Wawancara

Oleh -
0 198
Erwin Prima Arya

Di suatu siang yang panas di bulan Agustus 2016, saya sedang iseng membuka faceboook dan mengikuti sebuah perbincangan panjang tentang kontroversi komik si Gagu dari Gua Hantu karya A. Tatang S. Terus terang, komik komik lawas begini sangat sedikit yang sudah saya baca, karena cukup sulit untuk mendapatkannya, juga mahal. Yang sudah saya baca kebanyakan adalah karya karya Ganes TH yang sudah diremaster alias ditusir ulang. Nah, ngomong ngomong soal komik remaster/tusir ulang ini, tiba tiba saja saya kepikiran untuk mengobrol dengan Erwin Prima Arya. Jadilah saya menghubunginya via facebook.

Siapakah Erwin Prima Arya? Erwin adalah  tokoh yang menusir ulang komik komik Ganes TH sehingga bisa kita nikmati kembali tersebut. Beberapa judul yang sudah ditusir ulang dan dicetak kembali adalah komik berjudul Taufan dan  Djampang Jago Betawi. Selain mengerjakan remastering pada komik komik Gane TH –dan sekarang Teguh Santosa-, Erwin juga pernah membuat komik dengan cerita yang diadaptasi dari sebuah cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul Taxi Blues.
 
Berikut petikan obrolan singkat saya dengan Erwin:

PGB: Saya
EPA: Erwin Prima Arya

PGB: Halo Mas Erwin, lagi sibuk enggak nih? Aku pengen bikin wawancara nih sama mas Erwin. Boleh ya?

EPA: Hahaha… boleh.

PGB: Siiip… pertanyaan dimulai ya…

EPA: Siap… tapi santai ya? Kalau ada kerjaan mendadak jawabannya delayed.

PGB: Santai bangeeeeeet mas… Mas Erwin kan kukenal dari komik komik remaster lawas nih. Nah, sebenernya tujuan meremaster komik komik lawas itu apa sih mas? Selain motif ekonomi yaaaa…

EPA: Oke. Tujuan utamanya sebenarnya biar aku punya lagi komik komik bagus dan penting itu yang aku punyai dulu…

Kedua buat pelestarian, hingga bisa diterbitkan terus berkelanjutan seperti komik komik Tintin di Eropa misalnya.

PGB: Waah, motif pertamanya sangat personal ya…

EPA: Iya. Itu kulakukan spontan ketika mendapatkan komik ‘Banjir Darah Di Pantai Sanur’ (komik Ganes TH; red) di tahun 2003 dari Andy Wijaya dan Syamsuddin (baru kenal saat itu).

…setelah puluhan tahun enggak liat komik itu.

PGB: Berarti dorongan pribadi ya mas? Sebelum Mas Erwin pernah ada yang meremaster komik enggak? Atau memang Mas Erwin yang pertama melakukannya di Indonesia?

EPA: Ada. Anak Jogja…. komik Teguh Santosa. Tahun 90an. Judulnya Sebuah Tebusan Dosa. Tapi masih asal-asalan remasteringnya.

PGB: Anak Jogjanya siapa mas? Mas Erwin terinspirasi dari dia?

EPA:  Lupa aku… Enggak juga. Komik itu enggak berkesan buatku karena enggak bagus tusirannya. Malah kecewa begitu beli.

PGB: Oh oke. Lanjut ya… Dulu kan Mas Erwin juga bikin komik tuh, Taxi Blues. Nah, dari jumlah pembelian, jika dibandingkan komik sendiri sama remaster, lebih banyak mana mas peminatnya?

EPA: Kalau dari jumlah pembelian dan cepat habis… kayaknya Taxi Blues lebih baik.

PGB: Oh ya? Kupikir malah sebaliknya, hehe… Sebenarnya segmen pasar komik remastered ini siapa sih mas? Pernah tahu enggak seberapa banyak pembeli yang berasal dari anak anak muda?

EPA: Segmennya sepertinya masih berkutat di orang orang dulu yang mengalami langsung. Masih dikit yang anak anak muda mah. Sheila Rooswitha (komikus, better known as Lala; red) aja enggak suka.

PGB: Soalnya aku merasa komik remastered ini ditujukan untuk kolektor komik komik lawas, semacam menjual nostalgia begitu. Benar begitu enggak sih mas?

EPA: Apa boleh buat… jadinya seperti itu. Padahal maunya sih buat anak anak baru juga yang belum tahu.

PGB: Lanjut ya mas. Komik remastered ini kan komersil, artinya dijual bebas. Masalah enggak sama hak cipta komikus aslinya?
 
EPA: Masalah dong kalau enggak ijin. Harus beres dulu urusan itu kalau mau dijual bebas.

PGB: Tapi sudah beres untuk Ganes TH dan Teguh Santosa?

EPA: Iya dong… Ganes dengan Gienardy… Teguh dengan Dhany Valiandra

PGB: Oiya, balik lagi nih ke masalah kurang sukanya anak anak muda ke komik komik lawas Indonesia. Mas dan penerbit pernah analisis enggak kenapa itu terjadi? Soalnya menurutku komik komik lawas itu menarik banget sih. Cuma kelemahannya adalah harganya mahal… wkwkwkwk…

EPA: Analisis secara bener bener sih belum pernah karena masih pada sibuk dengan urusan masing2, hehe…
Eh itu sudah murah lho… kalau mau pakai harga beneran mah bakalan muahaal banget.
Biaya remastering itu mahal lo…. Aku ngerjain cleaning dan texting untuk komik Belanda dibayar 25 euro per halaman, padahal kerjaannya ecek ecek doang kalo dibandingkan dengan remastering yang kulakukan ini.

Remastering = EXTREME CLEANING.

PGB: Wah iya sih bener, makanya secara pribadi aku mengucapkan terima kasih buat Mas Erwin, kalo enggak ada remastered edition aku enggak bakal bisa baca komik komik itu. Harga komik aslinya yang dilelang itu mahal mahal banget.

By the way Mas Erwin masih ngikutin perkembangan komik Indonesia sekarang enggak? Dalam artian beli dan baca komik komik terbitan baru. Ada pendapat soal itu?

EPA: Ngikutin dikit… tapi belum ada yang keren kayaknya ya? Artinya… belum bagus jadi satu karya yg utuh. Bagus gambarnya… ceritanya kedodoran, misalnya.

PGB: Secara umum bisa dibilang gitu sih, in my opinion… Suka kesal juga kalau beli komik mahal tapi isinya jelek.

EPA: Artis komik (baru) yg ‘komplit’ itu yg kutahu baru Apri (Apriyadi Kusbiantoro; red) dan Aji Prasetyo. Itu ‘Setan Kerambit’ Aji Prasetyo kalau terbit bakalan jadi milestone juga kurasa. Sayangnya Aji belum selesai selesai menggarapnya.

PGB: Wah aku malah belum baca. Tapi pernah dengar…

EPA: Memang belum diumumkan karena belum selesai. Aku hanya dikasih liat kalau ketemu langsung.

PGB:  Oooh. Aku tahunya dari komik Hidup itu Indah, kalau enggak salah Setan Kerambit  itu dimention di situ kayaknya.

EPA: Lihat aja itu komik Harimau Madiun… gokil kan penulisannya?

PGB: Iya. Menurutku Aji Prasetyo salah satu yang (komikus; red) terbaik saat ini kayaknya.
Ngomong ngomong, kalau menurut Mas Erwin, kritik komik, atau setidaknya review komik di media massa, online ataupun cetak, penting enggak sih?

EPA: Penting dong… kan buat promo juga. Kan berarti ada yg peduli.

PGB: Nah itu, kalau dilihat di dunia musik, kayaknya musik lokal itu terbantu sama banyaknya majalah majalah musik yang mengulas musik musik tanah air. Kalo di komik, menurut mas gimana?
 
EPA: Sepiiii… Makanya aku seneng banget dengan tulisan John Derantau yg 100 komik itu. Pingin rasanya aku bikin jadi buku.

PGB: Hahaha… walaupun yang komentar jadi beraneka rupa gitu ya (kasus Si Gagu dari Goa Hantu)
 
EPA: Iyaa.. enggak apa apa. Seru kan?

PGB: Serulaaah… dedengkot komiknya pada keluar semua.

EPA: Hehe… dan banyak kisah kisah yang baru terungkap setelah puluhan tahun.

PGB: Kalau kurangkum jadi artikel berdasarkan obrolan di facebook gitu boleh enggak ya?

EPA: Boleh aja kurasa… malah buku yg kubayangkan, akan kumasukkan juga semua komen2 di bawahnya itu biar terekam semua.

PGB: By the way mas, setelah proyek remaster ini Mas Erwin enggak pengen bikin komik sendiri?

EPA: Pengen sih…

PGB: Tapi belum? Apa sedang progress juga?

EPA: Belum. Belum ketemu tulisan yang bikin nafsu, hehehe…

PGB: Wah.. kayaknya kesempatan buat bikin cerita nih…  Oiya mas, ini nanti bakalan dimuat di sekuensi.com. Enggak masalah kan mas?

EPA: Siaap… no problem.

PGB: Ngomong ngomong Mas Erwin pernah baca sekuensi.com belum?

EPA: Belum, hehe… ku klik deh.

PGB: Hehehe… oke deh… nanti kalau sudah baca kasih komentar dong mas…

EPA: Ok… 🙂

PGB: Oke mas… terima kasih banyak untuk waktunya yaa…Sukses selalu, semoga Trilogi Sandhoranya cepat kelar.

EPA: Sama sama bro.. sukses selalu.

Oleh -
0 144
Aksen-Aji-Prasetyo-Wawancara

Catatan editor: Artikel wawancara ini pertama kali dimuat di Gerbong Belakang Creatives, dan bisa diakses melalui tautan ini

Tadi malam (05/06/2015) saya sedang menulis ulasan saya untuk komik Teroris Visual karya Aji Prasetyo, sembari online di facebook. Tak disangka, Mas Aji, sang penulis, juga sedang online. Maka segera saya mencoba chatting dengannya. Sebuah wawancara virtual, yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak saya membaca komik Teroris Visual ini. Syukurlah, Mas Aji berkenan menjawab pertanyaan pertanyaan saya. Berikut petikannya:

PGB: Saya
AP: Aji Prasetyo

*****

PGB: Halo Mas Aji, saya PGB. Saya udah beli komik mas Aji nih, Teroris Visual. Keren.

AP: Halo mas, makasih apresiasinya. Boleh dong diupload capture halaman favoritnya, sekalian ulasan seperlunya. Buat evaluasiku ajaa

PGB: Di blogku ya mas, sek lagi tak rampungkan.

AP: Asoooy, makasih banget. Ntar aku share.

PGB: Betewe kalo boleh saya bikin beberapa pertanyaan buat mas Aji boleh? Untuk blog juga sih..

AP: Silahkan, monggo kang..

PGB: Kritik dalam komik Mas Aji cukup keras, sebenarnya siapa yang mas tuju? Maksud saya pangsa pasar pembacanya..

AP: Pangsa pasar yang kutuju adalah silent majority.

PGB: Bisa lebih spesifik mas, siapa sih silent majority itu?

AP: Mereka butuh kepastian bahwa apa yang nurani mereka rasakan memang benar adanya. Mereka cuma butuh pemantaban, bahwa yang mereka rasakan pun diresahkan oleh yang lain pula. Misalnya saja, seorang muslim yang dalam hati kecilnya sebenarnya kurang sreg dengan apa yang diajarkan oleh seorang ustad. Tapi tidak punya keberanian untuk mengkritisinya. Kalangan seperti ini butuh “ruang curhat” yang bebas dari intimidasi dogmatis. Tidak semua orang cukup beruntung untuk ditakdirkan punya kumpulan yang kritis. Tapi semoga dengan media sosial dan karya-karya kritis seperti ini mereka sadar bahwa mereka “tidak sendirian”

PGB: Oke,, terpengaruh dari kehidupan sosial di sekitar Malang ya mas? Atau Indonesia secara umum?

AP: Indonesia secara umum. Apa yang dilakukan FPI di masa-masa kebesaran mereka, misalnya, biarpun terjadi di Jakarta, tapi oleh media disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia. Keresahan di daerah-daerah pun terjadi meskipun yang digebukin FPI cuma di monas. Malang cenderung kondusif. Banser masih pegang kendali. FPI tidak bisa macam-macam di sini. Tapi demi melihat ulah mereka di tivi, marah lah kita.

PGB: Yap, got it..

AP: Kasus pemukulan jemaah paskah di Yogya misalnya, sangat menyakiti perasaan kita-kita yang di sini. Termasuk kita marah pada penguasa. Mereka abai pada sumpah mereka menjaga konstitusi, bahwa tiap warga negara berhak beribadah sesuai dengan agamanya masing masing, adalah dijamin oleh UUD. Dijamin oleh konstitusi. Tapi apa tindakan negara saat warga negaranya diserang saat beribadah? Atau saat tempat ibadahnya ditutup paksa?

PGB:Radikal, kritis, adalah sesuatu yang gampang dijual. Kaum muda cenderung mencari simbol-simbol perlawanan lewat musik dan mungkin komik salah satunya. Perlawanan bisa jadi berubah jadi komoditi. Dalam konteks komik yang mas bikin, pendapat mas Aji bagaimana?

AP: Komoditi memang menggiurkan. Tapi jika dijual oleh orang yang hatinya gak kesitu, hambar jadinya. Musik reliji misalnya.Komikku diawali dengan unduhan gratis di media sosial. Misiku adalah mengajak orang untuk marah bersama. Banyak hal yang layak kita gugat namun melengang begitu saja. Saatnya untuk menumbuhkan kemarahan bersama tadi untuk menjadi kekuatan perlawanan.
Jika ada yang menduga aku menjual simbol perlawanan, well,,, bahkan komik tidak mampu untuk menghidupiku. Itulah kenapa aku masih main musik dan buka kedai kopi (grin emoticon).
Bahkan jika aku dapat pemasukan dari berkomik misalnya, kugunakan untuk operasional pergerakan lokal. maksudnya aku dan para “pengikutku” di sini

PGB: Haha, saya ga menuduh lo mas…

AP: Jaman sekarang orang mau keluar duit cuma untuk relaksasi, tidak lebih. Komikku dan gaya mbanyolku mungkin bisa jadi media relaksasi, tapi, aku penganut pakem kuno. Leluhur kita bilang, tontonan itu haruslah juga tuntunan. Maka itulah yang kulakukan dengan komikku.

PGB: Oke lanjut, ini kan komik kedua setelah Hidup Itu Indah

AP: Yup

PGB: Nah, menurut mas Aji, adakah yang berubah, maksud saya pembaca komik mas, setelah dia membaca komik komik mas Aji? Mas Aji pernah mengukur gak,  seberapa signifikan komik mas Aji merubah mindset seseorang, dalam hal ini pembaca komik mas pastinya?

AP: Jika di antara seribu pembaca komikku, hanya sepuluh orang yang tercerahkan, buatku itu sudah patut disyukuri. Hahaha. Kita seperti petani. Lakukan yang terbaik. Soal seberapa hasil panen kita terima dengan ilmu ikhlas.
Tapi ijinkan aku berbagi kegembiraan dengan sampeyan,…

PGB: Hahahaha… Aku gembira kok mas.

AP: Kasus Atik bank Jatim sudah diekspos gila-gilaan sejak 2011. Tapi baru diangkat oleh “Mata Najwa” sejak membaca komikku. Sekelompok mahasiswa UIN di sebuah kota di jatim tergerak membela kompleks lokalisasi yang akan ditutup warga, karena mereka terinspirasi analogi dalam komikku. Aku bersyukur, jalan komik ternyata bisa kugunakan dengan cukup efektif

PGB: Oke, pertanyaan lanjutan nih. Untuk genre komik yang begini (mas sebut komik opini, bener ga?) mas terpengaruh oleh siapa?

AP: Seno Gumira yang menamainya komik opini. Ayu Utami lebih suka dengan istilah “komik essay”. Aku penggemar Dwi Koendoro. Namun aku gak puas jika hanya mengomel dalam bentuk komik strip. Caraku meracau butuh lahan yang lebih lebar, hehe.

PGB: Dwi Koendoro komikus Sawung kampret?

AP: Yup, dan Panji Koming yang rutin dimuat di Kompas itu

PGB: Oke,, pertanyaan kedua dari terakhir ya mas.. Pendapat mas tentang komik Indonesia saat ini?

AP: Geliat sudah mulai muncul meskipun kita harus berdarah-darah untuk bisa bersaing dalam pasar internasional. Industrinya masih dalam proses pembentukan., namun aku optimis. Apalagi jika komikus kita tidak hanya fokus rebutan pasar, namun lebih pada memenuhi kebutuhan segmen yang ia tuju.
Misalnya di Iran, karya yang mendunia salah satunya adalah Persepolis karya Satrapi (Marjan Satrapi; pen.). Itu bukan komik, tapi lebih tepatnya graphic novel. Untuk pasar komik dalam negerinya, aku yakin lebih banyak yang tergila2 pada manga atau marvel (Marvel Comic; pen). Tapi karya Satrapi mendunia, karena dia tidak berusaha berebut pasar, melainkan fokus pada pencapaian. Ambisi ini yang harus dimiliki seniman kita. Pasar ntar pasti ngikut sendiri. Satu lagi, karya seniman kita sebaiknya merespon masalah bangsanya. Bukannya abai dan lantas hanya fokus pada bisnisnya doing. Itu yang membuat kita cuma suka mengekor tren, bukan menciptakannya

PGB: Berarti mas ga percaya: “seni untuk seni” ? Duh nambah pertanyaan, hehehe

AP: Bukan tidak percaya, tapi lebih memilih tidak ikut mengamininya (grin emoticon)

PGB: Oke, mas,,, Abis ini aku kirim link blogku ya.. Satu kalimat dong untuk blogku

AP: Jiah,…sudah jadi?? Tak bacanya dulu ya

PGB: Bla bla bla (off the record)

AP: Bla bla bla (off the record)

PGB: Betewe aku tuh pernah ketemu mas aji dulu, tahun 2013 nek ga salah. Di Surabaya, waktu event komik di Mall Tunjungan Plaza, cuma ga sempet foto2..hehe..
Betewe thanks ya mas untuk wawancaranya

AP: Waah, maaf jika aku lupa kalo kita pernah ketemu. Oke bro, kapanpun deh. Aku makasih juga untuk reviewmu yang-meskipun belum kelar kubaca, sungguh keren.

PGB: Sama sama mas… Terimakasih banyak juga

Oleh -
0 232
Yudha Sandy

Oleh: Mohammad Hadid

Saya tidak pernah paham dengan kata indie comic, karena memang sejak semula saya selalu bertanya, bukan atas dasar definitif, tapi atas dasar gumaman sederhana: indie. Independen? Independen dari apa?

Di sebuah ruangan, ketika saya membaca artikel pendek, ada seorang pengamat komik yang pernah memuji keampuhan sebuah judul komik sebagai medium yang mampu berbicara tentang kenyataan. Bagi saya, pernyataan semacam itu bukanlah pujian yang perlu diulang-ulang – hanya demi, misalnya, menaikkan gengsi komik secara keseluruhan. Karena pernyataan itu secara tidak sadar justru menyetujui anggapan bahwa sebelum satu judul di mana pernyataan itu dilekatkan, medium komik tidak pernah berdialektika dengan kenyataan. Ironis, sebenarnya.  

Yudha Sandy, dalam petikan wawancaranya dengan Akademi Sekuensial, mengungkap dua hal penting yang saya ungkapkan di atas: tentang komik Indie  dan tentang komik yang berbicara tentang kenyataan. Ia merupakan satu dari sedikit komikus yang hingga kini masih ngeyel untuk bertahan menerbitkan komik secara mandiri. Dan salah satu komikus yang peduli tentang keseimbangan aspek, antara penciptaan dan penelitian. Apa saja yang ada dalam pikirannya ketika berbicara mengenai komik?

T          : Kamu ini kan setahuku bukan komikus yang memang dari awal belajar teknik mengkomik karena kamu jurusan grafis. Kamu kenal bahasa visual komik dari mana? Atau memang di bangku kuliah sudah diajarkan?

Yudha : Di (bangku – red) kuliah memang ada mata kuliah komik. Tapi di grafis itu, di jurusan seni murni komik itu mata kuliah pilihan. Jadi kamu bisa ambil bisa tidak, lah pas itu aku ambil.

T          : Siapa yang ngajar mata kulilah komik?

Yudha : Yang ngajar Heri Wibowo.

T          : Di kuliah komik kira-kira diajarkan nggak, misalnya, cara mengkomposisi panel, membuat balon kata?

Yudha : Oh iya. Kalau struktur standar diajarkan, cuma karena itu kuliah jadi tidak terlalu menarik sebenarnya. Maksudnya sedari kecil pun saya sudah membuat komik. Sejak SD…sekitar kelas 6 SD lah. Jadi ya karena pak Heri Wibowo ilustrasinya kuat, saya cuma mengambil sisi ilustrasinya saja. Karena kan kalau how to make comic itu kan sebenarnya bebas toh. Apalagi seni murni.

T          : Jadi kamu ini mulai mengkomik sejak SD ya?

Yudha : Iya, tapi kalau membaca komik sudah dari dulu.

T          : Pertama kali kamu membikin komik, kamu mulai dari teknik blat atau gimana?

Yudha : Nggak, langsung saja. Jadi dulu buku komik pertama bikinanku itu kelas 6 SD. Itu saya sudah membikin tim. Dua penulis dan satu penggambar. Yang nggambar saya. Itu saya bikin di buku tapi terus hasilnya tidak difotokopi, hanya ditunjukkan ke teman-teman sekelas. Reaksinya teman-teman waktu itu “woh..ini dilanjutkan Di”. Pas itu ceritanya biasa lah, petualangan.

T          : Kamu bisa kepikiran standar tim itu bagaimana? Dari siapa?

Yudha : Itu … sebenarnya teman main sih, Irfan dan Arif. Mereka berdua kalau cerita gayeng, terus aku bilang “kalau kugambar saja bagaimana?” Temanku menanggapi “ya sudah, ceritanya…gini….tokohnya…gini…yang satu brewokan”. Terus aku nggambar, hasilnya kutunjukan ke mereka, “kalau seperti ini gimana”. “Ya sudah nggak apa-apa”, kata mereka. Sebenarnya ceritanya waktu itu petualangan. Wagu. Orang bertiga, berjalan, mendapat kekuatan, terus ada penjahat.

T          : Punya komikus favorit nggak?

Yudha : Ada. Kalau di Indonesia si Hasmi , soalnya aku punya komiknya. Terus..paling Tatang S, yang gaya gambarnya ngeblok-ngeblok begitu.

T          : Kalau komikus luar?

Yudha : Kalau luar, sering pindah-pindah sih.

T          : Sering pindah-pindah bagaimana?

Yudha : Maksudnya, malah justru bukan komikus, tapi ilustrator.

T          : Sebut namanya bisa nggak?

Yudha : Emmm…Cherry Boil. Tapi dia sebenarnya illustrator, bukan tukang bikin komik, tapi gambarnya bagus.

T          : Kamu ambil apanya dari dia?

Yudha : Dia bekerja dengan berbagai macam media. Jadi dia membuat porselen, dia membuat pertunjukan musik. Pertama yang paling kusenangi dari dia selain ilustrator juga bikin pertunjukan musik, karena aku sering main musik. Dia bikin pertunjukan musik dan menangani bagian visualnya. Kupikir, wahh..ini asyik nih. Tapi kalau komikus, yang bikin Asterix itu siapa? Goscinny.

T          : Misalnya kamu mulai menciptakan komik, kamu mengambil referensi visualnya dari mana? Apakah terserah dirimu, atau kamu terinspirasi dari mana?

Yudha : Biasanya sih aku mengambil dari kejadian yang kualami, tapi terus kuceritakan lagi dengan tidak seperti apa adanya. Kutarik lagi ceritanya. Kupecah-pecah. Kalau kamu lihat komikku, kadang kan tokohnya banyak. Ini nyambung sama itu, itu nyambung sama ini. Tapi sebenarnya itu salah satu lingkup lingkarannya rata-rata dari kisah yang kualami. Atau dari luar ya kadang ada. Tiba-tiba ada berita yang lucu, misalnya, lah..kubikin komik. Tapi tetap itu dari yang kutangkap. Meskipun itu berita yang kudengar misalnya dari radio tapi itu tetap yang kutangkap lagi.

Yudha Sandy Small

T          : Ini sebenarnya menarik pendapatmu di katalog Komik Magnetik*. Kamu agak getir dan merasa aneh ketika menemukan ada orang Indonesia yang bikin komik tapi memakai estetika manga. Kamu bisa ceritakan kenapa bisa muncul kegetiran dan rasa aneh?

Yudha : Sebenarnya itu..emm, karena background-ku juga ya. Dari seni grafis murni, jadi ini mungkin karena seni murni kan, tuntutannya lebih ke menyampaikan apa yang murni dari dirinya. Jadi eksperimen ke visual itu lebih…kalau bisa jangan sama dengan yang lainnya. Misalnya, gampangnya lukisan. Misalnya kamu anak ISI dan melukis pemandangan. Lah aku ya senang melukis pemandangan, tapi aku harus ada rasa berbeda denganmu. Karena ya aku punya style dan kamupun punya style. Jadi meskipun titik pijakannya sama, kita berdua senang nggambar pemandangan – tapi ya mungkin itu didikan dari kampus juga – aku harus beda dari kamu. Supaya aku punya ciri, kamu punya ciri. Itu dalam komikpun aku seperti itu. Kalau bisa harus mencari gaya yang senyaman aku, meskipun aku dulu ya nggambar macem-macem. Karena ya di kampus pun semua harus dicoba toh. Nah itu mungkin dari gambar, karena kuliahku kuliah gambar, jadi komikku pun gambarnya harus beda dengan Iwank dengan Moki, meskipun sama-sama anak Mulyakarya. Tapi sebisa mungkin itu nanti kellihatan sendiri, mesti kamu beda dengan ini. Dan apa ya, itu secara tidak langsung ter-ini** sendiri gitu loh. Jadi kalau masalah mangasebenarnya itu tidak jadi masalah yang terlalu penting buatku. Semua menggambar manga ya nggak apa-apa, terserah mereka. Maksudnya, pemikirannya sudah beda ya sudahlah. Dipaksa juga buat apa, ya sudah sanalah. Seperti itu.

T          : Ini agak berbeda ya. Ketika aku ngobrol dengan beberapa komikus dari jurusan DKV, misalnya, mereka misinya ingin membuat suatu brand, tapi lewat satu karakter terus menerus yang melekat di ingatan pembaca. Kamu pernah kepikiran seperti itu, nggak?

Yudha : Nggak. Tapi memang soalnya membuat karakter itu adalah salah satu cara paling mudah untuk diingat orang, dan kalau karakterku, misalnya, itu-itu terus…nggak. Aku sedikit nggak cocok dengan hal seperti itu. Lebih baik aku bikin komik sebanyak-banyaknya, tapi begitu orang lihat mereka tahu bahwa itu ciptaanku, meskipun karakter (yang dipakai dari satu komik ke lainnya – red) beda. Tapi sempat terbersit juga, misalnya, ada satu karakter yang ada terus, itu sudah kucukupkan dalam satu seri.

T          : Pernah membuat komik di media lain selain kertas?

Yudha : Pernah

T          : Misalnya di mana?

Yudha : Di mural, di lukisan, video. Meskipun itu sudah tidak bisa disebut komik, tapi pijakannya tetap komik. Tapi itu berarti sedikit menyimpang dari definisi, karena biasanya kan komik harus dua dimensi, harus anu…anu…anu. Tapi kalau seluas yang kusebutkan itu tadi, berarti dalam kehidupan pun itu sudah komikal, kalau kita menjalaninya. Secara sadar ini itu bakal bisa tak jadikan ide, itupun kamu sudah berpikir komikal. Misalnya kamu naik bis, tiba-tiba jalanan macet, panas terus nggak sampai-sampai, orang bakal menggerutu di sana. Tapi kalau kamu menyadari, wah ini bisa kubikin cerita dan seterusnya, berarti kamu sudah menyadari itu sebagai sebuah situasi yang komikal. Kamu melihat kesialannya itu sebagai hal yang tidak terlalu berat. Lelucon saja. Itu sudah komikal.

T          : Berarti kamu, kalau boleh kutafsirkan, senang model cerita yang gayeng, yang lucu?

Yudha : Emmm…ya aku senang cerita lucu. Cuma kalau aku membuat komik, sebisa mungkin tidak selucu pada umumnya. Ya mungkin itu karena terbawa dari kampus, jadi lucunya mungkin lebih ke getir. Tapi..ya sebenarnya lucu, tapi kasihan, tapi ya ngapain. Tapi kalau cerita lucu aku mesti senang. Di laptop aku banyak menyimpan film-film lucu.

T          : Kamu selama ini kukenal sebagai seniman komik yang berkarya secara mandiri. Artinya kamu terbitkan sendiri dengan duit sendiri, mungkin. Sebenarnya arti underground atau indie buatmu apa sih?

Yudha : Sebenarnya indie itu intinya sih..orang bisa menyebut itu sebagai indigenous, kelokalan. Atau orang bisa menyebut independen, kemerdekaan. Selama kamu membuat komik itu asyik dan yakin bahwa komikmu itu nggak perlu diedit, nggak perlu dirubah lagi. Dan misalnya kamu sudah yakin dengan karyamu itu, bahwa ini akan serius dan tidak main-main; dan ketika ada orang yang lihat komikmu dan menasehati kamu, bahwa kamu harus mengganti gambarmu, tapi kamu masih tetap yakin bahwa omongan orang lain itu luweh. Itu sudah semangat. Lebih ke spirit, bukan ke bentuk, menurutku loh. Ya seperti musik punklah, atau seperti musik indie. Sebenarnya karena banyak….seperti Sex Pistol dan The Clash lah. Sama-sama Punk dan sama-sama sebuah gerakan, tapi kan yang dianut berbeda. Yang satu menganut nihilisme yang satu lebih revolusioner. Tapi mereka disebut punk, jadi bagaimana? Yang lebih ke underground yang mana? Tapi sebenarnya lebih ke spirit dan yakin dengan karyanya. Ternyata mereka menjadi bagian yang penting. Coba mereka terlalu mengikuti permintaan orang lain (yang mengatur selera musik –red), kita nggak bakal mungkin mendengarkan London Calling dan macam-macam. Nah, seperti itu. Karena itu (semangat – red) dianggap sebagai hal yang penting dan harus dijaga, dan itu tidak bisa berubah. Itu semangatnya sudah OK. Kalau underground itu kan ke masalah yang lebih seksi kan.

T          : Tapi kamu punya impian nggak sih, misalnya, suatu saat kamu ingin karyamu masuk ke penerbit? Meluaskan cakrawala karyamu, dalam hal distribusi loh?

Yudha : Kalau masuk ke penerbit nggak, karena impianku aku mau punya penerbit.

T          : Kamu kan pernah mengkurasi pameran komik. Di satu sisi kamu komikus, di sisi lain kamu juga kurator. Lebih nyaman jadi yang mana?

Yudha : Sebenarnya lebih nyaman…. Karena itu harus seimbang. Kita mungkin ini ya..kata kurator terlalu muter-muter. Ya sebaiknya memakai kata pengamat aja lah, yang membicarakan. Jadi tidak serta merta menciptakan terus, tetap harus buka mata dan telinga: ini ada apa sih, di sana lagi ngapain sih. Dibutuhkan semacam penelitian, mungkin kerja kurasi. Tapi menurutku dua-duanya harus seimbang, antara menciptakan karya dan meneliti.

T          : Misalnya nih, kamu ditawarkan oleh sepuluh orang komikus, mereka mau bikin pameran komik dan menyuruh kamu jadi kuratornya, kamu bakal menerima itu?

Yudha : Emm…aku bakal lihat-lihat dulu. Misalnya ternyata komiknya kacangan ya aku nggak mau. Tapi sekarang porsiku lebih banyak menggambarnya daripada membicarakan itu.

T          : Setahuku kamu pernah menyelenggarakan pameran reinterpretasi karya Tatang S***, itu bagaimana ceritanya?

Yudha : Sebenarnya itu, skripsiku kan tentang Tatang S. Terus banyak data-data yang menarik, dan aku ngobrol dengan teman-teman, dan ternyata mereka juga punya kenangan dengan Tatang S akhirnya aku berpikir: bagaimana kalau dijadikan pameran tentang Tatang S. Terus selama proses penulisan skripsi, aku kan mengumpulkan banyak komik Tatang S – ya nggak terlalu banyak sih, sekitar 50 buku. Terus kukasih teman-teman, barangkali mereka tersadarkan kembali kenangannya terhadap Tatang S. Kan kebanyakan dari mereka sudah lupa. Terus masing-masing mengambil buku-buku komik itu, dan dijadikan bahan untuk berpameran.

T          : Itu motivasinya apa. Apa karena Tatang S itu komikus favoritmu?

Yudha : Sebenarnya nggak terlalu favorit. Tapi itu karena di Indonesia kan cuma sedikit komikus yang jadi favorit, salah satunya ya itu (Tatang S – red).

T          : Kamu punya keluhan nggak, terhadap komik Indonesia?

Yudha : Emm…kalau keluhan nggak ada. Tapi kalau ide yang bisa dipakai mungkin ada. Harus itu sih….menghargai lah, jenis komik apapun. Karena dalam hal apapun orang Indonesia itu kalau lihat yang berbeda kesannya jadi …  maksudnya yang tidak sepaham itu jadi kolot, terus seolah-olah bermusuhan. Padahal kan perlu dikulik lagi kan, misalnya, ada sebab mengapa jadi seperti itu. Terus kalau misalnya dalam acara apa gitu lah, Mulyakarya membawa komik yang seperti ini untuk teman-teman, yang melirik hanya orang-orang tertentu. Tidak semua bisa ngobrol enak, gitu loh. Tapi itu bukan keluhan, tetap bukan keluhan. Cuma itu yang kurasakan saja. Makanya sekarang aku berusaha melihat dunia luar, ngobrol dengan sesama komikus, supaya aku bisa menyeimbangkan hal tadi – penciptaan sekaligus penelitian kecil-kecilan – kalau tidak ya karyaku nggak berkembang. Begitu-begitu saja.

T          : Beberapa komikus yang kutemui pernah mengaku sempat kehilangan semangat ngomik. Kamu pernah nggak, mengalami hal semacam itu?

Yudha : Mungkin nggak ya. Karena aku bikin komik itu nothing to Lose. Seperti bikin karya biasa saja, seperti waktu aku bikin karya grafis, seperti aku melukis. Misalnya aku lagi nggak bersemangat komik, mungkin waktu itu aku lagi nggak bersemangat gambar, nggak bersemangat buka-buka buku, nggak bersemangat mencari ide buat lukisan. Seperti itu.                

Catatan editorial:

*Pameran Komik Magnetik diselenggarakan oleh Ruang Rupa pada tanggal 13-29 November 2009. Ketika itu, Yudha Sandy bersama Ifan Ismail mengkurasi 10 karya seniman komik, termasuk beberapa di antaranya, Erwan Hesri Susanto, Fida Irawanto, dan Azisa Noor.

**Maksud Yudha dengan kalimat ini adalah ia ingin menjelaskan bahwa sikapnya yang tidak ingin gaya visualnya sama dengan orang lain merupakan bawaan dari kampus. Jadi barangkali semacam “kesadaran praktis” dalam terminologi strukturasi ala Giddens.

*** Pameran ini berjudul ‘Rumor of Tatang S’, diselenggarakan di IVAA Yogyakarta pada tahun 2008.

 

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu