Preview Komik

Oleh -
0 44
Pelangi di Naungan Mentari
  • Cerita: Kucing Kampung
  • Visual: Indra Wisnu Wardhana
  • Penerbit: Koloni
  • Harga: Rp. 13.365 (Informasi Pembelian)
  • Tahun Terbit: 2006

Pelangi di Naungan Mentari adalah kumpulan beberapa cerita pendek tentang cinta, persahabatan dan rasa kemanusiaan yang romantis sekaligus menyentuh hati.

Kutipan di atas merupakan pengantar singkat untuk komik Pelangi di Naungan Mentari yang terbit pada tahun 2006 silam. Komik ini kabarnya memenangkan penghargaan medali perunggu pada ajang 5th International Manga Award. Namun bagi saya yang menarik bukanlah ihwal tentang komik ini yang meraih hadiah perunggu, melainkan karena kutipan di atas itu lah orang jadi bisa bertanya-tanya: kemanusiaan macam apa yang disajikan oleh komik ini.

Ketika anda berpikir tentang kemanusiaan, apa yang ada di benakmu? Cinta orang tua kepada anaknya? Persahabatan yang sangat erat antara dua orang sahabat? Atau ketika anda memberi sepuluh ribu rupiah kepada seorang pengemis walau anda terancam tidak bisa makan hari ini? Atau ketika anda membela hak-hak mereka yang tergusur akibat pembangunan hotel baru, misalnya? Singkat kata, saya ingin bertanya: apa itu kemanusiaan?

Komik Pelangi di Naungan Mentari sebetulnya bukanlah sebuah komik utuh yang menyajikan satu cerita saja. Ini adalah sebuah antologi komik pendek yang diisi dengan 4 buah cerita, yang masing-masing menyajikan perspektif, alur, serta plotnya sendiri-sendiri. Keempat komik pendek yang tersedia untuk dibaca berjudul: “Awal Sebuah Kenangan”, “Tempat Hatimu Berada”, “Perbedaan di Ujung Jalan”, serta “Pungguk di Balik Bulan”.

Meski masing-masing menyajikan cerita yang berbeda, namun kiranya ada satu persamaan penting: keempatnya disajikan dengan cara yang manis dan terkesan bersih, baik dari segi visual maupun dari segi penceritaan.

Lalu, kemanusiaan macam apa yang digadang-gadang di dalam Pelangi di Naungan Mentari? Sekilas pandang komik ini lebih menonjolkan romantisme  khas cerita-cerita sinetron, menjadikannya sebagai sajian visual dengan tipikal cerita yang gampang dicerna. Dibandingkan berusaha membangun rumitnya konflik kemanusiaan yang mungkin bisa muncul dalam kehidupan para tokohnya, agaknya komikus yang menggarap komik ini memilih untuk menyelesaikan segala macam konflik yang dibangun dengan cara seindah mungkin. (Anda tahu apa yang saya maksud dengan ‘indah’? Artinya: semua tokoh di akhir cerita menjadi senang dan bahagia)

Sebagai contoh: anda tidak perlu menunggu sampai kopi habis segelas hanya untuk tahu bahwa Agung sang direktur perusahaan di kota besar yang diceritakan di dalam “Tempat Hatimu Berada” akhirnya kembali ke akarnya sebagai orang kampung. Sebab seperti sifatnya yang “bersih”, komik ini cenderung lurus-lurus saja. Singkat kata: orang tidak perlu mengernyitkan dahi untuk menikmati masing-masing cerita pada Pelangi di Naungan Mentari.

Oleh -
0 166
Sampul Cups V1
Sampul Cups (foto: Aksen/MHadid)

Selasa malam 4 Maret 2014 di DGTMB Shop diadakan acara peluncuran komik Wolfriends project #1 berjudul Cups. Ini adalah komik yang dikerjakan bareng oleh Yudha Sandy dan Mira Asriningtyas. Pemilihan kata Wolfriends itu sendiri tampaknya didasarkan pada logo Mulyakarya (untuk kamu yang belum tahu, Yudha Sandy adalah anggota komunitas Mulyakarya).

Akan tetapi, mula-mula pertanyaannya adalah: apa itu Wolfriends?  Wolfriends adalah proyek yang diinisiasi Mulyakarya, yang ide awalnya muncul setelah workshop komik bersama Mawil. (Sekadar menyegarkan memori kita: workshop bersama Mawil merupakan rangkaian acara festival Comiconnexions 2012 yang merupakan acara yang digelar atas kerjasama Goethe Institute dan Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Di workshop tersebut, Mawil bersama Sascha Hommer menjadi pematerinya). Dua anggota Mulyakarya, Upit dan Prihatmoko Moki, ketika itu mengusulkan supaya Mulyakarya membuat proyek komik. Dilihat dari sisi produk, Wolfriends adalah hasil kolaborasi di mana salah satu anggota Mulyakarya bertugas menangani bagian gambar, sementara penulis dari luar diundang guna menyumbang cerita. “Pengennya sih nanti kalau nemu bahan (cerita) yang cocok, proyek ini baru akan dijalankan. Kalau bisa bahannya berkaitan dengan penulisnya langsung dan punya pemikiran yang tidak biasa dijelajahi oleh para komikus”, kata Sandy.

Cups adalah cafe yang dulu pernah dimiliki oleh Mira, dan jika dilihat dari dalam pengantar pada bagian dalam komik tersebut, akan terbaca sebuah kalimat:

kami sengaja memilih tipikal penulis lepas yang suka bercerita hal konkrit tentang aktivitas keseharian beserta hobinya yang tak terpisahkan. Mereka bisa jadi adalah kurator ruang alternatif sekaligus fashion blogger , reporter amatir sekaligus mahasiswa dan lain-lain.

Cups adalah komik sederhana. Sederhana dalam artian panil-panil yang disajikan Sandy terasa polos, sebab ia tidak bermain blok warna, melainkan – menurutnya – bermain di detail-detail lanskap. Tata ruang pada beberapa halaman di dalam komik tersebut juga menurut kami membutuhkan banyak kerja indera tubuh yang lain daripada sekadar duduk, menikmati, dan kemudian secara statis membalik halaman demi halaman (seperti yang biasa kamu lakukan ketika menikmati komik favoritmu). Kamu yang tinggal di Jogja mungkin akan banyak menemukan tempat-tempat yang kamu kenali – meski bagi kami pembaca yang tinggal di Jogja-pun mungkin perlu kerja keras untuk mengenali beberapa lanskap yang disajikan. Jurnal komik online menyajikan beberapa halaman preview Cups di bawah ini.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu