Esei

Oleh -
0 381
Kribo

Oleh: Mohammad Hadid

Biasanya satu dekade merupakan rentang waktu yang cukup panjang bagi komikus surat kabar. Cukup untuk menampung berbagai macam kisah tentang karakter komik yang dipakai, maupun kisah tentang komikusnya sendiri.

Di Indonesia ada banyak komik strip yang secara tematis memiliki kedekatan dengan fenomena politik praktis. Mereka ini – yang saya taksir jumlahnya ratusan dan tersebar di ratusan surat kabar di seluruh Indonesia – umumnya membahas banyak hal tentang kejadian dan fenomena seputar politik praktis, serta tidak ketinggalan tingkah polah para pelaku politik praktis. Politik praktis direpresentasikan melalui surat kabar? Biasa saja. Dalam arti ada banyak surat kabar yang melakukannya, tidak hanya di Indonesia. Kebanyakan penggemar komik yang juga rutin mengikuti komik-komik strip di berbagai surat kabar di Indonesia pastilah mengenal sejumlah judul strip di mana politik praktis menjadi bahan ledekan dan guyonan, seperti Panji Koming, Sukribo, Doyok, Timun, dan lain sebagainya; belum lagi bila kita berbicara mengenai kartun editorial yang seringkali juga sarat dengan tema-tema politik.

Terkadang saya merasa kesulitan untuk memilah mana kartun politik yang pantas diikuti, dan mana yang tidak. Pilihan orang atas sesuatu/hal ihwal sedikit banyak merupakan perkara subjektif; namun seringkali saya merasa bahwa walau ada strip yang bagus, ia tak bisa diikuti secara rutin karena karakteristik terbitan surat kabar dengan rutinitasnya yang seringkali membuat saya malas untuk mengikuti strip demi strip yang disodorkan setiap hari/setiap minggu.

Yang menjadi pertanyaan pula – setelah saya menyempatkan diri mengunjungi pameran satu dekade Sukribo yang diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) – adalah: saking banyaknya pilihan kartun maupun komik strip politik di Indonesia, Sukribo mau ditempatkan di mana? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab dengan lengkap, dan esei ini memang tidak ingin berpretensi untuk memetakan posisi maupun disposisi Sukribo di dalam medan komik Indonesia.

Kendati demikian, tampaknya menarik jika kita melihat sebuah “fakta” melalui pameran tersebut, di mana peringatan satu dekade Sukribo tidaklah semeriah, seperti misalnya, pameran-pameran yang diselenggarakan untuk Benny dan Mice. Baik Sukribo maupun Benny dan Mice tentu saja bagian dari jejaring yang sama, Kompas-Gramedia, akan tetapi melalui pameran satu dekade Sukribo segera tampak perbedaan modal sosial keduanya. Apa pula perbedaan keduanya? Paragraf di bawah ini akan menjelaskannya.

***

[metaslider id=2970]

Memang harus saya akui animo publik Jogja terhadap Sukribo cukup besar. Dengan mata kepala saya sendiri saya melihat kerumunan massa yang banyak jumlahnya pada pembukaan pameran satu dekade Sukribo pada 7 Januari lalu. (saya tidak tahu persis berapa angkanya dan apakah semua yang hadir memang benar-benar menggemari Sukribo, akan tetapi saya hanya bisa berucap “banyak” ketika melihat para manusia yang hadir di pelataran BBY malam itu). Bambang Herras dan Samuel Indratma yang didaulat untuk membuka panggung menghibur dengan celetukan-celetukan yang berhasil membuat pengunjung banyak tertawa sepanjang pentas mereka. Samuel memakai kostum hansip, sementara Bambang berdandan a là Kribo. Di panggung juga hadir Yuswantoro Adi yang memerankan pak Lurah lengkap dengan atribut kelurahannya (kemeja batik, celana kain nan licin, dan peci). Komikusnya? Ada, tapi mungkin malam itu ia sedang demam panggung. Bambang, Samuel, dan Adi membuat tokoh-tokoh dalam strip Sukribo melompat keluar, dihadirkan langsung ke tengah hidup yang nyata.

Karena aktornya adalah Sukribo, ruang pameran menjadi sesak akan simbol-simbol yang berkaitan dengannya, yakni strip-strip yang selama 10 tahun berdiam di rubrik Kartun Kompas Minggu dan total berjumlah 700 buah (apakah semuanya dipamerkan di dalam ruang BBY, saya tidak tahu); belum lagi bila kita menghitung dua lukisan yang juga dipamerkan di ruang yang sama. Tak ketinggalan parade wayang yang mengambil imaji para tokoh strip Sukribo yang dipajang di bagian tengah ruangan, serta sebuah gerobak angkringan kecil diletakkan berdekatan dengan wayang tersebut – yang memamerkan potongan animasi lewat ketiga layar yang dipasang di dua sisi angkringan. Strip-strip Sukribo bisa ditemukan di sekeliling dinding ruang BBY. Mereka hadir dalam potongan-potongan yang dimasukkan ke dalam frame kecil yang dijejerkan di sekeliling dinding ruang BBY. Saya perlu menatap masing-masing dari mereka lebih dekat sampai jarak muka dengan frame mungkin tidak lebih dari satu jengkal, hanya untuk menikmati apa yang disajikan oleh Ismail. Agak melelahkan, memang, dan jelas membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk menikmati sajian-sajian strip tersebut.

Apa yang membedakan satu dekade Sukribo dengan pameran-pameran Benny dan Mice? Ketika Benny dan Mice berkarir masih berkarir bersama-sama, keduanya sempat berpameran sebanyak dua kali, yakni pada tahun 2008 dan 2010. Saya hanya sempat hadir pada pameran mereka pada tahun 2010 di Yogyakarta, sehingga saya tidak mengetahui persis apa yang ditawarkan di pameran pertama. Meskipun demikian, telusuran saya terhadap foto-foto pameran pertama menunjukkan betapa mewahnya acara tersebut. Beberapa foto menampakkan dua nama pesohor publik yang cukup akrab di telinga: Wimar Witoelar dan Dian Sastro. Petikan senar gitar Jubing Kristanto juga ikut mengalun memanjakan telinga publik yang hadir. Jika semua itu dirasa kurang lengkap, kedua komikusnya juga dihadirkan dan siap melayani pengunjung yang menginginkan tanda tangan keduanya di buku komik-komik karya Benny dan Mice. Tak ketinggalan, stan penjualan buku-buku komik karya mereka juga tersedia di pameran tersebut.

Suasana yang jauh lebih megah juga muncul pada pameran kartun kedua yang menampilkan karya-karya Benny dan Mice selama dua dekade, terhitung sejak mereka mulai berkarya lewat koran dinding kampus. Pameran yang diselenggarakan oleh KPG – bekerja sama dengan Bentara Budaya, harian Kompas, Unilever Indonesia, Jaringan hotel Santika Indonesia, Optima Karya Disain, serta percetakan Gramedia ini bertajuk ‘Benny dan Mice Expo 2010’. Diselenggarakan pada tanggal 5–14 Maret 2010 di Bentara Budaya Jakarta dan juga digelar di beberapa kota lainnya seperti di Yogyakarta (Bentara Budaya Yogyakarta, 6–15 April 2010), Solo (Balai Soedjatmoko, 21-30 Maret 2010).

Di Bentara Budaya Jakarta sendiri, acara tersebut menampilkan karya-karya Benny dan Mice yang dipadukan dengan gaya instalasi yang bertebaran di seluruh penjuru ruangan. Berbagai jenis instalasi seperti halte bus, tempat sampah, kendaraan bajaj, kios rokok, jemuran pakaian, suasana pantai di Bali, sosok-sosok yang berdiri di atas papan selancar, serta keberadaan kios telepon seluler; bertebaran di setiap sudut ruangan Bentara Budaya Jakarta. Ditambah panorama kartun-kartun dan strip-strip komik yang menempel di sepanjang area tembok pameran, semua instalasi tersebut ditata sedemikian rupa sebagai latar hingga menyerupai simbol-simbol yang mewakili tiap-tiap karya Benny dan Mice yang menempel di tembok ruang pamer. Yang juga tidak luput dari perhatian adalah sejumlah kegiatan pendamping seperti workshop pemanasan global, workshop gitar oleh Jubing Kristianto, dan bazar buku komik.

Jika antara satu dekade Sukribo dan kedua pameran dekade-nya Benny dan Mice dibandingkan, akan tampak perbedaan yang sangat mencolok. Yang pertama adalah soal display pada ruang pameran. Display pada pameran Benny dan Mice yang kedua memperlihatkan garapan yang jauh lebih nikmat dipandang mata ketimbang satu dekade-nya Sukribo. Orang bisa menikmati yang lain selain karya, menikmati visualitas yang didesain sedemikian rupa supaya dunia tempat di mana karakter Benny dan Mice yang direka lewat kartun dan strip mereka berdua melompat keluar memanjakan mata pengunjung. Dari Sukribo, orang bisa melihat bahwa forma pameran yang diadakan dan didesain sedemikian rupa cenderung tidak mewadahi hal-hal semacam itu.

Perbandingan yang dibuat di atas tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa pameran Benny dan Mice lebih hebat dibandingkan dengan satu dekade Sukribo. Dengan kemegahan pameran yang ada, apakah kemudian orang bisa mengatakan bahwa karya-karya Benny dan Mice lebih berkualitas dari karya Ismail? Belum tentu.

***

SukriboMHadid/Aksen
Dari dua realitas pameran yang saya sebut di atas, setidaknya orang bisa melihat kecenderungan kemenangan modal sosial pada kedirian Benny dan Mice lah yang membuat pameran mereka berdua terlihat lebih megah. Modal sosial inilah yang pada gilirannya menjadi sumber daya yang berguna untuk mereproduksi kekuatan sosial karya-karya Benny dan Mice di tengah publik; dan pada pameran mereka sendiri, modal tersebut menjadi kekuatan sosial yang juga mampu menarik perhatian investor. Cobalah tengok dukungan beberapa nama perusahaan yang saya sebut di atas, maka anda akan menemukan contoh konkrit dari mereka yang menginvestasikan modal simbolik dan mungkin juga modal ekonominya kepada karya-karya Benny dan Mice.

Melalui sedikit perbandingan antara Sukribo dan Benny & Mice, orang paling tidak bisa melihat sepintas tentang posisi kultural masing-masing di tengah pengayaan industri komik di Indonesia, utamanya yang menjadikan koran sebagai lahan bermain.  Dalam hal ini, posisi Sukribo rupanya tidak memiliki nilai tawar ekonomis, terutama ketika dibandingkan dengan pendahulunya. Ada banyak faktor yang bisa menjawab mengapa Sukribo tidak dilirik sebagai produk yang bernilai ekonomis, salah satunya mungkin karena Kompas sendiri tidak melihatnya sebagai strip yang memiliki “nilai tukar yang pantas” (ada banyak cara mengenai bagaimana nilai dibuat, misalnya: banyak diulas oleh para penulis terkenal, memiliki basis penggemar yang besar, tema strip yang dipromosikan secara gencar oleh media massa, dan lain sebagainya) layaknya karya-karya Benny dan Mice.

Uraian di atas mengesankan investor dan ekonomi merupakan segala-galanya dalam sebuah pameran komik. Sebetulnya tidak demikian. Namun dari sana kita bisa melihat bagaimana politik penggunaan modal bermain dalam membentuk bangunan simbolik sebuah karya. Pemetaan secara ringkas atas jenis-jenis modal yang dipakai pada setiap pameran benda-benda “seni” berguna untuk memetakan sejauh mana sebuah nama dan karakter yang dipamerkan mampu menarik perhatian korporasi industri media yang tentu saja memiliki visi, misi, dan cara kerjanya masing-masing. Lebih jauh lagi pada pameran satu dekade Sukribo, orang takkan bisa menemukan kemegahan yang ditopang oleh korporasi. Katalog karya yang dibuat seadanya (hasil fotokopi) dan ketiadaan buku yang menampung semua strip Sukribo tentu sangat jauh dari semangat keekonomian yang diusung oleh kedua pameran Benny dan Mice yang telah lampau. Meski demikian, saya cenderung percaya bahwa Ismail sendiri yakin dengan kekuatan modal kulturalnya, yang kemudian dipakai untuk membangun isu-isu seputar dunia politik praktis yang disampaikan lewat Sukribo-nya (isu-isu yang, tentu saja, perlu dibicarakan lebih lanjut). Dengan demikian, ia membangun Sukribo dengan caranya sendiri. Ah ya, pameran satu dekade Sukribo itu sendiri menarik untuk ditelusuri lebih lanjut, terutama dalam kaitannya dengan bentuk, konteks, dan konten karya. Dengan demikian memunculkan pertanyaan: bagaimana politik praktis direpresentasikan melalui Sukribo dan kawan-kawannya?

Oleh -
0 271
sampul

oleh: Imansyah Lubis

Apa persamaan antara sebuah adegan pertarungan brutal dengan jurus-jurus seru, pertempuran antar robot raksasa dan monster raksasa di tengah kota, dan tampilan seorang gadis imut dengan rok 60 cm di atas lutut yang sering tersingkap secara ‘tidak sengaja’? Ketiganya dapat dikategorikan sebagai fan service, karena memang dengan sengaja ditujukan untuk memuaskan konsumen. Bahkan tidak jarang ketiganya ada berbarengan dalam sebuah media sekunsial yang sama.

Walaupun demikian, seiring dengan perkembangan media sekuensial (terutama komik dan animasi, atau bahkan lebih spesifik: anime dan manga) pemaknaan fan service mengalami penyempitan menjadi cenderung berkonotasi sensual, bahkan seksual. Bahkan seringkali fan service bisa jadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan plot cerita secara keseluruhan, namun murni hanya sebagai eye candy yang memanjakan mata pembaca dan penonton.

Secara sepintas, fan service dapat didefinisikan sebagai ‘visualisasi yang dengan sengaja ditampilkan untuk menyenangkan para pemirsa’. Dari segi tata bahasa, fan service lebih dekat ke konsep ecchi yang bisa dikatakan lebih ‘nakal’ namun tetap  ‘lembut’ dan ‘sopan’. Pada dasarnya bentuk fan service sebagai elemen relaksasi, komikal, komedi, dan humor pun lebih kental ketimbang hentai yang tampilannya lebih provokatif, eksplisit, dan vulgar.

Hal ini dimulai bahkan sebelum tata sekuensial tersusun, dalam bentuk desain karakter dan lingkungannya. Desain (kostum) karakter yang menonjolkan bagian tubuh (baik karakter lelaki maupun perempuan) menjadi bentuk fan service paling awal yang menerpa pembaca dan penonton. Semakin hard, semakin banyak bagian tubuh sang karakter yang diperlihatkan dan sebaliknya. Tak jarang bahkan pemirsa menyukai soft fan service dalam visualisasi karakter favorit mereka dalam tata busana yang berbeda dengan yang biasa dipakainya.

Perlu dicermati bahwa dimensi waktu fan service yang hanya terjadi ‘sesaat’: sekilas lintas, dan oleh karenanya menjadi estetis (walau tentu saja, terminologi ‘estetis’ di sini selalu tetap dapat kita diskusikan lebih lanjut). Oleh karenanya, fan service di sini tidak dimaksudkan untuk membangkitkan hasrat (baca: libido), namun lebih cenderung kepada fungsi katarsis untuk beristirahat sejenak melepaskan ketegangan akibat konstruksi dramatik yang tersusun (dan oleh karenanya konteks humor menjadi relevan dalam adegan fan service). Namun demikian, sekali lagi, pada perkembangannya tak dapat disangkal bahwa ternyata hal ini menjadi cenderung kepada hal-hal yang bersifat sensual (bahkan seksual).

Pemirsa lelaki dan perempuan tentu memiliki hasrat tersendiri yang hendak dipuaskan oleh media yang digunakannya, baik media cetak maupun media elektronik. Walaupun target awalnya adalah pemirsa remaja, perbedaan usia juga menentukan perbedaan tingkat fan service. Semakin berumur seorang pemirsa, sewajarnya secara naluriah ia akan menghasratkan bentuk fan service yang lebih eksplisit. Adapun jenis-jenis fan service yang biasa kita temui dalam media sekuensial komik dan animasi (terurama manga dan animedapat digeneralisasikan sebagai berikut:

  • Panty Shot / Panchira: visualisasi sekilas celana dalam tokoh (lebih sering tokoh perempuan), yang bisa jadi merupakan salah satu bentuk fan service paling mendasar dalam media sekuensial.
  • Big Boobsvisualisasi payudara perempuan dengan ukuran yang… melawan hukum gravitasi, termasuk pergerakannya.
  • Accidental Pervert: saat secara tidak sengaja – sekali lagi, TIDAK SENGAJA – seorang tokoh menyentuh bagian vital tokoh lainnya (lawan jenis atau sesama jenis) dan atau melihat tokoh lain tersebut sedang dalam keadaan tanpa busana.
  • Bathing Scene: walau terkadang adegan mandi dan atau berenang ini menjadi penting dalam pengembangan karakter, namun seringkali juga menjadi justifikasi bagifan service.
  • Changing Scene: adegan berganti pakaian (di kamar, ruang ganti, atau lokasi lain) yang memamerkan tubuh tokoh sebagian atau sepenuhnya.
  • Convenient Censorship: apakah berbentuk uap air panas di pemandian umum /shower, rambut yang jatuh menutupi dada, atau kilatan cahaya sering digunakan dalam anime dan manga untuk memperlihatkan tokoh dalam keadaan tanpa busana sambil tetap ‘berusaha’ menutupi bagian-bagian penting tubuhnya.
  • Wardrobe Malfunction: saat pakaian yang dikenakan robek, merosot, dan lain-lain.

Tentu saja bentuk fan service yang ditujukan kepada pemirsa lelaki akan berbeda dengan bentuk yang ditujukan kepada pemirsa perempuan (misalnya: tokoh lelaki yang digambarkan setengah bugil dengan pose yang … ‘menantang’, dua orang tokoh lelaki yang secara TIDAK SENGAJA bersentuhan bibir atau menyentuh bagian vital lelaki lainnya) , walau pada kenyataannya bisa saja hal ini berlaku lebih luas lagi: pemirsa lelaki bisa saja menyukai bentuk fan service yang ditujukan kepada pemirsa perempuan, demikian juga sebaliknya. Apalagi jika ditambahkan elemen humor ke dalamnya.

Dalam ‘kutub’ media sekuensial Barat dan Timur, rasanya komik dan animasi Barat (Amerika dan Eropa) yang memberikan fan service khusus bagi pemirsa perempuan tidak sebanyak di Timur (terutama Jepang, di mana sebuah seri anime dan manga bisa populer karena kuantitas dan kualitas fan service-nya), dan tentunya (sesuai dengan teori komunikasi Uses and Gratification), sah-sah saja jika kita mengkonsumsi media sekuensial komik dan animasi bukan karena ceritanya namun karena kita mengharapkan fan service yang terkandung di dalamnya.

Sekali lagi, jika kita kembalikan kepada makna dasar dari terminologi fan serviceapa pun yang bertujuan untuk memuaskan pembaca dapat kita kategorikan di dalamnya… termasuk visualisasi gadgetgimmick dll yang memanjakan dahaga pemirsa akan aplikasi teknologi canggih dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhana, teknologi layar sentuh yang mendahului zaman dan sekarang bisa kita nikmati.

Seberapa penting kita menggunakan fan service dalam karya kita? Tentunya standar kekaryaan stiap kreator berbeda-beda, namun fungsi dasar fan service tetap tak berubah: sebagai ‘bumbu penyedap’ untuk meningkatkan kecintaan pemirsa terhadap karya kita dan menjadikan karya kita senantiasa dinanti. Saat adegan mandi di shower menjadi standar, kreator yang jeli bisa menampilkan pergolakan emosional sang tokoh pada saat yang bersamaan.

Pada akhirnya, terlalu banyak fan service dalam media sekuensial mainstream ibarat sebuah masakan dengan terlalu banyak bumbu penyedap: tak hanya kehilangan identitas rasa aslinya, namun juga kehilangan hakikat penciptaannya, kecuali jika yang kita jual dalam karya kita adalah sensualitas, bahkan seksualitas. Apakah kita akan membuat sebuah karya keren yang ada fan service­-nya, atau excessive fan service­-lah yang menjadi sajian utama karya kita?

Apapun pilihannya, wujudkanlah dalam bentuk karya… bukan hanya wacana, apalagi drama. Sebuah karya yang bagus – dengan atau tanpa fan service – akan jauh lebih bermakna ketimbang sensasi (buatan) di seputarnya.  

Sumber

Oleh -
0 503
FKF limited edition

Seorang teman, ketika mendapati pengumuman tentang penyelenggaraan lomba komik fotokopi The Semelah yang merupakan bagian dari Biennale Jogja XII, mengernyitkan dahi bertanya-tanya: “kenapa musti fotokopi sih, bukannya sekarang mesin fotokopi bisa menghasilkan copy yang bagus, yang nggak kalah dari mesin cetak biasa?” “Kupikir bukan masalah fotokopinya, tapi semangat untuk berproduksi lewat cara-cara yang tidak umum. Lewat fotokopi, karya bukan lagi milik pribadi. Tak memiliki hak cipta. Bisa dilipatgandakan semaunya, sebanyak-banyaknya. Supaya karya bisa dijangkau banyak orang”, ujar saya. Tidak puas dengan jawaban saya, teman itu kemudian menimpali, “bedanya apa dengan kita yang meng-copy buku-buku penulis Barat semaunya. Buku-buku itu punya hak cipta, tapi tetap saja bisa kita copy. Lantas apa bedanya dengan cara berproduksi komik fotokopi? Kenapa mesti fotokopi?” Sampai sini saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Saya belakangan merasakan sesat pikir. Atau paling tidak kurang lengkap penjelasan saya ketika menanggapi pertanyaan teman saya itu. Maksudnya, tentu lomba komik Bienalle Jogja XII mengedepankan produk komik fotokopi. Itu jelas, sebab karya-karya yang mesti masuk ke panitia lomba adalah komik fotokopi. Namun apa yang paling penting untuk dimaknai bukan hanya cara-cara berproduksi yang khusus, melainkan, menurut saya, semangat self-published yang berbeda dengan semangat karya komik non-fotokopi yang memiliki hak cipta yang dilindungi oleh Undang-Undang. Pada jenis karya yang disebut terakhir, seringkali orang tidak diperbolehkan untuk memperbanyak ciptaan tanpa izin dari penerbit atau pemilik karya – walau nyatanya banyak orang mengangkangi peraturan tersebut. Apa itu semangat self-published ? Mengapa ia bisa begitu berbeda dengan karya komik yang memiliki hak cipta? Jawabannya mungkin bisa dicari melalui Festival Komik Fotokopi, bagian dari festival ekuator Biennale Jogja XII , yang diselenggarakan oleh Daging Tumbuh (DGTMB) bekerjasama dengan Biennale Jogja, mulai tanggal 16 Desember sampai 22 Desember 2013.

Kopian Masa Lalu

Festival Komik FotokopiMHadid

Saya pertama-tama penasaran dengan tajuk Festival Komik Fotokopi, bukan lantaran saya tidak pernah membeli produk komik fotokopian, tetapi karena saya penasaran terhadap “apakah pantas komik fotokopi masuk ke dalam sejarah komik Indonesia?” Beng Rahadian sempat berkata kepada saya bahwa komik fotokopian perlu dicatat. Waktu ia berkata itu saya tidak paham mengapa komik fotokopi menjadi penting. Bukan apa-apa. Saya tahu bahwa Jogja di pertengahan tahun 90-an marak dengan semangat komik Indie. Namun saya yang tidak mengalami hidup di pertengahan tahun 90-an di Jogja – tahun-tahun yang konon menjadi penanda semangat komik Indie di kota itu – menjadi buta akan medan khusus tersebut. Beng sendiri mencatat dengan baik fenomena semerbak komik Indie di Jogja pertengahan tahun 90-an dengan cara menyebut sifat dinamis bentuk komik yang tidak hanya bertahan pada selembar kertas, melainkan juga pada dinding tembok, kanvas, tong yang dibelah, karya grafis, dan berbagai macam medium lain. Ia menyebutnya sebagai sebuah kedinamisan antara praktik dan wacana yang memerdekakan gagasan, sambil berkata bahwa ketika itu pemahamannya akan komik menjadi lebih cair.

Apakah kemudian Festival Komik Fotokopi tersebut menjadi penanda lain dari pemerdekaan gagasan komik, dalam arti keluar dari pakem umum komik, sebuah bentuk yang terdiri dari panil, balon kata, caption, dan narasi? Sebelum sampai ke jawaban atas pertanyaan ini, ada baiknya mencermati kata dari Terra Bajraghosa yang menyebut bahwa festival tersebut pertama-tama adalah nostalgia atas apa yang pernah terjadi di kota Jogja pada pertengahan tahun 90-an. Ihwal sifat-sifat nostalgik pada festival tersebut kembali diulangi oleh X-Go yang mengatakan kepada saya bahwa festival tersebut baginya adalah romantisisme Indie yang tidak pernah usai, selain sebagai sebuah cara untuk mengenalkan bahwa komik fotokopi itu ada. X-Go sendiri adalah petualang komik Indie sejak tahun 2003 yang tampaknya enggan beranjak dari keasyikan cara berproduksi a là fotokopi yang bagi publik seperti saya cenderung murah dan terjangkau. Orang boleh memicingkan mata, tak bisa menikmati sifat low-budget production yang melekat pada komik fotokopi, atau merasa bahwa staples komik fotokopi tidak enak dilihat, namun nyatanya titik berat pada “nostalgia” dan “romantisisme” mengantar Festival Komik Fotokopi pada sifatnya sendiri yang “khas”.

Sebelum bicara mengenai kekhasan yang saya rujuk di atas, saya perlu untuk setidaknya berbicara tentang masa lalu. Soal scene komik Jogja pertengahan tahun 90-an tak bisa dilepaskan dari apa yang disebut sebagai core comic yang, oleh Nano Warsono, disebut sebagai “pemicu lahirnya scene indie di Jogja”. Core Comic, dengan produk fotokopiannya, diedarkan bukan melalui galeri seni, melainkan tempat-tempat seperti bazaar, pasar seni, Sunmor (Sunday morning) UGM, dan pekan komik. Dimulai oleh core comic, lalu berlanjut ke “pewaris” semangatnya, yakni – salah satunya – Daging Tumbuh yang muncul di tahun 1998. Nano mengatakan bahwa “Daging Tumbuh muncul atas dasar keinginan untuk membuat komik “apa saja” tanpa ada batasan artistik, cerita, ataupun standar formal layaknya komik yang beredar di pasaran”. Sampai di sini orang bisa tahu sedikit mengenai kelahiran scene indie beserta produknya, meski saya tidak yakin tentang apa sebenarnya semangat yang melandasi kelahiran scene Indie ketika itu. Bahan untuk berbicara mengenai “sejarah komik Indie Jogja tahun 90-an” harus saya akui sangat terbatas. Dengan berbagai macam pelaku dan komunitas yang mewarnai medan komik Indie yang ada ketika itu, tentu sangat wajar bila masing-masing pelaku memiliki semangatnya sendiri. Dan kemudian menjadi wajar bila saya bertanya: apakah semangat umum untuk berfotokopi dilandasi oleh keinginan untuk membebaskan diri dari narasi sosial-politik (apapun bentuknya) yang berlaku waktu itu? Atau semangat berfotokopi semata ingin melawan bentuk komik pada umumnya (dengan onomatope, panil, caption, balon kata, dan lain sebagainya)?       

Semangat yang masih terasa samar ini ingin saya letakkan dalam kekinian, yang tentu saja telah berganti rupa dan pelaku. Para pelaku komik Indonesia sekarang sangat boleh jadi asing terhadap nama-nama seperti Bambang Toko, Sigit Kuncoro, Ade Dharmawan, dan kawan-kawan lain dari core comic. Dan kini orang juga bisa melihat bahwa kekhasan produksi fotokopi sedang berdiri di tengah wacana komik Indonesia kontemporer yang mengalami pergeseran, yang antara lain bisa dilihat melalui bibit transformasi medium dari kertas ke komik digital. Transformasi ini ditandai oleh peluncuran aplikasi e-comic untuk smartphone berbasis Android pada 29 November 2013. Bukan kebetulan bila inisiatif transformasi tersebut bukan datang dari pelaku, melainkan dari otoritas. Ia sangat diharapkan dan bahkan dinisiasi oleh pemerintah Indonesia sendiri – melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif – yang bekerjasama dengan pemerintah Jepang dalam pengembangan aplikasi e-comic. Menurut berita yang

Oleh -
0 171
Kompetisi Komik Indonesia 2013

Oleh: Beng Rahadian

Tulisan ini dibuat saat saya menanggapi “keramaian” di groupchat bersama beberapa komikus yang mempersoalkan KKI 2013, kira-kira seminggu yang lalu, terutama setelah rilis hasil penjurian. Saya pikir ini bisa menenangkan, ternyata masih ada “kekeliruan” memahami kerja KKI. Betul juga saran salah satu member groupchat itu agar tulisan ini dipublikasikan.

Baik, saya co-pas saja:

————–

Shubuh tadi ada yang whatsup khusus dengan nada “nasehat” bahwa tahun depan kalau bikin kompetisi itu harus ini dan itu…. (pokoknya ini nggak beres lah) setelah baca review dan saya scroll ke atas sedikit di sini pun ramai dibicarakan. Saya mau nulis untuk urun rembuk saja, karena yang patut menjelaskan hasil kompetisi adalah Dewan Juri.

Saya mau sedikit cerita mudah2an ini bisa sedikit menjelaskan di mana posisi KKI ini berdiri, khususnya di ranah komik kita. Kompetisi ini mengharapkan munculnya generasi komik usia produktif untuk membuat karya yang inovatif dalam tuturan. Memang tahun lalu dan tahun sekarang berbeda jika dilihat karya juara pertamanya. Jurinya pun separuh berbeda. Sehingga KKi diharapkan menjadi dinamis dan mampu memunculkan sesuatu yang terus baru.

Sebelumnya. FYI: Ini proses Pertama penjurian: Karya total diseleksi awal hingga 75 karya, ini menyisihkan karya2 yang berbentuk strip, semuanya hitam putih, tidak selesai (misal 17 halaman dari 22 halaman), tidak sampai 16 halaman, karya masuk melebihi tenggat dan lain-lain. Ini dilakukan bersama perwakilan Juri dan team asisten selama 3 hari.

Kedua, Juri membaca bersama (tatap muka. minus Rini Sugianto –> dikirim by email) karya-karya yang lolos seleksi kedua (75 karya) dan berdiskusi, kemudian memberikan point pada 30 karya yang dianggap layak dari 75 karya itu, proses pemberian point ini dilakukan di rumah masing-masing.

Ketiga, Team Asisten menerima masing-masing 30 karya hasil pilihan Juri, yang jelas pasti berbeda-beda. Kami menyusun mulai dari karya yang diberi point oleh keempat juri, hasilnya ada 9 karya yang terpilih, karya itu diurutkan sesuai kalkulasi jumlah pointnya, hasilnya adalah urutan final. Untuk mencari sampai ke 16 besar, kami lanjutkan dengan memilih karya yang dipoint oleh 3 juri, kemudian diurutkan lagi hingga 30 besar.

(30 besar ini representasi potensi kompetisi komik Indonesia sebenarnya, menurut saya)

Dalam sebuah kompetisi, bagi pemburu hadiah/ yang terbiasa ikutan strateginya adalah: mengenali karakter dan selera Juri, ini sudah umum dilakukan. Tapi ingat, Juri KKI ada 4 dengan selera yang berbeda-beda pastinya. Kecenderungan Juri untuk “mengangkat” salah satu peserta itu akan susah karena dia harus beradu point dengan Juri lain, meskipun memberi point lebih atau mengecilkan point dari seorang Juri itu bisa pengaruh besar, ini terjadi di KKI tahun lalu.

Hasil Final ini dishare kembali ke Juri dan kami menunggu approval, jika tidak ada usulan apa-apa, maka hasilnya sudah siap untuk ditandatangani oleh Ketua Juri. Point dalam penjurian tidak seperti point dalam olah raga yang kriterianya jelas dan ukurannya relatif mudah, yakni jumlah memasukkan/ pukulan/ kecepatan waktu dll. Komik itu orang tuanya kesenian, aspek rasa menjadi dominan. Pertanyaannya ‘rasa’ nya siapa? —-> karena kita sepakat berkompetisi, maka rasa yg dipakai adalah rasa para juri. Karena ada 4, maka rasa ini disepakati dalam point-point untuk mengukur keberhasilan/ pencapaian dan menyentuh rasa. Subyektif ya sudah pasti, tapi jadinya intersubyektif 4 orang.

Apakah dengan voting pembaca, maka kompetisi ini bisa menjadi lebih baik, saya kira bisa ya dan bisa tidak, karena jelas voting pembaca itu mencari komik populer (yang mudah dibaca itu tadi) dan referensi voters. —> tapi sejauh ini, KKI belum berfikir ke arah sana, siapa tahu?

Sekarang perihal posisi KKI. Di antara sekian Kompetisi komik yang dilakukan oleh berbagai macam pihak, dalam dan luar. KKI punya misi utama yakni menjadi barometer pencapaian kerja komikus. KKI harus memberikan apresiasi pada karya-karya yang visioner dan menawarkan sesuatu yang baru. KKI tidak dapat begitu saja memberikan nilai lebih kepada komik-komik linear sementara ada karya yang memunculkan cara bertutur lain, mengharapkan kemauan pembaca untuk berfikir/ menyelami.

KKI harus bersikap kepada apresasi, memang karena KKI adalah program Kemenparekraf, maka ujian sesungguhnya adalah: jualan. Tapi itu bukan tugas KKI lagi, KKI hanya mengantarkan ke “gerbang”, sebetulnya —> ini yang hilang di PPKI kemarin adalah Bursa Naskah, jadi Penerbit diundang untuk melihat karya-karya KKI ini dan ditindak lanjuti di penerbitan masing-masing. (MnC digital sudah melihat peluang ini untuk materinya) dan saya juga sudah mengincar beberapa karya untuk ditindak lanjuti.

Saya sendiri yakin, kalau KKI ini sudah pasti tidak dapat menyenangkan semua orang, termasuk peserta. Ibarat Gading, jika dicari retaknya pasti ketemu. Tapi saya senang dengan tulisan simsim yang berusaha memberikan opini, jika lebih banyak lagi yang menulis seperti itu, maka KKI perlu bersyukur jika Kompetisi ini nyatanya “dimiliki, dakui” oleh pelaku komik kita. Sedih banget, justru jika KKI dicuekin.

Sedikit ajakan bagi teman-teman. Saat kita mengikuti kompetisi, maka secara tidak langsung kita percaya pada Jurinya. Dan Juri sudah bersikap dengan memilih pemenang.

Sumber utama

Oleh -
0 363
Mangafest 2013

Mohammad Hadid

Saya berterima kasih kepada Tamam, Naufal, Anika, dan Fanny, sebagai perwakilan panitia Mangafest, atas kesediaan mereka untuk diwawancarai demi kepentingan penulisan esei ini.  

Bagaimana Anda membayangkan “masa depan Indonesia” hadir sebagai tema di Mangafest UGM 2013 yang baru saja dihelat pada 9-10 November lalu? Apakah dengan mendengar tema tersebut Anda lantas membayangkan sebuah festival di mana segala hal serba-futuristik berseliweran di depan mata, membuat takjub setiap orang yang melihatnya? Jika demikian yang Anda bayangkan, maka siap-siaplah untuk kecewa. Mereka yang datang ke festival tersebut tidak akan bisa menikmati hal-hal futuristik – kecuali tentu saja pada pameran komik yang menjadi bagian dari festival tersebut. Artinya di sini masa depan Indonesia justru dibayangkan sedikit lewat imajinasi sekuensial ala komik, bukan pada keseluruhan festival itu sendiri.

Festival tersebut rutin diadakan tiap tahun oleh mahasiswa Sastra Jepang UGM. Jadi mula-mula orang bisa melihat bahwa ini adalah acara mahasiswa, yang mula-mula diadakan dengan maksud untuk mengisi ketiadaan acara untuk mahasiswa di jurusan tersebut. Dan kini, festival tersebut sudah memasuki tahun ketiga. Meski perannya “hanya” sebatas pengisi kekosongan acara mahasiswa, agaknya saya bisa berasumsi bahwa festival kecil ini juga adalah cara tentang bagaimana sebuah negara seperti Jepang dilihat dari kacamata sebuah negeri pasca-kolonial seperti Indonesia. Tentu anda tidak bisa mengabaikan kenyataan umum bahwa Jepang pun sudah lama hidup sebagai sebuah “objek” ekonomi sekaligus budaya populer di negeri ini, bukan? Cosplayer? Laruku? Manga terjemahan? Toyota, Honda, Yamaha, Sony? JKT48? Bagi para nasionalis komik Indonesia, Jepang (dengan gaya berkomiknya) barangkali adalah ancaman bagi kemurnian gaya berkomik ala Indonesia. Di bidang ekonomi-politik, Jepang adalah dewa kemakmuran dengan gelontoran dana pinjaman negara yang disalurkan ke banyak proyek pemerintah.  Negara tersebut jelas diimajinasikan dengan banyak cara di sini, baik dengan cara positif maupun negatif.

Ah, ya, saya sempat heran, kok jurusan Sastra Jepang ngadain Mangafest? Apa pula hubungan antara Sastra dan komik? Bukankah seharusnya mahasiswa jurusan Sastra mengadakan festival Sastra? Apakah komik itu Sastra juga, artinya punya nilai artistik yang sama seperti karya-karyanya Haruki Murakami atau Ryūnosuke Akutagawa, dua pengarang Jepang yang karya-karyanya diakrabi publik pembaca Sastra di Indonesia? Sebelum menjawab antologi pertanyaan di atas, ada baiknya kita mencerna cerita di balik Mangafest.

Imajinasi Tentang Matsuri dan Adagium “Festival Dari Mahasiswa untuk Mahasiswa”

“Umumnya semua jurusan Sastra Jepang di Indonesia rata-rata punya matsuri, festival”, kata Naufal, salah seorang penggagas Mangafest tahun pertama (2011). “Tetapi umumnya matsuri cuma menghadirkan cosplay tanpa ada tema khusus, jadi cuma acara dengan tema Jepang Jepangan … selesai”, ia melanjutkan. Mangafest pertama adalah perayaan kelahiran baru dari sebuah festival yang agaknya bagi Naufal harus melaumpaui acara Jepang Jepangan biasa yang menurutnya terlalu luas temanya dan tidak spesifik – Anda yang mengalami Mangafest pertama tentu tahu bahwa itu adalah festival di dalam gedung (waktu itu saya heran, kok “festival” tapi di dalam gedung?) tanpa cosplayer. Lebih jauh lagi, Mangafest pertama merupakan sebuah sarana yang dipakai untuk mengisi kekosongan festival ‘dari mahasiswa untuk mahasiswa’ yang sebelum 2010 tidak pernah diadakan oleh jurusan Sastra Jepang UGM.

Saya telah memberi sedikit pandangan di atas, bahwa mula-mula Mangafest mestilah dianggap bukan semata sebuah festival an-sich, melainkan juga tentang bagaimana orang memandang Jepang dan

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu