Esei

Oleh -
2 609
Rak komik

Gambar untuk kepentingan ilustrasi

Seberapa sering kamu ketika di toko buku kamu nemu komik yang kamu tertarik melihat sampulnya, lalu melihat tulisan Volume 01 atau sejenisnya tertera di salah satu sudutnya, dan memutuskan untuk meletakkan kembali buku itu seolah-olah kamu tidak pernah melihat?

Saya sih begitu. Ngomong-ngomong, sebelum ketenangan batinmu terganggu karena tulisan saya berikut ini, saya mengingatkan ini adalah murni uneg-uneg saya. Ndak peduli gimana tulisan ini akan berdampak pada kejiwaan kamu. Saya nggak melakukan riset apapun untuk tulisan ini, murni dengan keyakinan bahwa saya nggak merasa istimewa. Jadi, pasti ada orang lain yang sepemikiran denganku juga.

Jika dilihat dari nilai ekonomis di mata author-nya, komik bersambung tentu saja lebih menguntungkan. Bayangkan dalam satu premis, kamu membuat ratusan jilid buku, berapa keuntungan yang akan kamu dapat? Bisa kaya berkat ngelakuin kegiatan yang kita suka, apalagi yang tak lengkap di hidupmu?
Well, kecuali kamu memang sudah dikontrak untuk menerbitkan sejuta volume buku oleh penerbit yang terpercaya, kupikir ada baiknya mempertimbangkan ulang untuk mencetak dan memasarkan sebuah judul yang tidak habis dalam satu terbitan. Kenapa?

Karena bagi saya, buku yang bagus adalah buku yang selesai. Semua cerita dahsyat akan terasa seperti tahi ayam bagi pembacanya apabila si author tidak mampu menyajikan akhir dari kisah yang ia tawarkan. Berapa orang yang mengamuk karena komik Hunter X Hunter tak jelas juntrungnya? Berapa orang yang dalam tidurnya termangu-mangu ingin tahu bagaimana sebenarnya nasib Shinici Kudo? Berapa ruh mereka yang telah meninggal menjadi hantu penasaran karena ingin tahu akan seperti apa One Piece berakhir? Bagaimana rasanya pembaca Topeng Kaca ditinggal oleh author-nya? Bagaimana dahsyatnya ketika Toonderella ditinggal hiatus selamanya oleh author kesayangannya?

Mari kita mencoba menerima kenyataan bahwa meski perkomikan di Indonesia mulai mengeliat, menerbitkan sebuah judul komik dalam versi cetak sebenarnya masih membuat nafas tersengal-sengal mau itu dalam naungan penerbitan mayor maupun independen.

Dalam penerbitan mayor, angka penjualan karya adalah penentu nasib dari kelanjutan komik kita. Jika penjualan tidak bagus, ya sudah. Dihentikan. Sementara itu, dalam penerbitan indie pun semua kembali ke kocek kamu. Kuat nggak buat nyetak segitu banyak volume, kuat nggak mengerjakan segitu banyak jilid ketika kamu tidak ada tanggung jawab hitam di atas putih untuk menyelesaikan ceritamu. Motivasi manusia itu cair, bung.

Jika kamu berpikir kalau nggak laku berarti nggak ada yang suka dan dihentikan pun nggak akan ada yang tidurnya terganggu, berarti kamu melupakan beberapa manusia yang anomali. Mereka yang memiliki selera berbeda dengan kamu-kamu yang mainstream. Sebagai author, mana tanggung jawabmu dengan rusaknya kebahagiaan pembacamu? Kamu mau dapat teror seperti yang dialami Hideaki Anno ketika dia nggak bisa memberi penutup cerita yang memuaskan penggemarnya?
Bagi komikus yang membuat komik bersambung, apa sih sebenarnya yang membuat kalian yakin bisa menyelesaikan komik-komik itu? Apa yang membuat kalian tidak berpikir untuk membuat sebuah komik tebal yang berisi cerita yang selesai di buku itu? Buat cerita yang padat dan tidak bertele-tele, tidak perlu banyak filler lah.

Jika kamu merasa cerita yang padat tidak bisa menyampaikan ide-ide kamu dan meninggalkan kesan ke pembacamu, kamu kurang nonton film-film dari Studio Ghibli dan Disney. Berapa judul karya mereka yang masih tertancap di kepalamu setiap detil ceritanya?

Karena ini murni cuma uneg-uneg, aku sebenernya ga ada rencana untuk menyimpulkan isi tulisan ini. Aku cuma mau ngomong, ke kamu yang mau baca, mbok ayok to. Kita hijrah dari komik bersambung ke komik one shoot. Yuk!

Ayo to
Ayoo
Ngeyel?
Slenthik lho

Oleh -
1 428
Aksen-Harimau-Dari-Madiun-plus-1

Oleh: Kurnia Harta Winata

Mengapa Aji Prasetyo memutuskan rasa iba kepada petani sebagai alasan Sentot Prawirodirjo meninggalkan Diponegoro dan bergabung dengan Belanda? Aji melakukannya pada “Harimau dari Madiun”, sebuah komik pendek yang ia buat berdasar sejarah perang Jawa. Ia memainkan ruang kosong dalam sejarah. Ia isi kekosongan itu dengan imajinasinya.

Untuk memahami apa yang dilakukan Aji pada “Harimau dari Madiun”, kita perlu mencermati komik-komik Aji yang lain. Aji adalah komikus yang konsisten. Hampir semua komik-komiknya memiliki nafas yang sama. Perlawanan terhadap penindas.

Perlawanan Aji tidak sekadar perlawanan biasa ala umumnya komik kritik sosial. Komik-komik Aji, seperti yang bisa kita baca di “Hidup Itu Indah” dan “Teroris Visual” adalah komik-komik yang mengajak berkelahi. Ia menyerang secara terbuka lawan-lawan ideologisnya. Provokatif. Sengaja memanas-manasi pembaca dengan harapan mereka mendidih marah kemudian bertindak.

Logika maupun data yang ia paparkan dalam komiknya serupa amunisi yang ia bagikan kepada para pembaca. Siap untuk langsung digunakan dalam adu argumen. Termasuk fakta-fakta sejarah yang sering ia kutip.

Namun kita harus bijak dalam memandang sejarah. Teks sejarah tidak pernah benar-benar obyektif. Ketika sejarah dituturkan, ia tidak pernah bisa lepas dari bingkai. Mana yang diceritakan dan mana yang tidak. Kadang pemilihan ini dilakukan dengan maksud menggiring pembaca ke arah opini tertentu. Kadang pemilihan ini memang sesuatu yang tidak terelakkan karena ruang yang terbatas. Mau tidak mau penutur harus memilah, ini diceritakan dan itu tidak. Tentu dengan alasannya tersendiri. Alasan inilah yang membuat teks sejarah saya sebut sebagai subyektif.

Seingat saya saat sekolah dahulu, Pangeran Diponegoro dikisahkan kalah karena kelicikan Belanda. Belanda yang frustasi seolah tak akan menang jika ia tidak berbuat curang. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda mengajak Diponegoro berunding. Dalam perundingan itu Diponegoro ditangkap dengan liciknya. Ia dijebak. Itu gambaran yang tertanam di kepala.

Ketika saya dewasa dan mulai membaca teks sejarah di luar pelajaran sekolah, saya mulai mendapati gambaran yang lain. Saat perundingan terjadi, Diponegoro sudah dalam keadaan terjepit. Kekalahannya hanya menunggu waktu. Buku Sejarah Nasional Indonesia (buku babon sejarah Indonesia!) menyatakan kalau perundingan itu adalah strategi Belanda untuk mengalahkan bangsa Jawa dengan budaya Jawa itu sendiri. Menang tanpa ngasorake. Menang tanpa merendahkan yang kalah. Belanda memberi muka pada Diponegoro. Beberapa sumber barat bahkan menyatakan bahwa Diponegoro memang menyerah dalam perundingan itu.

Perang Jawa memang sangat dahsyat. Pangeran Diponegoro muncul sebagai ikon perlawanan rakyat terhadap penguasa penindas. Ia mengobarkan perang terhadap Belanda tidak dalam kapasitasnya sebagai raja, pun tidak dalam rangka merebut kekuasaan. Ini yang saya tangkap sebagai alasan mengapa Aji tampak terobsesi dengan Perang Jawa. Perjuangan Diponegoro dalam perang Jawa paralel dengan perjuangannya melalui komik. Perlawanan terhadap penindas.

Kalau kita melihat pernyataan Aji mengenai “Harimau dari Madiun”, kita bisa mendapatkan nafas yang serupa.

“Kini saatnya warga Madiun membangun kepercayaan dirinya. Mereka berhak tahu bahwa banyak tokoh legendaris yang lahir dari sana. Bahwa Madiun adalah kampung halaman para petarung, memang begitulah adanya. Karena di sana, naluri melawan penindas sudah terwariskan dari generasi ke generasi.”

“Masa Madiun cuma dikenal karena pemberontakan PKI-nya?” ujar Aji.

Secara efektif, komik ini memiliki 33 halaman. Ada enam bagian pokok yang dipaparkan.

Pertama, kehidupan tenang dan bahagia petani era pasca perang Jawa. Bagian ini digunakan sebagai pembuka dan penutup cerita.

Kedua, keahlian Sentot dalam berperang. Diceritakan bagaimana Sentot menyusun strategi, kepiawaian prajuritnya yang mantan petani dalam “membunuh”, dan tentara Belanda yang gentar dan tak mampu berbuat apa-apa menghadapi pasukan Sentot.

Ketiga, penjelasan singkat tentang latar perang Jawa dan motivasi Pangeran Diponegoro.

Keempat, penjelasan tentang Raden Ronggo Prawirodirjo III, ayah Sentot Prawirodirjo, yang berani angkat senjata melawan Belanda. Sikap ini diyakini turut menginspirasi sikap Pangeran Diponegoro.

Kelima, keadaan rakyat yang sengsara semasa perang. Dalam keadaan miskin dan kelaparan, terlebih mereka masih merasa harus membayar pajak kepada pasukan Pangeran Diponegoro.

Keenam, Sentot memutuskan berperang karena kasihan pada rakyat yang diperjuangkan malah jadi semakin menderita.

Aji tampak merasa harus memberikan begitu banyak informasi untuk mendukung gagasannya. Motivasi Pangeran Diponegoro mengobarkan perang Jawa diberikan karena itu tampak sejalan dengan motivasi Sentot maju berperang. Menghancurkan penguasa yang menyesengsarakan rakyat.

Cerita tentang pertempuran pasukan Sentot dan pasukan Belanda digunakan untuk menggambarkan bahwa bukan hanya muncul sebagai petarung handal, Sentot juga ahli dalam menyusun taktik.

Ayah Sentot pun disebut-sebut sebagai orang yang dikagumi oleh Pangeran Diponegoro. Coba kita kutip salah satu dialog antara Sentot dan orang kepercayaan ayahnya,

“Paman, jawablah dengan jujur. Apakah persamaan antara aku dengan ayahku?”

“Hehe, Raden…kalian tidak ada beda, dalam hal apapun!”

Dialog ini ditempatkan Aji persis di bawah teks yang menerangkan kalau Pangeran Diponegoro sangat mengagumi ayah Sentot. (Gambar 1)

Aksen-Dialog-dalam-Harimau-dari-MadiunAji Prasetyo

Teks sejarah hanya menyebut kalau Sentot menyerah pada Belanda. Ini tidak dapat dibiarkan Aji. Dalam rangka membuat Sentot Prawirodirjo sebagai icon Madiun penghasil petarung heroik yang berdiri melawan penindas, Aji tidak bisa membiarkan Sentot menyerah sebagai pengecut. Sentot harus memiliki alasan mulia.

Sentot yang digambarkan dalam komik ini perkasa tak terkalahkan akhirnya memutuskan berhenti berperang. Dalam dialog, ia berujar kalau perang ini sudah tak dapat ia menangkan. Ia kasihan harus melihat rakyat menderita lebih lama. Ini adalah alasan yang dihadirkan Aji, diselipkan ke dalam ruang kosong sejarah.

Aji juga memperlihatkan hasil dari pilihan Sentot. Petani yang berkidung bahagia, hidup tenang dan sejahtera selepas perang. Sentot tidak salah dengan keputusannya.

Aji menaruh keterangan tentang kelanjutan kisah ini di akhir halaman. Setelah bergabung dengan militer Belanda, Sentot dikirim berperang ke Sumatera melawan kaum Padri.

Entah disengaja atau tidak, penutup ini terasa begitu ironis bagi yang mengerti tentang sejarah perang Padri. Diponegoro mengobarkan perang Jawa dalam semangat memerangi kafir dan menegakkan negeri Islam, sedang kaum Padri berperang dalam semangat yang sama – melawan kaum kafir demi menegakkan negeri Islam.

Begitu banyaknya hal yang ingin disampaikan dalam komik ini membuat informasi berdesakan. Informasi-informasi ini kebanyakan disampaikan dalam bentuk dialog panjang. Beberapa bahkan seperti teks sejarah yang diberi ilustrasi. Praktis, hanya bagian penyergapan terhadap pos Belanda yang dihadirkan menggunakan kekuatan sekuensial komik.

“Harimau dari Madiun” menelantarkan struktur cerita dan tangga dramatik. Saya akan keburu menuduh Aji sebagai tidak mampu kalau saja tidak mengikuti komik-komiknya sejak awal karirnya sebagai komikus.

Sejalan dengan komik-komiknya yang lain, saya menduga kalau Aji memang sengaja meninggalkan itu semua. Ia mengambil sikap menelantarkan eksplorasi artistik maupun seni bertutur dalam komik. Ia lebih memilih fokus kepada gagasan-gagasan maupun ideologi yang ingin ia sampaikan.

Dengan sikap itulah “Harimau dari Madiun” dibuat. Sikap untuk membuat sosok yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan mengobarkan perlawanan terhadap penindas.

Dalam ruang kosong sejarah, Aji Prasetyo memberi Sentot Prawirodirjo muka. Muka yang sama yang diberikan pada Pangeran Diponegoro. Yang tidak kalah dalam peperangan tapi kalah karena kecurangan penjajah. Bedanya muka yang diberikan pada Diponegoro berdasar pada teks sejarah, sedang muka yang diberikan pada Sentot berdasar imajinasi Aji Prasetyo.

Oleh -
1 265
Komik-tema-G30S

Saya kebetulan mendapat kesempatan untuk menjadi pembicara pada seminar “The Boxer & Sejarah dalam Komik”, yang menjadi rangkaian acara ‘Comiconnexions Comics Week! Yogyakarta’ yang diselenggarakan Goethe Institut berkerjasama dengan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Seminarnya sendiri diadakan di IVAA, pada 27 September 2014.

Untuk keperluan seminar itu saya menulis ihwal komik-komik Indonesia yang mengangkat tema seputar G30S serta pembantaian terhadap orang-orang komunis maupun mereka yang dituduh berafiliasi dengannya, yang terjadi pada periode 1965-1966. Esei berjudul ‘Aku, Humor, Takdir: Representasi ’65-66 Dalam Komik Indonesia‘ bisa Anda baca melalui tautan di bawah ini.

Dalam kondisi di mana tidak banyak karya komik yang mengangkat tema G30S maupun akibat yang muncul setelahnya (pembantaian dan penangkapan orang komunis maupun mereka yang dituduh demikian, di sepanjang 1965-1966), perkaranya kemudian bukan cuma soal bagaimana sejarah direpresentasikan lewat medium yang memiliki kekhasan bentuk seperti komik (lewat ruang serta temporalitasnya yang khusus), tetapi juga menyentuh soal etika.Dengan mengangkat soal etika, saya tidak hendak mengarahkan tujuan esei ini ke wilayah di mana ia berperan sebagai penjaga moral, namun dari sana kita bisa melakukan ziarah dengan memfokuskan diri pada soal sejauh mana sejumlah pertimbangan kultural digunakan untuk merepresentasikan tragedi 1965-1966 secara sekuensial.

Aku, Humor, Dan Takdir by AkademiSekuensial

Oleh -
0 431
superhero

Zaman sekarang sudah jamak ditemukan artefak-artefak budaya, seperti novel, puisi, film, dan lain sebagainya, yang mengalami proses ‘cut’ (potong) untuk kemudian hadir dalam bentuk baru, hasil dari proses ‘Re-mix’ (pencampuran kembali) atas apa yang sudah dipotong itu. Film blockbuster seperti The Avengers, yang mulanya bersumber dari cerita semesta komik yang dihidupi kumpulan pahlawan Marvel, misalnya, bisa ditunjuk sebagai entitas yang merupakan hasil dari proses ‘Cut & Re-mix’. Atau bila ingin mencari contoh yang lain: puisi berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Joko Damono yang digubah ke dalam bentuk komik. Pendek kata, proses pemotongan untuk menghasilkan karya dalam bentuk baru bukan merupakan fenomena yang mengherankan.

Esei ini akan mencoba menerawang fenomena ‘Cut & Re-mix’ melalui artefak kultural yang sudah jamak ditemukan orang dalam keseharian hidup mereka. Namun karena tema pembahasannya bisa begitu luas dan bisa meliputi banyak hal, saya akan membatasi pembahasan dalam ranah komik. Lebih jauh lagi, saya akan membicarakannya dalam lingkup yang lebih spesifik, terutama yang berkaitan dengan soal “adaptation industry” yang tampaknya sekarang ini menjadi model yang digencarkan oleh Hollywood.

Catatan: Esei ini dipresentasikan di acara Diskusi Seni Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang berlangsung pada 6 September 2014. ‘Cut & Re-mix’ menjadi tema yang diusung oleh FKY tahun ini.  

Oleh -
0 300
Gambar 2 - Warisan
Gambar 2

Catatan Editor: Di bawah ini adalah artikel yang ditulis oleh Shaun Houston yang berjudul Why is it Like That Here? Comics as a Medium for Exlporing our Varying Sense of Place dan ditayangkan di Popmatters.com pada 24 Februari 2013. Walau beberapa kata kunci terasa abstrak atau mungkin tidak dikenal sebagian pembaca Indonesia (sebagai misal, establishing panels, dan juga beberapa judul komik yang disebut di bawah), namun artikel ini dirasa penting untuk kami terjemahkan karena mengeksplorasi tema menarik yang berkaitan dengan kesadaran tempat dalam sebuah komik yang bisa memunculkan beragam pengalaman terutama dalam kaitannya dengan bagaimana seorang pembaca komik bisa sampai merasa bahwa tempat yang mereka lihat dari sebuah komik adalah real.

Artikel ini diterjemahkan oleh Hidayat. Gambar yang dipakai dalam artikel terjemahan ini sesuai dengan yang dipasang di artikel aslinya. Editor hanya melakukan perubahan tata letak gambar dan caption.

[hr]

Oleh: Shaun Houston

Salah satu kenikmatan ketika membaca komik sebagai seorang ahli geografi kultural adalah tarikan ke wilayah di mana kreator yang berbeda menghadapi pertanyaan tentang tempat (place). Tempat yang diatur sedemikian rupa di dalam buku bisa diperlakukan secara sederhana sebagai latar atau sebagai sesuatu yang sedemikian signifikan bagi tindakan karakter. Tempat bisa diciptakan atau nyata. Beberapa panil penuh dengan detil kontekstual, sementara yang lain mungkin tidak menyajikannya.

Variasi semacam ini tentu bisa ditemukan di media naratif lainnya, akan tetapi menurut saya hanya komik – karena digambar dengan tangan, karena menjadi produk dari sebagian kecil kreator dan karena dibatasi oleh anggaran penciptaan – yang memberikan seniman dan penulis sebuah jenis kebebasan unik untuk membuat dan merombak tempat untuk cerita mereka.

Salah satu komik yang sering saya gunakan untuk kelas pengantar Geografi Kultural adalah Local karya Brian Wood dan Ryan Kelly (Oni Press, 2008). Masing-masing nomor terbitan pada seri ini mengambil tempat di berbagai kota yang berbeda di Amerika Utara. Wood menulis dalam komentarnya untuk nomor terbitan pertama, bahwa “Local adalah sebuah seri cerita pendek tentang orang-orang dan tempat di mana mereka hidup.” Di antara “kampung halaman” yang diikutsertakan adalah Portland, Oregon, Park Slope, Brooklyn, dan Toronto, Ontario. Dia kemudian melanjutkan:

“Sekarang saya sedikit terobsesi dengan ide-ide mengenai lokasi dan kampung halaman … kehidupan berjalan dengan sangat berbeda ketika anda keluar dari pusat populasi utama, dan beberapa film terbaik yang telah saya tonton dan buku-buku yang telah saya baca mengambil tempat di lokasi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”

Sebagaimana Wood merasakannya, pilihan untuk berfokus pada kota dan lingkungan yang secara universal tidak dikenal memunculkan masalah tentang bagaimana merepresentasikan tempat-tempat tersebut dengan cara yang akan menarik hati pendatang baru maupun orang lokal: “Lokasi tidak bisa menjadi cerita. Masuk ke dalam detil-detil dari tempat spesifik memunculkan resiko mengalienasi siapa saja yang tidak hidup di sana. Cerita Local akan menjadi universal … Tetapi untuk orang lokal, ceritanya akan berisi penunjuk (landmark) dan acuan yang akan mudah dikenali secara cepat.”

Salah satu cara yang dipilih oleh Wood dan rekannya Ryan Kelly untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan “establishing panels” yang berfungsi sebagai jalan masuk ke sebuah tempat, menampilkan detil yang mungkin memberikan perasan berada “di sana” serta lokasi spesifik atau fitur yang tidak begitu berarti kecuali seseorang sudah terbiasa di sana.

Nomor terbitan kedua dari seri tersebut berlangssung di Minneapolis, Minnesota. Panil pembuka dan halaman menyajikan suasana dengan lanskap musim dingin, pohon meranggas, tiupan salju, serta akumulasi kendaraan, jalan-jalan dan trotoar; pendek kata, segala kualitas visual yang merujuk pada konteks tertentu cenderung masuk akal untuk sebagian besar pembaca dari Amerika Utara. Suasana yang dibangun juga menyajikan sebuah restoran Amerika-China bergaya klasik, the Red Dragon, dan toko minuman keras, Hum’s; keduanya terlihat otentik pada diri mereka sendiri, mulai dari bentuk khas sambungan, garis atap, sampai tipografi dan desain tanda-tanda spesifik.

Fitur-fitur seperti sudut jalanan, kaki langit, penunjuk, dan etalase yang disajikan dengan mendetil oleh Kelly memainkan peranan penting dalam membuat tempat-tempat pada Local tampak nyata, terlepas dari apapun bentuk pengalaman individual dengan kota yang mungkin muncul. Saya mungkin tidak akrab dengan Minneapolis, tetapi bentuk gambar terlihat dan terasa seperti tempat di mana saya bisa menemukan dan mengunjunginya. Jika saya akrab dengan kota tersebut, saya mungkin mengenalinya atau dengan mudah bisa menemukan apa yang saya lihat.

Sebuah teks lain yang sering saya gunakan adalah Persepolis karya Marjane Satrapi. Sama halnya seperti Local, Persepolis adalah sebuah buku yang menyoroti tempat, tetapi pendekatan Satrapi guna menunjukkan kota pada ceritanya sangat berbeda dengan karya Wood dan Kelly. Tidak seperti seni pada karya Kelly yang sangat padat dan penuh dengan detil, gambar Sartrapi bersih dan sederhana.

Rasa akan sebuah tempat yang disajikan di Persepolis lebih berkurang intensitas detilnya dan lebih banyak berasal dari penyesuaian diri pengarang dengan petanda lokasi-kulural. Daripada memfokuskan diri pada lanskap fisik atau membangun setting lingkungan, Sartrapi berfokus pada apa yang orang-orang lakukan di tempat-tempat berbeda guna membawa pembaca ke soal “di mana” dan “kapan”. Praktik-praktik macam ini termasuk: gaya berpakaian, gaya rambut, apa yang orang makan, bagaimana mereka menghabiskan waktu, dan norma apakah yang mereka ikuti, langgar, atau lawan. Dari serangkaian isyarat tersebut, anda akan selalu tahu apakah Marjane berada di Tehran atau Wina dan apa baginya arti berada di satu tempat dibandingkan tempat lain.

Persepolis
Diekstrak dari The Complete Persepolis. Sumber gambar: Popmatters

Baik Wood, Kelly dan Satrapi sama-sama peduli kepada representasi atas yang aktual, tempat-tempat manusia. Mereka menyajikan tantangan atas realisme, baik secara harafiah maupun dalam istilah yang cenderung dekat dengannya. Walau bebas dari kewajiban kepada “real”, kreator yang memiliki cerita yang mengambil tempat di dunia fiksional masih harus menyampaikan rasa-akan-lokasi dengan tepat.

Won Ton Soup
Diekstrak dari Won Ton Soup Vol 2 #1. Sumber gambar: Popmatters

Sebagai contoh pada buku Won Ton Soup (Oni Press, 2007 & 2009), James Stokoe menciptakan dunia dan latar yang secara visual kaya, menyampaikan sebuah rasa-akan-tempat yang seakan bisa diraba dan sebuah perasaan gamblang tentang perbedaan kultural di antara “di mana” pada sebuah halaman dan “di mana” pada diri pembaca. Berkebalikan dengannya, kota pada Powers (Marvel Icon, 2000-sekarang) karya Brian Michael Bendis dan Michael Avon Oeming lebih merupakan sebuah ide seram (a noirish idea) tentang sebuah metropolis daripada sebuah tempat yang mungkin anda kunjungi jika ia ada. Di sini kota adalah murni sebuah fiksi naratif, satu yang tidak perlu maupun tidak ingin dianggap sebagai nyata, namun diperlakukan sebagai seperangkat referensi untuk kota-kota fiktif lain dari film, televisi, novel kriminal, dan komik lain.

Bagi semua orang, tempat tidak pernah terlihat dan terasa serupa sepanjang waktu. Subjektivitas yang nyata pada komik membuat medium ini hampir sempurna untuk menjelajahi berbagai kesadaran tentang tempat; mulai dari blok kota anda mungkin hidup di dunia paling fantastis, yang bisa dibayangkan sebagai dunia yang bisa ditangkap kesadaran anda.

[highlight]Shaun Huston adalah seorang profesor di bidang Geografi dan Kajian Film di Western Oregon University, di mana ia mengajar Geografi Politik dan Kultural. Dia juga adalah pembuat film. Filmnya yang berjudul Comic Book City, Portland, Oregon, USA (2012) adalah sebuah film dokumenter tentang komunitas pencipta komik di Portland, Oregon [/highlight]

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu