Komikus

Oleh -
0 291

Jan Mintaraga bernama asli Suwalbiyanto, dan merupakan komikus kelahiran Yogyakarta 8 November 1942. Karirnya sebagai komikus cukup panjang, dan dimulai dari ketika ia menuntut ilmu di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI, kini bernama ISI – Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta, serta di Institut Teknologi Bandung. Tidak ada keterangan lebih lanjut yang bisa memberi informasi tentang apakah Jan lulus dari kedua perguruan tinggi tersebut atau tidak.

Menurut cerita anaknya, Patsy Mintaraga, yang dicatat di sini, Jan adalah seorang komikus yang namanya cukup terkenal di periode 1960-1970. Pada periode 1960, misalnya, Jan banyak menggarap komik-komik bertema roman yang sangat populer ketika itu. Menurut informasi dari Patsy, kepopuleran komik roman disebabkan karena waktu itu Indonesia kekurangan hiburan untuk para remaja. Di sinilah kemampuan Jan teruji, yang menurut Patsy, sangat jeli melihat potensi pasar saat itu. Tentang kemampuan Jan, seorang bernama Teguh bercerita di blognya bahwa kemampuan Jan sangat terasah, terutama dalam hal menggambarkan kehebatan seorang remaja lelaki.

Tahun 1970-an merupakan periode di mana Jan mulai bergeser ke produksi komik-komik silat. Beberapa judul yang dikenal dengan baik oleh para pembaca ketika itu meliputi Bencana Pualam Putih, Lembah Seribu Bunga, Indra Bayu, dan Jakalola. Konon menurut cerita, walau Jan bergeser ke dunia komik silat, namun kisah khas genre roman masih tertuang dalam cerita silat yang digarapnya. Selain itu, Jan juga menambah unsur guna memberi lebih banyak “drama”, antara lain dengan memasukkan unsur petualangan ke dunia metafisik yang dihuni oleh setan, jin, dan siluman. Konon katanya unsur-unsur inilah yang membuat karya-karya Jan menjadi sangat fenomenal di zamannya. Katanya lagi, banyak kritikus yang keberatan dengan karya Jan oleh karena perempuan yang digambarnya kebarat-baratan serta sangat sensual – sebuah kritik yang katanya juga tidak dipedulikan oleh sang komikus.

Menikmati karya-karya Jan berarti juga menjumpai berbagai macam produk visual dari Eropa dan Amerika ketika itu. Berdasarkan catatan dari sini, konon katanya karya-karya Jan sedikit banyak terinspirasi dari Bob Dylan, figur musisi yang sangat populer di dataran Amerika sana. Salah satu judul komik Jan, Tertiup Bersama Angin (1967) merupakan satu contoh menarik di mana judul tersebut konon diterjemahkan langsung dari lagu Bob Dylan yang berjudul Blowing in the Wind. Dua karyanya, yakni Bangsacara dan Ragapadmi serta Begawan Kasisapa pernah menyisip sebagai bonus di majalah Ananda. Jan meninggal pada 14 Desember 1999 di Yogyakarta.

*Dari berbagai sumber. Teks oleh MHadid

Bangsacara dan Ragapadmi
Hak Cipta Karya: Jan Mintaraga

Oleh -
0 143

Eko S Bimantara, demikian nama lengkapnya, memulai debutnya sebagai komikus sewaktu SMA. Waktu itu ia hanya iseng bikin komik untuk diperlihatkan ke teman-temannya.

Ya mulanya ia hanya iseng. Eko bercerita kepada kami bahwa ia mulai membuat komik serius ketika menggarap Komik Rada Lucu (KRL) pada tahun 2009. KRL mulanya diterbitkan oleh penerbit Serrum sampai kemudian kompilasinya diterbitkan oleh Gradien Mediatama pada tahun 2010. Eko lahir di Jakarta pada 30 Mei 1988, dan tercatat sebagai lulusan Universitas Negeri Jakarta pada program studi Seni Rupa. Di universitas ini katanya mahasiswanya tidak pernah diajari teknik komik secara spesifik, namun komik termasuk dalam materi kuliah gambar ilustrasi. Baginya komik harus tetap pada trahnya, yakni sebagai medium bercerita dan populer di masyarakat sebagai medium yang menghibur. Pandangan umum yang agaknya diyakini oleh sebagian besar orang mengatakan bahwa komikus yang lahir dari pendidikan seni rupa akan memperlakukan komik sebagai medium murni yang dipakai sebagai ekspresi diri. Kami juga mulanya menganggap bahwa Eko akan mengamini pendapat tersebut, namun ternyata tidak sepenuhnya. Ia percaya bahwa komik di satu sisi adalah medium ekspresi diri, namun di sisi lain, karena julukan untuk medium komik yang dekat dengan pengertian sebagai hal-hal yang lucu, maka tidak ada salahnya jika medium tersebut dibuat untuk menghibur.

Eko menyenangi komik sejak kecil. Dulu ia senang menikmati komik-komik strip yang ada di majalah Intisari, serta menikmati betul Petruk-Gareng-nya Tatang S. Untuk komik dari luar, ketika kecil ia senang menikmati seri Asterix walau ketika itu ia mengaku tidak terlalu mengerti isi kritiknya. Dari ranah komikus Indonesia kontemporer, sama seperti Bagus Wahyu Ramadhan, ia juga menyenangi karya-karya Kharisma Jati.  Walau tidak secara spesifik menyebut bahwa ia menggemari karya-karya Tsutomu Nihei (komikus yang menggarap seri Blame!), Uderzo, Benny dan Mice, serta Akira Toriyama, namun Eko menyebut mereka sebagai komikus-komikus yang menciptakan karya inspiratif. Ia sendiri mulai mantap menempuh jalan karir sebagai komikus semenjak KRL disukai banyak orang. Komike merupakan rumah virtual di mana kamu bisa menemukan arya-karya lepas Eko lainnya.

Beberapa judul komiknya bisa dirinci ke dalam daftar berikut:

  • 1. Komik Rada Lucu: Di atas Lega Bertaruh Nyawa, 2009, penerbit Serrum.
  • 2. Komik Rada Lucu: Guru berdiri Murid Berlari, 2009, penerbit Serrum.
  • 3. Komik Rada Lucu: Ku tonton Kau Toton, 2009, penerbit Serrum.
  • 4. Komik Rada Lucu: Edisi Spesial Kartini, 2009, penerbit Serrum.
  • 5. Komik Rada Lucu: Keluarga Hingga Akhir Masa, 2009, penerbit Serrum.
  • 6. Komik Rada Lucu: Edisi Spesial Baca Komik, 2009, penerbit Serrum.
  • 7. Guru Berdiri Murid Berlari, 2009, penerbit Gradien Mediatama.
  • 8. Kompilasi Komik Rada Lucu, 2010, penerbit Gradien mediatama.
  • 9. Para Gokil, 2010, penerbit Gradien Mediatama.
  • 10. Berkah dan bencana Motor 2011, penerbit Nalar.
  • 11. Para Gokil 2, 2011, penerbit Gradien mediatama.
  • 12. Komik ‘Gerakan 30 September: Tragedi Itu’, 2011, dipamerkan dalam acara ‘Indonesia and the World 1959-1969; A Critical Decade’ di Goethe Institute, Jakarta, kerjasama dengan Tempo Institute.
  • 13.Komik tentang ‘Film Impor dan Film Nasional’, 2011, diterbitkan dan dipamerkan di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki Jakarta kerjasama dengan Kineforum dalam acara Sejarah Adalah Sekarang.
  • 13. 100 Cara Gokil Menghukum Koruptor, 2011, Penerbit Gradien mediatama.
  • 14. Para Gokil 3, 2012, Gradien mediatama.
  • 15. Komik perjuangan masyarakat Mollo; ‘Semangat Tanpa Batas’, 2012, diterbitkan dan dipamerkan dalam acara South to South Film Festival, di Goethe Institute, Jakarta.
  • 16. Komik ‘Berpikir dan Bertindak Menjadi Jurnalis’, 2012, diterbitkan dan dipamerkan pada acara Festival Jurnalisme Warga: ‘Kencangkan Suaramu’ di Museum Nasional, Jakarta, kerjasama dengan Tempo Institute.
  • 17. Si Otoy, 2012, penerbit Bukune.
Just a Drawing
Hak Cipta Karya: Eko S Bimantara

Oleh -
0 257

C Suryo Laksono menuturkan kepada kami perihal awal karirnya sebagai komikus, yang ternyata baru dimulai pada tahun 2001. Waktu itu usianya masih usia SMP, dan tertarik untuk menciptakan komik karena melihat temannya yang bikin komik sendiri. Di situlah dimulai perjalanannya sebagai seorang komikus.

Kebanyakan komikus mungkin sudah mulai menggambar komik sejak masih usia kanak-kanak, misalnya dengan cara menjiplak mentah-mentah (orang menyebutnya: nge-blat) komik di hadapannya. Ini bukanlah cerita yang dikarang-karang, melainkan sungguh-sunguh terjadi. Nah, Suryo bukan termasuk komikus macam itu. Ia sedari kecil memang sudah mulai menggambar, namun bukan menggambar bentuk yang lebih spesifik seperti komik. Sama seperti anak sebayanya yang lahir di era 1980-an, Suryo juga menggemari acara-acara televisi semisal Doraemon, Dragon Ball, dan Detektif Conan. Dengan kegemarannya pada serial-serial televisi populer, apakah kemudian mereka ini menanamkan pengaruh kuat bagi penciptaan komiknya?

Ternyata tidak. Suryo awalnya justru sangat terpengaruh Nobuhiro Watsuki (Samurai X), terutama di sisi sajian tema yang serius, yang menghadirkan narasi yang rumit secara psikologis. Karena itu jangan heran jika Suryo adalah juga penggemar Naoki Urasawa (dengan Monster dan 20th Century Boys), serta oun In-Wan dan Yang Kyung-Il (dengan Shin Angyo Onshi). Dia lebih menyukai cerita komik yang menyajikan kedalaman psikologis, utamanya yang berkaitan dengan interaksi antar manusia serta sebab-akibat yang mungkin muncul darinya. Hasilnya bisa kita lihat pada judul SEER – The Genchildren yang menurut Suryo adalah komik satir isu sosial yang dikemas dalam bentuk sci-fi. Oh ya, komik pertama yang ia ciptakan berjudul Eternity yang bercerita tentang pria yang terlempar ke dunia lain untuk melawan kejahatan. Kalau dilihat dari tema-tema komik yang disodorkannya kepada pembaca, bisa kita duga bahwa Suryo adalah komikus Indonesia yang gemar membikin cerita sci-fi. Meski demikian, tebakan ini tidaklah benar, sebab ia ternyata adalah seorang yang demen membikin cerita komik yang absurd.

Mengenai pengaruh, Suryo banyak mengambil referensi dari cerita-cerita Seno Gumira Ajidarma. Malah, komik SEER awalnya mengambil inspirasi dari cerita-cerita sastrawan Indonesia itu, serta tidak boleh dilupakan anime kino no tabi (kino’s journey). Bagi dia, baik cerita Seno maupun anime tersebut adalah jenis cerita yang mengangkat tema-tema sosial dalam bentuk metafor. Dari Seno dia mengambil unsur absurditasnya.

Sempat dia bercerita mengenai titik baliknya sebagai seorang komikus, yakni ketika dia mengetahui berita tentang kemunculan penerbit Koloni. Waktu penerbit tersebut muncul, Suryo berpkir bahwa akhirnya ada jalan baginya supaya karyanya dibaca banyak orang. Bagi Suryo yang ketika itu belum tahu banyak tentang situasi industri komik Indonesia, kemunculan Koloni bak air mata segar di tengah padang pasir. Ia juga sempat menggarap proyek komik berjudul Klandestein yang sempat diterbitkan di situs Makko. Namun proyek ini kemudian terhenti di tengah jalan karena situs Makko-nya sendiri juga bubar.

Anak anak Bumi
Hak Cipta Karya: C Suryo Laksono

Oleh -
2 232

Kalau anda adalah penggemar seri Para Gokil yang sampai sekarang telah terbit sebanyak enam volume, maka anda tidak akan mudah lupa pada nama komikus Indonesia di belakang seri tersebut. Dia adalah Ahmad Zeni.

Ahmad Zeni lahir di Majalengka, Jawa Barat pada tanggal 15 Mei 1977 di desa Loji, sebuah desa kecil yang berlokasi di kecamatan Jatiwangi. Menurut kabar rumahnya di Jatiwangi adalah sebuah daerah yang dikelilingi oleh banyak pabrik genteng. Ia sudah menyukai dunia gambar sejak kecil. Ini bisa dilihat misalnya, pada kesukaannya membawa pensil dan kertas untuk meniru gambar tokoh utama serial kartun yang pernah populer di Indonesia seperti He-Man, Silver Hawk, dan lain sebagainya.

Apa komik pertama yang dibuatnya sendiri? Zeni tidak begitu ingat ketika ditanyakan pertanyaan ini, namun komik pertama yang dibuatnya mungkin diciptakan ketika ia menginjak usia kelas 5 sekolah dasar. Ketika komiknya hadir dengan tokoh sentral bernama Kardu. Rupanya Zeni bermaksud memiripkan tokoh ini dengan Kabayan. Selain Kabayan – yang menjadi inspirasi untuk komik pertamanya – Zeni juga terinspirasi dari komik-komik Indonesia yang dibawa oleh pedagang bakso dan juga dijual oleh pedagang kaki lima. Mungkin anda bertanya-tanya: bagaimana bisa komik Indonesia dibawa oleh pedagang bakso? Rupanya si pedagang bakso mulia juga, sebab ia mendagangkan baksonya sambil membawa taman bacaan keliling.

Ahmad Zeni menyelesaikan pendidikan sarjananya di Faskultas Seni Rupa dan Desain ITB (FSRD) ITB. Ketika kuliah ia sudah terlibat di dunia komik, persis ketika ia diterima untuk bekerja paruh waktu di PT Animik World. Ia bekerja paruh waktu di sana sampai lulus kuliah pada tahun 2001. Di Animik World pula ia belajar menggambar dengan beberapa komikus. Ketika masih kuliah ia sudah ikut beberapa proyek komik seperti Jail Pendekar Cilik (Elex Media Komputindo), Petuallangan si Ancil (Grafiti dan M&C), Ashr (Mizan), dan Saras 008 (Elex Media Komputindo). Selain menekuni dunia komik, ia juga berkecimpung di dunia animasi serta desain grafis.

Ketika lulus pada 2001, Zeni diterima di redaksi Disney yang termasuk Grup Kompas Gramedia sebagai karyawan kontrak meski setahun berikutnya ia kemudian sudah menjadi karyawan tetap di sana. Di grup itulah ia menangani beberapa judul majalah anak-anak dengan lisensi lokal sampai internasional. Di sela-sela kesibukannya sebagai desainer grafis, Zeni tetap setia dengan dunia komik. Ia banyak dibantu oleh anggota keluarganya. Zeni bersama adiknya DIdi Sunardi mendirikan studio Text and Pict (TnP) pada tahun 2002. Studio ini telah menghasilkan beberapa judul seperti Si Rambut Api, KiBezo, dan beberapa judul cerita anak. Semua judul cerita anak yang digarap oleh TnP studio iterbitkan oleh Kumaresh Publication. Zeni pula yang mencetuskan nama PragatComic, sebuah penerbit yang membidani kemunculkan karya-karya Indie.

Boleh dibilang PragatComic merupakan saluran bagi Zeni yang membantunya melatih diri sebagai koordinator kompilasi. Perran Zeni sebagai seorang koordinator bisa dilihat dengan baik misalnya pada seri Para Gokil yang rutin diterbitkan oleh Gradien Mediatama. 

Pertengahan tahun 2014 ini merupakan waktu yang agaknya ditunggu-tunggu baik oleh Zeni maupun oleh mereka yang terlibat di dunia komik. Zeni akan membuka taman bacaan PKI (Prestasi Komik Indonesia), kursus TNPC, serta toko kratif Smutsput. Sejauh ini karya yang telah diterbitkannya meliputi banyak judul sebagai berikut:

  • Olvy Cintaku (PragatComic 2003).
  • Kakek Bejo (PragatComic 2002)
  • Komik Horor (Angkor) diterbitkan Media Kita, Juni 2013.
  • Preman Kapok dari penulis Musfar Yasin 2005.
  • Kakek Bejo “Jangguter“(PragatComic 2004)
  • Handicap Chicken (Cergam) diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura 2006.
  • Tarung Komik 01 (PragatComic 2007).
  • Sube Adventure “Monster Attack” diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura 2007.
  • Sube Adventure “Giant Monster” diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura 2007.
  • Sube Adventure “Shark Monster” diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura 2007.
  • Sube Adventure “Tiger Monster” diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura 2007.
  • Sube Adventure “Mud Monster” diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura.
  • Sube Adventure “Dinosaurus” diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura.
  • Sube Adventure “Trap Game” diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura.
  • Sube Adventure “King Of Water” diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura.
  • Adventure (Cergam) 2007 diterbitkan Kumaresh Publication, Singapura 2006.
  • Tarung Komik 03 “Kaastangel” (PragatComic 2009).
  • Tarun Komik 02 “Mahera dan Kitab Maharaja” (PragatComic 2008).
  • Pendekar X diterbitkan Pshycomics (Imprint Gramedia Pustaka Utama 2010).
  • KiBezo “Presiden idola” diterbitkan Pshycomics (Imprint Gramedia Pustaka Utama 2010).
  • Para Gokil (KiBezo 01) diterbitkan Gradien Mediatama 2010.
  • Para Gokil 2 (Jurigpit 01) diterbitkan Gradien Mediatama 2011.
  • Komik Bank BCA Pertama 2011.
  • Komik Bank BCA Kedua 2012.
  • Para Gokil 3 (KiBezo 02) diterbitkan Gradien Meditama 2012.
  • Para Gokil 4 (Dul Coret 01) diterbitkan Gradien Meditama 2012.
  • Back To My World karya Nura (TnP studio raster dan pewarnaan, Agensi PragatComic) diterbitkan Bukune 2012.
  • Para Gokil 5 (Mimi Pony 01) diterbitkan Gradien mediatama 2013.
  • Para Gokil 6 (KiBezo 03) diterbitkan Gradien mediatama, Agustus 2013.
  • Pasukan Hantu Koplak (Jurigpit 02) diterbitkan Media Kita, Oktober 2013.
Kibezo
Hak Cipta Karya: Ahmad Zeni

 

Oleh -
2 217
Ganes TH

Ada beberapa orang yang menyebut Ganes TH sebagai salah satu dari tiga dewa komik Indonesia selain Teguh Santosa dan Jan Mintaraga. Kompas menulis sebuah berita pada 18 Agustus 2007 yang menyebutkan informasi perihal putra Ganes, Gienardy S, yang telah mengumpulkan sekitar 81 judul komik dan roman, serta 16 sinetron dan 14 film layar lebar karya Ganes. Akademi Sekuensial tidak mengetahui dengan pasti berapa jumlah judul komik yang telah diciptakan oleh Ganes, namun di luar hal tersebut kita bisa tahu bahwa Ganes juga adalah seorang yang produktif, bukan hanya di bidang penciptaan komik melainkan juga film.

Ganes Thiar Santosa, demikian nama lengkapnya, lahir di Tangerang pada 10 Juli 1935.  Salah satu tokoh garapan Ganes TH yang sangat ikonik di kalangan penggemar komik adalah Si Buta dari Gua Hantu. Laman Wikipedia meyebut bahwa ini adalah karakter komik Indonesia yang sangat populer sepanjang masa – kendati klaim ini nyatanya perlu diperiksa kembali. Laman yang sama juga menyebut bahwa Si Buta merupakan komik silat pertama yang muncul di Indonesia. Konon katanya karakter Si Buta lah yang kemudian menyebabkan “demam silat” di kalangan komikus Indonesia, demam yang kemudian memicu komikus lain untuk membuat cerita silat.

Beberapa karyanya seperti Reo Anak Serigala, Taufan, Jampang, dan Tuan Tanah Kedawung konon sangat kental dengan latar belakang Betawi tempoe doeloe. Khusus seri Reo Anak Serigala, tercatat ada lima judul, yakni Mayat Cemburu, Serigala Hantu, Zomba, Hantu Kawah Rinjani, Komodo, dan Neraka Hijau. Judul yang kami sebut di atas tentu saja hanya sebagian judul komik yang pernah diciptakan olehnya.

Ia sempat kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kini berganti nama menjadi Institut Seni Indonesia, di Yogyakarta, meski tidak diselesaikannya sampai tuntas. Menurut cerita, ia juga pernah berguru ke seniman seperti Lee Manfong yang dulu dikenal sebagai pelukis istana di zaman Bung Karno. Ganes meninggal dunia pada 10 Desember 1995. Umurnya 60 tahun waktu dia meninggal.

*dirangkum dari berbagai sumber

Nilam dan Kesumah
Hak Cipta Karya: Ganes TH

Esei