Warta

Oleh -
0 78
Aksen mangafest banner

Berikut Press Release yang dikirimkan kepada kami, perihal jadwal Mangafest 2014 yang akan mengambil tempat di Jogja National Museum.

Mangafest “Indonesia in Action”

Mangafest 2014 akan diadakan di Jogja National Museum, Yogyakarta, pada hari Sabtu-Minggu, 15-16 November 2014. Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jepang, Universitas Gajah Mada, Yogaykarta. Dan … gratis.

Informasi lebih lanjut bisa dilihat di Facebook (pada akun “Mangafest UGM”), Twitter (@mangafest_UGM), dan situs Himaje.wix.com/mangafest.

Event:

1.      National Manga Drawing Competition

  • 25 karya terbaik National Manga Drawing Competition akan dipamerkan di acara utama MangaFest 2014
  • 12 karya terbaik akan diterbitkan.

2.      Lomba karaoke

  • Pelaksanaan lomba karaoke yaitu pada minggu, 16 November 2014.

3.      Speed Drawing Competition

  • Umum
  • Kuota terbatas
  • Biaya pendaftaran [Rp 20.000]
  • Lokasi perlombaan [Jogja National Museum, minggu, 16 November 2014]
  • Waktu perlombaan 2 jam
  • Tema [Mada Feya In Action]

Maskot MangaFest 2014 dalam balutan budaya Indonesia yang mencerminkan sikap aktif bangsa Indonesia untuk tampil di panggung nasional.

4.      Manga Quiz

Lomba cerdas cermat mengenai pengetahuan tentang manga, namun tidak terbatas hanya komik Jepang, namun juga komik Indonesia dan juga Amerika.

  • Umum
  • Kuota 9 tim (terdiri dari 2-3 orang per tim)
  • Biaya pendaftaran [Rp15.000/tim]
  • Lokasi Perlombaan [Jogja National Museum, Sabtu, 15 November 2014]

5.      Cos-street of the day

Akan dipilih dua orang cos-street yang datang ke acara MangaFest setiap harinya yaitu sabtu dan minggu di Jogja National Museum dan akan mendapatkan hadiah menarik dan sertifikat. Pemenang ditentukan oleh voting pengunjung.

6.      Workshop Dubbing

  • Pelaksanaan [Sabtu, 15 November 2014]
  • Tempat [Jogja National Museum]
  • Biaya pendaftaran [Rp25.000]
  • Pembicara

1. Agus Nur Hasan (dubber Suneo (2006-2008) di anime “Doraemon”, dubber Pria Bertopi Kuning di kartun “Curious George”)

2. Wiwiek Supadmi (dubber  Sun Goku di anime “Dragon Ball”, dubber Tony Chopper di “One Piece the Movie”)

3. Yunita Dian (penerjemah film dan komik Jepang)

7.      Workshop Manga

  • Pelaksanaan [Minggu, 16 November 2014]
  • Tempat [Jogja National Museum]
  • Biaya pendaftaran [Rp 40.000]
  • Pembicara [Sweta Kartika (komikus “Nusantaranger”, “Grey dan Jingga”]

8.      Talkshow Manga

  • Pelaksanaan [Minggu, 16 November 2014]
  • Tempat [Jogja National Museum]
  • Pembicara

1.      Is Yuniarto (komikus “Wind Rider”, “Garudayana”)

2.      Faza Meonk (komikus “Si Juki”)

3.      Hasmi (komikus “Gundala Putra Petir”)

9.      Pojok Aksi

Semacam game corner dimana pengunjung bisa bermain beberapa macam permainan seru dan bisa juga mendapatkan hadiah menarik. Hadiah utama PS Vita. Dengan cara memainkan paket full game dengan membayar sebesar Rp10.000.

10.  Comiket

Comiket atau comic market adalah tempat untuk orang yang ingin menjual karya original buatannya baik berupa komik ataupun merchandise.

11.  Stand makanan dan festival

Penampil:

  • Vienda Billy
  • Al©Beats
  • The Agony
  • Angklung SDIT Baitusalam Prambanan
  • DJOH
  • Plan B
  • Bungah Cosplay Team
  • O-Ha Wotagei
  • Rampoe UGM
  • Hikari
  • The Monkey Circus
  • Papan Hitam
  • Noemi
  • Kesuru
  • Neko
  • Japanese Accoustic Voldemort
  • Gamburisu
  • Jogja Kendo Community
Aksen Poster Mangafest 2014
Klik untuk memperbesar

Oleh -
0 67
Aksen-komik-talk-STSRD-VISI

Pada 6-8 November 2014, UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Collution dari STSRD (Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain) VISI mengadakan acara bertajuk Kolak (Komik Talk) berupa pameran komik hasil karya anggota Collution di lobi kampus STSRD VISI dan bincang komik yang mengundang dua orang komikus, Kurnia Harta Winata (komikus KOEL) dan Sweta Kartika (komikus Grey & Jingga dan Nusantaranger).

Pada komik talk di tanggal 7 November. Kurnia memberikan kiat-kiat agar menjadikan komik lebih menarik dengan cara mengembangkan tokoh utama di dalamnya. Menurutnya, ada dua hal dari tokoh utama yang harus diolah lebih dalam, yaitu bentuk dan sifat karakter. Tokoh utama dengan bentuk atau sosok yang unik dapat menjadikan sebuah komik menarik perhatian pembaca saat melihat komik tersebut. Namun, tokoh utama tersebut juga harus didukung dengan sifat yang berkarakter agar pembaca tidak lantas bosan saat membaca dan menyukai komik tersebut.

Di komik talk hari berikutnya, Sweta menjelaskan bahwa dalam menciptakan komik, teknik menggambar bukanlah hal yang paling penting. Baginya storytelling jauh lebih penting dalam membuat komik yang bagus. Dia mencontohkan, bagi sebagian besar orang, gambar komikus dalam komik Crayon Shinchan yang penuh dengan komposisi tubuh para tokoh berantakan dan kepala karakter utama yang terlalu besar itu jelek. Namun, kita tidak bisa menjustifikasi bahwa itu bukan komik yang bagus. Karena pada kenyataannya, toh komik Crayon Shinchan adalah salah satu komik yang amat laris dan disukai banyak orang.

Alfan, penanggung jawab dari acara tersebut menjelaskan bahwa acara ini diselenggarakan untuk membantu para komikus pemula di Yogyakarta agar lebih semangat dan dapat berkarya dengan lebih baik dengan belajar langsung dari ahlinya. Wah, seandainya makin banyak acara semacam ini dan targetnya dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan pikiran Alfan, bukan tidak mungkin komik lokal kita akan semakin maju dan dapat menandingi serbuan komik-komik asing di kemudian hari.

Oleh -
0 73
Aksen-Ngomik-24-Jam

Terinspirasi oleh kegiatan Comic 24 Hours-nya Scott McCloud, ngomik.com pun menyelenggarakan acara senada yang diberi judul ngomik 24 jam pada 24-25 Oktober 2014. Agak berbeda dengan Comic 24 Hours dimana peserta harus membuat 24 halaman komik dalam waktu 24 jam, Ngomik.com hanya meminta 12 halaman dengan waktu deadline yang sama dalam yang sama. Dalam proses pengerjaannya, peserta bebas melaksanakannya dimana pun. Namun, di beberapa kota besar seperti Bandung dan Yogyakarta, kegiatan ini dipusatkan dalam satu tempat. Di Yogyakarta, ngomik 24 jam dilaksanakan di Jogja Digital Valley dengan peserta sebanyak 35 orang.

Sebelum dimulai, ngomik 24 jam dibuka dengan launching komik The Last Kickers dan Garuda 19 : Paulo Sitanggang oleh Ahmad Arsyad. Acara ini bisa dikatakan cukup sukses melihat banyaknya peserta yang antusias membuat komik meski diberi tenggat waktu yang amat ketat. Menurut koordinator acara, Bagus Wahyu Ramadhan, komik karya peserta dapat dibaca dalam waktu dekat lewat situs Ngomik.com.

Catatan penyunting: Anda bisa menyimak liputan acara tersebut melalui tautan Youtube di bawah ini.

Oleh -
0 60
Wall Of Tribute to Kosasih

Kosasih Award 2014 telah berlalu, dan menghasilkan sejumlah pemenang berdasarkan kategori penilaian tertentu. Siapa saja pemenangnya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kami akan mengarsipkan sisa lima kategori penghargaan di Kosasih Award 2014 yang belum kami tulis.

Sebelumnya kami telah merilis sebuah daftar komik-komik nominasi Kosasih Award 2014 untuk tiga kategori, yang telah dicatat juga di laman Facebook Kosasih Centre. Ketiga kategori tersebut adalah: Cerita Komik Terbaik, Karakter Terbaik, dan Komik Pendek Terbaik. Jadi kategori yang tersisa dan belum tercatat ada sembilan lagi.

Sayangnya jika daftar di bawah ini digabungkan dengan daftar sebelumnya, maka hanya ada tujuh kategori nominasi. Dua yang lain, yakni Komik Strip Media Cetak Terbaik dan Komik Terbaik justru tidak kami temukan daftar nominasinya di laman Facebook milik Kosasih Centre. Ada apa gerangan?

1. Nominasi Komik Kampus

2. Nominasi Komik Strip Online Terbaik

3. Nominasi Sampul Terbaik

4. Nominasi Gambar Terbaik

Oleh -
0 60
Rampokan-Jawa-dan-Celebes

Liputan oleh Aliyuna Pratisti*

Sebuah gelaran bertajukMembincangkan Komik: Rampokan Jawa dan Selebes digelar di Jatinangor pada Senin, 22 September 2014 atas kerjasama Gelanggang (Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unpad), Penerbit Gramedia, Layar Kita dan Perpustakaan Batu Api.

Bertempat di Aula PSBJ FIB UNPAD, acara yang dihadiri langsung oleh sang komikus sendiri, Peter Von Dongen, berlangsung hangat dengan berbagai penjelasan menarik dari Kritikus Komik, Hikmat Darmawan, dan dipandu oleh pakar media visual, Pye Siregar. Dalam acara ini, Peter – sapaan akrab bagi sang komikus – tidak hanya bercerita tentang proses pembuatan komiknya, tapi juga memaparkan tentang perjalanan pencarian sejarah keluarganya yang berkelindan dengan sejarah kolonial Belanda di Indonesia. “Ibu Saya orang Menado” adalah pernyataan Peter yang membuka cerita panjang tentang pencarian sejarah keluarga yang pada akhirnya mengantarkannya ke Indonesia. Melalui pencariannya tersebut, Peter berhadapan dengan sejarah yang terangkum dalam foto yang ia dapatkan dari keluarganya yang hingga saat ini masih banyak bermukim di Sulawesi. Dari foto-foto tersebut iamulai melakukan reka ulang imajinatif atas apa yang terjadi di Indonesia pada era Perang Dunia II. Sehingga munculah komik Rampokan Jawa dan Selebes.

Rampokan sendiri adalah sebuah ketertarikan lain bagi Peter selain sejarah keluarganya. Rampokan, berasal dari kata rampok atau rampog, merupakan sebuah ritual pembunuhan seekor macan kumbang atau harimau oleh sekelompok orang bersenjata tombak. Ritual ini dipertontonkan secara umum di alun-alun kota yang merupakan simbolisasi dari pembunuhan nafsu jahat manusia.

Rampokan lazim dilakukan di tanah Jawa sejak abad 17 hingga awal abad 20, dan menghilang sejalan dengan pelarangan Pemerintah Hindia Belanda terhadap ritual ini pada tahun 1905. Di Belanda, ritual rampokan jarang sekali didengar (jika boleh jujur, begitupun di Indonesia sendiri). Indonesia khususnya Jawa, hanya diingat melalui wayang kulit dan batik, tapi tidak rampokan. Dan atas alasan inilah Peter mengangkatnya menjadi latar utama komiknya. Adapun latar Sulawesi diangkat Peter dengan alasan yang sama ketika ia mengangkat Rampokan – bahwa ia ingin memperkenalkan Indonesia Timur yang kurang dikenal oleh dunia luar.

Sekilas, ketika melihat Rampokan Jawa dan Selebes, kita akan langsung teringat komik Tintin karya Herge. Hikmat Darmawan menegaskan, bahwa komikus Belgia tersebut berpengaruh besar terhadap karya Peter Von Dongen setidaknya dalam dua hal, yaitu gaya clean line realism dan alur politis yang jelas termuat dalam komiknya – sebagaimana publikasi lotus biru (Herge, 1936) yang memunculkan kontroversi politis, Rampokan Jawa dan Selebes bersinggungan dengan gambaran identitas antara timur dan barat, juga pemerintahan kolonial dan bekas jajahannya. Dalam hal inilah kemudian komik Rampokan Jawa dan Selebes menjadi menarik untuk dinikmati – karena apa yang termuat di dalamnya bukan hanya alur cerita dan gambar yang menarik, tapi irisan identitas yang termuat dalam diri sang komikus – yang setengah Menado setengah Belanda –, yang bersandingan dengan perang dan ritus budaya yang punah. Sandingan yang menjadikan Rampokan Jawa dan Selebes sebuah komik yang melengkapi mozaik sejarah Indonesia.

*Pengelola Antimateri

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu