Warta

Oleh -
0 129
Aksen-Simon-Hureau-Poster

Komikus Perancis, Simon Hureau, akan datang ke Indonesia. Beberapa kota akan disinggahinya termasuk Yogyakarta dan Solo. Di Yogyakarta Hureau akan mengadakan workshop komik, pameran, dan diskusi komik pada Rabu, 4 November dan Kamis, 5 November 2015.  Anda bisa menyimak informasinya melalui poster yang tertaut di bawah ini.

Aksen-Simon-Hureau-Poster-Jogja
Workshop, pameran dan diskusi komik di Jogja

Menurut kabar, Hureau menerbitkan komik dewasa (“novel grafis”) pertama kalinya pada tahun 2003. Simon Hureau juga menerbitkan beberapa kisah perjalanan, beberapa karya untuk anak  kecil, namun kebanyakan karya yang ia terbitkan katanya berjenis “novel grafis”.

Setelah Yogyakarta, Solo adalah kota yang juga bakal dikunjungi Hureau. Di Solo acara yang diadakan bertajuk “Jamstrip Party with Simon Hureau”, dan rencananya bakal diadakan pada tanggal 6 dan 7 November.

Oleh -
0 56
Aksen-Mulyakarya-Kelas

Mulyakarya akan membuka sebuah kelas komik masa kini pada bulan November – Desember 2015 mendatang, yang dirancang sebagai program untuk mengenalkan sekaligus mendorong pesertanya untuk menciptakan karya komik yang dekat dengan lingkungan sehari-hari.

Bila menyebut sebuah media independen di Jogjakarta, ingatan orang tidak bisa lepas dari satu nama, yakni Mulyakarya. Digagas pada tahun 2007 oleh Yudha Sandy dan Danang Catur, Mulyakarya didirikan untuk satu tujuan, yakni mempublikasikan dan menampung karya-karya seni rupa alternatif di Jogja, yang menapaki jalur independen. Kelompok tersebut dikenal terutama dari embrionya yang diberi tajuk komik katalog.

Kelas komik angkatan pertama itu nantinya akan berjalan selama delapan kali pertemuan, dan akan diampu oleh orang-orang yang memang dari semula menghidupi Mulyakarya. Mereka adalah Iwank, Sandy, Ipur, dan Danang.

Registrasi dan pendaftaran sebesar Rp 125.000 dan biaya kelas sebesar Rp 500.000 untuk dua bulan. Kelas akan diadakan setiap Sabtu sore setiap minggunya, selama dua bulan di Jogjakarta. Untuk angkatan pertama disediakan kuota sampai 15 orang, dengan rentang usia peserta 10-25 tahun. Informasi lebih lanjut dan nara hubung bisa disimak lewat poster di bagian bawah artikel ini. Para peserta kelas komik yang melakukan registrasi akan mendapatkan satu buah kaos dari Mulyakarya dan sertifikat.

Aksen-Kelas-Komik-Masa-KiniHulk | Sekuensi.com
Poster kelas komik masa kini. Klik untuk memperbesar

Oleh -
0 138
Aksen-Rumah-Komik-MDTL

Suatu kali Anda mungkin perlu membaca sebuah artikel di Bengrahadian.com, berjudul ’10 Keindahan Komik Indonesia Saat Ini’. Di sana Beng Rahadian menulis dengan lugas tentang mengapa ia menilai bahwa saat ini adalah momen indah bagi komik Indonesia. Memang ada banyak alasan yang dikemukakan oleh Beng, namun jika boleh merangkum keseluruhan warna pendapat yang ia kemukakan melalui artikelnya itu, maka satu hal yang perlu dicatat adalah soal kuantitas produksi komik yang jumlahnya sangat banyak. Ini bukan hanya soal terbitan komik dalam bentuk cetak, melainkan juga soal komik-komik digital-media-sosial yang semakin menjamur.

Soal lain yang juga perlu digaris-bawahi dari kesepuluh alasan yang ditulis oleh Beng adalah: perihal ajang komik yang juga semakin menjamur, mulai dari pameran komik yang dikonsep a la pameran seni rupa sampai ajang yang menyerupai festival sekaligus baazar seperti Mangafest maupun PopCon (yang terakhir ini menurut Beng dikunjungi lebih dari 24 ribu orang, tahun lalu). Di tengah-tengah banjir kuantitas produksi komik, Rumah Komik MDTL menyeruak di pinggiran Jogja, tepatnya di Desa Menayu Kulon. Ruang ini dimiliki seorang seniman bernama Ugo Untoro. Sebuah ruang tentu selalu memiliki sebuah tujuan, dan Rumah Komik ini memberikan sebuah kesempatan mulia: siapa pun bisa menitipkan maupun memajang karya komiknya, terutama yang diciptakan dengan semangat indie.

Kebanyakan orang akan mempertanyakan makna kata ‘indie’, oleh karena mereka yang mempertanyakannya selalu memburu makna harafiah dari sebuah kata yang terdengar patut digugat. Di satu sisi ada yang bilang bahwa semangat komik indie adalah semangat kemandirian, yakni orang-orang yang keras kepala menerbitkan karyanya dengan cara mandiri, tanpa bantuan editor, menggunakan sumber daya finansial sendiri tanpa bantuan perusahaan penerbitan buku. Di sisi lain, ada juga yang bilang bahwa indie adalah wacana gerakan, dalam arti ada ‘liyan’ atau pihak lain yang ingin dilawan karena “mereka” lah yang menguasai realitas sosial. Athonk Sapto Raharjo, misalnya, pernah berujar di sebuah diskusi komik indie pada bulan Januari 2015, bahwa pilihannya untuk menekuni jalan komik indie didasari alasan ideologis: bahwa dia tidak ingin ada cap resmi negara di atas komiknya. Di dalam diskusi tersebut dia bercerita tentang dunia penerbitan di zaman Orde Baru yang mengharuskan adanya stempel tanda lolos sensor negara di setiap produk cetak termasuk komik. Karya awalnya, sebuah komik berjudul “Bad Times Story” yang terbit pada 1994 – menurut pengakuannya – adalah usaha untuk menolak sensor semacam itu.

Suatu sore beberapa tahun lalu saya mewawancari Yudha Sandy, salah satu personel kelompok Mulyakarya. Dia rupanya juga punya pendapat lain mengenai komik indie. “Selama kamu membuat komik itu asyik dan yakin bahwa komikmu itu nggak perlu diedit, nggak perlu dirubah lagi. Dan misalnya kamu sudah yakin dengan karyamu itu, bahwa ini akan serius dan tidak main-main; dan ketika ada orang yang lihat komikmu dan menasehati kamu, bahwa kamu harus mengganti gambarmu, tapi kamu masih tetap yakin bahwa omongan orang lain itu luweh [tidak peduli]. Itu sudah semangat,” katanya dengan berapi-api. Tampaknya ada banyak cara untuk menafsirkan makna ‘komik indie’, dan semua bisa dibenarkan, tergantung dari mana kita memulainya.

Lalu Rumah Komik MDTL muncul di tengah kegairahan sebagian orang dalam memanfaatkan medium komik untuk membuahkan narasi sekuensial. 3 Juni silam ruang tersebut membuka sebuah pameran bertajuk ‘CIAATT!GUBRAAAKKK!!DORRR!!’, sebuah pameran sederhana yang pada intinya pengin memperkenalkan Rumah Komik MDTL sebagai ruang di mana orang-orang bisa menemukan berbagai macam karya komik indie. Ya, ruang tersebut sudah dirancang sedemikian rupa supaya para pembaca bisa menikmati sekaligus mencari berbagai macam karya komik indie nantinya. Lebih jauh lagi, di masa depan ruang tersebut dimaksudkan sebagai persinggahan bagi komik-komik indie dan segala macam merchandise turunannya.

Di ruang yang tersedia di Rumah Komik MDTL, semua orang bisa menikmati berbagai macam narasi yang ditawarkan oleh medan komik indie, lewat sebuah pameran yang bakal berlangsung sampai tanggal 3 Juli mendatang. Di ruang pamer itulah istilah ‘komik’ sebagai medium tidak hanya terpaku pada bentuk-bentuk formal komik seperti balon kata, rangkaian panil demi panil dalam satu halaman, imaji komikal yang menawarkan kelucuan, serta caption. Lebih dari sekedar mengasosiasikan komik dengan ranah-ranah formalnya, beberapa karya yang terpasang di ruang tersebut cenderung dekat dengan gaya ilustrasi yang bercerita, meski masih tetap dekat dengan makna komik itu sendiri sebagai “medium yang menggunakan pembagian waktu untuk menghantarkan narasi”. Sementara ketika mata menyapu ke sudut lain, ada banyak karya yang sesungguhnya tidak dekat dengan bentuk apalagi makna komik itu sendiri. Jerigen minyak, T-shirt, dompet, dan stiker, misalnya, saling berebut ruang dengan bentuk-bentuk komik, di mana semua yang eksis di ruang tersebut untuk menarik perhatian mata.

Di ruang bernama Rumah Komik MDTL (Museum Dan Tanah Liat), komik indie lagi-lagi mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kediriannya. Sudah sejak lama saya meyakini bahwa apa yang ditawarkan lewat jalur indie adalah soal kemandirian dan hal-hal yang terkait dengannya: lepas dari perusahaan penerbit, membuat bentuk komik dengan cerita sesuka hati, bermain-main dengan bentuk, mengusahakan sendiri produksinya tanpa harus tergantung pada pemodal, menawarkan media komik di luar kertas, serta, yang paling penting, menawarkan gagasan, konsep, serta ide yang tidak bisa dinikmati melalui komik-komik yang terbit dari rahim perusahaan penerbitan buku konvensional. Apa yang ditawarkan pameran ‘Ciat!!!Gubrak!!!Dorr!!!’ makin menegaskan nilai-nilai yang saya anut sejak lama itu.

Akan tetapi bukan hanya pameran komik indie yang ditawarkan di Rumah Komik MDTL, melainkan juga dua program lain, yakni lokakarya komik dan diskusi komik. Diskusi komik yang diadakan pada 10 Juni silam menghadirkan Terra Bajraghosa (pencinta komik) dan juga Yudha Sandy, sekaligus menawarkan sebuah tajuk untuk dibahas, yakni ‘komik indie setelah Orde Baru’. Beberapa orang menyebut 1990-an di Yogyakarta sebagai penanda era di mana ada banyak varian kritisisme sosial dan politik yang diekspresikan melalui bentuk komik, meski Terra sendiri punya pendapat berbeda mengenai hal tersebut.

“Kalau saya melihatnya memang tidak begitu tajam. Tapi pra-1998 mungkin Core Comic seri ‘Anjing’ itu sudah ada kritik; mulai melihat Orde Baru siap kolaps. Dan mereka membuat sesuatu yang menyindir. Beberapa tidak langsung tapi ada beberapa yang memang nampaknya menyindir masalah politis negara, terutama simbah yang kemarin habis ulang tahun (Soeharto – ed),” kata Terra. Ia mulai melihat-lihat gejala komik indie di Yogyakarta pada tahun 1997, dan dia bilang arah-arah tema komik indie waktu itu belum berani mengkritik Orde Baru atau setidaknya belum berani membahas Orde Baru secara langsung, bahkan ketika Orde itu mulai tumbang.

“Tetapi setelahnya saya lihat mulai terbuka. Ada komik-komik yang membahas presiden tetapi tidak langsung, meski sudah mulai berani. Yang saya ingat – walau mungkin bukan indie – adalah komiknya komunitas Petak Umpet berjudul Tek Yan. Di situ ada cerita Soeharto sebagai penjaga penjara. Padahal kalau itu terbit sebelum 1998 bisa berbahaya,” Terra melanjutkan.

Terra menghantarkan cerita sampai kemudian menyinggung komunitas Taring Padi yang menciptakan komik yang sifatnya self-empowerment, di mana ia menyebut satu nama, yakni Ucup, yang setelah Orde Baru tumbang pernah membuat komik tentang sepeda, yang menyeru kepada orang-orang untuk tidak bergantung kepada negara. “Bahwa kebebasan itu (yang muncul setelah reformasi –ed) kemudian tidak terus menghujat Orde Baru sendiri, tapi kemudian dimanfaatkan oleh para komikus untuk membuat cerita yang lebih beragam. Saya lihat tumbangnya Orde Baru memberi angin kebebasan berceritanya. Saya mengembalikan komik sebagai media untuk bercerita,” demikian kata Terra yang dikenal sebagai komikus juga.

Dari sana Rumah Komik kemudian beranjak ke agenda lain, yakni lokakarya komik pada tanggal 20 Juni silam yang dipandu oleh Erwan Hersisusanto. Lokakarya yang bertajuk ‘superhero alamu’ itu mengajak para peserta, yang terdiri dari anak-anak dan mahasiswa serta beberapa orang penggiat kesenian itu, untuk memvisualisasikan imajinasi mereka mengenai pahlawan super dengan cara mereka sendiri. Hasilnya lucu. Ada yang membikin karakter pahlawan super yang badannya berfungsi sebagai ATM untuk membantu orang miskin dan ada juga sosok yang justru mengidentifikasikan pahlawan super dengan caranya sendiri, yakni individu yang berjasa bagi keluarganya dengan caranya sendiri.

Di zaman yang sekarang ini sedang terasa sangat indah bagi komik Indonesia, apa yang ditawarkan oleh Rumah Komik MDTL tentu saja menjadi sebuah penanda tersendiri. Sekarang ini yang tersisa hanyalah sebuah pertanyaan mengawang-awang: akan jadi seperti apa Rumah Komik MDTL di masa depan?

Oleh -
0 100
Aksen-Mangafest

[Sumber foto: Facebook Mangafest UGM]

Para penggemar komik atau pengemar budaya pop Jepang yang berdomisili di Yogyakarta umumnya sudah tidak asing lagi dengan Mangafest, sebuah festival yang mengusung komik Indonesia sebagai sajian utama dengan pemanis budaya pop Jepang seperti cosplay, idol group, dan band lagu-lagu Jepang yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang FIB UGM. Setelah berjalan selama empat tahun, Mangafest 2014 mengambil tema “Aksi Untuk Indonesia”. Kesan yang pertama kali saya dapat saat mendengar tema tersebut adalah, kok klise banget sih temanya. Sama seperti anak-anak yang saat ditanya mengenai cita-cita hanya bisa menjawab, ingin berguna bagi nusa dan bangsa. Terlalu umum, saya tidak merasa akan ada sesuatu yang spesial yang didapat lewat acara ini.

Tentu saja saya tidak boleh menilai sebuah acara hanya sekedar lewat tema yang dibaca sekilas. Ada baiknya bila saya ikut serta dan menikmati sajian yang dihadirkan oleh para panitia. Sayangnya, tahun ini saya dan beberapa orang teman malah menjajal hal baru dengan mencari peruntungan lewat berdagang ramen di salah satu kedai yang disewakan dalam area Mangafest. Ramen merupakan salah satu kuliner [berbentuk mie] yang digemari Naruto. Karena disambi berdagang, saya malah jadi tidak bisa maksimal dalam menikmati acara. Agak ironis sih, penggemar berat komik malah jualan mie di acara bertema komik. Maklum, udah umurnya mencari nafkah sih, hehehe. Dari kedai yang berjarak yang cukup jauh dari panggung utama, saya melihat acara Mangafest dibuka pada pukul 10.30 oleh penampilan tari rampoe geleng dari Aceh dan tari legong dari Bali yang dibawakan oleh para penari dari Fakultas Ilmu Budaya UGM.

“Mas, kok malah nonton sih. Saya pesen ramen 2!”

“Ups, sori, bro.”

Ternyata begini toh rasanya nyari duit.

Untungnya nasib baik berpihak pada kami, tidak sampai sore, dagangan ludes tak tersisa, meski badan rada lemas seusai melayani pelanggan yang berjubel. Saya pun langsung ngeloyor ke pintu keluar untuk kembali menuju pintu masuk; supaya bisa merasakan hal yang sama dengan pengunjung lain. Setelah disambut oleh seorang perempuan resepsionis yang ramah, saya disambut oleh kata-kata yang tertulis dengan cat hitam yang diberi penekanan dengan cat merah pada dinding sebelah pintu utama.

Dewasa ini, komik menjadi salah satu budaya populer yang tidak bisa dikesampingkan keberadaannya memberikan memberikan warna tersendiri bagi dunia hiburan termasuk di Indonesia. Namun sayangnya komik asli Indonesia justru kurang mendapat tempat karena masih harus bersaing dengan komik-komik asing. Untuk itu, MangaFest hadir sebagai salah satu wadah bagi komik-komik Indonesia untuk unjuk gigi dan terus beraksi untuk Indonesia.”

Setelah merenungi tulisan tersebut barang sejenak, sepertinya saya mulai mendapat gambaran mengenai tema “Aksi Untuk Indonesia” yang diusung oleh Mangafest 2014 meski masih samar. Saat ini komik Indonesia memang masih kalah bersaing dengan komik-komik terjemahan. Dalam sebulan, judul komik Indonesia yang terbit bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan komik-komik terjemahan, seperti komik Jepang, misalnya. Dalam sebulan bisa puluhan judul yang diterbitkan, itu pun dalam kuantitas yang berbeda dan mendapat prioritas penempatan di rak-rak toko buku. Acara seperti Mangafest menjadi salah satu kesempatan baik untuk lebih memperkenalkan komik Indonesia yang jumlahnya sedikit dan biasanya nyasar di rak buku agama, politik, atau malah buku-buku masakan.

Setelah merenung cukup lama sampai ditegur perempuan manis yang saya lupa tanya namanya, saya masuk ke dalam ruang pameran yang memajang 25 karya terbaik dalam Manga Drawing Competition, lomba komik yang diselenggarakan oleh Mangafest 2014. Komik-komik yang dipajang dalam ruang pameran mendapat perlakuan yang amat baik. Setiap komik ditata apik dalam satu bingkai besar yang dipajang berjarak antara satu komik dengan komik lain. Selain itu, cahaya lampu yang berpijar tidak terlalu terang membuat saya merasa seperti benar-benar berada di pameran seni. Sayangnya masih saja ada kasak-kusuk terdengar kurang enak di antara pengunjung.

Bagus sih komiknya, tapi gayanya masih Jepang banget.”

“Ah, namanya juga Mangafest, makanya yang dikirim banyak yang gayanya kejepang-jepangan, biar kayak manga.”

“Biar lebih Indonesia, kenapa namanya bukan Komikfest aja ya?.”

“Iya ya, hahaha.”

“Halah”, begitu saya mendesah di dalam hati. Tiba-tiba saya merasa beruntung pernah belajar linguistik meskipun nilainya gak bagus-bagus amat. Tentu saja, seperti kata “manga” yang merupakan bahasa Jepang, “komik” juga bukan merupakan bahasa Indonesia asli melainkan berasal dari bahasa Inggris. Dulu sekitar tahun 1960 pernah ada istilah untuk menyebut komik di Indonesia sebagai cergam, singkatan dari cerita bergambar. Sayangnya, istilah cergam tidak bertahan lama sehingga istilah komik pun digunakan kembali. Lalu, kenapa acara ini menggunakan nama Mangafest? Menurut saya, hal ini tidak lain karena panitia yang menyelenggarakan acara ini adalah mahasiswa dari jurusan sastra Jepang UGM. Manga itu sendiri berarti cergam atau komik dalam bahasa Jepang, tidak lebih. Bahkan, seandainya komik Panji Tengkorak atau Si Buta dari Goa Hantu dibawa ke Jepang, komik-komik itu juga akan disebut manga. Belajar bahasa itu penting!

Dari ruang pameran, saya langsung beranjak menuju area Comiket yang merupakan singkatan dari Comic Market, area khusus untuk berjualan komik dan merchandise buatan sendiri. Di sana sudah berjejer dengan rapi sekitar 30 meja yang menjajakan produk masing-masing pengkarya. Banyak pengunjung tampak antusias saat berbelanja di area Comiket. Bahkan ada seorang pengunjung yang terlihat belum puas meski sudah membelanjakan uangnya lebih dari lima ratus ribu rupiah. Pasar yang lumayan potensial untuk ukuran komik Indonesia.

Saat saya tiba, sedang berlangsung acara launching kompilasi komik NiiBii jilid kelima. Kompilasi komik yang diterbitkan secara independen oleh studio NiiBii di bawah kepemimpinan Ahmad Arsyad yang juga terkenal sebagai komikus pencinta sepak bola pencipta komik The Last Kickers yang terbit rutin di surat kabar Jogja dan Solo. Bisa terbit hingga jilid kelima meski hanya dicetak secara independen merupakan bukti keseriusan dan konsistensi Ahmad Arsyad dan kawan-kawan yang layak diacungi jempol. Salut!

Seusai launching kompilasi komik NiiBii jilid kelima, acara dilanjutkan dengan acara launching komik 17+ jilid kedua karya dari Kharisma Jati. Bersama Beng Rahadian selaku editor dari Cendana Art Media, mereka memaparkan bahwa khalayak umum berhak memperkaya khazanah bacaan komik mereka dengan “novel grafis” yang [konon] alur ceritanya lebih kelam dan rumit ketimbang komik pada umumnya.

Selain launching komik, pada area Comiket, ada hal baru yang saya temukan di Mangafest 2014. 12 komik terbaik pada Manga Drawing Competition tahun ini dan 3 komik yang menjadi juara di Manga Drawing Competition tahun lalu dicetak dalam bentuk kompilasi komik oleh Metha Studio dan dijual bebas di salah satu stand Comiket. Menurut saya, ini adalah satu pencapaian panitia Mangafest tahun ini yang patut mendapat apresiasi. Dengan dicetaknya kompilasi komik tersebut, komik-komik karya dari peserta tidak hanya bisa dinikmati dengan lebih bebas, melainkan juga terarsip dengan lebih baik dan lebih mudah diakses untuk berbagai keperluan; seperti penelitian ilmiah. Acara pada hari pertama berakhir dan ditutup dengan berbagai macam penampilan band yang membawakan lagu-lagu Jepang.

Hari kedua dimulai pukul 09.00. Dari kedai ramen di kejauhan saya melihat acara dibuka oleh pertunjukan angklung yang dibawakan oleh anak-anak dari SDIT Baitussalam Prambanan. Sesekali saya melongok ke arah panggung untuk melihat pertunjukan mereka, sekalian menyapa perempuan Maid Cafe yang letaknya tepat di sebelah kedai ramen. Di kejauhan, tampak anak-anak SDIT Baitussalam Prambanan membawakan beberapa lagu wajib dengan permainan angklung yang apik dan sangat rapi seperti bukan level anak SD. Bila mereka terus mengasah ketrampilan seni hingga dewasa, tidak terbayang akan jadi seperti apa anak-anak itu kelak. Luar biasa!

Setelahnya, acara dilanjutkan dengan lomba karaoke dimana peserta harus menyanyikan lagu-lagu Jepang. Lumayan. Ada hiburan yang bisa dinikmati sembari melayani pelanggan yang jumlahnya bejibun menyerbu kedai. Siang harinya, saya dipanggil panitia untuk briefing acara talkshow komik yang akan diadakan seusai launching komik Si Juki karya Faza Meonk. Apa boleh buat, akhirnya saya pun pergi ke ruang briefing dengan hati riang gem . . . . uhuk, terpaksa meninggalkan teman-teman di kedai karena sudah berjanji menjadi host di acara talkshow tersebut. Sorry, guys. Kalian kuat kok! (Ditimpuk mangkok ramen).

Uniknya, salah satu pembicara dalam talkshow tersebut adalah Faza Meonk yang baru saja selesai merilis komik terbarunya. Jadi, abis turun panggung, doi naek panggung lagi, hahaha. Capek gak lu, za? Mudah-mudahan penonton tetep seneng yak?

Selain Faza, pembicara lainnya adalah Hasmi, kreator dari Gundala Putra Petir yang populer pada tahun 1970an dan Is Yuniarto, kreator dari Garudayana Saga. Talkshow tersebut mengambil tema “Perjuangan Komikus”. Pada awalnya, talkshow akan diadakan di panggung utama. Karena hujan turun, acaranya pun dipindah ke area Comiket. Saat saya dan para komikus pembicara memasuki area Comiket, tampak pengunjung yang ramai memadati tempat talkshow, mudah-mudahan mereka memang peserta talkshow yang memiliki minat besar pada komik Indonesia. Jadi bukan cuma sekedar numpang neduh saja.

Talkshow diawali dengan opini dari Hasmi yang menyatakan bahwa perjuangan komikus di zaman sekarang jauh lebih sulit karena jumlah saingannya yang amat banyak. Komikus di masa lalu tidak banyak saingan, bahkan seringkali mereka mendapat order dari penerbit dengan honor yang menggiurkan. Faza menambahkan, meski saingan di masa sekarang jauh lebih banyak, tetapi publikasi karya saat ini lebih mudah karena adanya jejaring sosial di internet. Setelah diunggah, komikus bisa langsung mendapat respon dan berinteraksi dengan pembaca.

Setelahnya, talkshow pun mengalir ringan. Is Yuniarto pun menceritakan pengalamannya sewaktu baru memulai debut. Meski saat ini dia termasuk komikus yang sukses dengan jumlah penggemar yang tidak sedikit, siapa sangka bahwa komiknya justru ditolak penerbit saat pertama kali diajukan. Pengalamannya ditolak tidak membuatnya menyerah, justru hal tersebut dijadikannya cambuk agar lebih semangat dalam berkarya dan usahanya terbukti tidak sia-sia.

Saat memasuki sesi tanya jawab, hujan turun semakin lebat dan dahsyat. Angin kencang menghamburkan rinai hujan ke dalam area Comiket yang menyebabkan para panitia kelabakan lantaran para pembicara kecipratan air hujan. Keadaan semakin diperparah dengan listrik mati dan genset belum disiapkan. Karena kondisi sudah semakin tidak menentu,  akhirnya talkshow pun ditutup dan acara ditunda untuk sementara waktu.

Pukul 6 sore, akhirnya jaringan listrik untuk bagian panggung berhasil dinyalakan menggunakan genset yang telah siap setelah 2 jam berlalu. Acara di panggung pun dilanjutkan dengan pertunjukan tarian Jepang yang dibawakan Djoh, penampilan kabaret Cosplay oleh tim Bungah dan penampilan band-band yang membawakan lagu Jepang. Sayangnya, genset yang disiapkan hanya tersedia untuk bagian panggung saja. Area lain seperti Comiket dan kedai-kedai makanan tetap gulita dan hanya disediakan lilin sebagai cahaya penerangan. Untungnya, pada pukul 7 malam.

Secara keseluruhan, acara Mangafest 2014 memang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Lewat semua sajian yang telah saya nikmati di Mangafest, saya mengambil kesimpulan bahwa tema “Aksi Untuk Indonesia” yang diusung tahun ini bisa berarti bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk Indonesia lewat aksi apapun, termasuk komik. Karena pada dasarnya, setiap penduduk Indonesia pasti ingin melakukan aksi demi kemajuan negerinya. Merdeka! (sambil mengayunkan bambu runcing). Semoga Mangafest dapat menunjukan performa yang lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang.

Oleh -
0 74
Aksen-pengajian-komik

Oleh: Kurnia Harta Winata (foto oleh: Beng Rahadian)

Tulisan ini bersifat subyektif. Diambil dari sudut pandang pribadi. Dibatasi ingatan yang sudah diragukan sejak SMA oleh guru kimia saya, Suyanto. Sah adanya kalau ada yang ingin membantah, meluruskan, menambahkan, atau memberi keterangan lanjutan.

Obrolan dibuka dengan C. Suryo Laksono yang sedang haus gosip, mengendus hubungan tidak wajar antara admin Forum Komik Jogja (FKJ) Tanfidz Tamamudin dan mantan admin FKJ Bagus Wahyu Ramadhan.

Pokok pembicaraan selanjutnya digulirkan curhat Sweta Kartika, tentang bagaimana Desi Ratnasari pelantun lagu “Tenda Biru” mempertanyakan status legal Nusantara Ranger di acara Bukan Empat Mata. Saya coba singkat curhat tersebut karena panjang. Tahu sendiri kan kalau Sweta ngomong.

Singkat kata, Nusantara Ranger sebagai produk kesulitan mendapat legalitas. Pemerintah belum memiliki regulasi yang jelas tentang hak cipta komik berikut turunannya. Hasil pembicaraan Sweta dengan Anang, iya Anang penyanyi itu, yang jadi anggota DPR tapi enggak bisa menjawab apa hak-haknya sebagai anggota DPR, pelaku industri komik harus punya asosiasi untuk menyampaikan kebutuhannya. Misal soal hak cipta.

Sisipan curhat pribadi saya yang tidak (sempat) tersampaikan saat obrolan berlangsung:

Pada  tahun 2012 lalu, saya mendengar ada promo hak cipta. Kita bisa mendaftarkan hak cipta kita secara gratis. Jujur saya suka yang gratis-gratis. Saya mendaftarkan Koel, karakter komik bikinan saya. Masalahnya kemudian, desain karakter tidak ada di daftar kategori hak cipta. Petugas mengarahkan saya untuk memasukkan Koel ke dalam hak cipta atas lukisan. Ok, deh. Saya isi formulir dan lengkapi persyaratannya. Termasuk sekian lembar gambar yang saya daftarkan. Koel tampak depan, tampak samping, tampak belakang, sekalian beberapa ekspresinya. Proses berikutnya, saya harus menunggu paling cepat setahun untuk pengesahan.

Sekian bulan kemudian, saya mendapat surat dari Dirjen HAKI Kementerian Hukum dan HAM RI. Isinya memberitakan bahwa ada kekurangan syarat permohonan. Coba tebak apa tulisannya!

“Memilih salah satu karakter yang diinginkan karena setiap permohonan hanya boleh satu karakter. Untuk perbaikan agar mengirimkan contoh ciptaan (karakter yang telah dipilih) sebanyak 12 (dua belas) buah.”

Guoblooooook!!!

Ya sudah, saya kirimkan contoh ciptaan sebanyak 12 lembar ke Jakarta. Beberapa saat kemudian datang surat balasan. Harus mengisi kembali formulir. Intinya saya harus mengulang kembali prosedur dari awal.

Saya patah arang.

Ok, kembali ke pengajian.

Kesimpulannya adalah, bahwa kita memang butuh asosiasi komik untuk membereskan masalah-masalah formal seperti ini. Termasuk AFTA tahun mendatang. Asean Free Trade Area 2015.

Pengajian diteruskan oleh Beng Rahadian. Masih meneruskan soal asosiasi komik dan AFTA. Dalam AFTA, pekerja (komik) dari negara lain dapat bekerja di Indonesia dengan syarat mereka memiliki lisensi/sertifikat yang dikeluarkan oleh asosiasi asal negara yang bersangkutan.  Begitu juga sebaliknya. Pekerja (komik) Indonesia dapat bekerja di negara-negara Asean lain berbekal lisensi/sertifikat dari asosiasi asal Indonesia. Masalahnya Indonesia belum memiliki asosiasi komik!

Tidak disangkal, kita butuh asosiasi komik untuk mensertifikasi komikus. Bukan berarti menentukan siapa yang boleh menyandang gelar komikus dan mana yang tidak, tapi untuk pengurusan legal formal macam itu. Masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana dan apa syarat seorang bisa mendapat lisensi/sertifikat tersebut, juga apakah komikus perlu dikategorikan ke dalam tingkatan-tingkatan. Apabila perlu dikategorikan, bagaimana pengkategorian tersebut dilakukan.

Obrolan kembali melokal. Tentang Forum Komik Jogja. Tentang kebutuhan komikus-komikus Jogja untuk menyuarakan aspirasinya ke kuping pemerintah. Apakah komunitas/forum macam ini sah dan berhak mewakili Jogja dalam rangka berhubungan dengan pemerintah? Dan yang paling penting, apakah perlu ada sebuah forum atau apapun bentuknya untuk  mewakili sebuah daerah.

Apriyadi Kusbiantoro selaku yang dituakan, maksudnya secara harafiah, yang paling tua di situ, diminta pendapatnya.

Apri sih terserah-serah saja. Mau ada mau tidak dia tidak ambil pusing. Tapi ia, eh beliau, mengingatkan akan dampak buruk dari forum macam itu. Sumber berkelahi.

Pembicaraan terus berlanjut. Untuk sementara disimpulkan kalau forum atau komunitas yang mewakili sebuah daerah perlu ada. Bukan untuk menentukan pelaku komik di daerah itu harus begini harus begitu, namun sebagai saluran bagi institusi lain yang berkepentingan. Misal pemerintah atau komunitas lain daerah.

Untuk itu penting bagi Forum Komik Jogja guna melakukan pendataan pelaku komik di Jogja. Data ini penting  disimpan dan tidak diserahkan sembarangan ke pihak-pihak yang berkemungkinan menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Pengajian berhenti tak lama setelah Faza Meonk datang. Teman-teman tampaknya jadi enggan bicara. Tanfidz Tamammudin sebagai moderator buru-buru menutup acara.

Kurnia Harta Winata

Sanggar Koebus, Yogyakarta, 15 November 2014

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu