunci petaka
  • Jayeng wadag irung
  • Ermandra
  • Badik Maut
  • Arwah 1-16
  • Malaikat neraka 1-12
  • Makam bunga berhala
  • Undangan setan 1-16
  • Pangeran parang kuning 1-16
  • Misteri alam gaib
  • Teluh Calon Arang
  • Tujuh kali mati 1-12
  • Siluman buaya putih 1-15
  • Siluman sinting
  • Sarpa kenaka
  • Ratu siluman
  • Rahasia perawan kembar
  • Rahasia bukit kera 1-14

Catatan editor: tulisan disarikan dari sumber-sumber berikut

  1. San Wilantara
  2. San Wilantara, sisa komikus “Baheula”. Harian Pikiran Rakyat, 15 April 2012
  3. Oral Traditions of Southeast Asia and Oceania: a Bibliography
Malaikat Neraka
Hak Cipta Karya: San Wilantara

Oleh -
0 89
Midnight Bunny's Rie

Pernahkah anda menikmati sebuah komik di mana anda terus menerus disodorkan oleh sekuen-sekuen visual yang dramatis? Jika belum, maka mungkin seri (W)hole: The Series of Midnight Bunny(2010)  karya komikus bernama Ariela Kristantina atau yang akrab disapa Rie bisa anda ambil dari rak buku teman anda – tentunya jika teman anda memilikinya.

Seni grafis menjadi minat utama hidupnya – setidaknya bila kita lihat jejak pendidikan formalnya di bidang visual. Pada 2005 Rie pernah mengikuti pendidikan Diploma of 3D Animation, yang pada tahun 2007 dilanjutkannya ke pendidikan Typhography I & II. Keduanya diambil di tempat yang sama, yakni Digital Studio College, Jakarta-Indonesia. Sekarang ini dia sedang melanjutkan pendidikannya untuk mengambil gelar MFA of Sequential Art di Savannah College of Art and Design Savannah-Georgia, USA.

Surjorimba Suroto menulis tentang Rie di laman Goethe Institute, di mana di sana perempuan yang juga lulusan Teknik Informatika Universitas Gunadarma itu dengan gamblang mengaku bahwa tidaklah penting baginya untuk memasukkan unsur budaya Indonesia ke dalam karyanya. Pengakuan demikian mungkin akan menyebabkan banyak kontroversi. Namun maksud Rie adalah: unsur budaya Indonesia hanya akan dimasukkan bila dirasa cocok dengan ceritanya. Ini penjelasannya. Di laman yang sama, Rie menunjukkan lewat kata-kata bahwa ia ternyata pecandu eksprimen, dan eksplorasi gaya baginya menjadi sesuatu yang penting untuk ia lakukan. Walau dikatakan memiliki gaya Manga, namun Rie mengaku ia banyak terinspirasi justru tidak dari manga melainkan dari orang-orang seperti Neil Gaiman, Quentin Blake, Martha Dahlig, Linda Bergvist, dan Stephanie Pui-Mun Law. Sebagian orang yang akrab dengan karya-karya Rie agaknya menaruh hati pada karakter Bunny, sebuah boneka kelinci yang tampak memiliki cacat di bagian wajah. Kelinci itu muncul di seri Midnight Bunny.

Beberapa karya Rie yang telah beredar di pasaran adalah The Quest for Princess Zhafira jilid 1 dan 2 (2009), Cintaku Tertambat di Facebook (2009), Sejejak Harap (2010), Game Over: Insert More Quarters (2012) dan 101 Surviving Super Singles (2011). Ia juga pernah mengadakan pameran tunggal yang dipresentasikan di Bali, Yogyakarta, dan Semarang dengan tajuk “Manusia//Jejak”. Rie juga pernah terlibat dalam pameran kolektif bertajuk codex code (2010) dan A Journey to Wonderland (2009), Unity of Diversity (2012), dan Bara Betina (2009).

*tulisan profil ini disarikan dari berbagai sumber

Rie's Artwork
Ekstraksi dari Karya Rie. Sumber gambar. Hak cipta Karya: Ariela Kristantina

Oleh -
0 172
Alez Irzaqi

“Sebelum bisa menulis, aku sudah bisa menggambar” – Alex Irzaqi

Kutipan di atas mungkin terdengar hiperbol, dan meski tidak diketahui kadar kebenarannya, demikianlah yang diakui oleh Alex kepada editor kami pada sebuah wawancara. Menurutnya pula, usia taman kanak-kanak merupakan usia di mana ia pertama kali ngomik. Jika ditotal sampai sekarang tentu saja karirnya menjadi sangat panjang. Total sepanjang 23 tahun ia telah (dan masih) berkarir di bidang komik! Alex lahir di Gresik pada tahun 1986.

Cerita tentang karir ngomiknya dimulai ketika Alex kecil gemar menggambari tokoh kura-kura ninja yang ditontonnya saban hari di TVRI. Sejauh ingatannya yang juga terbatas, Alex mengaku bahwa ketika kecil ia gemar menggambari dinding rumahnya dengan kapur. Mungkin di dinding itulah dia menggambar tokoh kura-kura ninja-nya. Sebagaimana orang-orang yang juga lahir di pertengahan 1980-an, Alex juga seorang komikus yang menggemari Dragon Ball karya Akira Toriyama. Bahkan ia sempat menjadikan gaya Akira Toriyama sebagai kiblat. Tentang Dragon Ball ini, Alex Irzaqi mengaku bahwa dulu dia pernah membuat serial kembaran Dragon Ball berjudul Dragon Cliff. Di kesempatan lain, ia juga pernah menjiplak mentah-mentah Dragon Ball nomor 41 secara utuh. Ia melakukannya karena dulu tidak punya nomor tersebut! Susah payah juga ia menjilid jiplakan itu hingga persis dengan buku aslinya.

Karya-karya lawasnya yang dibuat sewaktu kanak-kanak masih disimpannya. Yang tertua berjudul Jaguar yang digarapnya sewaktu kelas 5 Sekolah Dasar. Walau agaknya sudah lama menyiapkan diri sebagai komikus, Alex baru benar-benar terjun ke medan komik Indonesia ketika penerbit Koloni menawarinya menggarap Gajahmada. Pada akhirnya komik ini terbit bukan dengan judul tersebut, melainkan dengan judul Dharmaputra Winehsuka yang diterbitkan Koloni pada tahun 2010. Gajahmada sendiri adalah judul untuk komik Tugas Akhir. Alex Irzaqi memang dulunya mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Komputer Indonesia Bandung.

Gajahmada sendiri dibuatnya tanpa beban, sebab dulunya itu bukanlah halaman demi halaman yang ia harapkan bisa menghasilkan uang. Alex Irzaqi menyebutnya sebagai komik hasil panggilan jiwa untuk berbagi cerita. Ketika mengerjakan komik itu pun ia sudah magang sebagai ilustrator di sebuah majalah. Kebiasannya ngomik sejak usia Sekolah Dasar membuatnya menyerap berbagai teknik secara otodidak. Pendek kata: ia pembelajar yang alami dan semua hal tentang bagaimana membuat komik ia dalami secara pelan-pelan. Apakah sekarang ia matang sebagai komikus? Itu urusan lain.

Cara belajar paling alami kan ya nyontek.

Alex Irzaqi memang banyak belajar dari mencontek komik-komik favoritnya, termasuk X-Men, Legenda Putra Langit, Tinju Bintang Utara, Dragon Ball, serta Blade of Immortal-nya Hiroaki Samura. Ketika mewawancarainya beberapa tahun lalu, ia mengaku judul yang terakhir itulah yang ketika itu jadi kitab sucinya. Menurutnya, Samura memiliki tarikan garis yang ekspresif serta permainan shading yang bagus, juga pengambilan sudut gambar yang unik. Gaya penceritaan Alex konon bersumber dari dari cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma (nama ini entah kenapa selalu jadi referensi beberapa komikus yang kami wawancarai. Selain Alex, Suryo Laksono adalah salah satunya). 

Alex tampaknya memang banyak berkonsentrasi di penciptaan komik laga campur sejarah kerajaan-kerajaan kuno di Jawa. Selain Dharmaputra Winehsuka, dua komik lainnya yang punya genre serupa adalah Raibarong (dulu sempat tayang di situs Makko) serta Carakan (tayang di Komikoo). Di tahun 2013 Alex memenangkan The Winner Award pada Silent Manga Audition yang diselenggarakan majalah Comic Zenon Jepang.

komik humor gak bisa membakar darah. Aku suka bakar-bakar. Mengobarkan api semangat.

artefak Alex Irzaqi
Hak cipta karya: Alex Irzaqi

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu