Telisik Nalar

Oleh -
0 503
FKF limited edition

Seorang teman, ketika mendapati pengumuman tentang penyelenggaraan lomba komik fotokopi The Semelah yang merupakan bagian dari Biennale Jogja XII, mengernyitkan dahi bertanya-tanya: “kenapa musti fotokopi sih, bukannya sekarang mesin fotokopi bisa menghasilkan copy yang bagus, yang nggak kalah dari mesin cetak biasa?” “Kupikir bukan masalah fotokopinya, tapi semangat untuk berproduksi lewat cara-cara yang tidak umum. Lewat fotokopi, karya bukan lagi milik pribadi. Tak memiliki hak cipta. Bisa dilipatgandakan semaunya, sebanyak-banyaknya. Supaya karya bisa dijangkau banyak orang”, ujar saya. Tidak puas dengan jawaban saya, teman itu kemudian menimpali, “bedanya apa dengan kita yang meng-copy buku-buku penulis Barat semaunya. Buku-buku itu punya hak cipta, tapi tetap saja bisa kita copy. Lantas apa bedanya dengan cara berproduksi komik fotokopi? Kenapa mesti fotokopi?” Sampai sini saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Saya belakangan merasakan sesat pikir. Atau paling tidak kurang lengkap penjelasan saya ketika menanggapi pertanyaan teman saya itu. Maksudnya, tentu lomba komik Bienalle Jogja XII mengedepankan produk komik fotokopi. Itu jelas, sebab karya-karya yang mesti masuk ke panitia lomba adalah komik fotokopi. Namun apa yang paling penting untuk dimaknai bukan hanya cara-cara berproduksi yang khusus, melainkan, menurut saya, semangat self-published yang berbeda dengan semangat karya komik non-fotokopi yang memiliki hak cipta yang dilindungi oleh Undang-Undang. Pada jenis karya yang disebut terakhir, seringkali orang tidak diperbolehkan untuk memperbanyak ciptaan tanpa izin dari penerbit atau pemilik karya – walau nyatanya banyak orang mengangkangi peraturan tersebut. Apa itu semangat self-published ? Mengapa ia bisa begitu berbeda dengan karya komik yang memiliki hak cipta? Jawabannya mungkin bisa dicari melalui Festival Komik Fotokopi, bagian dari festival ekuator Biennale Jogja XII , yang diselenggarakan oleh Daging Tumbuh (DGTMB) bekerjasama dengan Biennale Jogja, mulai tanggal 16 Desember sampai 22 Desember 2013.

Kopian Masa Lalu

Festival Komik FotokopiMHadid

Saya pertama-tama penasaran dengan tajuk Festival Komik Fotokopi, bukan lantaran saya tidak pernah membeli produk komik fotokopian, tetapi karena saya penasaran terhadap “apakah pantas komik fotokopi masuk ke dalam sejarah komik Indonesia?” Beng Rahadian sempat berkata kepada saya bahwa komik fotokopian perlu dicatat. Waktu ia berkata itu saya tidak paham mengapa komik fotokopi menjadi penting. Bukan apa-apa. Saya tahu bahwa Jogja di pertengahan tahun 90-an marak dengan semangat komik Indie. Namun saya yang tidak mengalami hidup di pertengahan tahun 90-an di Jogja – tahun-tahun yang konon menjadi penanda semangat komik Indie di kota itu – menjadi buta akan medan khusus tersebut. Beng sendiri mencatat dengan baik fenomena semerbak komik Indie di Jogja pertengahan tahun 90-an dengan cara menyebut sifat dinamis bentuk komik yang tidak hanya bertahan pada selembar kertas, melainkan juga pada dinding tembok, kanvas, tong yang dibelah, karya grafis, dan berbagai macam medium lain. Ia menyebutnya sebagai sebuah kedinamisan antara praktik dan wacana yang memerdekakan gagasan, sambil berkata bahwa ketika itu pemahamannya akan komik menjadi lebih cair.

Apakah kemudian Festival Komik Fotokopi tersebut menjadi penanda lain dari pemerdekaan gagasan komik, dalam arti keluar dari pakem umum komik, sebuah bentuk yang terdiri dari panil, balon kata, caption, dan narasi? Sebelum sampai ke jawaban atas pertanyaan ini, ada baiknya mencermati kata dari Terra Bajraghosa yang menyebut bahwa festival tersebut pertama-tama adalah nostalgia atas apa yang pernah terjadi di kota Jogja pada pertengahan tahun 90-an. Ihwal sifat-sifat nostalgik pada festival tersebut kembali diulangi oleh X-Go yang mengatakan kepada saya bahwa festival tersebut baginya adalah romantisisme Indie yang tidak pernah usai, selain sebagai sebuah cara untuk mengenalkan bahwa komik fotokopi itu ada. X-Go sendiri adalah petualang komik Indie sejak tahun 2003 yang tampaknya enggan beranjak dari keasyikan cara berproduksi a là fotokopi yang bagi publik seperti saya cenderung murah dan terjangkau. Orang boleh memicingkan mata, tak bisa menikmati sifat low-budget production yang melekat pada komik fotokopi, atau merasa bahwa staples komik fotokopi tidak enak dilihat, namun nyatanya titik berat pada “nostalgia” dan “romantisisme” mengantar Festival Komik Fotokopi pada sifatnya sendiri yang “khas”.

Sebelum bicara mengenai kekhasan yang saya rujuk di atas, saya perlu untuk setidaknya berbicara tentang masa lalu. Soal scene komik Jogja pertengahan tahun 90-an tak bisa dilepaskan dari apa yang disebut sebagai core comic yang, oleh Nano Warsono, disebut sebagai “pemicu lahirnya scene indie di Jogja”. Core Comic, dengan produk fotokopiannya, diedarkan bukan melalui galeri seni, melainkan tempat-tempat seperti bazaar, pasar seni, Sunmor (Sunday morning) UGM, dan pekan komik. Dimulai oleh core comic, lalu berlanjut ke “pewaris” semangatnya, yakni – salah satunya – Daging Tumbuh yang muncul di tahun 1998. Nano mengatakan bahwa “Daging Tumbuh muncul atas dasar keinginan untuk membuat komik “apa saja” tanpa ada batasan artistik, cerita, ataupun standar formal layaknya komik yang beredar di pasaran”. Sampai di sini orang bisa tahu sedikit mengenai kelahiran scene indie beserta produknya, meski saya tidak yakin tentang apa sebenarnya semangat yang melandasi kelahiran scene Indie ketika itu. Bahan untuk berbicara mengenai “sejarah komik Indie Jogja tahun 90-an” harus saya akui sangat terbatas. Dengan berbagai macam pelaku dan komunitas yang mewarnai medan komik Indie yang ada ketika itu, tentu sangat wajar bila masing-masing pelaku memiliki semangatnya sendiri. Dan kemudian menjadi wajar bila saya bertanya: apakah semangat umum untuk berfotokopi dilandasi oleh keinginan untuk membebaskan diri dari narasi sosial-politik (apapun bentuknya) yang berlaku waktu itu? Atau semangat berfotokopi semata ingin melawan bentuk komik pada umumnya (dengan onomatope, panil, caption, balon kata, dan lain sebagainya)?       

Semangat yang masih terasa samar ini ingin saya letakkan dalam kekinian, yang tentu saja telah berganti rupa dan pelaku. Para pelaku komik Indonesia sekarang sangat boleh jadi asing terhadap nama-nama seperti Bambang Toko, Sigit Kuncoro, Ade Dharmawan, dan kawan-kawan lain dari core comic. Dan kini orang juga bisa melihat bahwa kekhasan produksi fotokopi sedang berdiri di tengah wacana komik Indonesia kontemporer yang mengalami pergeseran, yang antara lain bisa dilihat melalui bibit transformasi medium dari kertas ke komik digital. Transformasi ini ditandai oleh peluncuran aplikasi e-comic untuk smartphone berbasis Android pada 29 November 2013. Bukan kebetulan bila inisiatif transformasi tersebut bukan datang dari pelaku, melainkan dari otoritas. Ia sangat diharapkan dan bahkan dinisiasi oleh pemerintah Indonesia sendiri – melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif – yang bekerjasama dengan pemerintah Jepang dalam pengembangan aplikasi e-comic. Menurut berita yang

Oleh -
0 171
Kompetisi Komik Indonesia 2013

Oleh: Beng Rahadian

Tulisan ini dibuat saat saya menanggapi “keramaian” di groupchat bersama beberapa komikus yang mempersoalkan KKI 2013, kira-kira seminggu yang lalu, terutama setelah rilis hasil penjurian. Saya pikir ini bisa menenangkan, ternyata masih ada “kekeliruan” memahami kerja KKI. Betul juga saran salah satu member groupchat itu agar tulisan ini dipublikasikan.

Baik, saya co-pas saja:

————–

Shubuh tadi ada yang whatsup khusus dengan nada “nasehat” bahwa tahun depan kalau bikin kompetisi itu harus ini dan itu…. (pokoknya ini nggak beres lah) setelah baca review dan saya scroll ke atas sedikit di sini pun ramai dibicarakan. Saya mau nulis untuk urun rembuk saja, karena yang patut menjelaskan hasil kompetisi adalah Dewan Juri.

Saya mau sedikit cerita mudah2an ini bisa sedikit menjelaskan di mana posisi KKI ini berdiri, khususnya di ranah komik kita. Kompetisi ini mengharapkan munculnya generasi komik usia produktif untuk membuat karya yang inovatif dalam tuturan. Memang tahun lalu dan tahun sekarang berbeda jika dilihat karya juara pertamanya. Jurinya pun separuh berbeda. Sehingga KKi diharapkan menjadi dinamis dan mampu memunculkan sesuatu yang terus baru.

Sebelumnya. FYI: Ini proses Pertama penjurian: Karya total diseleksi awal hingga 75 karya, ini menyisihkan karya2 yang berbentuk strip, semuanya hitam putih, tidak selesai (misal 17 halaman dari 22 halaman), tidak sampai 16 halaman, karya masuk melebihi tenggat dan lain-lain. Ini dilakukan bersama perwakilan Juri dan team asisten selama 3 hari.

Kedua, Juri membaca bersama (tatap muka. minus Rini Sugianto –> dikirim by email) karya-karya yang lolos seleksi kedua (75 karya) dan berdiskusi, kemudian memberikan point pada 30 karya yang dianggap layak dari 75 karya itu, proses pemberian point ini dilakukan di rumah masing-masing.

Ketiga, Team Asisten menerima masing-masing 30 karya hasil pilihan Juri, yang jelas pasti berbeda-beda. Kami menyusun mulai dari karya yang diberi point oleh keempat juri, hasilnya ada 9 karya yang terpilih, karya itu diurutkan sesuai kalkulasi jumlah pointnya, hasilnya adalah urutan final. Untuk mencari sampai ke 16 besar, kami lanjutkan dengan memilih karya yang dipoint oleh 3 juri, kemudian diurutkan lagi hingga 30 besar.

(30 besar ini representasi potensi kompetisi komik Indonesia sebenarnya, menurut saya)

Dalam sebuah kompetisi, bagi pemburu hadiah/ yang terbiasa ikutan strateginya adalah: mengenali karakter dan selera Juri, ini sudah umum dilakukan. Tapi ingat, Juri KKI ada 4 dengan selera yang berbeda-beda pastinya. Kecenderungan Juri untuk “mengangkat” salah satu peserta itu akan susah karena dia harus beradu point dengan Juri lain, meskipun memberi point lebih atau mengecilkan point dari seorang Juri itu bisa pengaruh besar, ini terjadi di KKI tahun lalu.

Hasil Final ini dishare kembali ke Juri dan kami menunggu approval, jika tidak ada usulan apa-apa, maka hasilnya sudah siap untuk ditandatangani oleh Ketua Juri. Point dalam penjurian tidak seperti point dalam olah raga yang kriterianya jelas dan ukurannya relatif mudah, yakni jumlah memasukkan/ pukulan/ kecepatan waktu dll. Komik itu orang tuanya kesenian, aspek rasa menjadi dominan. Pertanyaannya ‘rasa’ nya siapa? —-> karena kita sepakat berkompetisi, maka rasa yg dipakai adalah rasa para juri. Karena ada 4, maka rasa ini disepakati dalam point-point untuk mengukur keberhasilan/ pencapaian dan menyentuh rasa. Subyektif ya sudah pasti, tapi jadinya intersubyektif 4 orang.

Apakah dengan voting pembaca, maka kompetisi ini bisa menjadi lebih baik, saya kira bisa ya dan bisa tidak, karena jelas voting pembaca itu mencari komik populer (yang mudah dibaca itu tadi) dan referensi voters. —> tapi sejauh ini, KKI belum berfikir ke arah sana, siapa tahu?

Sekarang perihal posisi KKI. Di antara sekian Kompetisi komik yang dilakukan oleh berbagai macam pihak, dalam dan luar. KKI punya misi utama yakni menjadi barometer pencapaian kerja komikus. KKI harus memberikan apresiasi pada karya-karya yang visioner dan menawarkan sesuatu yang baru. KKI tidak dapat begitu saja memberikan nilai lebih kepada komik-komik linear sementara ada karya yang memunculkan cara bertutur lain, mengharapkan kemauan pembaca untuk berfikir/ menyelami.

KKI harus bersikap kepada apresasi, memang karena KKI adalah program Kemenparekraf, maka ujian sesungguhnya adalah: jualan. Tapi itu bukan tugas KKI lagi, KKI hanya mengantarkan ke “gerbang”, sebetulnya —> ini yang hilang di PPKI kemarin adalah Bursa Naskah, jadi Penerbit diundang untuk melihat karya-karya KKI ini dan ditindak lanjuti di penerbitan masing-masing. (MnC digital sudah melihat peluang ini untuk materinya) dan saya juga sudah mengincar beberapa karya untuk ditindak lanjuti.

Saya sendiri yakin, kalau KKI ini sudah pasti tidak dapat menyenangkan semua orang, termasuk peserta. Ibarat Gading, jika dicari retaknya pasti ketemu. Tapi saya senang dengan tulisan simsim yang berusaha memberikan opini, jika lebih banyak lagi yang menulis seperti itu, maka KKI perlu bersyukur jika Kompetisi ini nyatanya “dimiliki, dakui” oleh pelaku komik kita. Sedih banget, justru jika KKI dicuekin.

Sedikit ajakan bagi teman-teman. Saat kita mengikuti kompetisi, maka secara tidak langsung kita percaya pada Jurinya. Dan Juri sudah bersikap dengan memilih pemenang.

Sumber utama

Oleh -
0 363
Mangafest 2013

Mohammad Hadid

Saya berterima kasih kepada Tamam, Naufal, Anika, dan Fanny, sebagai perwakilan panitia Mangafest, atas kesediaan mereka untuk diwawancarai demi kepentingan penulisan esei ini.  

Bagaimana Anda membayangkan “masa depan Indonesia” hadir sebagai tema di Mangafest UGM 2013 yang baru saja dihelat pada 9-10 November lalu? Apakah dengan mendengar tema tersebut Anda lantas membayangkan sebuah festival di mana segala hal serba-futuristik berseliweran di depan mata, membuat takjub setiap orang yang melihatnya? Jika demikian yang Anda bayangkan, maka siap-siaplah untuk kecewa. Mereka yang datang ke festival tersebut tidak akan bisa menikmati hal-hal futuristik – kecuali tentu saja pada pameran komik yang menjadi bagian dari festival tersebut. Artinya di sini masa depan Indonesia justru dibayangkan sedikit lewat imajinasi sekuensial ala komik, bukan pada keseluruhan festival itu sendiri.

Festival tersebut rutin diadakan tiap tahun oleh mahasiswa Sastra Jepang UGM. Jadi mula-mula orang bisa melihat bahwa ini adalah acara mahasiswa, yang mula-mula diadakan dengan maksud untuk mengisi ketiadaan acara untuk mahasiswa di jurusan tersebut. Dan kini, festival tersebut sudah memasuki tahun ketiga. Meski perannya “hanya” sebatas pengisi kekosongan acara mahasiswa, agaknya saya bisa berasumsi bahwa festival kecil ini juga adalah cara tentang bagaimana sebuah negara seperti Jepang dilihat dari kacamata sebuah negeri pasca-kolonial seperti Indonesia. Tentu anda tidak bisa mengabaikan kenyataan umum bahwa Jepang pun sudah lama hidup sebagai sebuah “objek” ekonomi sekaligus budaya populer di negeri ini, bukan? Cosplayer? Laruku? Manga terjemahan? Toyota, Honda, Yamaha, Sony? JKT48? Bagi para nasionalis komik Indonesia, Jepang (dengan gaya berkomiknya) barangkali adalah ancaman bagi kemurnian gaya berkomik ala Indonesia. Di bidang ekonomi-politik, Jepang adalah dewa kemakmuran dengan gelontoran dana pinjaman negara yang disalurkan ke banyak proyek pemerintah.  Negara tersebut jelas diimajinasikan dengan banyak cara di sini, baik dengan cara positif maupun negatif.

Ah, ya, saya sempat heran, kok jurusan Sastra Jepang ngadain Mangafest? Apa pula hubungan antara Sastra dan komik? Bukankah seharusnya mahasiswa jurusan Sastra mengadakan festival Sastra? Apakah komik itu Sastra juga, artinya punya nilai artistik yang sama seperti karya-karyanya Haruki Murakami atau Ryūnosuke Akutagawa, dua pengarang Jepang yang karya-karyanya diakrabi publik pembaca Sastra di Indonesia? Sebelum menjawab antologi pertanyaan di atas, ada baiknya kita mencerna cerita di balik Mangafest.

Imajinasi Tentang Matsuri dan Adagium “Festival Dari Mahasiswa untuk Mahasiswa”

“Umumnya semua jurusan Sastra Jepang di Indonesia rata-rata punya matsuri, festival”, kata Naufal, salah seorang penggagas Mangafest tahun pertama (2011). “Tetapi umumnya matsuri cuma menghadirkan cosplay tanpa ada tema khusus, jadi cuma acara dengan tema Jepang Jepangan … selesai”, ia melanjutkan. Mangafest pertama adalah perayaan kelahiran baru dari sebuah festival yang agaknya bagi Naufal harus melaumpaui acara Jepang Jepangan biasa yang menurutnya terlalu luas temanya dan tidak spesifik – Anda yang mengalami Mangafest pertama tentu tahu bahwa itu adalah festival di dalam gedung (waktu itu saya heran, kok “festival” tapi di dalam gedung?) tanpa cosplayer. Lebih jauh lagi, Mangafest pertama merupakan sebuah sarana yang dipakai untuk mengisi kekosongan festival ‘dari mahasiswa untuk mahasiswa’ yang sebelum 2010 tidak pernah diadakan oleh jurusan Sastra Jepang UGM.

Saya telah memberi sedikit pandangan di atas, bahwa mula-mula Mangafest mestilah dianggap bukan semata sebuah festival an-sich, melainkan juga tentang bagaimana orang memandang Jepang dan

Oleh -
0 308
kaver - A Comics Studies Reader

Sekali-dua kali, mereka yang berkutat di dunia komik pasti akan menemukan banyak tulisan di mana komik dicitrakan sebagai sebuah genre yang kekanak-kanakan, dan dengan demikian ia hanya ditujukan untuk konsumsi anak-anak. Bahkan orang tua anda mungkin pernah melarang anda membaca komik.

Cuma masalahnya anggapan tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di Perancis. Thierry Groensteen mencatat fenomena ini dengan baik lewat sebuah esei berjudul “Why are Comics Still in Search of Cultural Legitimization?” Esei ini sudah dua kali saya lihat, masing-masing di buku Comics and Culture: Analytical and Theoretical Approach to Comics dan A Comics Studies Reader. Saya akan mengajak anda untuk melihat pembacaan saya atas esei Groensteen yang termaktub di buku kedua.

Bukan tanpa alasan jika Groensteen memulai eseinya dengan pertanyaan pada judulnya, karena dia sendiri berusaha meletakkan argumen eseinya itu pada fenomena paradoks: “walau komik telah memperoleh eksistensinya selama satu setengah abad, ia masih saja menderita karena sangat kekurangan legitimasi” (hlm. 3) . Dengan kata lain esei itu, pada keseluruhan tubuhnya, mengangkat tema “sejarah” tentang sebuah semesta kecil yang paradoks, atau ihwal komik yang walau “populer” namun kekurangan legitimasi. Groensteen menjelaskan ihwal kekurangan legitimasi dengan cara memaparkan “sejarah” wacana komik di Perancis.

Dari mana Groensteen membayangkan legitimasi itu mesti datang? Pertama-tama adalah dari kritikus komik dan akademisi komik. Meski Groensteen tidak secara eksplisit mengharapkan kehadiran kritikus dan akademisi komik, namun tampaknya ia membayangkan keduanya seharusnya bisa hadir memberi legitimasi kultural kepada komik. “Sejarah” wacana yang ia jabarkan menyebutkan bahwa pada tahun 1960-an di Perancis tidak ditemukan kritikus dan akademisi komik yang membangun legitimasi kultural atas komik. Katanya “[…] komik (sampai tahun 1960-an) dikelilingi oleh keheningan yang cukup memekakkan telinga” (hlm. 4). Tentu saya mesti bertanya, bagaimana bisa keheningan memekakkan telinga?Walau terkesan hiperbol, namun dari sinilah basis paradoks yang dikemukakan oleh Groensteen menjadi masuk akal. Groensteen memberi kesan eksplisit: meski di Perancis komik disebut seni kesembilan dan pada 1845 sudah ada Töpffer yang mengajukan fondasi bagi teori komik, namun sampai 1960-an ia justru tidak melihat perhatian akademis, wacana kritis, maupun juru arsip yang membangun pengetahuan atau teori tentang komik. Baginya fakta tersebut merupakan hal yang ironis karena sampai tahun 1955 di Perancis “[b]uku-buku tentang sinema dan fotografi dipublikasikan oleh lusinan orang!” (hlm. 4).

Minimnya akademisi dan kritikus komik di Perancis pada waktu itu membuat komik berada di titik nadir. Dari kekosongan wacana komik yang dalam bayangan Groensteen mesti diisi oleh akademisi dan kritikus komik, pendidiklah yang kemudian menjadi kelas yang memonopoli wacana komik. Celakanya kebanyakan pendidik Perancis waktu itu menganggap komik sebagai sebuah entitas yang berpengaruh kepada moralitas kaum muda. Potensi komik (kalaupun ada hal semacam itu) dinilai sebatas kemampuannya dalam mengkorupsi jiwa anak-anak. Esei Groensteen tersebut menarik perhatian saya oleh karena pemaparannya yang terasa dekat dengan fenomena kultural yang terjadi di Indonesia. Adalah Marcell Bonneff yang mencatat lewat Komik Indonesia, bahwa pada tahun 1954-1960 “para pendidik menentang komik yang berasal dari Barat, bahkan produk imitasinya (Sri Asih)”. Periode tersebut dicatat oleh Bonneff sebagai periode di mana para pendidik di Indonesia menganggap komik sebagai bahan bacaan yang tidak mendidik, sekaligus mengandung gagasan berbahaya. Kemiripan fenomena delegitimasi komik yang terjadi di Perancis dan Indonesia membuat saya bertanya-tanya: apakah fenomena tersebut merupakan gejala universal? Sayangnya saya tidak punya cukup bahan untuk menjawab pertanyaan ini.

Walau begitu, esei Groensteen itu menjadi bahan bacaan yang menarik karena situasi di Perancis kemudian berubah pada 1970, di mana komik kemudian memperoleh persetujuan kultural lewat slogan “comics can be educational” (hlm. 7). Sampai di sini agaknya kita bisa meninggalkan debat seputar deligitimasi komik sebagai sebuah genre yang merusak moral remaja. Debat seputar komik kemudian beralih ke pembahasan mengenai estetika komik dan pertanyaan kultural. Apa yang kemudian perlu dicermati kemudian adalah kemunculan stigma “artistic mediocrity” (hlm. 7) yang menurut Groensteen membuat genre komik disepelekan secara artistik. Lebih jauh lagi, ada empat faktor yang memicu laku penyepeleaan tersebu, yakni: 1) bentuk komik yang merupakan hibrida antara teks dan gambar, 2) tipe penceritaan komik yang  tergolong sub-literatur, 3) koneksinya kepada karikatur, dan 4) walau ada komik yang ditujukan untuk dewasa, namun komik tidak menawarkan apapun selain sebuah jalan untuk kembali ke fase kanak-kanak (hlm. 7).

Perbincangan seputar status artistik dan kultural yang dipaparkan oleh Groensteen merupakan sebuah gejala yang menarik, karena ia secara eksplisit mengungkap kegelisahan tentang status artistik komik, sebuah hal yang tampaknya juga bisa menjadi cermin atas apa yang terjadi di Indonesia. Di sini komik sudah lama dianggap sebagai gejala seni yang dianggap memilki kekhasan sendiri yang terpisah dari Sastra dan Seni Rupa (baca misalnya, esei berjudul “Komik : Antara Seni Visual dan Ambisi Sastrawi”). Di luar sana, secara tidak sadar kata “seniman” menjadi sebuah pengganti untuk profesi “komikus”. Kritikus seni dan penulis buku-buku budaya Agus Dermawan T. pun menganggap komik sebagai sebuah genre yang memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja. Bayangkan, seorang dari dunia Seni Rupa sudah menghargai komik sedemikian rupa! Kurang perhatian apa lagi?! Namun toh masih tersisa pertanyaan yang pantas untuk dibahas secara lebih mendalam, yakni apa gerangan yang membuat komik pantas dianggap sebagai Seni? Saya pernah berbincang dengan pelaku seni yang juga membuat komik. Katanya komik pun sah dianggap sebagai seni karena ada gambar. Berhadapan dengan klaim-klaim ihwal sifat Seni pada komik, saya masih belum merasa puas, sebab bukankah Seni adalah juga soal bagaimana mengukur dan menilai karya supaya ia pantas disebut sebagai Seni. Singkat kata, dibutuhkan standar untuk menilai apa yang disebut estetika komik, yang tentu terpisah dari standar penilaian atas bentuk-bentuk karya seni lainnya.

Saya menyelipkan cerita di atas karena Groensteen sendiri beberapa kali menyebut kata “estetika” di dalam eseinya itu. Hal yang menjadi pertanyaan saya adalah: estetika komik, makhluk macam apa itu? Bermula dari sejarah tentang paradoks komik dalam masyarakat Perancis, bagian akhir dari esei Groensteen membahas secara rinci ihwal wacana yang menaungi empat faktor di atas, yang disebutnya sebagai “[d]osa asal seni kesembilan yang menjadi prasangka dasar akademik” (hlm. 8). Faktor pertama, yakni komik sebagai produk hybrid, antara teks dan gambar, seringkali dijadikan dasar metode pembahasan komik. Tetapi penjabaran Groensteen atas wacana yang membahas salah satu bagian dari dosa awal tersebut mengesankan bahwa ihwal sifaf hybrid komik tidak bisa diterima oleh kalangan tertentu. Singkatnya ada keberatan dari kalangan tertentu (Groensteen menyebut beberapa nama seperti penulis Perancis Pascal Quignard, dan mantan kurator National Library of France Michel Melot) yang menganggap bahwa perkawinan antara teks dan gambar dalam satu bidang adalah “membosankan (so monotonous) – menurut Melot – sekaligus “bertentangan” – menurut Quignard. Groensteen membela dosa asal tersebut dengan menjabarkan sebuah hal penting, yakni kriteria estetik komik itu sendiri, di mana gambar dan teks dipakai bersamaan, yang domainnya berbeda dengan domain seni lain. Artinya, Ini adalah pembelaan yang cukup baik, karena mengisyaratkan sifat utama dari formkomik itu sendiri, yang mana teks dan gambar sama-sama berkontribusi terhadap narasi. Akan tetapi kesulitan utama saya dalam memahami penjelasan tersebut adalah:  adakah kriteria penilaian dan standar tertentu untuk sebuah genre di mana gambar dan teks bekerja dalam sebuah bidang yang sama dan salah satu dari keduanya tidak menegasikan yang lain? Bagaimana supaya kriteria tersebut – kalau ada – menjadi sebuah metode yang logis dan siap dipakai dalam sebuah pembahasan karya komik, supaya domain komik benar-benar terbukti berbeda dengan, misalnya, teks yang diberi ilustrasi?

Tiga dosa asal lainnya menjadi bumbu pelengkap bagi “Why are Comics Still in Search of Cultural Legitimization?” Satu yang sangat menarik – setidaknya bagi saya – adalah sifat naratif komik yang membuatnya tergolong sebagai sub-literatur. Menurut Groensteen, prasangka atas sifat naratif dari komik muncul karena faktor ekstrakomikal, yakni “[f]akta bahwa pasar komik mematuhi aturan komersial. [Dengan demikian] kemampuan menjual produk menjadi sesuatu yang lebih penting dibandingkan nilai intrinsik dari bentuk seni tersebut” (hlm. 10). Terhadap prasangka semacam ini, Groensteen melakukan pembelaan dengan mengacu kepada laku pembacaan komik yang disebutnya sebagai tindakan di mana subjek pembaca tidak hanya menikmati “a story-related pleasure, but also an art-related pleasure, an aesthetic emotion founded on the appreciation of the exactness and expressivity of a compostion, pose, or line” (hlm. 10). Selain kedua konsep kenikmatan yang  terkesan abstrak itu, dia juga menyebut satu kategori kenikmatan lain, yakni “[a] medium related pleasureIt cannot be reduced to the sum of the other two, but is related to the rhythmic organization in space and time of multiplicity of small images” (Hlm. 10). Ketiga kategori kenikmatan tersebut memang terkesan abstrak, karena berhubungan dengan subjektifitas (bukankah konsep “menikmati” itu juga sangat subjektif?). Meski demikian, hendaknya kita melihat irisan hubungan di mana Groensteen memparalelkan subjektifitas dengan konsep-konsep objektif, yakni yang terlihat pada kode-kode seperti space (ruang), time (waktu), composition (komposisi), pose(gestur), dan line (garis). Tampaknya estetika komik sebagai domain ilmiah terlihat logis ketika yang subjektif dari komik (kenikmatan ketika membaca komik) ditentukan berdasarkan penilaian objektif atas hal-hal intrinsik dari komik.

Esei Groensteen yang dibahas di sini sesungguhnya membuka ruang bagi kita untuk kembali menelisik konsep estetika dalam komik. Harus diakui bahwa perbincangan mengenai estetika komik kurang mendapat ruang di dalam wacana komik Indonesia. Dalam banyak hal, esei tersebut beserta buku A Comics Studies Reader sesungguhnya membuka ruang bagi kita untuk kembali merenungkan makna apa pentingnya legitimasi komik dari kritikus komik dan akademisi komik, serta pentingnya melakukan studi komik berdasarkan kriteria intrinsik pada komik yang membuatnya terpisah dari genre seni lainnya.

Oleh -
2 544
Critics

Tulisan tentang kritik komik ini telah mengalami perubahan teknis seperlunya – dengan menambahkan catatan kaki dan referensi, tanpa mengurangi maksud awal tulisan. 

Terkait dengan kritik komik, seorang teman pernah melontarkan pendapatnya kepada saya mengenai jenis-jenis kritik komik, di mana salah satu pendapatnya yang paling saya ingat adalah: “komentar di Facebook pun itu adalah kritik”. Benarkah demikian? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa seperti perjaka yang kebelet kawin. Terlebih dahulu saya ingin menceritakan sebuah peristiwa kecil, kali ini tentang posisi kritik di Indonesia. Cerita akan saya batasi pada bidang seni, persisnya, kritik seni rupa.

Di lain hari pada bulan Mei saya berbincang dengan seorang kurator via Facebook. Sesi obrolan yang berlangsung di kala panah hujan tanpa ampun menerjang bumi itu berkisar di permasalahan posisi kritikus di bidang seni rupa yang menurutnya tidak begitu dihargai. Sang kurator menjelaskan bahwa di Indonesia, wacana yang dominan adalah wacana harmoni. Saking kuatnya wacana semacam itu, kritik atas sebuah karya dianggap sebuah nilai pengganggu tatanan. Singkat cerita, ia membandingkan kondisi di sini dengan di “Barat” (secara khusus ia merujuk Eropa dan Amerika) sana, yang konon katanya memiliki sejarah kritik seni yang tajam dan keras. Dua pertanyaan muncul: benarkah kritikus, terutama idenya, tidak diterima di Indonesia? Kalaupun benar, kenapa masih sempat orang tertentu mengembel-embeli dirinya sebagai “kritikus” di sebuah tulisan seputar sastra Indonesia, misalnya? Sampai batas mana seseorang bisa mengaku diri sebagai kritikus?

Teks-teks seputar ‘kritik komik’, menurut pendapat saya, telah menjadi sesuatu yang cair maknanya oleh karena anggapan umum bahwa sebuah tulisan (yang pendek sekalipun) bisa dianggap sebagai sebuah kritik. Komentar negatif di laman Facebook, misalnya, di mana seorang komikus menunjukkan karyanya kepada teman-temannya, merupakan jenis produksi tulisan yang dianggap pantas disebut sebagai kritik. Lalu, komentar negatif pendek-pendek atas sebuah komik, yang ditulis lewat twitter pun dianggap kritik komik. ‘Kritik komik’ sebagai sebuah istilah tampak bisa dilekatkan kepada jenis tulisan apa saja, membuatnya berada di dalam kamar gelap yang wujudnya bisa berubah kapanpun. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan sumbangan kecil terhadap wacana seputar ‘kritik komik’ yang tampak susah sekali untuk dirumuskan itu. Lebih jauh lagi, skop tulisan ini saya maksudkan untuk diletakkan dalam lingkup yang lebih luas seperti kajian komik. Namun sebelum masuk ke paparan yang lebih substantif, saya akan memulai sedikit paparan tentang pandangan etimologis mengenai ‘kritik’ itu sendiri.

1/

Kebanyakan orang mungkin sudah telanjur melakukan apriori terhadap kritik, seolah-olah kritik itu identik dengan bentuk-bentuk lisan dan tulisan yang bertujuan semata untuk menemukan kesalahan tertentu dan penuh dengan pandangan-pandangan negatif nan meresahkan atas sebuah corpus yang dibahas oleh sang kritikus. Tentu saja perkaranya tidak sesederhana itu. ‘Kritik’ itu sendiri – yang secara etimologis berasal dari kata krinein yang berarti menilai – sudah merujuk kepada metode yang berpegang kepada disiplin, sebuah analisis sistemik yang umumnya tertulis dan/atau disampaikan secara lisan. Jika komikus berpegang pada pengetahuan dan konsep visual – cara mengatur komposisi antar panel untuk diletakkan dalam ruang (layout), teks dan gambar, tebal-tipis garis, plot cerita, konflik, klimaks, dan sebagainya – sebelum ia mulai menumpahkan imajinasinya di atas kertas, maka pasangannya, kritikus komik, juga melakukan hal serupa meskipun pengetahuan/konsep yang dipakai, juga output yang dihasilkan akan sungguh berbeda.

Karena kritik adalah sebuah disiplin, maka gagasan kritik yang paling negatif sekalipun selalu memuat pertimbangan tertentu yang digunakan untuk menilai fenomena atau objek tertentu. Dengan kata lain, ada standar penilaian, fakta, konsep, dan teori tertentu yang dipakai sebagai jalan untuk mengantar seorang kritikus sampai kepada kesimpulan-kesimpulan tertentu. Pendapat ini hanya mau mengatakan bahwa kerja seputar produksi wacana tentang komik Indonesia tidak bisa dilandaskan pada kata hati semata. Orang tidak bisa menyebut seorang komikus sebagai pembaharu dalam bidang estetika komik Indonesia, misalnya, tanpa menjelaskan kenapa dan bagaimana dia bisa sampai kepada kesimpulan semacam itu.

Sebuah kritik, dengan demikian, selalu mengandaikan sebuah standar untuk memperlihatkan apa yang esensial (Gosche, 2007: 12).  Pada bidang-bidang lain di luar kajian komik seperti sastra, misalnya, konon katanya kritik sastra merupakan sebuah dunia penilaian yang dipengaruhi oleh perkembangan kristianitas. Gereja di era Rennaissance pada umumnya tidak hanya bertugas menyeleksi teks-teks kitab suci yang “boleh beredar”, melainkan juga bertugas meluruskan pembacaan yang menyesatkan (emendatio) terutama untuk untuk karya-karya puisi dan narasi epik; dalam tradisi Islam juga dikenal ahli tafsir dengan ilmu menilai hadis atau kritik sanad-nya untuk menakar keaslian hadis yang dibagi menjadi tiga kategori: shoheh, dha’if, maudhu’.[i]

Ada dua hal yang setidaknya bisa ditangkap dari contoh di bidang-bidang di luar kajian/kritik komik, yakni: 1) kritik atas teks tertentu yang dikerjakan dengan disiplin yang sistematis, dan 2) usaha untuk melegitimasikan sebuah teks yang dikerjakan oleh sebuah institusi atau orang yang dianggap punya kapasitas modal kultural (keilmuan) untuk memberi legitimasi. Ada satu lagi yang bisa ditambahkan di sini selain karakteristik  kritik komik tersebut, yakni gelar kritikus yang seharusnya terkait dengan seorang ahli yang menguasai dasar-dasar tentang sejarah komik dan teori komik tertentu. Sampai di sini orang bisa melanjutkan ke satu pertanyaan: bagaimana sebetulnya wujud dan gagasan sebenarnya dari ‘kritik komik’ itu sendiri? Saya akan berusaha meraba jawaban atas pertanyaan ini dengan cara menempatkan “kritik” dalam wilayah produksi wacana kajian komik supaya kita bisa melihat kekuatannya dalam menentukan legitimasi komik di tengah wacana akademis.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu