Warta

Oleh -
0 23

Rilis terbaru dari KOSMIK: Kompendium Wanara karya Sweta Kartika, akhirnya terbit. Serunya lagi, tidak hanya Wanara 02 yang rilis, namun Wanara Vol. 01 juga dicetak ulang. Menurut Sweta, hal ini adalah salah satu bentuk keberhasilannya dalam menyuarakan gagasannya kepada pembaca.

Komik tentang perjuangan Seta dan Lima Mandala dalam menumpas kejahatan yang dipimpin oleh Bos Panda ini dibuat untuk merefleksikan industri komik Indonesia. Dalam komik, Sweta memulai cerita dari sebuah kota dimana kejahatan semakin merajalela karena para superhero senior sudah tidak lagi setangguh dulu. Adalah Panca, salah satu superhero senior yang secara aktif mengumpulkan pemuda berbakat untuk dilatihnya menjadi penerus.

Kondisi ini sama dengan yang dialaminya selama bergelut di industri komik Indonesia. Kita pernah memiliki banyak kreator senior yang hebat dengan deretan karya yang luar biasa. Sekarang mereka sudah harus segera digantikan oleh generasi yang lebih muda. Banyak kreator komik senior yang beralih profesi, tapi masih ada pula yang masih aktif berkarya komik sambil melatih juniornya.

Konsep kesimbangan pada Wanara 02

Melihat konsep cerita yang kental dengan budaya lokal, barangkali ada yang tidak percaya bahwa komik ini dibuat lebih 6 tahun yang lalu. Manuskrip pertama Wanara dibuat pada Desember 2010. Komik ini kemudian diterbitkan secara online  di webcomic Makko.co pada Mei 2011 dengan stok 2 chapter. Tantangan saat itu adalah adanya tanggung jawab untuk menyelesaikan sekitar 30 halaman per bulan. Disaat yang sama, Sweta juga sedang menempuh pendidikan program Magister dan juga mengerjakan beberapa proyek ilustrasi lain. Meski begitu, menurutnya yang paling sulit justru bagaimana menyajikan kualitas cerita yang dapat dinikmati pembacanya.

Semua proses pembuatannya, baik Wanara Vol. 01 maupun Wanara Vol. 02 pun sama: digambar sebanyak 20-32 halaman per bulan. Bedanya, pada buku kedua ini, Sweta melakukan lebih banyak riset. Pada tahun 2012, dia mengalokasikan 2 bulan untuk berkeliling ke 3 Kota untuk menemui beberapa narasumber. Kala itu Sweta juga sedang mempersiapakn diri untuki sidang Thesis.

Jika dalam Wanara Vol. 01 Sweta fokus untuk menciptakan cerita dengan tujuan utama pada pembentukan jagoan Wanara, di buku kedua nanti Sweta berusaha membangun sesuatu yang lebih besar. Dalam setiap dialognya, Sweta ingin menekankan pada konsep keseimbangan dimana apabila ada satu variable dalam alam raya ini yang dimusnahkan, maka akan mempengaruhi banyak hal. Ketika ini terjadi, alam akan beradaptasi untuk mengembalikan keseimbangan dengan cara misterius.

“Saya berharap pembaca bisa memaknai inti gagasan ini lebih jauh karena yang saya usung mengandung nilai spiritualitas. Tentunya, jika nilai ini benar-benar ditangkap oleh pembaca, akan ada semacam kehati-hatian bagi semua untuk berbuat keburukan.”

Dalam mengembangkan cerita Wanara, Sweta mengaku banyak mengambil referensi dari film. Melalui film, Sweta belajar pacing dan penataan plot, serta cara menghadirkan karakter yang kuat. Beberapa judul film yang paling mempengaruhi pembuatan komik ini diantaranya Watchmen dan Zack Snyder.  Sesekali, tayangan National Geographic juga digunakan sebagai sumber acuan.

Wanara Vol 02 sudah bisa dibeli di toko buku. Komik ini resmi rilis pada acara Pasar Komik Bandung 14 Mei 2017.

Oleh -
0 466
Pertarungan
Ilustrasi konflik dan pertentangan

Pernah menyindir teman, saudara, atau siapapun di media sosial? Sebagian mungkin pernah, bahkan sering, dan sebagian lainnya mungkin tidak berpikir ke arah itu. Menyindir orang lain melalui media sosial ini memang menyenangkan –bagi yang suka- dan mungkin cukup efektif untuk menyampaikan pesannya. Tapi jangan dikira bahwa sindir menyindir secara terbuka seperti itu hanya terjadi di era media sosial sekarang ini saja. Paling umumnya, sindir menyindir ini sebenarnya terjadi di dunia sastra, mungkin juga musik. Salah satunya yang paling saya ingat di medan sastra lokal adalah jurnal boemipoetra yang selalu menyerang Goenawan Mohamad dan gengnya.

Yang terakhir lagi, sebuah catatan dari Anindita S. Thayf di facebooknya yang menyerang “sastrawan sosialita” di mana kolom komentarnya juga dipenuhi argumen argumen penulis lain yang tidak setuju dengan pendapatnya, salah satunya Ika Natasha. Di dunia musik, Rhoma Irama menulis lagu berjudul “Musik” untuk membalas kecaman salah satu kelompok rock bernama “Giant Step” yang menyebut musik Rhoma sebagai “musik tai anjing”.

Nah, bagaimana dengan dunia komik?

Di akhir 60an, terjadi sebuah konflik yang cukup serius antara Ganes TH dan A. Tatang S. Ganes TH adalah komikus legendaris yang terkenal dengan Si Buta Dari Gua Hantu, dan A. Tatang S, komikus yang lebih kita kenal melalui komik Gareng Petruknya, membuat sebuah komik parodi berjudul Si Gagu Dari Gua Hantu. Dalam sebuah forum komik di facebook, Hans Jaladara mengatakan bahwa akar konflik bermula pencurian ide. Ganes TH sebagai salah satu komikus yang dituakan pada masa itu, sering menerima konsultasi untuk para komikus komikus lainnya, termasuk A. Tatang S, bahkan mungkin saling berbagi ide.

Namun rupanya A. Tatang S justru menerbitkan ide komik dari Ganes TH tersebut lebih dulu dengan penerbit lain. Tentu saja hal ini membuat Ganes berang. Konflik kedua komikus ini ikut diperkeruh oleh penerbit masing masing: Ganes TH dengan penerbit Eres dan A Tatang S dengan Sastra Kumala. Maka lahirlah komik parodi (kalau tidak bisa dibilang plagiat) paling menghebohkan dalam sejarah komik modern di Indonesia: Si Gagu dari Gua Hantu karya A. Tatang S yang diterbitkan oleh Sastra Kumala.

sampul si Gagu dari Gua HntuChandra Agusta | Sekuensi.com
Sampul si Gagu dari Gua Hantu

Dalam Si Gagu Dari Gua Hantu, A. Tatang S menjadikan Ganes TH –di komik disebut sebagai Mat Ganes- sebagai tokoh penjahat yang mati dibunuh oleh Si Buta -salah seorang penjahat lain dalam komik ini- dalam sebuah pertarungan. Si Buta ini kemudian mati terbunuh pula oleh Tokoh utama komik ini, yakni Si Gagu dari Gua Hantu.

Dilihat dari penggambaran karakternya, memang bisa diartikan bahwa A. Tatang S memang berniat untuk menyerang Ganes TH. Penamaan karakter penjahat sebagai Mat Ganes, kemudian Tokoh Si Buta yang berubah menjadi antagonis, hingga akhirnya kedua Tokoh tersebut mengalami nasib yang sama: kematian.

Ganes TH, di pihak lain, kemudian menerbitkan Tjisadane, Januari 1969 di bawah bendera penerbit Eres. Dalam komik itu Ganes membuat sebuah Tokoh bernama Atang, seorang tukang comot dan pengkhianat, yang hidupnya berakhir dengan cara dibunuh.

Konflik ini tak berhenti sebatas sindiran dalam panel gambar dan balon kata saja. Sebuah kelompok bernama IKASTI (Ikatan Seniman Tjergam Indonesia) membuat sebuah surat protes kepada Kepala Seksi Bina Budaja, Komdak VII Djaja, yang mungkin merupakan pemegang otoritas penerbitan komik saat itu. Surat bertanggal 3 Juli 1969 tersebut berisi tuntutan untuk mencabut izin terbit komik Si Gagu dari Gua Hantu serta memusnahkan semua edisi yang telah beredar.

panel dalam komikChandra Agusta | Sekuensi.com
Adegan dalam komik
panel dan suratChandra Agusta | Sekuensi.com
panel komik dan surat protes para komikus

Komik Indonesia pada masa itu biasanya terbit berkala. 1 judul terdiri dari belasan jilid. Sepanjang konflik itu, pada komik komik Si Gagu yang terbit berkala tersebut, A Tatang S juga tampak mencoba meraih dukungan dari rekan rekan sesama komikus. Ia menuliskan salam (menuliskan salam dan ucapan dalam komik ini adalah hal yang sangat biasa pada komik pada waktu itu, anda bahkan bisa menemukan semacam dukungan untuk Rano Karno –waktu itu masih aktor cilik- dari Kus Bram dalam komiknya Labah Labah Merah) kepada Sim, Zaldy, dan Jan Mintaraga (juga istrinya, Linda) untuk menggalang kekuatan. Ironisnya, Zaldy dan Jan, beserta Hans Jaladara, Toha, dan Absony, justru ikut menandatangani surat protes dari IKASTI yang mendukung Ganes TH. Pada akhirnya, komik Si Gagu Dari Gua Hantu ini tak pernah dilanjutkan.

Komik HarChandra Agusta | Sekuensi.com
Sebuah sindiran dalam komik
Komik-panelChandra Agusta | Sekuensi.com
Si Buta?

Selain konflik dua komikus di atas, beberapa yang saya temukan lainnya, yaitu sindir menyindir dalam komik karya Har berjudul Sanggar Atas Angin. Dalam sebuah panel, Har menyindir Anda S. dengan mengatakan bahwa komik Anda memiliki tema cerita yang hampir mirip dengan karya Absony, Anak Kuburan.

Plagiarisme nampaknya adalah pemicu konflik yang paling utama dalam dunia dunia kreatif termasuk dunia komik, namun tentu tak hanya itu.  Sebagai tambahan, walaupun ini mungkin bukanlah konflik konflik, adalah komik karya Kharisma Jati, God You Must Be Joking, yang menyebut-nyebut, atau menggambarkan Beng Rahadian.

God You Must be Jocking
Chandra Agusta | Sekuensi.com Salah satu strip GYMBJ (credit: K Jati)

Yang paling baru, beberapa tokoh komikus dan pemerhati komik tanah air menuliskan status dukungan dan kecaman (beberapa diantaranya berbentuk komik) sebagai respon terhadap konflik -katakanlah begitu- antara Sheila Rooswitha dan Kharisma Jati. Jati memang dikenal dengan komik komiknya yang liar, baik ide maupun visualnya. Komik komiknya kerap menampilkan adegan sadis dan konten konten berbau seksual (walaupun tak semuanya begitu, tentu saja). Dalam sebuah komiknya yang diunggah di internet, Jati dianggap menyerang Sheila Rooswitha secara personal. Hal ini memancing reaksi komikus komikus lain, terutama juga yang concern pada isu isu pornografi dan kekerasan seksual.

fb_img_1477904505437Chandra Agusta | Sekuensi.com
Komik Aji Prasetyo

Demikian sekelumit kejadian dalam dunia komik tanah air, sekiranya bisa menjadi bahan obrolan ringan antar sesama penggemar komik tanah air.

Catatan:

* Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah postingan John De Rantau berjudul 100 Komik Indonesia Terbaik Yang Harus Dibaca Sebelum Kau Mati, 10/100 di grup facebook “Komik Indonesia Semua Zaman” (dapat dilihat di link ini). Foto dan juga diambil dari tempat yang sama. Credit untuk semua yang terlibat dalam diskusi tersebut, mohon maaf tak bisa disebut satu persatu karena terlalu banyak.

* Gambar panel komik Har diambil dari postingan Ardian Syamsi, masih di grup facebook “Komik Indonesia Semua Zaman”

* Gambar komik God You Must Be Joking diambil dari facebook Kharisma Jati

Gambar Komik buat Lala dari Aji Prasetyo diambil dari facebook Aji Prasetyo

 

Oleh -
0 165

Bahwasanya Budaya Dalam Berkomik Bisa Dibangun

Komik dua Panel Kurnia Harta Winata

Catatan: Kurnia Harta Winata, komikus punggawa studio KOEBOES Yogyakarta, menulis sebuah catatan komik akhir tahun. Tulisan tersebut mulanya hanya dimuat di Notes Facebook Kurnia, dan sekarang kami pindahkan kesini untuk kepentingan penyebaran wacana komik Indonesia.

Komik Indonesia di tahun 2015 dapat dirayakan dengan berjamurnya majalah komik. Shonnen Fight, disusul Kosmik, KMI Roket, Kopimix, Gorengan, dan entah apa lagi yang mungkin luput dari radar.

Ide mengenai majalah komik Indonesia yang memuat beberapa komik bersambung pertama kali saya dengar di awal 2000-an. Setelah itu, berbagai majalah komik dengan konsep yang mengadaptasi majalah komik Jepang muncul dan kemudian tenggelam. Muncul semacam mitos, kalau majalah komik tidak mungkin bertahan lama. Muncul sinisme, bahwa komik bersambung tidak ada yang tamat. Keburu rubuh di tengah jalan.

Namun majalah komik terus saja muncul dan muncul. Tidak mau tahu, sering hanya modal nekat. Seperti pejuang yang menjemput peluru.Dan akhirnya, di atas bangkai-bangkai majalah komik yang lebih dahulu muncul, majalah komik kini menjadi primadona. Yang dulu dianggap tindakan bunuh diri, kini jadi harapan bagi perkembangan komik Indonesia.

Betapa waktu dan perubahan kondisi membuat yang dahulu tidak mungkin menjadi mungkin. Trend majalah komik juga menunjukkan perkembangan yang lain. Editorial. Komikus yang marah-marah saat mendapat masukan dari editor kini jadi nostalgia yang bisa diceritakan sambil tertawa-tawa. Kini yang terdengar adalah kesah komikus yang mengeluh bahwa editornya tidak memberi masukan apapun.

Bahkan dalam lingkaran kecil komikus yang saya ikuti, pembahasan sebuah naskah komik bisa dilakukan secara terbuka. Sejak dalam konsep sebuah komik berhasil dibedah secara bersama dan masukan diterima dengan kepala dingin. Itu tidak hanya berlaku pada senior ke junior, tapi juga junior ke senior. Pemahaman mengenai unsur lokal dalam karya juga berkembang. Dahulu kelokalan hanya identik dengan wayang, sejarah, atau cerita sehari-hari di lingkungan komikusnya. Kini tengoklah “Tawur” di Re:On yang mengangkat fenomena perkelahian antar sekolah, yang secara menyedihkan, begitu akrab dengan keseharian kota besar. Atau “Manungsa” di Kosmik, yang secara metafora memotret ketidakmanusiawian ibukota kita.

Komunitas-komunitas komik terus bertumbuhan. Banyak pelaku masih berada di bangku sekolah atau kuliah. Ini menandakan regenerasi komik berlangsung dengan baik. Kabar baiknya, kebanyakan dari mereka sudah memakai komikus Indonesia yang lebih senior sebagai acuan. Saya berkeyakinan, ini adalah langkah terpenting bagi komik Indonesia agar bisa memiliki identitas tersendiri.

Menakjubkan melihat kondisi komik Indonesia yang dicita-citakan pada masa lalu dapat dicapai di masa kini. Hal ini memberi keyakinan bahwa semua yang diperjuangkan oleh para penggiat, termasuk kegagalan-kegagalan yang kemudian diulangi dan diulangi lagi selanjutnya, tidaklah sia-sia sama sekali. Masih banyak yang harus dikerjakan agar tercipta ekosistem komik yang lebih baik.

Lahirnya generasi-generasi baru pecinta komik harus dibarengi dengan dibangun dan dijaganya koneksi dengan generasi-generasi sebelumnya. Ini menjaga agar segala pengetahuan dan pengalaman yang telah dihimpun generasi terdahulu tidak terbuang begitu saja. Generasi baru tidak perlu untuk bersusah payah memulai kembali dari nol. Koneksi ini dapat dibangun melalui acara-acara komik maupun forum-forum diskusi. Baik di dunia nyata ataupun daring.

Terbuka dengan masukan dari editor tidaklah cukup. Komikus perlu dibudayakan juga untuk terbuka dalam menerima kritik. Terutama kritik yang membangun, terlepas apakah bahasanya lembut atau tegas. Untuk itu diperlukan lebih banyak lagi ulasan-ulasan, atau kritik, yang dengan berani membahas kelemahan suatu komik. Juga diperlukan sikap lapang hati dari komikus yang menjadi sasaran. Seyogyanya ini malah bisa dimulai (dan sebenarnya sudah dimulai) dari komikus yang sudah diakui kehandalannya, yang kualitasnya tidak akan goyah dengan sekedar “cubitan” perhatian dari sesama pecinta komik.

Keragaman komik juga perlu didorong agar mampu terus menjawab fenomena-fenomena sosial yang muncul dalam masyarakat kita. Sekaligus mencari celah-celah pencapaian baru dalam perkembangan gaya visual maupun cara tutur komik Indonesia. Tidak lupa, pelaku komik juga terus dituntut untuk mencari dan membangun distribusi alternatif agar tidak tergantung pada satu saluran.

Menjadi pelaku komik Indonesia dengan level rata-rata seperti saya cukup mendebarkan. Optimisme dan pesimisme datang silih berganti. Sikap optimis membuat kita terus bertahan. Pesimisme memaksa kita memutar akal untuk mencari celah baru.

Secara umum saya senang dengan perkembangan saat ini. Komik kita terus meraih capaian-capaian baru meski didera berbagai masalah pelik. Semoga pondasi yang telah dibangun bersama dan keuletan pelakunya cukup kuat untuk menahan guncangan-guncangan yang datang.

Saya ingin menutup catatan ini dengan selarik kalimat dari puisi Chairil Anwar, Karawang Bekasi. Sekalian mengenang para mantan pelaku komik yang impiannya gugur di tengah jalan;

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Oleh -
0 98
Pengajian komik forum komik Jogja

Pada hari Sabtu, 26 Desember 2015 di kafe Wooky Cooky yang bertempat di Jalan Arumdalu Sleman, telah diadakan diskusi ringan oleh Forum Komik Jogja (FKJ). Acara ini digagas oleh tim administrator FKJ yang beranggotakan Aisah Puspa Lestari, Ahmad Nur Taufik, dan Aswin Ilyas. Acara diskusi ringan atau yang biasa disebut pengajian komik oleh orang-orang yang aktif dalam forum bebas ini memang telah menjadi acara rutin FKJ. Pada pengajian kali ini, FKJ mengundang dua orang komikus Jogja yang memiliki jam terbang cukup tinggi dalam industri komik internasional, yaitu Hendry Prasetya dan Heru Prasetyo Jalal.

Hendry Prasetya adalah komikus yang banyak terlibat proyek komik action dan superhero, di antaranya adalah Bima Satria Garuda, Green Lantern, dan proyek komiknya yang terbaru, Mighty Morphin Power Rangers yang pada tahun 2017 nanti akan diluncurkan film terbarunya oleh Lionsgate dan Saban Brands. Dalam diskusi, Hendry memaparkan bahwa dalam membawa diri pada industri komik internasional, kemampuan secara teknis memang penting. Namun, di atas segalanya, cara bersikap dan menjalin hubungan dengan klien, fans, dan orang-orang yang berhubungan dengan kita tidak boleh diabaikan. Bagi Hendry, seorang komikus yang profesional adalah komikus yang baik, jujur, mudah dihubungi, dan tidak terlalu pilih-pilih pekerjaan.

Tidak ketinggalan, Heru Prasetyo Jalal, ilustrator komik yang aktif membuat komik untuk pasar internasional seperti Knife In Texas, Twisted Dark, dan BBC Top Gear Qatar, menambahkan bahwa seorang komikus profesional, selain memiliki attitude yang baik, diharapkan juga memiliki sikap untuk banyak memberi dan bersyukur atas setiap pekerjaan yang dilakukan. Sikap banyak memberi yang dicontohkan Heru diantaranya adalah tidak pelit dalam berbagi pekerjaan kepada rekan sesama komikus, terutama komikus pendatang baru yang memiliki kemampuan dan sikap yang baik untuk turut berlaga pada industri komik internasional, namun belum memiliki peluang yang memadai. Selain itu, Heru, yang kini juga aktif dalam membuat komik bernuansa dakwah, juga mengingatkan agar senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Salah satu bentuk syukur yang dicontohkan Heru adalah sikap untuk tidak segan-segan menolak pekerjaan yang mengharuskannya melanggar norma agama, sekalipun pekerjaan yang ditawarkan memiliki fee dengan nominal yang luar biasa.

Acara diskusi ini disambut cukup meriah oleh komikus-komikus muda Jogja. Hal ini dibuktikan dengan cukup tingginya animo pengunjung yang datang meski kondisi jalan raya di Jogja sedang padat dan terjadi macet yang cukup parah di beberapa bagian kota Jogja karena sedang musim liburan akhir tahun. Harapannya, semoga acara yang diselenggarakan oleh Forum Komik Jogja ini dapat memompa semangat komikus muda dalam berkarya dan turut meramaikan industri komik nasional yang, meminjam istilah Beng Rahadian, sedang indah-indahnya ini.

Oleh -
0 678
Aksen Festival Komik dan Animasi 2015

Direktorat Kesenian dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bakal menyelenggarakan Festival Komik dan Animasi 2015 yang kali ini mengambil tempat di Lawang Sewu, Komplek Tugu Muda Jl. Pemuda, Semarang, Jawa Tengah.

Festival Komik dan Animasi 2015 kali ini bakalan penuh dengan acara-acara asyik seperti bazaar komik dan animasi, pameran komik dan animasi, pemutaran animasi, diskusi, launching komik, dan kompetisi cosplay. Selain itu akan diselenggarakan juga workshop komik dan animasi yang mengambil tempat berbeda, yakni di Museum Ronggowarsito Jalan Abdulrahman Saleh No 1 Kalibanteng Kulon Semarang Jawa Tengah.

Jadwal Hari Pertama

Tempat TanggalJamMateri AcaraPemateri
Lawang Sewu
Rabu, 18 November 2015
13:00 - 14:45Diskusi panel :

Selingkuh Komik Dengan Kopi x Geliat Komik Kampus
Beng Rahadian, Aji Prasetyo x Kedai Kopi Tjangkir, Bintang Suhadiyono, Azrul Sukma, M. Agung Perkasa.

Moderator: M. Hadid
Lawang SewuRabu, 18 November 2015
15:00 - 16:45Pembukaan festival dan tur pamerann/a

Jadwal Hari Kedua

TempatTanggalJamMateri AcaraPemateri
Museum Ronggorwarsito19 November 201509:00 - 15:00Workshop Komik : Teknik bertutur dalam Komik StripBeng Rahadian
Lawang Sewu19 November 201510:00 - 11:45Talkshow animasi:
Membangun Ekosistem Animasi Indonesia
Ahmad Rofiq & Rifan

Moderator : Kurnia
Lawang Sewu19 November 201513.00 – 14.45Segi Empat: Peran Media Sosial dalam Dunia KomikKomikin Ajah (Reza Fadilah), Faza Meonk, Tamam

Moderator : M. Hadid
Lawang Sewu19 November 201515:00 - 15:45Rally Launching Komik

Kidung Malam, Majalah Kosmik
Aji Prasetyo, dkk., Rendi

Moderator : Kurnia H. Winata
Lawang Sewu19 November 201516:00 - 16:45JAMSTRIP ANTAR KOMIKUSn/a

Jadwal Hari Ketiga

Tempat TanggalJamMateri AcaraPemateri
Museum RonggowarsitoJumat, 20 November 201509:00 - 15:00Workshop Animasi

Teknik membuat Animastrip
Firman Widyasmara
Lawang SewuJumat, 20 November 201510:00 - 11:45COMIC Battle

SMA vs SMA
n/a
Lawang SewuJumat, 20 November 201513.00 – 13.45DISKUSI ANIMASI
Animasi webseries indonesia
Kasatmata, Hompimpa (Hafshoh Mubarak)

Moderator : Bagus W. Ramadhan
Lawang SewuJumat, 20 November 201514.00 – 14.45Diskusi komik

Komunitas Komik Daerah: Posisi dan Peranannya di Medan Komik Indonesia
Forum Komik Jogja (Tamam, dkk), Komisi Solo (Mujix), Raincity Artholic (Isha Muhammad)

Moderator: Bagus W. Ramadhan
Lawang SewuJumat, 20 November 201515.00 – 15.45Talkshow ANIMASI : TV Series vs WebseriesDaryl Wilson, Rofiq, Yudis

Moderator : Bagus W. Ramadhan
Lawang SewuJumat, 20 November 201516.00 – 16.45Rally Launching KomikElang Bondol (Tamam), Shonen Fight (Rizqi Rinaldy), Yuk Berinternet (Valens Riyadi,

Kurnia)

Moderator : Bagus W. Ramadhan

Jadwal Hari Keempat

Tempat Tanggal JamMateri Acara Pemateri
Lawang SewuSabtu, 21 November 201510:00 - 10:45COMIC Battle Komikus / Lomba Komik Strip on the Spotn/a
Lawang SewuSabtu, 21 November 201511:00 - 11:45DISKUSI ANIMASI:

Peran Festival dalam dan luar negeri untuk promosi animasi pendek
Firman Widyasmara, Daryl Wilson, Rifan

Moderator : Bagus W. Ramadhan
Lawang SewuSabtu, 21 November 201513:00 - 15:00COSPLAY PERFOMANCE : Juri Cosplay dari Daikon Skyn/a
Lawang SewuSabtu, 21 November 201515:15 - 15:45(Pe)Nama(An) dan Etnisitas: Kasus "Battle of Surabaya" dan "Lampion"Aris Mybret dan MVC Pictures (agung)

Moderator : Salafi Handoyo
Lawang SewuSabtu, 21 November 201516:00 – 16:30Penutupann/a

 

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu