Telisik Nalar

Oleh -
0 103
Man
Dokumentasi Dwi Klik Santosa

Oleh: Dwi Klik Santosa

Man sang pencipta komik Mandala Si Golok Setan. Diksi ini seperti saja tercatat dengan rapi di ingatan saya. Dan mudah saja muncul jika salah satu dari kata kunci itu, ditanyakan. Dan Perlu saya akui ternyata ingatan saya tentang Man selama ini memang hanya sebatas itu saja. Saya juga tidak tahu jika Man itu kepanjangan dari Mansjur Daman. Lahir diJakarta, tepatnya di Tanah Abang, pada 3 Juli 1946. Yang lebih syok lagi mendapatkan data, ternyata setelah melihat pameran karyanya dalam tajuk Retro Man di Bentara Budaya Jakarta, malam tadi (11/04), tak kurang dari 83 judul buku komik, dan jika diurai dari jilid ke jilid, lebih dari 200 judul. Gila!…

Gilanya lagi, prasangka saya tentang karya komik Indonesia selama ini, kurang memiliki ciri yang spesifik, ternyata picik dan picisan belaka. Karena sewaktu menginjak usia kuliah, saya terlampau memandang dan mengagumi komik-komik karya Alex Ross, komikus Amerika yang realis dan detailis, begitu tajam dan indahnya menyelesaikan bendel demi bendel atas karya serial “Superman.” Sudah begitu, nama-nama Goscinny dan Uderzo, si komikus serial “Asterix dan Obelix” dari Perancis, dan juga, Herge, si pengkarya serial “Tintin” dari Belgia, dan lantas, Morris, si kreator serial “Lucky Luke”, seperti telah menancapkan dogma tersendiri dalam pikiran saya menyoal karya komik, sejak saya SMP, bahkan.  Meski banyak komik dengan berbagai judul dan corak, barangkali sudah saya baca sejak usia SD, namun, harus saya akui ketiga nama serial komikus lebih mudah muncul sebagai ingatan. Memang pula sejak saya SMA, lantas nama-nama keren dari dunia Manga, Jepang serasa muncul menjatuhkan kekaguman. Komik-komik seri Kung Fu Boy, Gong, dan Dragon Ball, bagaimana pun adalah judul-judul serial yang pernah saya gandrungi dan saya kejar terus seri terusannya. Selain juga komik-komik silat Taiwan, Tony Wong.
Namun begitu, ingatan saya pernah pula rekat mencatat nama-nama, Ganes TH, Hasmi, RA Kosasih, Jan Mintaraga, Man, dan sebagainya, dari ranah komik Indonesia. Namun dari semua komik Indonesia yang pernah saya baca, kiranya tak sefanatis menghikmati dan mencermati karya-karya Djair. Serial Jaka Sembung, Malaikat Bayangan, Jaka Geledek dan Si Tolol, dari puluhan bendel itu saya rasa telah menjadikan ikatan tersendiri menyoal kecintaan saya terhadap kasanah komik nusantara. Begitu sangat-sangat saya mengagumi Djair melalui karya-karya komiknya itu. Bahkan lebih sering menangis saya karena terlampau larut dan tegang menghikmati alur cerita yang digulirkannya. Ciri-ciri humanisme dan nasionalisme sekaligus, ada dalam tiap cerita yang disuguhkan dalam serial komik Djair. Dan soal itu, tentu saja saya tandai betul, sosok Djair sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perkomikan Indonesia.

Ternyata, miskin dan jauh dari kaya belaka, asumsi dan pendapat yang telah saya yakini bertahun-tahun dan selama ini. Begitu saya menyaksikan pameran karya Man, berikut dengan buku-bukunya yang saya borong (tentu saja minta tanda tangan sipengarangnya) malam ini, betapa syok saya.

”Ia begitu ritmis
Tak kalah dengan detail Alex Ross
Ia begitu romantis
Senada dengan humanis Djair
Ia begitu idealis
Memiliki gregetnya yang khas
orang gila dari nusantara”
Gila, benar-benar gila! Gila itu bawaan dari lahir atau bisa dilatih, ya? Begitulah, selalu saja muncul pertanyaan yang begitu, ketika kembali dibukakan mata saya untuk melihat orang gila yang level kegilaannya demikian ‘gila’. Memang gila saja, logika saya ketika masuk, mencerna dan memahami sebuah fakta yang rasa-rasanya mustahal bin mustahil. Membuat komik sejak umur 14 tahun. Dicibir, dianggap sebagai yang membuat hal yang sia-sia, karena komik adalah barang terlarang menjadi dogmasi para orang tua kepada anak-anak pada zaman dulu, tapi sampai usia 68 kini bahkan, masih saja hati dan tangannya bergerak-gerak untuk terus mengkomik.  Padahal menjadi dilema, bahkan jargonan yang ironis. Bahwa, ”daripada mengkomik mendingan melukis”, sudah dapat uangnya tidak seberapa, begitu njelimet menghabis-habiskan waktu saja.
Menjadilah gila yang sempurna
Apa guna tanggung, dan juga pura-pura gila
Apalagi gila dalam arti yang sebenarnya
Kegilaan yang sempurna. Begitulah, kiranya Man telah menjadi dirinya yang Man. Ia asyik dan enjoy dalam menjalani kesukaan dan kehendak batinnya. Perlu saya syukuri dengan segenap ketulusan dan kesungguhan, bahwa, ini nyata. Dan perlu saya banggakan, bahwa, apa kurangnya dari nusantara kita? Memang banyak yang mercusuar berpredikat pecundang atau abal-abal. Tapi saya rasa, pesimisme tak harus dan berlebihan. Selalu tersedia, dan akan selalu ada panutan itu, untuk sekedar membukakan mata. Seorang anak bangsa yang teguh sebagai seorang Indonesia yang idealis.  Yang punya nyali, merah sebagai darah, dan putih sebagai yang lugu atau suci.
Pondokaren
12 April 2013
00.30

Oleh -
0 101
Capitalism and Comics

Oleh: Boy Nugroho

Persentuhan saya dengan komik bukanlah peristiwa dramatis yang bisa dinarasikan begitu romantis dan penuh semangat fetis khas kelas menengah. Saya tidak memiliki pengalaman istimewa yang bisa menggambarkan antusiasisme komik sebagai satu bacaan penting di masa kanak-kanak. Namun, itu tidak ada kaitannya dengan asumsi-asumsi diskriminatif yang menyebutkan bahwa komik bukan bacaan serius yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral. Di rumah, komik tidak di-Khuldi-kan karena memang tak ada yang melarang. Hal itu juga bisa dipahami sebagai risiko dari tinggal di sebuah desa kecil dan hanya memiliki akses ke satu-satunya toko buku (dengan stok komik terbatas) di kota terdekat pada awal 90an. Keluarga cenderung menyediakan bacaan-bacaan berupa tumpukan surat kabar, majalah dan buku-buku selain buku pelajaran. Jika ada komik yang (bisa) dibeli, itu hanya beberapa judul populer seperti Doraemon atau Astro Boy dengan nomor seri acak. Jadi, tak ada kewajiban untuk mengikuti serial tertentu, apalagi televisi sudah menyediakan penjelmaan-penjelmaan dari komik yang lebih populer seperti serial Anime.

Komik dan Keterbatasan

Di masa itu, komik tidak menjadi perbicangan dalam keseharian para anak. Mungkin, kampanye semacam Komik Masuk Desa akan sangat edukatif dibandingkan dengan, – misalnya program ABRI Masuk Desa. Sebagian besar masih beranggapan bahwa tradisi membaca (apa saja) hanya melulu dikaitkan sebagai tanggung jawab untuk memenuhi tuntutan pendidikan formal. Dengan segala keterbatasan (dan ketidakpedulian) akses kepada komik, hiburan (visual) yang terpenting adalah apa pun yang bisa dinikmati.

Memiliki komik tidak pernah menambah makna intrisik yang bisa membangkitkan sisi heroik untuk menghadapi kenyataan hidup (sebagai kanak-kanak).

Jadi, seumpama ada orang yang menunjukkan tumpukan komik edisi langka dan mengisahkan petualangan rumitnya demi memiliki koleksi tersebut, saya mungkin akan berkomentar; “Luar biasa , silakan petualangan anda itu dikomikkan.”

Setelah menginjak perantauan di sebuah kota dengan banyak kemungkinan akses, minat untuk melebarkan rentang bacaan komik pun masih abal-abal. Persinggungan dengan komik hanya sebatas pengamatan terhadap kawan-kawan sekolah menengah yang rata-rata memiliki hobi menyewa di taman bacaan. Di antara judul-judul yang bertebaran, saya tidak terlalu berminat untuk hanyut dalam kenikmatan kolektif apalagi ketika mereka membicarakan bermacam karakter di sela-sela bangku kelas. Salah satu fakta yang membuat sedikit geram ialah betapa banyak kawan-kawan yang tergolong menduduki rangking atas ternyata sering membaca komik secara sembunyi-sembunyi saat guru sedang mengajar. Menjelang akhir studi sebagai mahasiswa, minat membaca komik kembali bangkit ketika tertarik pada satu komik adaptasi dari kisah Musashi yang berjudulVagabond. Perlahan-lahan, saya mulai mengikuti serial tersebut dengan cara menyewa di taman bacaan. Kunjungan berkala di taman bacaan pun menimbulkan minat untuk meminjam judul lain.  Meskipun bukan pembaca komik yang setia, saya masih mau menyempatkan diri untuk mengintip rak-rak komik di toko buku atau menyewa beberapa judul dari taman bacaan.

Membaca atau Membeli?

Saya tak pernah membenci komik, seperti halnya saya yang tak bisa mencintainya dengan tulus. Dengan senang hati, saya sudi menghabiskan waktu untuk menikmati goresan-goresan Jin Kobayashi terutama saat mewujudkan ekspresi-ekspresi sendu dari Yakumo atau karakter sejenis. Bahkan, saya bisa membaca School Rumble berulang-ulang hanya demi memuaskan kerinduan pada beberapa plot dan karakter. Bisa dikatakan bahwa untuk membaca komik, ada sedikit banyak standar estetik dengan melihat penggambaran karakter perempuan di cerita. Namun, ada beberapa pertimbangan saat berkeinginan untuk memiliki (bukan hanya membaca) sebuah judul. Selain biaya (sebuah judul bisa terdiri dari puluhan jilid), saya cenderung malas menunggu secara berkala untuk membeli serial komik (terjemahan). Mengapa tidak sekalian menjadikan satu edisi yang utuh sehingga bisa dibeli dan dibaca sekali tamat? Abaikan saja pembahasan mengenai ekonomi politik dari industri komik karena saya akan lebih memilih untuk mengakses unduhan gratis di internet atau lari ke taman bacaan terdekat. Jika mencintai dimaknai dengan memiliki namun masih dibatasi oleh mekanisme membosankan, saya lebih memilih untuk mencuri atau menyewanya.

Tapi, benarkah saya tak pernah membeli komik? Tiba-tiba saya teringat dengan kumpulan judul di rak seperti Freud untuk Pemula, Das Kapital untuk Pemula, Lenin untuk Pemula dan beberapa seri Pemula lain yang semuanya dinarasikan melalui ilustrasi-ilustrasi komik. Mereka adalah komik dan saya telah membelinya. Komik menjadi gerbang pencerahan untuk lebih memahami ide-ide dari para tokoh tersebut dengan gaya populis, ekspresif dan kaya imajinasi. Populis karena pembaca lebih akrab dengan penjabaran yang sebelumnya didominasi oleh keterbatasan kata. Ekspresif karena sangat lugas menyampaikan makna-makna melalui goresan tinta. Sedangkan, alih-alih membatasi imajinasi dengan panel-panel bergambar, komik justru mampu merangsang ruang imajinasi yang lebih longgar untuk ditafsirkan.

Paradoks Komik dalam Masyarakat Kapitalis

Dalam pengertian paling populer, komik adalah media hiburan yang dikemas melalui jalinan gambar bercerita. Scott McCloud menekankan definisi komik sebagai gambar yang menyampaikan informasi atau menghasilkan respons estetik bagi yang melihatnya. Kaidah keindahan (dan keburukan) dari rangkaian gambar menjadi sarana efektif untuk menuturkan banyak hal. Di masa kini, masyarakat  sudah terbiasa atau (jangan-jangan) nyaman dengan visualitas yang semena-mena. Terbukti dengan munculnya ruang-ruang kolektif yang menjadi perayaan visual oleh banyak kalangan. Begitu juga dengan komik sebagai produk budaya populer yang selalu direproduksi oleh berbagai kepentingan. Komik menjadi cara berkomunikasi, menyalurkan ekspresi dan mereflesikan realitas sebagai bagian dari proyek kapitalisme cetak.

Sekarang, ada banyak komik yang diterbitkan melalui jalur industri besar atau mandiri. Bahkan, ada semacam upaya untuk membangkitkan kesadaran sejarah komik lokal dengan cara penerbitan ulang dari karya-karya legendaris. Tak jarang, kita juga bisa menemukan beberapa lelucon aneh dalam bentuk komik yang diadaptasi dari buku yang sudah populer. Jangan heran, kita hidup dan saling menghidupi dalam labirin pasar yang kapitalistik. Semua bisa saling bertransformasi menjadi bentuk berbeda-beda. Jadi, mungkin saja kelak ada serial komik berjudul Golden Ways dengan tokoh utama yang berkepala licin dan penuh kebajikan. Tapi kita tak perlu cemas dengan segala fenomena yang berkaitan dengan kebangkitan komik ini. Anggaplah bahwa ini semua adalah perayaan elitis yang harus ditingkatkan demi kemaslahatan seluruh umat komik lokal.

Namun, masih ada pemahaman puritan yang meletakkan komik sebagai subjek yang antagonistik terhadap buku (tulisan). Sebagian masyarakat masih memandang komik sebagai sesuatu yang remeh, instan dan bisa dibaca sekali sesi. Berbeda dengan buku yang dipenuhi oleh rangkaian kata dan sesekali membutuhkan pembacaan berulang. Padahal, untuk apa membaca (membeli) sesuatu yang sulit (dan bahkan tak mungkin) dipahami, sementara ada banyak pilihan menarik dan mudah untuk dicerna? Logikanya, orang pasti akan lebih rela untuk mengeluarkan uang demi bacaan yang mudah dipahami. Namun tidak untuk komik. Perbincangan perihal buku-buku non-komik sering menimbulkan proses identifikasi yang merujuk pada intelektualitas. Dalam masyarakat kapitalis, itu menjadi candu yang ditaburkan oleh simbol artifisial seperti monumen buku. Komik seharusnya diakui sebagai bagian penting yang membangun tatanan peradaban modern, seperti halnya buku non komik. Jika mengaku sebagai pencinta buku, paling tidak jangan pernah meremehkan atau membenci komik.

Oleh -
0 126
pameran komik kampung

Oleh: Muhammad Yusuf Siregar

Setelah tahun 80-an, kurun yang dianggap sebagai  masa surutnya perkembangan komik Indonesia, komik  Jogja ditengarai justru mengalami geliatnya kembali. Namun geraknya dapat dilihat sebagai sebuah patahan perkembangan terhadap praktek dan persoalan dunia komik itu sendiri. Komik-komik tersebut hadir lebih menitik-beratkan pada penemuan strategi estetik guna melakukan praktek oposisi terhadap kecenderungan estetika dominan dan dianggap telah mengalami stagnasi dalam wacana seni rupanya. Kecenderungan ini semakin menguat seiring momentum provokatif dari isu seni rupa internasional yang telah sekian lama mengarah pada dorongan semangat perombakan narasi-narasi besar seni rupa modern.

Seperti diketahui, deretan narasi besar modernisme berfondasi pada  semangat avant-garde, di mana kebaruan yang dimutlakkan harus muncul sebagai ‘shock of the new’, sehingga menghasilkan keunikan pada capaian estetiknya. Capaian yang menjadikan seorang perupa sebagai jenius dan didampuk ke tingkatan maestro. Serangkaian proses yang menjadi prasyarat  wacana progresif modernis ini, dalam catatan Charles Jenck mengalami kerontokan total sejak tahun 60-an, di mana ungkapan Seni Pop menguat. Seni Pop yang kemunculannya tidak bisa dilepaskan dari berkembangnya media massa dan komoditi massa melahirkan budaya populer di mana komik sebagai salah satu instrumen produknya.

Dalam budaya ini, kebaruan telah disekulerisasi sehingga memudarkan norma-norma seni rupa modern. Sebuah potensi wacana media rupa yang dimanfaatkan banyak perupa yang bertujuan hendak menyempal dari arus sejarah linear seni rupa. Maka, kemunculan komik Jogja di awal tahun 90-an pun diidentikkan dengan lebel estetik alternatif dalam dunia seni rupa pada setiap usaha identifikasinya. Bahkan teknis proses produksinya, yang dalam kejamakan wacana seni rupa dapat dijadikan sebagai pondasi penyebutan eksistensialnya pun bermunculan. Mulai dari istilah “xerox art” sampai “copy art”.

Kecenderungan ini, misalnya kental dilakukan kelompok Apotik Komik. Kelompok hasil evolusi Core Comic yang muncul di tahun 1995 tersebut kerap memanfaatkan media ucap komik sebagai gagasan praktek seni rupa di ruang publik. Gagasan ini menyasar praktek seni rupa yang petanya dianggap masih menggambarkan proses kreatif yang eksklusif, baik secara isu maupun bentuk proses apresiasinya. Begitu pula dengan komik Daging Tumbuh yang edisi pertamanya terbit di bulan Juni 2000, kembali memposisikan komik sebagai alat ekspresi individu untuk kepentingan segmentasi wacana seni rupa. Para perupa distimulus untuk berkarya di wilayah media populer dengan tidak meninggalkan semangat estetik yang selama ini dikerjakannya.

Jadi, dapat dilihat, jika geliat perkomikan yang terjadi bisa diistilahkan sebagai jauh api dari panggang persoalan komik. Komik hadir bukan sebagai komik itu sendiri. Komik ada sebagai media cangkokan bagi tumbuhnya kecenderungan seni rupa yang diharapkan menghasilkan kemungkinan gegar tafsir seni rupa yang sesuai dengan perkembangan paradigma estetika yang sedang terjadi.

Condongnya praktek kerja komik yang justru berorientasi terhadap bukan dunia komik itu sendiri, seperti paparan dua contoh di atas, menempatkan komik sebagai bagian budaya populer yang tidak populer lagi. Bentuk komunikasinya menjadi sangat individual, susah dimengerti publik, bahkan berakhir dengan pengosongan sifat dasar komunikatif pada dunia komik. Pendeknya, praktek tersebut membekukan komik menjadi sekedar tawaran wacana dalam kepentingan penonjolan jenis medianya semata. Dampak situasi penciptaan komik ini berlanjut pada sifat produksinya yang berumur pendek. Terutama ketika target pendobrakan wacana seni rupanya dianggap sudah berhasil.

Tidaklah mengherankan jika dalam situasi seperti ini sulit untuk mengharapkan terobosan bagi persoalan yang dialami dunia komik itu sendiri. Jikapun diskusi-diskusi dimunculkan, perbincangan biasanya akan berakhir  pada dua topik persoalan yang semakin nostalgik; bahwa tahun 70-an komik Indonesia pernah mengalami masa keemasan, bahwa komik Indonesia disesaki oleh komik terjemahan terutama yang berasal dari Jepang.

Berputar-putarnya isu perbincangan dalam dunia komik tersebut, mengiringnya pada situasi yang tidak produktif, klise, dan dapat ditengarai sebagai penanda telah terjadinya situasi buntu.Oleh karenanya, penting kiranya membuka kembali kemungkinan perkembangan komik dengan mengembalikan komik sebagai media komik itu sendiri. Memberi peluang  kepada perbincangan komik Jogja untuk berkembang sebagai budaya populer seutuhnya, bukan lagi sekedar alat pertarungan wacana dalam dunia seni rupa semata.

Sebagai bahasa, komik mempunyai tata bahasa sendiri, tempat gagasan-gagasan diterjemahkan secara verbal dan visual sekaligus, sebagai suatu permainan antara gambar dan kata-kata yang kemudian menjadi bahasa visual. Bahasa visualnya dikontruksi dalam tata ruang dan waktu yang hanya dapat dicapai dalam media komik. Pencapaian khusus ini dengan cara penggunaan persfektif, sudut pandang, panel, balon kata, dan narasi yang mampu mengungkapkan dunia manusia, dalam realitas maupun imajinasi yang dikenal dalam pengalaman pembaca. Lewat pengenalan itulah pembaca komik dapat berpartisipasi secara emosional dan intelektual untuk memasuki pengalaman yang halus sampai yang rumit. Guna mengoptimalkan semua perangkat tata bahasa komik tersebut, penting kiranya kebutuhan akan distribusi pengetahuan terhadap teori-teori yang membangun dunia komik itu sendiri hingga menjadi adanya seperti sekarang. Mungkin pemikiran dunia komik Will Eisner sebagai seni bertutur secara berurutan dalam buku Comics & Sequential Art-nya atau usaha menggali jawaban atas pertanyaan: apakah komik itu sebenarnya dari Scot McCloud dalam buku Understanding Comics-nya dapat dijadikan bahan awal yang menarik.

Pada capaian pembacaan situasional komik Jogja di atas, kiranya dapat dirasakan nilai pentingnya menghadirkan presentasi Komik Kampung* yang dikerjakan mahasiswa DKV FSR ISI Jogjakarta ini.  Di luar capaian mutunya yang terbuka untuk kita perdebatan kembali, ada proses kerja komik yang menghadirkan kembali dunia komik sebagai komik itu sendiri. Sebuah awal sederhana tapi signifikan bagi upaya membongkar potensi perkembangan dunia komik ke depannya.

Catatan Editorial:

*Ini merujuk pada pameran komik “Kampus to Kampung” yang dilangsungkan pada tanggal 20-29 Mei 2012. Pameran ini diinisiasi oleh Jurusan DKV, Institut Seni Yogyakarta

Tulisan ini juga pernah dimuat di situs DGI-Indonesia.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu