Preview Komik

Sebagai sebuah genre, komik bertema sejarah mungkin adalah salah satu yang cukup jarang hadir dalam wacana komik Indonesia pasca tahun 2000. Sepanjang pengetahuan saya, beberapa komik sejarah yang patut dicatat adalah Harimau dari Madiun karya Aji Prasetyo, Pejuang Muda: Longmarch Divisi Siliwangi karya Sungging, dan beberapa komik terbitan Metha Studio yang menerbitkan komik bertema sejarah dibalut dengan cerita-cerita fiksi. Untuk yang bertema lebih spesifik yaitu sejarah tokoh, tercatat John Lie terbitan kolektif asal Surabaya Milisi Fotocopy, yang menceritakan sejarah kehidupan pahlawan nasional beretnis Tionghoa itu. Selebihnya, saya tak tahu. Pernyataan saya di kalimat pertama yang menyatakan bahwa komik bergenre sejarah ini cukup jarang hadir, lebih disebabkan karena ketidaktahuan saya. Kalau ternyata memang lebih banyak, mohon untuk diluruskan.

Nah, kali ini saya baru saja mendapatkan dan membaca sebuah komik tentang tokoh sejarah yang bukan hanya melegenda karena perjuangannya melawan penjajahan, tapi juga mengangkat wacana kepemimpinan wanita dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Adalah Nyimas Ratu Kalinyamat, satu dari tiga wanita Jepara yang menjadi ikon perjuangan bangsa, yang kisah hidupnya diangkat dalam sebuah novel grafis biografi sejarah yang apik oleh Muhammad B. Pontian.

Sebagai komik sejarah, Pontian sebenarnya tidak menawarkan wacana baru mengenai kehidupan Ratu Kalinyamat. Novel grafis ini memfokuskan jalinan cerita berdasarkan sosok sejarah Ratu Kalinyamat, yang lahir di Demak, dan meninggal di Jepara pada tahun 1579. Puteri Sultan Trenggono yang memerintah Demak pada tahun 1521-1546 itu sangat terkenal di kalangan bangsa Portugis karena sosoknya yang sangat berani menentang penjajahan bangsa asing (Portugis) yang merugikan orang-orang Jepara. Kisah hidup Ratu Kalinyamat itu ditulis dan digambarkan ulang dalam narasi dan ilustrasi sepanjang 158 halaman yang dibagi menjadi 5 bab, mulai dari perkenalan sosok Ratu Kalinyamat hingga masa kejayaannya. Bagian yang paling diingat orang, selain serangannya kepada Portugis yang sangat heroik itu, yaitu pertapaannya, mengambil 1 porsi bab tersendiri.  Beberapa narasi sejarah mengisahkan bahwa Nyimas Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan telanjang. Namun demikian, Pontian menampilkan adegan pertapaan itu dengan cara yang lebih halus, alih alih menampilkan ketelanjangan sosok perempuan legendaris tersebut. Cukup aman untuk yang ingin memperkenalkan novel grafis ini pada pembaca di bawah umur 18 tahun.

Satu hal yang penting dicatat —saya sependapat dengan pengantar novel grafis ini, adalah tata letak panil-panilnya. Mengutip pengantar penerbit, Pontian “secara sadar menciptakan karya sekuensialnya dengan kesadaran ruang yang berbeda dengan jenis karya lainnya.” Jika anda membaca novel grafis ini, anda akan menemukan cukup banyak ruang-ruang kosong yang sengaja diciptakan oleh Pontian, yang —lagi lagi mengutip pengantar dari penerbit: “…membantu penikmat karya untuk tidak tergesa-gesa dalam menikmati narasi yang ditawarkan…”

Di tengah kebangkitan komik lokal yang perlahan-lahan mulai menunjukkan geliatnya, untuk kemudian disesakkan oleh komik-komik strip bergenre humor dan komedi yang lama-lama mulai terasa membosankan, Nyimas Ratu Kalinyamat menjadi alternatif bagi penikmat komik lokal yang menginginkan tema-tema yang lebih serius dan dewasa, yang nampaknya belum banyak digarap oleh komikus lokal. Di sisi lain, novel grafis ini dapat dipandang sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh sejarah bangsa melalui medium yang katanya ‘memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja’¹ ini.

Terakhir, seperti tertulis dalam pengantarnya: “Nyimas Ratu Kalinyamat menjadi sebuah buku yang patut dinikmati oleh para penggemar cerita-cerita sejarah yang dituturkan secara visual-sekuensial.”

Jakarta, Mei 2017


¹Kutipan milik Agus Dermawan T, kritikus seni dan penulis buku-buku budaya, yang saya ambil dari sini dan sini.

Saat sampai pada halaman kedua komik ini —saya sedang dalam perjalanan di kereta jarak pendek saat membacanya— saya segera berjanji dalam hati untuk menuliskan sedikit komentar saya. Saat itu, sebenarnya perasaan saya sedang kalut. Biasalah, banyak urusan duniawi yang membuat hati dan otak saya menjadi tidak karuan, tapi tak perlu saya ceritakan di sini karena itu bukan urusan anda, dan anda juga tidak akan peduli. Lagi pula saya bukan Deidra Mesayu, pembuat komik yang akan saya tulis reviewnya ini. Kalau anda nanti membaca komiknya, anda akan tahu mengapa saya menulis begini.

Chandra Agusta | Sekuensi.com

Pertama, untuk mempermudah, walaupun bentuk karya Deidra ini adalah ilustrasi berteks (seperti tertulis pada pengantarnya yang ditulis oleh kritikus komik kita yang termasyhur a.k.a M. Hadid), atau teks berilustrasi, saya akan tetap menyebutnya sebagai sebuah komik. Saya tidak tahu, dan tidak ingin memperdebatkan, apakah dalam karya ini unsur-unsur komik itu sudah tercapai atau tidak, namun karena karya ini berada dalam sebuah kompilasi komik milik kolektif Barasub yang punya jargon “Manifeskuensi”, kita anggap saja ini memang komik.

Komik setebal 25 halaman (termasuk cover depan dan belakang) ini berjudul Deidra Dengue Danar, Komik Pendek Berselimut Racun Aedes Aegypti, merupakan komik kedua dalam kompilasi komik bertajuk Beringas Vol. 2. Bentuknya, kalau dilihat-lihat dan dimirip-miripkan, mungkin dapat digolongkan ke dalam kategori graphic diary, seperti komiknya Tita Larasati dengan Curhat Tita-nya. Sudah barang tentu sebagai graphic diary, ceritanya sangat personal. Saya tidak tahu apakah ini benar-benar kisah nyata si komikus, tapi anggap saja begitu, dan disitulah letak kekuatan ceritanya.

Ia memulai narasinya dengan memperkenalkan dirinya sendiri, sebagai seorang yang aneh (walaupun ia menegaskan bahwa banyak orang punya kecenderungan mengaku-ngaku sebagai orang aneh). Ia juga mempertegas karakter dirinya dengan menceritakan kebiasaan-kebiasaannya, hobinya, dan hal yang dibencinya, yaitu nyamuk. Dari nyamuk inilah semua cerita dimulai. Pacarnya digigit nyamuk dan terserang demam berdarah. Ia dengan kasih sayang dan pengorbanan yang tidak sedikit merawat sang pacar sampai sembuh. Sialnya, setelah sembuh pacarnya justru kencan dengan mantannya. Mereka kemudian putus, dan ia patah hati. Dalam suasana patah hati itu ia memberikan tips-tips bagaimana mengatasinya hingga ia sembuh dari luka hatinya.

Sebuah cerita yang sebenarnya sangat sederhana, tapi kalau anda membaca komik ini, anda akan mengetahui kuatnya Deidra dalam membangun narasi. Dalam cerita yang sederhana itu, dengan balutan kalimat-kalimat dan ilustrasinya, Deidra menyampaikan rasa cintanya, kemarahannya, serta tips-tips menghadapi keadaan patah hati, membuat saya terhanyut, ikut terharu, lalu ikut marah dan jengkel, untuk kemudian ikut merasa bahagia karena semua berakhir baik-baik saja. Tentu saja saya membacanya sambil tertawa-tawa. Menertawakan nasib buruk orang lain mungkin adalah salah satu bentuk hiburan terbaik.

Chandra Agusta | Sekuensi.com

“Aku menangis hebat. Aku menangis meski tetap hebat”, tulis Deidra dalam adegan ketika ia mengetahui pacarnya berboncengan dengan mantannya. Sebuah kalimat ajaib yang membuat saya memaki dalam hati.
Lalu ada kalimat: “Akupun bertanya-tanya kenapa setelah dia meledek menu lauk keluargaku yang selalu cuma tahu dikuahi santan, aku masih ingin dia tetap bersamaku sambal menangis tersedu-sedu.” Lalu: “Aku ingin meninju perut laki-laki yang menghina cara hidup dan sistem lauk keluargaku padahal dia beli sepatu vans minta aku menambah seratus ribu…” Sistem lauk? Apa itu? Sialan betul.

Mungkin kemampuan untuk menceritakan kisah hidupnya ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang ekstrovert, yang dengan senang hati mengisahkan cerita pribadinya kemudian membagikannya ke publik, untuk kemudian kita baca sambal tertawa sambil guling guling di lantai kereta saking lucunya. Agak ironi juga sih, tapi saya pikir komik ini dibuat untuk tujuan itu (ini mungkin perlu dipertanyakan ulang, karena komik ini dimuat dalam kompilasi bernama Beringas :p), dan itu berhasil untuk saya. Jadi di kereta, mendung yang menggelayuti perasaan saya tadi jadi agak sedikit menjadi cerah. Dan seperti kalimat saya di paragraf pertama tadi, saya jadi tidak perlu menceritakan kekalutan hati saya, terutama karena saya mungkin tidak bisa menyusun kalimat yang lucu dan menghibur, dan karena kelucuan tersebut hari ini, saat tulisan ini dituliskan, sudah menjadi milik komik ini.

Jakarta, 1 Mei 2017

Sebagian dari kita percaya bahwa hidup ini dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang tak nampak, yang membuat seluruh makhluk hidup, khususnya manusia, tunduk pada suatu keadaan tertentu yang tidak dapat dihindarinya. Kekuatan itu, yang karena tak nampak dan mungkin susah dipahami, kemudian dikembangkan dalam konsep-konsep yang dapat dipahami manusia, lalu diberi berbagai macam nama. Konsep-konsep itu berkembang luas melalui tradisi lisan dan tulisan manusia.

Narasi paling populer untuk menjabarkan konsep-konsep ini tentu saja adalah kitab-kitab suci agama, yang mengatakan dengan tegas bahwa apa yang tertulis di dalamnya berasal dari pemilik kekuatan itu sendiri. Lainnya, yang juga punya pengaruh besar, tentu saja adalah sains dan ilmu pengetahuan. Bedanya, agama mempertahankan posisi kekuatan tersebut sebagai sesuatu yang misterius, dan yang dibutuhkan hanyalah mengimaninya saja, sedangkan sains memposisikannya sebagai sesuatu yang bisa diselidiki, ditelaah, disanggah, dan dipertahankan dengan metode-metode tertentu, agar dapat dibuktikan dan disusun menjadi teori teori yang universal, katakanlah misalnya hukum fisika, kimia, dan lainnya.

Di luar itu, banyak narasi lain yang beredar, termasuk di dalamnya adalah produk produk budaya populer saat ini, salah satunya adalah cergam¹. Walaupun untuk yang terakhir ini sifatnya lebih bebas, dalam artian tidak perlu diimani, dan tidak perlu pembuktian dengan metode-metode tertentu, imajinasi semacam ini tetap bisa dikategorikan sebagai konsep-konsep alternatif.

Soliter, sebuah cergam karya Poton V, mencoba menawarkan konsepnya mengenai kekuatan tersebut, dan bagaimana kekuatan tersebut mengatur kehidupan manusia. Dalam dunia imajinasinya yang tertuang dalam panil-panil cergam, Soliter menggambarkan sebuah dunia di mana kehidupan manusia diatur oleh Four Horsemen, sebentuk ‘makhluk-makhluk’ yang mempunyai tugas khusus untuk mengatur berbagai hal dalam kehidupan manusia, semacam konsep dewa-dewa atau malaikat dalam agama-agama. Setiap ‘makhluk’ itu mempunyai tugas yang spesifik, ada yang mengatur kebencian, penyakit, mimpi, kematian, keserakahan, mukjizat, dll dsb. Namun demikian, keberadaan ‘makhluk’ bertugas khusus ini ternyata juga tak bisa lepas dari sesuatu yang dinamakan takdir, begitulah kira-kira garis utama dari kisah ini. Dalam kalimat pembuka, dengan lugas Poton menuliskan: “ada beberapa hal [tak] kasat mata… yang membuat kehidupan ini… menjadi tunduk kepada takdir…”²

Dikisahkan, Sirna, petugas pengendali mimpi yang tugasnya adalah menghapus mimpi manusia di penghujung malam, sedang berada dalam kebosanan karena rutinitas pekerjaannya. Pada suatu ketika, ia mendapati sebuah mimpi yang menggambarkan percintaan sosok dirinya dengan sang pemilik mimpi, seorang wanita yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut bernama Yati. Penasaran, ia akhirnya mengetahui bahwa Yati bermimpi dalam kondisi koma. Singkat cerita, Sirna menjadi simpati dan jatuh cinta pada seorang wanita itu. Ia, dibantu Maut, pengendali kematian, mencari cara untuk dapat melepaskan penderitaan Yati, melalui sebuah petualangan di Kebun Malapetaka. Paska kesembuhan Yati, mimpi-mimpi percintaannya dengan Sirna justru menghilang. Sirna yang sudah kadung cinta menjadi kecewa. Untuk mendapatkan cintanya, Sirna memutuskan mengubah dirinya menjadi manusia, dan cerita terus mengalir hingga berakhir dengan tragis di tangan takdir, yang ironisnya justru hanya dianggap permainan oleh pengendalinya.

Jika kita mengamati cergam-cergam Poton, termasuk beberapa karyanya terdahulu seperti Jagger Myth, Tuna Kala, Hama, atau Djinah 1965, kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa gaya ilustrasi Poton tidaklah fokus pada detail. Tak ada gambar-gambar bombastis seperti tokoh-tokoh yang keluar dari panil ataupun yang penuh detail dengan gaya realis. Adegan demi adegan dalam panil-panil cergamnya tercetak dalam gambar-gambar sederhana para tokoh dan aktivitasnya, nyaris tanpa tambahan apapun selain balon kata dan narasi. Sangat banyak dijumpai panil gambar yang bahkan tidak memiliki gambar latar, diganti dengan blok-blok hitam ataupun arsiran. Meski demikian, konsistensi karakter tokoh-tokohnya tetap terjaga dengan baik. Kejelian Poton memanfaatkan ciri khusus untuk setiap tokoh saya pikir adalah kuncinya. Misalnya, Sirna digambarkan berambut gondrong a la suku Indian lengkap dengan bulu unggasnya, Maut dengan kacamata dan topi, juga pengawas kebun Malapetaka yang memakai masker. Penggunaan ciri khusus tersebut memudahkan identifikasi pembaca untuk membedakan satu tokoh dari lainnya. Sebagai catatan tambahan, saya cukup terkesan pada panil-panil di setiap pergantian chapter dan pembukaan chapter baru. Sebuah komposisi layout yang manis dan enak dilihat.

Sebaliknya dari gambar yang sederhana, Poton adalah komikus yang cukup serius membangun jalan cerita. Teknik pengisahan cerita dalam cergam ini memang bukan sesuatu yang baru. Menggunakan rumus drama tiga babak: pengenalan tokoh, konflik, dan penyelesaian konflik, dengan alur maju yang konstan, tak berarti jalan cerita menjadi asal-asalan dan membosankan. Poton cukup lihai membentuk karakter tokoh-tokohnya dalam dialog-dialog dan gambar, sembari merambat masuk ke konflik utama tanpa harus bertele-tele menambahkan halaman khusus daftar tokoh seperti yang sering kita jumpai dalam komik-komik Jepang. Dalam beberapa panil, dapat kita lihat juga bagaimana Poton membangun ketegangan/suspense cerita dengan cukup baik, misalnya dalam adegan petualangan di Kebun Malapetaka dan saat pelarian Sirna dan Yati di jalanan.

Pendekatan kelokalannya juga harus menjadi perhatian khusus. Lihatlah bagaimana identitas-identitas kelokalan yang berserakan dengan alami tanpa harus terlihat dipaksakan: Yati yang penyanyi dangdut, bapaknya yang tidak mau melakukan suatu pekerjaan karena menganggap hal tersebut adalah urusan perempuan, mimpi Yati menjadi juri Diva Dangdut Indonesia, atau ajakan Sirna kepada Yati untuk kawin lari karena hubungan mereka tak direstui oleh ayah Yati, juga penggerebekan di hotel.

Musik pengiring kiamatChandra Agusta | Sekuensi.com
Preview panel: musik pengiring kiamat; hal. 100

Selain itu, Poton juga piawai menyelipkan humor-humor gelap dalam cerita ini. Beberapa yang bisa saya tunjukkan, misalnya pada adegan alarm kiamat, yang berubah menjadi musik gubahan Beethoven, Symphony no. 7 in A Major, Op 92-II, Allegreto. Pengawas Kebun Malapetaka dengan enteng mengomentarinya dengan: “tak kusangka akhir dunia diiringi oleh musik ini…” ditimpali gumaman Maut: “aku berharap mereka bakal memutar Lux Aeterna atau No Surprises…”

Bagian sampulnya pun sangat apik. Potret tampak belakang Sirna sang tokoh utama, dengan pilihan warna yang eye-catching. Bagus! Secara keseluruhan, penilaian saya untuk cergam setebal 104 halaman ini adalah: Sangat Layak Untuk Anda Koleksi.

Bogor – Jakarta, April 2017

¹ Cergam: cerita bergambar. Saya menggunakan istilah ini untuk menggantikan kata komik. Dalam sebuah obrolan saya dengan Poton, ia menyatakan menolak untuk menggunakan istilah komik untuk Soliter. Menurutnya, komik merujuk pada cerita bergambar untuk kisah kisah yang lucu. Ia lebih sepakat untuk menggunakan istilah cergam bagi karya-karyanya.

² Kata [tak] dalam kutipan tersebut adalah tambahan dari saya. Merujuk pada KBBI, kasat mata berarti dapat dilihat, konkret, atau nyata. Dalam konteks Soliter, penggunaan yang tepat menurut saya adalah tak kasat mata.

Oleh -
0 1999
Aksen-Komik-Tentang-Musik-featured-image

Ketika Rollingstone Indonesia mengangkat sebuah tulisan bertajuk “Gagasan Menyinergikan Komik dan Musik Indonesia”, saya terilhami untuk menulis sebuah tulisan dengan tema komik tentang musik. Ini ditulis berdasarkan pemahaman dan pengetahuan saya tentunya.

Seperti kita tahu, meskipun keduanya sama-sama berada di ranah budaya pop, perkembangan kedua hal ini sangatlah jauh berbeda. Musik Indonesia, boleh dikata telah menjadi raja di tanahnya sendiri. Ratusan musisi lahir, berkembang, dan berkarya dalam hingar bingar panggung musik tanah air. Dari yang dirilis major label ataupun independen, bergenre metal hingga dangdut, klasik sampai kontemporer, semua saling berebut simpati khalayak.

Kondisi yang jelas berbanding terbalik dengan Komik Indonesia. Meski pernah berjaya di dekade 70-an, (era yang disebut sebagai era kejayaan Komik Indonesia), kondisi komik Indonesia setelah era itu, setidaknya hingga akhir dekade 2000-an, maaf kata, sangat menyedihkan. Jumlah terbitan komik sangatlah sedikit. Jika kita dapat mengikuti banyaknya perdebatan perdebatan yang seru ataupun menjijikkan antara musik major label dan indie, dan perdebatan antar genre dalam musik yang sampai sekarang tak jua selesai, dalam dunia komik justru sangat sepi. Bagaimana mungkin muncul perdebatan dan diskusi jika terbitan komiknya saja bahkan tak pernah ada.

Tentu saja saya terlalu hiperbolik bila mengatakan tak ada penerbitan sama sekali, karena pada kenyataannya dunia komik, meski sangat sepi, tapi tak mati. Semangat untuk terus memunculkan komik-komik lokal di tanah air sendiri ini sesungguhnya tetap bertahan. Dan semangat itu, jika dilihat dari jumlah penerbitan komik dalam dua tahun terakhir, menunjukkan peningkatan yang cukup untuk membuat penikmat komik lokal tersenyum senang.

Nah, lalu apa kaitannya dengan artikel Rolling Stone tadi? Baiklah, begini. Saya sebenarnya tidak cukup paham bentuk seperti apakah yang dimaksudkan Rolling Stone sebagai kesinergian antara komik dan musik. Apakah itu semacam soundtrack untuk sebuah komik, komik untuk sebuah album musik, komik tentang musik atau lagu yang diangkat dari kisah komik, atau musikalisasi komik, atau komikalisasi musik, ataukah komik yang berkaitan dengan kisah seorang seniman musik/band?.

Nah, untuk yang terakhir, yaitu komik yang mengisahkan seniman musik/musisi/band adalah sama dengan maksud saya membahas komik tentang musik. Berikut adalah 10 komik yang berhasil saya himpun berdasarkan koleksi pribadi yang saya miliki.

1. Kornchonk Chaos – Iwank

Aksen-komik-tentang-musik-Kornchonk-ChaosChandra Agusta | Sekuensi.com

Ini adalah komik biografi dari sebuah band parodi bernama Kornchonk Chaos, dimana Iwank juga menjadi salah satu personelnya. Band ini cukup punya nama di Jogja, dan di komik ini Iwank menceritakan asal usul dan perjalanan Kornchonk Chaos dengan jujur, lugas dan datar. Sangat khas Iwank. Tak ada cerita cerita heroik dan penuh dramatisasi, apalagi nasihat dan moral. Kekonyolan dan banyolan sederhana justru membuat komik ini, seperti komik Iwank lainnya, jadi lebih segar untuk dibaca. Setebal 91 halaman, komik ini awalnya merupakan komik fotokopi dan sempat diterbitkan dalam bentuk komik cetak.

Oleh -
0 56
101-Cara-Memilih-Pemimpin
  • Cerita: Kurnia Harta Winata, Dwi ‘Chito” Purnomo
  • Visual: Dharmika Adhyaksa Putra
  • Penerbit: Cendana Art Media
  • Harga: Rp 35.000 (Informasi Pembelian)
  • Tahun Terbit: April 2014

Orang menyebut tahun ini adalah tahun politik, karena konon katanya ada “pesta demokrasi” yang disebut Pemilu, di mana warga negara yang sudah memenuhi kualifikasi administrasi untuk memilih “dipersilakan” untuk memilih wakil rakyat – yang dipercayai, tentu saja – untuk duduk di parlemen dan di kursi Presiden. Dan karena tahun ini adalah tahun di mana orang bisa ikut larut dalam “pesta”, bolehkah kita menyebut buku kumpulan komik strip berjudul 101 Cara Memilih Pemimpin sebagai salah satu produk yang ikut “merayakannya”?

Sekilas pandang, judul pada karya tersebut menyesatkan. Maksudnya, ia sanggup membuat mereka yang menemukannya di toko buku bertanya-tanya: “ini buku panduan, ya?” Disadari atau tidak, diksi yang dipilih: “101 Cara”, turut mengarahkan persepsi awam ke sana.  Meski demikian, mereka yang sudah hafal pola-pola khusus yang disajikan serial 101 lain yang juga digarap penerbit Cendana Art Media tentu tidak akan mudah terjebak dalam persepsi sempit semacam itu.

Kendati demikian, blurb pada bagian belakang produk tersebut malah memberi penegasan yang berlawanan dengan pendapat di atas. Blurb tersebut terbaca demikian:

[N]ah, bagaimana sikap kita sebaiknya dalam memilih-milih calon pemimpin yang baik bagi kita? Buku yang [A]nda pegang ini berisi cara pandang alternatif dalam memilih pemimpin dengan cara komikal yang lucu, namun tetap kritis dan aktual.

Melalui penjelasan yang gamblang seperti tertulis di atas, kita bisa melihat bagaimana penerbit Cendana Art Media memperlakukan 101 Cara Memilih Pemimpin , serta bagaimana pembaca harus mempersepsikannya. Tetapi apakah 101 Cara Memilih Pemimpin adalah buku panduan – yang sama dengan buku panduan resep masakan atau buku panduan memanipulasi foto menggunakan Adobe Photoshop – di mana melaluinya pembaca akan mendapatkan rincian penuh dengan detil tentang bagaimana cara untuk mengetahui bahwa pak Bejo, tetangga Anda, adalah calon Presiden yang cakap, pintar dan cerdas? Untuk mengetahui panduan macam apa yang akan anda dapatkan, tentu saja anda harus membaca karya tersebut sampai habis.

[pullquote-left] Tetapi apakah 101 Cara Memilih Pemimpin adalah buku panduan sebagaimana halnya buku panduan resep memasak atau buku panduan memanipulasi foto menggunakan Adobe Photoshop [/pullquote-left] Buku tersebut adalah karya yang sudut pandangnya berpusat pada tema politik, atau lebih spesifik lagi, pada fenomena Pemilu 2014. Lebih jauh lagi, Anda mungkin tidak bisa berharap 101 Cara akan menyodorkan kumpulan strip yang memperlakukan politik (Pemilu) dengan cara yang suram, serius dan galak; sebab kata “komik” di buku tersebut dikembalikan ke trah asalnya sebagai bentuk yang lucu/penuh humor.

Esei