Esei

Oleh -
2 544
Critics

Tulisan tentang kritik komik ini telah mengalami perubahan teknis seperlunya – dengan menambahkan catatan kaki dan referensi, tanpa mengurangi maksud awal tulisan. 

Terkait dengan kritik komik, seorang teman pernah melontarkan pendapatnya kepada saya mengenai jenis-jenis kritik komik, di mana salah satu pendapatnya yang paling saya ingat adalah: “komentar di Facebook pun itu adalah kritik”. Benarkah demikian? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa seperti perjaka yang kebelet kawin. Terlebih dahulu saya ingin menceritakan sebuah peristiwa kecil, kali ini tentang posisi kritik di Indonesia. Cerita akan saya batasi pada bidang seni, persisnya, kritik seni rupa.

Di lain hari pada bulan Mei saya berbincang dengan seorang kurator via Facebook. Sesi obrolan yang berlangsung di kala panah hujan tanpa ampun menerjang bumi itu berkisar di permasalahan posisi kritikus di bidang seni rupa yang menurutnya tidak begitu dihargai. Sang kurator menjelaskan bahwa di Indonesia, wacana yang dominan adalah wacana harmoni. Saking kuatnya wacana semacam itu, kritik atas sebuah karya dianggap sebuah nilai pengganggu tatanan. Singkat cerita, ia membandingkan kondisi di sini dengan di “Barat” (secara khusus ia merujuk Eropa dan Amerika) sana, yang konon katanya memiliki sejarah kritik seni yang tajam dan keras. Dua pertanyaan muncul: benarkah kritikus, terutama idenya, tidak diterima di Indonesia? Kalaupun benar, kenapa masih sempat orang tertentu mengembel-embeli dirinya sebagai “kritikus” di sebuah tulisan seputar sastra Indonesia, misalnya? Sampai batas mana seseorang bisa mengaku diri sebagai kritikus?

Teks-teks seputar ‘kritik komik’, menurut pendapat saya, telah menjadi sesuatu yang cair maknanya oleh karena anggapan umum bahwa sebuah tulisan (yang pendek sekalipun) bisa dianggap sebagai sebuah kritik. Komentar negatif di laman Facebook, misalnya, di mana seorang komikus menunjukkan karyanya kepada teman-temannya, merupakan jenis produksi tulisan yang dianggap pantas disebut sebagai kritik. Lalu, komentar negatif pendek-pendek atas sebuah komik, yang ditulis lewat twitter pun dianggap kritik komik. ‘Kritik komik’ sebagai sebuah istilah tampak bisa dilekatkan kepada jenis tulisan apa saja, membuatnya berada di dalam kamar gelap yang wujudnya bisa berubah kapanpun. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan sumbangan kecil terhadap wacana seputar ‘kritik komik’ yang tampak susah sekali untuk dirumuskan itu. Lebih jauh lagi, skop tulisan ini saya maksudkan untuk diletakkan dalam lingkup yang lebih luas seperti kajian komik. Namun sebelum masuk ke paparan yang lebih substantif, saya akan memulai sedikit paparan tentang pandangan etimologis mengenai ‘kritik’ itu sendiri.

1/

Kebanyakan orang mungkin sudah telanjur melakukan apriori terhadap kritik, seolah-olah kritik itu identik dengan bentuk-bentuk lisan dan tulisan yang bertujuan semata untuk menemukan kesalahan tertentu dan penuh dengan pandangan-pandangan negatif nan meresahkan atas sebuah corpus yang dibahas oleh sang kritikus. Tentu saja perkaranya tidak sesederhana itu. ‘Kritik’ itu sendiri – yang secara etimologis berasal dari kata krinein yang berarti menilai – sudah merujuk kepada metode yang berpegang kepada disiplin, sebuah analisis sistemik yang umumnya tertulis dan/atau disampaikan secara lisan. Jika komikus berpegang pada pengetahuan dan konsep visual – cara mengatur komposisi antar panel untuk diletakkan dalam ruang (layout), teks dan gambar, tebal-tipis garis, plot cerita, konflik, klimaks, dan sebagainya – sebelum ia mulai menumpahkan imajinasinya di atas kertas, maka pasangannya, kritikus komik, juga melakukan hal serupa meskipun pengetahuan/konsep yang dipakai, juga output yang dihasilkan akan sungguh berbeda.

Karena kritik adalah sebuah disiplin, maka gagasan kritik yang paling negatif sekalipun selalu memuat pertimbangan tertentu yang digunakan untuk menilai fenomena atau objek tertentu. Dengan kata lain, ada standar penilaian, fakta, konsep, dan teori tertentu yang dipakai sebagai jalan untuk mengantar seorang kritikus sampai kepada kesimpulan-kesimpulan tertentu. Pendapat ini hanya mau mengatakan bahwa kerja seputar produksi wacana tentang komik Indonesia tidak bisa dilandaskan pada kata hati semata. Orang tidak bisa menyebut seorang komikus sebagai pembaharu dalam bidang estetika komik Indonesia, misalnya, tanpa menjelaskan kenapa dan bagaimana dia bisa sampai kepada kesimpulan semacam itu.

Sebuah kritik, dengan demikian, selalu mengandaikan sebuah standar untuk memperlihatkan apa yang esensial (Gosche, 2007: 12).  Pada bidang-bidang lain di luar kajian komik seperti sastra, misalnya, konon katanya kritik sastra merupakan sebuah dunia penilaian yang dipengaruhi oleh perkembangan kristianitas. Gereja di era Rennaissance pada umumnya tidak hanya bertugas menyeleksi teks-teks kitab suci yang “boleh beredar”, melainkan juga bertugas meluruskan pembacaan yang menyesatkan (emendatio) terutama untuk untuk karya-karya puisi dan narasi epik; dalam tradisi Islam juga dikenal ahli tafsir dengan ilmu menilai hadis atau kritik sanad-nya untuk menakar keaslian hadis yang dibagi menjadi tiga kategori: shoheh, dha’if, maudhu’.[i]

Ada dua hal yang setidaknya bisa ditangkap dari contoh di bidang-bidang di luar kajian/kritik komik, yakni: 1) kritik atas teks tertentu yang dikerjakan dengan disiplin yang sistematis, dan 2) usaha untuk melegitimasikan sebuah teks yang dikerjakan oleh sebuah institusi atau orang yang dianggap punya kapasitas modal kultural (keilmuan) untuk memberi legitimasi. Ada satu lagi yang bisa ditambahkan di sini selain karakteristik  kritik komik tersebut, yakni gelar kritikus yang seharusnya terkait dengan seorang ahli yang menguasai dasar-dasar tentang sejarah komik dan teori komik tertentu. Sampai di sini orang bisa melanjutkan ke satu pertanyaan: bagaimana sebetulnya wujud dan gagasan sebenarnya dari ‘kritik komik’ itu sendiri? Saya akan berusaha meraba jawaban atas pertanyaan ini dengan cara menempatkan “kritik” dalam wilayah produksi wacana kajian komik supaya kita bisa melihat kekuatannya dalam menentukan legitimasi komik di tengah wacana akademis.

Oleh -
0 158
wis-ns
courtesy: Comical Magz

Namanya Wida Nara Soma, tetapi kebanyakan orang mengenalnya sebagai Wid N.S. Sekarang ia berusia 64 tahun, matanya terkadang terlihat lelah, tapi antusiasmenya terhadap komik belum juga lenyap.

Wid N.S mulai jatuh cinta kepada komik ketika ia masih kanak-kanak. Tumbuh di tahun 1950an ketika distributor komik Amerika mendominasi pasar Indonesia, Wid menjadi seorang penggemar ‘Rip Kirby’­-nya Alex Raymond, ‘Phantom’-nya Wilson McCoy, dan serial ‘Tarzan’, yang ia baca di majalah Weekly Star dan surat kabar Keng po.  

Meskipun begitu tidak semua pengaruh yang mendekam dalam diri Wid berasal dari Amerika. Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, orang Indonesia mulai menciptakan karya komik yang merefleksikan isu-isu sosial dan politik kontemporer. Wid menikmati serial komik dengan tema kekaisaran China yang diterbitkan Star Weekly untuk bersaing dengan strip-strip Amerika, dan juga versi lokal ‘Wonder Woman’ berjudul ‘Sri Asih’, dan ‘Kapten Koet’ karya Kong Ong yang memiliki kemiripan mencolok dengan ‘Flash Gordon’.

Komik yang menampilkan repertoar karakter pertunjukan wayang juga muncul sebagai sebuah respons atas dominasi asing terhadap ranah komik Indonesia. Beberapa komik di era itu bahkan terang-terangan mengambil tema politis, seperti ‘Kadir dan Konfrontasi’, dan ‘Hantjurlah Kubu Nekolim’, yang dipublikasikan pada awal 1960-an ketika Presiden Soekarno berkonfrontasi dengan Malaysia. Pengambil-alihan Irian Barat oleh Indonesia menginspirasi komik ‘Puteri Tjendrawasih’ (burung yang menjadi ikon propinsi baru itu). Kebangkitan Partai Komunis Indonesia memicu kemunculan sebuah komik berjudul ‘Peristiwa Indramaju’ yang menarasikan perjuangan rakyat melawan borjuis untuk memperoleh kontrol atas tanah yang bisa dibagikan kepada orang miskin. Kehancuran komunisme di Indonesia memicu kemunculkan sebuah komik berjudul ‘Bandjir Darah di Kabut Pagi’.

Tidak puas dengan hanya mengagumi karya orang lain, Wid NS mulai membentuk dirinya sendiri, memasuki Sekolah Menggambar Akademi Seni Rupa di Yogyakarta. Setelah berjalan satu setengah tahun ia meninggalkan sekolah, bekerja di Badan Penerangan Pemerintah sebagai ilustrator. Pada 1967 ia mendengar bahwa penerbit komik Cahaya Gumala menerima kiriman naskah, dan dia mengirimkan beberapa dari karyanya. Yang mengejutkan, komiknya tidak hanya diterbitkan, tapi publik juga meresponnya dengan antusias.

Karir Wid NS mulai berjalan baik pada tahun 1970-an. Dibawah Presiden Soeharto, komik politik dilarang, tetapi komik yang menampilkan pahlawan-pahlawan super, bintang silat, roman remaja, dan humor menjadi sangat populer. Wid NS meninggalkan tanda di sejarah komik Indonesia sebagai kreator Godam, pahlawan super bergaya Indonesia.

Wid NS mengaku bahwa ‘Godam’ terinspirasi dari serial legendaris, ‘Superman’. Pada waktu itu penerbit menawarkan kesempatan untuk membuat komik pahlawan super, tidak hanya komik silat atau roman remaja yang sangat populer ketika itu. “Saya diminta untuk membuat komik seperti ‘Superman’, jadi saya membuat ‘Godam’ sekitar 20 puluh buku yang masing-masing terdiri dari 10 sampai 20 panel. Komik ‘Godam’ sangat sukses sampai-sampai saya mampu pindah ke Jakarta selama tiga tahun,” Kata Wid NS dari rumahnya di Yogyakarta.

Meskipun begitu sejak tahun 1980-an, kepopuleran komik Indonesia mulai menghilang. Anak-anak muda Indonesia mulai ditarik oleh media baru seperti televisi dan pasar komik mulai penuh dengan produk-produk Amerika dan jepang. Banyak rekan seprofesi Wid NS mulai beralih profesi, dan kritikus seni Indonesia mulai berbicara tentang ‘kematian komik Indonesia’. Tetapi Wid NS sendiri mampu bertahan mempubliskasikan karyanya lewat surat kabar dan majalah lokal, dan menginspirasi seniman muda supaya tekun menempatkan Indonesia di peta komik dunia sekali lagi.

Untuk Lattitudes, Wid NS menciptakan sebuah komik strip unik. Komik ini digambarnya berdasarkan ketertarikannya kepada sejarah Indonesia, menceritakan sebuah cerita rakyat Jawa di awal mula kerajaan Mataram. Karakter Pembayun adalah seorang perempuan yang menjadi korban politik walaupun ia mendambakan perdamaian. Pembayun hanyalah satu karakter dari serial kisah Mangir yang mendeskripsikan konflik di dalam kerajaan Mataram pada paruh pertama abad ke-16, yang berada di bawah pemerintahan Pangeran Senapati. Cerita Pembayun tidak hanya mendeskripsikan seorang perempuan yang mengalami rasa pahit penindasan, namun kehidupan kerajaan yang bobrok, di mana pengkhianatan, kekejaman, dan pertumpahan darah menjadi hal yang biasa. Ini bukan hanya sebuah kisah rakyat berdasarkan sejarah tetapi juga peringatan, sebagaimana orang Indonesia mencoba untuk membebaskan diri mereka dari sejarah kekerasan dan korupsi.

*)Diterjemahkan dari : WID NS:Comic Crusader

Catatan Editorial: Artikel ini pertama kali dipublikasikan tahun 2002 di Lattitudes, kurang lebih setahun sebelum Wid NS meninggal pada tahun 2003.

Oleh -
2 166
Critics

Oleh: Kurnia Harta Winata

Hari ini hari yang langka. Saya bertemu dua editor saya dari dua penerbit yang berbeda, di waktu dan tempat yang sama. Dua-duanya menampar saya. Menyebalkan. Tidak secara fisik memang, tapi tetap saja membekas sampai saya pulang. Yang satu sepertinya tidak disengaja. Yang satu lagi tampaknya sengaja. Mana yang sengaja dan mana yang tidak, tidak perlu saya katakan di sini.

Yang pertama adalah pernyataan bahwa kritik komik di Indonesia mati. Permasalahannya bukan karena tidak ada yang bersedia mengkritik atau tidak ada komik yang layak dikritik. Tapi karena masyarakat komik kita memang nggak tahan kritik. Lucu kan. Biasanya kita menganggap kritikus itu sebagai pihak yang menyerang komikus, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kritikus lah yang diserang komikus beserta penggemar-penggemarnya. Kalau cara-cara kaskus, mungkin kritikus ini ditimpukin bata ramai-ramai sampai nyembah-nyembah minta maaf. Dan saya yakin, komikus yang berkepentingan malah cenderung girang gembira jika mengalami fenomena ini.

Yang kedua adalah pertanyaan, “Apakah komikus Indonesia sadar kalau mereka ini butuh penulis cerita?” Kalau tidak mereka ini super duper hebat, karena ilmu ngomik dan ilmu bercerita adalah hal lain. Sebagai catatan, dalam konteks ini komik semacam Anak Kos Dodol Dikomikin bukan kerja sama antar penulis dan komikus. Karena Dewi Rieka sebagai penulis novel Anak Kos Dodol tidak menulisnya sebagai komik. Pertanyaan susulan yang muncul adalah, “Kalau butuh, adakah yang kompeten dalam hal ini? Sudah adakah ilmunya?” Ilmu menulis komik yang dimaksudkan dalam hal ini adalah ilmu yang berkaitan dengan dramaturgi, pengenalan tokoh, membuat twist cerita, hingga kemampuan mengaduk-aduk emosi penonton. Adakah pendidikan komik mengajarkan hal itu?

Pernyataan matinya kritik komik di Indonesia karena penolakan komikus terhadap kritik dapat kita bantah. Cukup tunjukkan saja bukti-bukti di media sosial. Komikus-komikus, amatir maupun profesional, ramai-ramai mengunggah karya dengan tagline, mohon komentarnya, kripik pedasnya, kritik dan masukan dipersilakan.  Ah…
Di saat-saat yang sama, beberapa komik yang diunggah tersebut juga mengangkat tema kritik. Dalam komik tersebut dapat lah kita lihat pandangan komikus-komikus yang bersangkutan dalam menanggapi kritik. Jempol, pujian, dan komentar-komentar yang datang dapat memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat komik kita juga memiliki pandangan yang sama. Coba saya ulang polanya di sini.

Satu tokoh menohok-nohok tokoh utama (yang biasanya merupakan citra diri komikus) dengan kritiknya.
Bla bla bla… Lalu punch line di panel terakhir. Tokoh utama akan ganti menohok tokoh tukang kritik tadi dengan kenyataan bahwa tokoh tadi; tidak berkarya atau kelakuannya lebih hancur dari tokoh utama yang dikritik.

Jadi apakah saya boleh mengatakan, Komikus kita mau dikritik. Asal…oleh orang yang ia anggap lebih hebat darinya.

Itulah kebiasaan mayoritas orang Indonesia. Mau dikritik. Asal ada asalnya. Harus membangun. Harus ada solusinya. Harus dari orang yang mampu melaksanakan dan mau melakukan lebih baik dari yang ia kritik.

Maka sudah sewajarnya kritikus kita wafat satu persatu.

Menurut hemat saya, kritik terhadap komik cuma butuh satu syarat. Tidak menyerang pribadi. Yang diomongkan karyanya, bukan tampilan atau kebiasaan sehari-hari komikus. Sudah. Itu saja. Karena kalau tidak, namanya sudah bukan lagi kritik komik. Tapi kritik komikus. Seperti yang saya lakukan barusan.

Kita lanjut untuk mengobrolkan tohokan nomor dua. Saat pertanyaan itu dilontarkan, sungguh benar saya ingin membantah. Ketika saya mengomik, saya pakai ilmu kok. Memangnya saya nggak pakai mikir. Saya rencanakan komik saya. Halaman per halaman. Panel per panel. Sungguh!

Tapi untung saya mampu menelan bantahan sebelum ia keluar dari mulut. Saya sempat menanyakan pada diri saya, “Apakah saya mampu merumuskannya? Karena kalau tidak dapat dirumuskan ia tidak dapat diturunkan. Kalau tidak dapat diturunkan, bagaimana bisa disebut ilmu? Kalau saya bisa, mana buktinya?”

Lagipula, apakah memang ada komik Indonesia yang sempat membuat pencapaian seperti yang mampu dicapai para pendongeng dunia. J. K. Rowling, Akira Kurosawa, L Montgomery, Urosawa Naoki, Adachi Mitsuru, Tim Burton, James Cameron, Pramoedya Ananta Toer.

Saya sadar sepenuhnya saya bisa dibenci banyak orang karena menulis ini. Saya sadar sepenuhnya ke-komikus-an saya yang cuma seupil bisa dicungkil-cungkil.

Tapi saya juga harus jujur. Tidak ada komik Indonesia yang benar-benar baik dalam pencapaian cerita. Baik dari komikus generasi baru atau komikus yang telah dianggap legenda. Saya sudah cukup banyak membaca buku dan menonton film sehingga berani mengatakan pada diri saya sendiri, dan sekarang pada pembaca sekalian. Belum ada komik Indonesia yang mampu menyeret saya ke dunianya, mengaduk-aduk emosi, membangkitkan ketegangan, memberikan perasaan mengambang, dan memaksa saya terjun ke perenungan mendalam mengenai kehidupan.

Selama ini saya memberi standar terlalu rendah pada komik lokal. Komik yang baik adalah mampu bercerita dengan runtut dan membangkitkan emosi dalam diri saya. Komikus yang masuk dalam kriteria ini pun sebenarnya tidak bisa dibilang banyak. Letupan-letupan emosi yang berhasil mereka bangun pun belum dapat dijadikan parameter, karena masih bisa dipertanyakan apakah mereka bisa mengulanginya kembali dengan sadar. Apakah keberhasilan ini hanyalah kebetulan, atau hal yang memang sudah dirancang berdasar kemampuan.

Saya komikus (semi)profesional. Bukan perkara saya mampu mencapainya atau tidak, tapi sudah sewajarnya sasaran pencapaian saya adalah pencapaian para pendongeng dunia. Saya tahu saya punya ilmu. Tapi apakah ilmu saya itu cukup?

Tidak.

Kalau cuma panel, balon kata, tangga dramatik, penokohan, lay out, atau unsur-unsur komik lain yang ada di buku sih saya kenal. Tapi menciptakan karya yang mumpuni tidak cukup hanya dengan itu. Ini nyambung ke pertanyaan editor saya selanjutnya,

“Kalau belum ada ilmunya, bagaimana bisa ngomong ‘bersaing dengan cerita-cerita impor’? Bagaimana tukang cerita kita yang hanya berbekal ilham dan mood mampu bersaing dengan cerita-cerita yang digarap dengan kesabaran, perencanaan matang, dan ilmu-ilmu yang telah mapan?”

Tentu kemampuan tersebut tidak dapat diraih dalam waktu singkat. Dalam konteks komik Indonesia, ini membutuhkan lebih dari satu generasi. Regenerasi kata kuncinya. Semangat yang saya tahu sudah diusung dan dilaksanakan oleh komikus muda semacam Kharisma Jati dan Matto. Namun tanpa rumusan ilmu yang dapat disampaikan secara terstruktur, seberapa efektif regenerasi ini dapat dilakukan? Kalaupun mereka menggunakan sistem “nyantrik”,  menggandeng calon komikus untuk bekerja bersama mereka, seberapa banyak waktu dan seberapa banyak komikus yang dapat mereka jangkau?

Kita membutuhkan ilmu yang terstruktur. Yang dihimpun dari segenap pengalaman dan penemuan para komikus lintas generasi yang sudah ada. Sehingga segala jatuh bangun, keringat, dan percobaan dari komikus yang sudah ada tidak sia-sia. Dapat diteruskan ke komikus yang lebih muda, atau bahkan komikus yang lebih berpengalaman sekalipun.

Di sinilah bagian yang hilang dari dunia komik kita. Kritikus komik.

Pihak yang membedah komik. Yang menganalisanya sampai serpihan-serpihan terkecil. Yang mencoba memahami apa yang ingin dicapai komikus. Apa yang seharusnya (dapat) diraih komikus. Apa saja yang telah dilakukan dan dicoba oleh komikus. Apakah komikus tersebut berhasil. Ataukah gagal. Mengapa itu berhasil. Kenapa itu gagal.

Kritikus ini mesti merumuskan analisanya terhadap suatu komik lalu mendokumentasikannya. Sehingga selain menjadi bahan refleksi bagi komikus yang bersangkutan, rumusan itu juga menjadi bahan pelajaran bagi komikus lain! Selama bergenerasi-generasi!

Rumusan-rumusan yang dirangkum inilah yang kemudian bisa kita sebut ilmu. Unsur-unsur yang dapat dipraktekkan  dan digunakan sebagai alat analisa. Juga tentunya bisa diturunkan.

Komikus yang tidak tahan kritik dan kritikus yang tidak tahan hujat adalah lingkaran setan. Saya yakin di Indonesia masih ada komikus yang bersedia menerima kritik. (Kalau pun dianggap tidak ada, dengan takut-takut saya menyodorkan diri). Tapi ini tidak serta merta membuat lingkaran setan itu putus. Kalaupun ada kritik pedas yang dilemparkan ke seorang komikus dan tidak membuat komikus itu tersinggung, tetap saja akan ada orang-orang lain yang memandang miring kepada si kritikus tersebut.

Ini selayaknya ditanggulangi dengan bagaimana kritik yang dilontarkan tersebut dapat dirasakan berguna. Bukan cuma oleh yang dikritik, tapi juga oleh masyarakat komik secara luas. Ini bukan saja tanggung jawab kritikus. Ini juga tanggung jawab komikus. Caranya?

Komikus membantu kritikus untuk mengkritik karya-karya mereka.

Komikus membagikan ilmu(mentah)nya, sedangkal apa pun. Yang di sini berarti penemuan pribadinya dalam berkarya, yang ia gunakan sebagai dasar membuat komik. Ilmu (mentah) ini kemudian dapat digunakan sebagai (tambahan) alat analisa oleh kritikus. Baik digunakan sebagai alat analisa untuk komik komikus yang bersangkutan, atau komik komikus yang lain. Dari gabungan pengetahuan berbagai komikus dan analisa berbagai kritikus inilah kita mendapatkan rumusan ilmu. Rumusan ini dapat dirangkum dan diruntutkan untuk kemudian digunakan sebagai bahan ajar (yang merupakan tugas akademisi).

Budaya menerima dan memahami kritik ini akan berkembang juga menjadi budaya “dewasa” dalam menghadapi editorial komik. Salah satu masalah yang masih dihadapi industri komik Indonesia.

Sedang budaya menganalisa komik menjadi pijakan bagi munculnya editor-editor komik. Di mana editor-editor komik ini tidak lagi harus berasal dari pembuat komik. Yang bagi saya, kurangnya editor komik juga menjadi masalah di industri kita. Dari sekian judul komik Indonesia yang terbit, berapa persen kah yang benar-benar mengalami sentuhan editor yang kompeten? Belum lagi kalau kita menghitung komikus-komikus muda potensial yang tidak merasakan pemertajaman karya oleh editorial sehingga gagal berkembang maksimal?

Nah, karena dalam industri ini saya ada di pihak komikus, maka saya ingin mengajak sesama saya untuk memulainya. Berbagilah pengetahuan dan pengalaman, tahapan, pertimbangan,  atau apapun mengenai cara berpikir kalian saat membangun komik. Ajakan ini juga tertuju kepada saya, yang sering malas dan enggan membuang energi. Setahu saya, baru Sweta Kartika yang melakukannya dengan sungguh-sungguh. Saya percaya masih ada yang lain. Tapi mohon dimaklumi, selain kurang gaul saya ini juga pikun.

Dan saya berdoa agar para kritikus komik diberkahi keberanian dan ketahanan mental.

Klop dah! Semoga dunia perkomikkan Indonesia semakin mengasyikkan 🙂

2 Mei 2013, Sanggar KOEBUS, Yogyakarta


Catatan Editorial: Beberapa bagian akhir tulisan ini dihilangkan karena dirasa tidak penting, namun apa yang dihilangkan tidak melenyapkan keseluruhan esensi ide yang berusaha dibangun oleh Kurnia.

Tulisan ini dimuat juga di laman Panduaji

Oleh -
0 103
Man
Dokumentasi Dwi Klik Santosa

Oleh: Dwi Klik Santosa

Man sang pencipta komik Mandala Si Golok Setan. Diksi ini seperti saja tercatat dengan rapi di ingatan saya. Dan mudah saja muncul jika salah satu dari kata kunci itu, ditanyakan. Dan Perlu saya akui ternyata ingatan saya tentang Man selama ini memang hanya sebatas itu saja. Saya juga tidak tahu jika Man itu kepanjangan dari Mansjur Daman. Lahir diJakarta, tepatnya di Tanah Abang, pada 3 Juli 1946. Yang lebih syok lagi mendapatkan data, ternyata setelah melihat pameran karyanya dalam tajuk Retro Man di Bentara Budaya Jakarta, malam tadi (11/04), tak kurang dari 83 judul buku komik, dan jika diurai dari jilid ke jilid, lebih dari 200 judul. Gila!…

Gilanya lagi, prasangka saya tentang karya komik Indonesia selama ini, kurang memiliki ciri yang spesifik, ternyata picik dan picisan belaka. Karena sewaktu menginjak usia kuliah, saya terlampau memandang dan mengagumi komik-komik karya Alex Ross, komikus Amerika yang realis dan detailis, begitu tajam dan indahnya menyelesaikan bendel demi bendel atas karya serial “Superman.” Sudah begitu, nama-nama Goscinny dan Uderzo, si komikus serial “Asterix dan Obelix” dari Perancis, dan juga, Herge, si pengkarya serial “Tintin” dari Belgia, dan lantas, Morris, si kreator serial “Lucky Luke”, seperti telah menancapkan dogma tersendiri dalam pikiran saya menyoal karya komik, sejak saya SMP, bahkan.  Meski banyak komik dengan berbagai judul dan corak, barangkali sudah saya baca sejak usia SD, namun, harus saya akui ketiga nama serial komikus lebih mudah muncul sebagai ingatan. Memang pula sejak saya SMA, lantas nama-nama keren dari dunia Manga, Jepang serasa muncul menjatuhkan kekaguman. Komik-komik seri Kung Fu Boy, Gong, dan Dragon Ball, bagaimana pun adalah judul-judul serial yang pernah saya gandrungi dan saya kejar terus seri terusannya. Selain juga komik-komik silat Taiwan, Tony Wong.
Namun begitu, ingatan saya pernah pula rekat mencatat nama-nama, Ganes TH, Hasmi, RA Kosasih, Jan Mintaraga, Man, dan sebagainya, dari ranah komik Indonesia. Namun dari semua komik Indonesia yang pernah saya baca, kiranya tak sefanatis menghikmati dan mencermati karya-karya Djair. Serial Jaka Sembung, Malaikat Bayangan, Jaka Geledek dan Si Tolol, dari puluhan bendel itu saya rasa telah menjadikan ikatan tersendiri menyoal kecintaan saya terhadap kasanah komik nusantara. Begitu sangat-sangat saya mengagumi Djair melalui karya-karya komiknya itu. Bahkan lebih sering menangis saya karena terlampau larut dan tegang menghikmati alur cerita yang digulirkannya. Ciri-ciri humanisme dan nasionalisme sekaligus, ada dalam tiap cerita yang disuguhkan dalam serial komik Djair. Dan soal itu, tentu saja saya tandai betul, sosok Djair sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perkomikan Indonesia.

Ternyata, miskin dan jauh dari kaya belaka, asumsi dan pendapat yang telah saya yakini bertahun-tahun dan selama ini. Begitu saya menyaksikan pameran karya Man, berikut dengan buku-bukunya yang saya borong (tentu saja minta tanda tangan sipengarangnya) malam ini, betapa syok saya.

”Ia begitu ritmis
Tak kalah dengan detail Alex Ross
Ia begitu romantis
Senada dengan humanis Djair
Ia begitu idealis
Memiliki gregetnya yang khas
orang gila dari nusantara”
Gila, benar-benar gila! Gila itu bawaan dari lahir atau bisa dilatih, ya? Begitulah, selalu saja muncul pertanyaan yang begitu, ketika kembali dibukakan mata saya untuk melihat orang gila yang level kegilaannya demikian ‘gila’. Memang gila saja, logika saya ketika masuk, mencerna dan memahami sebuah fakta yang rasa-rasanya mustahal bin mustahil. Membuat komik sejak umur 14 tahun. Dicibir, dianggap sebagai yang membuat hal yang sia-sia, karena komik adalah barang terlarang menjadi dogmasi para orang tua kepada anak-anak pada zaman dulu, tapi sampai usia 68 kini bahkan, masih saja hati dan tangannya bergerak-gerak untuk terus mengkomik.  Padahal menjadi dilema, bahkan jargonan yang ironis. Bahwa, ”daripada mengkomik mendingan melukis”, sudah dapat uangnya tidak seberapa, begitu njelimet menghabis-habiskan waktu saja.
Menjadilah gila yang sempurna
Apa guna tanggung, dan juga pura-pura gila
Apalagi gila dalam arti yang sebenarnya
Kegilaan yang sempurna. Begitulah, kiranya Man telah menjadi dirinya yang Man. Ia asyik dan enjoy dalam menjalani kesukaan dan kehendak batinnya. Perlu saya syukuri dengan segenap ketulusan dan kesungguhan, bahwa, ini nyata. Dan perlu saya banggakan, bahwa, apa kurangnya dari nusantara kita? Memang banyak yang mercusuar berpredikat pecundang atau abal-abal. Tapi saya rasa, pesimisme tak harus dan berlebihan. Selalu tersedia, dan akan selalu ada panutan itu, untuk sekedar membukakan mata. Seorang anak bangsa yang teguh sebagai seorang Indonesia yang idealis.  Yang punya nyali, merah sebagai darah, dan putih sebagai yang lugu atau suci.
Pondokaren
12 April 2013
00.30

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu