Telisik Nalar

Oleh -
2 609
Rak komik

Gambar untuk kepentingan ilustrasi

Seberapa sering kamu ketika di toko buku kamu nemu komik yang kamu tertarik melihat sampulnya, lalu melihat tulisan Volume 01 atau sejenisnya tertera di salah satu sudutnya, dan memutuskan untuk meletakkan kembali buku itu seolah-olah kamu tidak pernah melihat?

Saya sih begitu. Ngomong-ngomong, sebelum ketenangan batinmu terganggu karena tulisan saya berikut ini, saya mengingatkan ini adalah murni uneg-uneg saya. Ndak peduli gimana tulisan ini akan berdampak pada kejiwaan kamu. Saya nggak melakukan riset apapun untuk tulisan ini, murni dengan keyakinan bahwa saya nggak merasa istimewa. Jadi, pasti ada orang lain yang sepemikiran denganku juga.

Jika dilihat dari nilai ekonomis di mata author-nya, komik bersambung tentu saja lebih menguntungkan. Bayangkan dalam satu premis, kamu membuat ratusan jilid buku, berapa keuntungan yang akan kamu dapat? Bisa kaya berkat ngelakuin kegiatan yang kita suka, apalagi yang tak lengkap di hidupmu?
Well, kecuali kamu memang sudah dikontrak untuk menerbitkan sejuta volume buku oleh penerbit yang terpercaya, kupikir ada baiknya mempertimbangkan ulang untuk mencetak dan memasarkan sebuah judul yang tidak habis dalam satu terbitan. Kenapa?

Karena bagi saya, buku yang bagus adalah buku yang selesai. Semua cerita dahsyat akan terasa seperti tahi ayam bagi pembacanya apabila si author tidak mampu menyajikan akhir dari kisah yang ia tawarkan. Berapa orang yang mengamuk karena komik Hunter X Hunter tak jelas juntrungnya? Berapa orang yang dalam tidurnya termangu-mangu ingin tahu bagaimana sebenarnya nasib Shinici Kudo? Berapa ruh mereka yang telah meninggal menjadi hantu penasaran karena ingin tahu akan seperti apa One Piece berakhir? Bagaimana rasanya pembaca Topeng Kaca ditinggal oleh author-nya? Bagaimana dahsyatnya ketika Toonderella ditinggal hiatus selamanya oleh author kesayangannya?

Mari kita mencoba menerima kenyataan bahwa meski perkomikan di Indonesia mulai mengeliat, menerbitkan sebuah judul komik dalam versi cetak sebenarnya masih membuat nafas tersengal-sengal mau itu dalam naungan penerbitan mayor maupun independen.

Dalam penerbitan mayor, angka penjualan karya adalah penentu nasib dari kelanjutan komik kita. Jika penjualan tidak bagus, ya sudah. Dihentikan. Sementara itu, dalam penerbitan indie pun semua kembali ke kocek kamu. Kuat nggak buat nyetak segitu banyak volume, kuat nggak mengerjakan segitu banyak jilid ketika kamu tidak ada tanggung jawab hitam di atas putih untuk menyelesaikan ceritamu. Motivasi manusia itu cair, bung.

Jika kamu berpikir kalau nggak laku berarti nggak ada yang suka dan dihentikan pun nggak akan ada yang tidurnya terganggu, berarti kamu melupakan beberapa manusia yang anomali. Mereka yang memiliki selera berbeda dengan kamu-kamu yang mainstream. Sebagai author, mana tanggung jawabmu dengan rusaknya kebahagiaan pembacamu? Kamu mau dapat teror seperti yang dialami Hideaki Anno ketika dia nggak bisa memberi penutup cerita yang memuaskan penggemarnya?
Bagi komikus yang membuat komik bersambung, apa sih sebenarnya yang membuat kalian yakin bisa menyelesaikan komik-komik itu? Apa yang membuat kalian tidak berpikir untuk membuat sebuah komik tebal yang berisi cerita yang selesai di buku itu? Buat cerita yang padat dan tidak bertele-tele, tidak perlu banyak filler lah.

Jika kamu merasa cerita yang padat tidak bisa menyampaikan ide-ide kamu dan meninggalkan kesan ke pembacamu, kamu kurang nonton film-film dari Studio Ghibli dan Disney. Berapa judul karya mereka yang masih tertancap di kepalamu setiap detil ceritanya?

Karena ini murni cuma uneg-uneg, aku sebenernya ga ada rencana untuk menyimpulkan isi tulisan ini. Aku cuma mau ngomong, ke kamu yang mau baca, mbok ayok to. Kita hijrah dari komik bersambung ke komik one shoot. Yuk!

Ayo to
Ayoo
Ngeyel?
Slenthik lho

Oleh -
1 428
Aksen-Harimau-Dari-Madiun-plus-1

Oleh: Kurnia Harta Winata

Mengapa Aji Prasetyo memutuskan rasa iba kepada petani sebagai alasan Sentot Prawirodirjo meninggalkan Diponegoro dan bergabung dengan Belanda? Aji melakukannya pada “Harimau dari Madiun”, sebuah komik pendek yang ia buat berdasar sejarah perang Jawa. Ia memainkan ruang kosong dalam sejarah. Ia isi kekosongan itu dengan imajinasinya.

Untuk memahami apa yang dilakukan Aji pada “Harimau dari Madiun”, kita perlu mencermati komik-komik Aji yang lain. Aji adalah komikus yang konsisten. Hampir semua komik-komiknya memiliki nafas yang sama. Perlawanan terhadap penindas.

Perlawanan Aji tidak sekadar perlawanan biasa ala umumnya komik kritik sosial. Komik-komik Aji, seperti yang bisa kita baca di “Hidup Itu Indah” dan “Teroris Visual” adalah komik-komik yang mengajak berkelahi. Ia menyerang secara terbuka lawan-lawan ideologisnya. Provokatif. Sengaja memanas-manasi pembaca dengan harapan mereka mendidih marah kemudian bertindak.

Logika maupun data yang ia paparkan dalam komiknya serupa amunisi yang ia bagikan kepada para pembaca. Siap untuk langsung digunakan dalam adu argumen. Termasuk fakta-fakta sejarah yang sering ia kutip.

Namun kita harus bijak dalam memandang sejarah. Teks sejarah tidak pernah benar-benar obyektif. Ketika sejarah dituturkan, ia tidak pernah bisa lepas dari bingkai. Mana yang diceritakan dan mana yang tidak. Kadang pemilihan ini dilakukan dengan maksud menggiring pembaca ke arah opini tertentu. Kadang pemilihan ini memang sesuatu yang tidak terelakkan karena ruang yang terbatas. Mau tidak mau penutur harus memilah, ini diceritakan dan itu tidak. Tentu dengan alasannya tersendiri. Alasan inilah yang membuat teks sejarah saya sebut sebagai subyektif.

Seingat saya saat sekolah dahulu, Pangeran Diponegoro dikisahkan kalah karena kelicikan Belanda. Belanda yang frustasi seolah tak akan menang jika ia tidak berbuat curang. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda mengajak Diponegoro berunding. Dalam perundingan itu Diponegoro ditangkap dengan liciknya. Ia dijebak. Itu gambaran yang tertanam di kepala.

Ketika saya dewasa dan mulai membaca teks sejarah di luar pelajaran sekolah, saya mulai mendapati gambaran yang lain. Saat perundingan terjadi, Diponegoro sudah dalam keadaan terjepit. Kekalahannya hanya menunggu waktu. Buku Sejarah Nasional Indonesia (buku babon sejarah Indonesia!) menyatakan kalau perundingan itu adalah strategi Belanda untuk mengalahkan bangsa Jawa dengan budaya Jawa itu sendiri. Menang tanpa ngasorake. Menang tanpa merendahkan yang kalah. Belanda memberi muka pada Diponegoro. Beberapa sumber barat bahkan menyatakan bahwa Diponegoro memang menyerah dalam perundingan itu.

Perang Jawa memang sangat dahsyat. Pangeran Diponegoro muncul sebagai ikon perlawanan rakyat terhadap penguasa penindas. Ia mengobarkan perang terhadap Belanda tidak dalam kapasitasnya sebagai raja, pun tidak dalam rangka merebut kekuasaan. Ini yang saya tangkap sebagai alasan mengapa Aji tampak terobsesi dengan Perang Jawa. Perjuangan Diponegoro dalam perang Jawa paralel dengan perjuangannya melalui komik. Perlawanan terhadap penindas.

Kalau kita melihat pernyataan Aji mengenai “Harimau dari Madiun”, kita bisa mendapatkan nafas yang serupa.

“Kini saatnya warga Madiun membangun kepercayaan dirinya. Mereka berhak tahu bahwa banyak tokoh legendaris yang lahir dari sana. Bahwa Madiun adalah kampung halaman para petarung, memang begitulah adanya. Karena di sana, naluri melawan penindas sudah terwariskan dari generasi ke generasi.”

“Masa Madiun cuma dikenal karena pemberontakan PKI-nya?” ujar Aji.

Secara efektif, komik ini memiliki 33 halaman. Ada enam bagian pokok yang dipaparkan.

Pertama, kehidupan tenang dan bahagia petani era pasca perang Jawa. Bagian ini digunakan sebagai pembuka dan penutup cerita.

Kedua, keahlian Sentot dalam berperang. Diceritakan bagaimana Sentot menyusun strategi, kepiawaian prajuritnya yang mantan petani dalam “membunuh”, dan tentara Belanda yang gentar dan tak mampu berbuat apa-apa menghadapi pasukan Sentot.

Ketiga, penjelasan singkat tentang latar perang Jawa dan motivasi Pangeran Diponegoro.

Keempat, penjelasan tentang Raden Ronggo Prawirodirjo III, ayah Sentot Prawirodirjo, yang berani angkat senjata melawan Belanda. Sikap ini diyakini turut menginspirasi sikap Pangeran Diponegoro.

Kelima, keadaan rakyat yang sengsara semasa perang. Dalam keadaan miskin dan kelaparan, terlebih mereka masih merasa harus membayar pajak kepada pasukan Pangeran Diponegoro.

Keenam, Sentot memutuskan berperang karena kasihan pada rakyat yang diperjuangkan malah jadi semakin menderita.

Aji tampak merasa harus memberikan begitu banyak informasi untuk mendukung gagasannya. Motivasi Pangeran Diponegoro mengobarkan perang Jawa diberikan karena itu tampak sejalan dengan motivasi Sentot maju berperang. Menghancurkan penguasa yang menyesengsarakan rakyat.

Cerita tentang pertempuran pasukan Sentot dan pasukan Belanda digunakan untuk menggambarkan bahwa bukan hanya muncul sebagai petarung handal, Sentot juga ahli dalam menyusun taktik.

Ayah Sentot pun disebut-sebut sebagai orang yang dikagumi oleh Pangeran Diponegoro. Coba kita kutip salah satu dialog antara Sentot dan orang kepercayaan ayahnya,

“Paman, jawablah dengan jujur. Apakah persamaan antara aku dengan ayahku?”

“Hehe, Raden…kalian tidak ada beda, dalam hal apapun!”

Dialog ini ditempatkan Aji persis di bawah teks yang menerangkan kalau Pangeran Diponegoro sangat mengagumi ayah Sentot. (Gambar 1)

Aksen-Dialog-dalam-Harimau-dari-MadiunAji Prasetyo

Teks sejarah hanya menyebut kalau Sentot menyerah pada Belanda. Ini tidak dapat dibiarkan Aji. Dalam rangka membuat Sentot Prawirodirjo sebagai icon Madiun penghasil petarung heroik yang berdiri melawan penindas, Aji tidak bisa membiarkan Sentot menyerah sebagai pengecut. Sentot harus memiliki alasan mulia.

Sentot yang digambarkan dalam komik ini perkasa tak terkalahkan akhirnya memutuskan berhenti berperang. Dalam dialog, ia berujar kalau perang ini sudah tak dapat ia menangkan. Ia kasihan harus melihat rakyat menderita lebih lama. Ini adalah alasan yang dihadirkan Aji, diselipkan ke dalam ruang kosong sejarah.

Aji juga memperlihatkan hasil dari pilihan Sentot. Petani yang berkidung bahagia, hidup tenang dan sejahtera selepas perang. Sentot tidak salah dengan keputusannya.

Aji menaruh keterangan tentang kelanjutan kisah ini di akhir halaman. Setelah bergabung dengan militer Belanda, Sentot dikirim berperang ke Sumatera melawan kaum Padri.

Entah disengaja atau tidak, penutup ini terasa begitu ironis bagi yang mengerti tentang sejarah perang Padri. Diponegoro mengobarkan perang Jawa dalam semangat memerangi kafir dan menegakkan negeri Islam, sedang kaum Padri berperang dalam semangat yang sama – melawan kaum kafir demi menegakkan negeri Islam.

Begitu banyaknya hal yang ingin disampaikan dalam komik ini membuat informasi berdesakan. Informasi-informasi ini kebanyakan disampaikan dalam bentuk dialog panjang. Beberapa bahkan seperti teks sejarah yang diberi ilustrasi. Praktis, hanya bagian penyergapan terhadap pos Belanda yang dihadirkan menggunakan kekuatan sekuensial komik.

“Harimau dari Madiun” menelantarkan struktur cerita dan tangga dramatik. Saya akan keburu menuduh Aji sebagai tidak mampu kalau saja tidak mengikuti komik-komiknya sejak awal karirnya sebagai komikus.

Sejalan dengan komik-komiknya yang lain, saya menduga kalau Aji memang sengaja meninggalkan itu semua. Ia mengambil sikap menelantarkan eksplorasi artistik maupun seni bertutur dalam komik. Ia lebih memilih fokus kepada gagasan-gagasan maupun ideologi yang ingin ia sampaikan.

Dengan sikap itulah “Harimau dari Madiun” dibuat. Sikap untuk membuat sosok yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan mengobarkan perlawanan terhadap penindas.

Dalam ruang kosong sejarah, Aji Prasetyo memberi Sentot Prawirodirjo muka. Muka yang sama yang diberikan pada Pangeran Diponegoro. Yang tidak kalah dalam peperangan tapi kalah karena kecurangan penjajah. Bedanya muka yang diberikan pada Diponegoro berdasar pada teks sejarah, sedang muka yang diberikan pada Sentot berdasar imajinasi Aji Prasetyo.

Oleh -
1 265
Komik-tema-G30S

Saya kebetulan mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara pada seminar “The Boxer & Sejarah dalam Komik”, yang menjadi rangkaian acara ‘Comiconnexions Comics Week! Yogyakarta’ yang diselenggarakan Goethe Institut berkerjasama dengan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Seminarnya sendiri diadakan di IVAA, pada 27 September 2014.

Untuk keperluan seminar itu saya menulis ihwal komik-komik Indonesia yang mengangkat tema seputar G30S serta pembantaian terhadap orang-orang komunis maupun mereka yang dituduh berafiliasi dengannya, yang terjadi pada periode 1965-1966. Esei berjudul ‘Aku, Humor, Takdir: Representasi ’65-66 Dalam Komik Indonesia‘ bisa Anda baca melalui tautan di bawah ini.

Dalam kondisi di mana tidak banyak karya komik yang mengangkat tema G30S maupun akibat yang muncul setelahnya (pembantaian dan penangkapan orang komunis maupun mereka yang dituduh demikian, di sepanjang 1965-1966), perkaranya kemudian bukan cuma soal bagaimana sejarah direpresentasikan lewat medium yang memiliki kekhasan bentuk seperti komik (lewat ruang serta temporalitasnya yang khusus), tetapi juga menyentuh soal etika.Dengan mengangkat soal etika, saya tidak hendak mengarahkan tujuan esei ini ke wilayah di mana ia berperan sebagai penjaga moral, namun dari sana kita bisa melakukan ziarah dengan memfokuskan diri pada soal sejauh mana sejumlah pertimbangan kultural digunakan untuk merepresentasikan tragedi 1965-1966 secara sekuensial.

Aku, Humor, Dan Takdir by AkademiSekuensial

Oleh -
0 431
superhero

Zaman sekarang sudah jamak ditemukan artefak-artefak budaya, seperti novel, puisi, film, dan lain sebagainya, yang mengalami proses ‘cut’ (potong) untuk kemudian hadir dalam bentuk baru, hasil dari proses ‘Re-mix’ (pencampuran kembali) atas apa yang sudah dipotong itu. Film blockbuster seperti The Avengers, yang mulanya bersumber dari cerita semesta komik yang dihidupi kumpulan pahlawan Marvel, misalnya, bisa ditunjuk sebagai entitas yang merupakan hasil dari proses ‘Cut & Re-mix’. Atau bila ingin mencari contoh yang lain: puisi berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Joko Damono yang digubah ke dalam bentuk komik. Pendek kata, proses pemotongan untuk menghasilkan karya dalam bentuk baru bukan merupakan fenomena yang mengherankan.

Esei ini akan mencoba menerawang fenomena ‘Cut & Re-mix’ melalui artefak kultural yang sudah jamak ditemukan orang dalam keseharian hidup mereka. Namun karena tema pembahasannya bisa begitu luas dan bisa meliputi banyak hal, saya akan membatasi pembahasan dalam ranah komik. Lebih jauh lagi, saya akan membicarakannya dalam lingkup yang lebih spesifik, terutama yang berkaitan dengan soal “adaptation industry” yang tampaknya sekarang ini menjadi model yang digencarkan oleh Hollywood.

Catatan: Esei ini dipresentasikan di acara Diskusi Seni Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang berlangsung pada 6 September 2014. ‘Cut & Re-mix’ menjadi tema yang diusung oleh FKY tahun ini.  

Oleh -
0 199
sequential art

Ada sebuah kiriman diskusi yang dibagi di laman Facebook Akademi Samali. Awalnya diskusi ini dimulai oleh Bayu Indie dan kemudian berkembang menjadi sebuah obrolan panjang dengan tanggapan di sana-sini yang rasanya sayang untuk dilewatkan.

Kenapa begitu sayang untuk dilewatkan? Coba kita lihat potongan gambar di bawah ini:

Post on Facebook

Dari gambar di atas, kita bisa lihat bahwa mulanya si pemantik diskusi hanya ingin bertanya apakah benar gambar yang dibagi dan ditunjukkannya di laman tersebut adalah komik bikinin orang Indonesia. Seserdehana itu. Boleh dibilang diskusi tentang apakah karya potongan komik di atas dibuat oleh komikus Indonesia atau bukan pada akhirnya merembet ke topik-topik lain – setidaknya bila kita melihat komentar lanjutan dari para anggota grup Facebook Akademi Samali. Oh ya, jika anda ingin mengintip obrolannya dalam format yang lebih lengkap, silakan ikut laman ini.

Yang paling menarik dan rasanya pantas untuk diperhatikan dari diskusi tersebut adalah informasi pendek-pendek mengenai konsep visualitas komik (dalam arti sempit), serta dalam lingkup yang lebih luas, terkait dengan formalisme itu sendiri sendiri. Berkaitan dengan tema yang mungkin luput dari perhatian khalayak awam, diskusi tersebut menjadi menarik sebetulnya, terutama pada bagian komentar pendek tentang ragam konsep yang berkaitan dengan teori komik itu sendiri.

Bagi kami sendiri ada beberapa komentar menarik, misalkan yang bisa dilihat pada komentar Widyartha Hastjarja. Beberapa komentarnya yang kami temukan di sana mengandung muatan pengetahuan mengenai bagaimana mengamati sumber-sumber intrinsik dalam komik, sebuah hal yang sebetulnya menjadi pisau analisis yang bisa dipakai ketika menelisik bentuk-bentuk seni sekuensial – meski istilah yang terakhir ini tidak banyak disentuh oleh Widya.

Umumnya sumber-sumber intrinsik dalam wilayah visual setidaknya bisa dipetakan melalui beberapa macam elemen, antara lain: ritme, bentuk tiga dimensional, harmoni, dan elemen-elemen non-representasional lain. Secara lebih rinci, elemen-elemen tersebut seringkali disebut isi, ruang, massa, tekstur, cahaya, shape, garis, dan titik. Gambar di bawah akan menunjukkan komentar-komentar Widyartha Hastjarja yang menurut kami mewakili perbincangan mengenai sumber-sumber intrinsik tersebut: Tentu saja ada banyak komentar lain darinya yang juga menarik, namun rasanya yang paling penting untuk dibagi di sini adalah bagaimana mengenali sumber-sumber intrinsik dalam komik. Baiklah, rasanya pengantarnya terlalu banyak, mari kita lihat beberapa komentar Widyartha Hastjarja yang ia bagi dalam diskusi tersebut. Sorot kemudian klik pada gambar di bawah untuk memperbesar.

Widyartha Hastjarja

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu