Warta

Oleh -
0 92
wookwook

Oleh: M Hadid & Rosalia FS

Ketika saya terlibat obrolan bersama Koskow, salah seorang dosen Jurusan DKV-ISI Yogyakarta yang menjadi salah satu panitia Festival Komik Nasional 2012, dia sempat berkelakar perihal edisi terakhir Comical Magz yang dikelola Akademi Samali. Kira-kira begini katanya: “Comical Magz itu menciptakan rekor baru, sebelumnya tidak ada majalah komik Indonesia yang bisa bertahan melampaui edisi 17”. Saya tidak tahu sejauh mana kebenaran kelakar itu, namun kita semua tahu Comical Magz edisi terakhir bernomor 18. Nah, akankah majalah komik Wookwook yang diluncurkan di FKN melampaui angka 18 itu? Waktu yang akan menjawabnya.

Kehadiran karakter  animasi sahabat burung hantu di Festival Komik Nasional (FKN), rupanya tidak sekedar mampir sebagai peserta. Menutup tahun 2012, ada kabar baik bagi para pecinta komik. Lesehan Studio akhirnya membawa si burung hantu sebagai ikon dari majalah komik tersebut. Peluncuran majalah ini berlangsung saat Lesehan Studio mengisi salah satu sesi partisipan FKN yang bertajuk ‘Launching Majalah Komik Bulanan Wookwook’ pada Jumat malam (28/12) lalu. Acara itu boleh dibilang cukup mendapat apresiasi. Banyak yang datang, banyak juga celetukan yang terdengar, macam “wukk..wukk”. Itu terdengar di sela-sela tepuk tangan penonton,  setiap kali Bagus, Matto, atau Kharisma Jati yang tampil sebagai trio pembicara selesai memberi paparan mengenai visi dan misi majalah tersebut.

Bagus Wahyu Ramadhan mengatakan sekitar awal Januari 2013, persisnya tanggal 13, kumpulan karya para komikus di majalah tersebut sudah bisa dinikmati pembaca.

”Kami membangun Wookwook melalui riset serta diskusi bersama para komikus Indonesia,” katanya.

Dalam edisi perdana, terdapat karya dari beberapa komikus muda Indonesia seperti Kharisma Jati, Redbean Denjerez, Dream Of Abell, Anemone, Ahmad Alhamra Putra dan Fajar Rizki Triadi. Dari tampilan fisiknya, majalah itu tampil dengan format serius serta kualitas cetakan yang amat baik dengan kualitas kertas sekelas Book Paper. Modal visualnya rendah, artinya majalah tersebut berformat hitam-putih, dengan tone hitam pekat yang mendominasi sebagian besar objek dan subjek visual komik dalam karya-karya yang dimuat di dalamnya.

Perjalanan WookWook untuk sampai ke tengah pasar komik Indonesia rupanya memakan waktu cukup lama. Muhammad Fathanatul Haq, salah satu penggagasnya mengungkapkan, sejak tahun 2009 lalu Lesehan Studio sudah berkeinginan menerbitkan majalah komik Indonesia. Sedangkan untuk karakter  utama majalah itu sendiri (si burung hantu imut) sebenarnya tercipta untuk mengikuti sebuah lomba kreatif.

Meskipun gagal di lomba tersebut, menurutnya banyak kawan-kawan yang tertarik dengan image imut dan polos dari burung hantu yang menjadi ikon majalah tersebut. Awal perkenalan dengan publik melalui berbagai media seperti gambar, merchandise, dan emoticon yang dipasang pada jejaring sosial. “Dan untuk berbagai acara seperti pameran, kami pasang gambar si WookWook berukuran besar. Bisa untuk spot atau area foto, jadi semua orang merasa memiliki karakter itu.”

Dari titik pertemuan tersebut, Lesehan Studio menyatukan keduanya. ”WookWook identik dngan anak polos, punya rasa ingin tahu cukup tinggi. Cocok dengan kita yang juga masih polos belum tahu selak beluk dunia penerbitan. Jadi dengan polosnya juga kita buat majalah komik bersama karakter animasi,”ungkap Matto. Kenapa pula majalah ini dinamai demikian? Menurut Matto, nama itu merujuk pada suara burung hantu. Agaknya dekat dengan konsep ‘onomatope’ (efek suara yang dituliskan) dalam wacana estetik komik, namun sekarang dipakai Lesehan Studio untuk nama majalah.

Majalah itu menerima submisi, atau pengiriman naskah komik dan artikel pendek untuk diterbitkan dalam edisi-edisi WookWook selanjutnya. Setidaknya kita sudah bisa berharap kepada kelahiran baru, salah satu saluran untuk ngomik bagi para komikus. Sisanya tinggal bagaimana memanfaatkan harapan yang sudah diberikan majalahnya itu dan Lesehan Studio kepada para komikus dan juga kepada siapa saja yang tertarik mendiskusikannya di ruang publik. Jujur saja, majalah ini belum bisa dimaknai secara instan. Untuk memaknainya tentu saja butuh waktu yang panjang. Di samping itu orang baru bisa memaknainya ketika majalah tersebut sanggup terbit secara rutin. Tetapi sebagai salah satu bagian dari produk budaya, majalah ini menarik karena bisa saja diharapkan menjadi salah satu tempat di mana kode-kode  estetik komik Indonesia mutakhir direkam. Satu yang bisa diharapkan sekarang adalah keberlanjutannya.

Oleh -
0 110
festival komik nasional

Oleh: Boy Nugroho

Sumber

Penghujung tahun dimeriahkan rangkaian acara bergelar Festival Komik Nasional (FKN) 2012 yang diselenggarakan oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Festival ini berlangsung di Jogja National Musem (JNM) mulai 27 hingga 30 Desember. Ada setumpuk kegiatan yang diikuti oleh para komikus dan pecinta komik meliputi pameran karya, pembuatan komik strip terpanjang, bazar, diskusi, rilis media komik dan pemutaran film.

Tema utama dari parade adalah Meragam Komik, Membaca Budaya yang diilhami oleh sejarah kejayaan komik lokal di masa lalu beserta semangat para pegiat komik masa kini untuk membuka ruang-ruang ekspresi yang kian beragam. Keragaman ini dipahami sebagai proyek membingkai identitas Indonesia. Sebuah konsep yang (masih) harus selalu diimajinasikan dan disadari sebagai purwa rupa yang tak pernah tuntas.

Seperti halnya komik yang disusun oleh ragam imajinasi, konsep Indonesia tak mungkin diimajinasikan secara homogen. Itulah keunikan Indonesia sebagai identitas yang perlu ditafsirkan dengan cair dan selalu mengalami penundaan makna. Bukan Indonesia yang disempitkan oleh jargon-jargon kaku, banal dan cenderung bersifat musiman.

Beberapa tudingan cenderung menyalahkan dominasi komik impor. Dari kacamata industri, membanjirnya judul-judul komik Jepang dan Korea memang melemahkan jalur distribusi komikus-komikus lokal. Meskipun masih ditemui judul-judul lokal yang masih bertebaran dan (semoga) jumlahnya kian bertambah seiring dengan lahirnya jalur-jalur alternatif. Sementara itu, sebagian penerbit menerapkan strategi dengan menyulap atau memodifikasi nama-nama komikus lokal menjadi agak Jepang-jepangan. Entah ini semacam mentalitas inferior yang keterlaluan, tetapi dalam lingkaran gerigi-gerigi pemilik modal, hal itu sah-sah saja.

Namun kreativitas dari para komikus lokal tak bisa terbabat habis. Justru dengan munculnya jalur-jalur indie, semangat untuk mengolah ide dan menerjemahkannya ke dalam karya makin sporadis. Apalagi, komik menemukan media seperti internet yang mempermudah akses para pembaca dan memicu produktivitas komikus. Di sinilah terjadi pengembangan media komik sebagai siasat budaya yang melahirkan narasi-narasi visual perihal Indonesia. Alih-alih sekadar media hiburan visual, komik lokal mulai menggenggam peran kritik sosial. Sebelumnya, aktivisme komik lokal cenderung berkutat di ranah seni yang terbatas pada beberapa komunitas. Kini, untuk bisa dinikmati oleh kalangan luas, tema-tema komik seputar isu politik dan sosial menjadi seksi untuk diangkat. Penerbit-penerbit besar membaca fenomena tersebut dan dengan taktis merakit segala ragam kemasan komik yang bertemakan serupa. Itu bukanlah hal buruk meskipun jangan terlalu diharapkan sebagai gerbang untuk menyelamatkan komik lokal.

Komik lokal seharusnya tidak selalu bersandar pada penerbit-penerbit besar yang selalu berpikir dalam logika modal. Gerilya para komikus tak harus menuntaskan pencapaian pada titik-titik mapan. Sedangkan dominasi komik impor tak melulu dipahami sebagai ancaman yang bisa melumpuhkan kreativitas. Persoalan meminjam gaya visual adalah tema yang sudah tak relevan untuk didebatkan. Ini adalah area pergulatan yang jangan dibaca dalam kerangka antagonistik sebab (komik) Indonesia adalah rangkaian komik, dan kita sedang menyusunnya.

Oleh -
0 105
majalah wookwook

Oleh: M Hadid

Apa itu impian? Apa itu takdir? Apakah kedua hal yang abstrak itu bisa terwujud secara konkrit melalui sebuah majalah komik bulanan?

Seringkali saya, ketika berbincang dengan komikus untuk keperluan pembuatan profil, menemukan banyak komikus yang masing-masing memiliki impian yang berbeda tentang bagaimana seharusnya mereka berkarya melalui imaji sekuensial. Nah, rupanya dua hal itulah – impian dan juga takdir – yang coba ditawarkan oleh majalah komik bulanan wookwook garapan Lesehan Studio. Mari kita lihat sejenak beberapa bocoran dalam bentuk audio-visual tentang apa yang akan ditawarkan oleh mereka kelak:

Video di atas berisi potongan-potongan adegan, semacam trailer bagi film-film blockbuster dalam wujudnya yang lain. Rasa saya terbawa ke wilayah imaji musik populer yang berasa Jepang. Musik dari Julia yang membawakan lagu ‘Destiny’ sebagai pengantar yang menemani potongan video pendek itu terasa sebagai musik dengan irama nada “pemberi semangat dan harapan”, satu yang biasa saya temukan ketika saya menikmati musik pembuka anime atau film-film serial tokosatsu. Musik secara dinamis menyokong pergerakan potongan-potongan adegan komik yang ditanam di dalam video itu.

Memang, karena menjadi semacam trailer, video itu diposisikan sebagai hidangan pembuka. Di dalamnya saya bisa menebak nebak tentang apa yang akan diberikan oleh majalah itu. Barangkali: suguhan fantasi, bercampur aroma komik laga, lalu diberi sedikit bumbu impian sang pesepakbola, dan diramaikan juga oleh kehadiran makhluk-makhluk aneh. Lalu sekilas saya melihat konvensi estetik ala komik-komik Jepang, Kyara. Konvensi ini bisa dipahami dengan cara yang sederhana: ini adalah soal kehadiran visual karakter yang mungil lagi manis, yang menopang ikatan emosional dan empati karakter. Konvensi ini pertama kali saya dengar dari kritikus Itō Gō. Mungkinkah ini berarti tanda lain dari apa yang disebut transcultural. Saya juga teringat kepada konsep Shonen Magz, misalnya, apakah wookwook juga menawarkan konsep serupa?

Harapannya, Akademi Sekuensial bisa hadir di acara peluncuran majalahnya, untuk mengorek-ngorek sejumlah informasi tentang apa sesungguhnya yang dihadirkan oleh wookwook, dan apa yang dimaui oleh Lesehan Studio, terutama visi mereka tentang komik Indonesia yang diwakili oleh majalah itu.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu