Pustaka Komik

Oleh -
0 308
kaver - A Comics Studies Reader

Sekali-dua kali, mereka yang berkutat di dunia komik pasti akan menemukan banyak tulisan di mana komik dicitrakan sebagai sebuah genre yang kekanak-kanakan, dan dengan demikian ia hanya ditujukan untuk konsumsi anak-anak. Bahkan orang tua anda mungkin pernah melarang anda membaca komik.

Cuma masalahnya anggapan tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di Perancis. Thierry Groensteen mencatat fenomena ini dengan baik lewat sebuah esei berjudul “Why are Comics Still in Search of Cultural Legitimization?” Esei ini sudah dua kali saya lihat, masing-masing di buku Comics and Culture: Analytical and Theoretical Approach to Comics dan A Comics Studies Reader. Saya akan mengajak anda untuk melihat pembacaan saya atas esei Groensteen yang termaktub di buku kedua.

Bukan tanpa alasan jika Groensteen memulai eseinya dengan pertanyaan pada judulnya, karena dia sendiri berusaha meletakkan argumen eseinya itu pada fenomena paradoks: “walau komik telah memperoleh eksistensinya selama satu setengah abad, ia masih saja menderita karena sangat kekurangan legitimasi” (hlm. 3) . Dengan kata lain esei itu, pada keseluruhan tubuhnya, mengangkat tema “sejarah” tentang sebuah semesta kecil yang paradoks, atau ihwal komik yang walau “populer” namun kekurangan legitimasi. Groensteen menjelaskan ihwal kekurangan legitimasi dengan cara memaparkan “sejarah” wacana komik di Perancis.

Dari mana Groensteen membayangkan legitimasi itu mesti datang? Pertama-tama adalah dari kritikus komik dan akademisi komik. Meski Groensteen tidak secara eksplisit mengharapkan kehadiran kritikus dan akademisi komik, namun tampaknya ia membayangkan keduanya seharusnya bisa hadir memberi legitimasi kultural kepada komik. “Sejarah” wacana yang ia jabarkan menyebutkan bahwa pada tahun 1960-an di Perancis tidak ditemukan kritikus dan akademisi komik yang membangun legitimasi kultural atas komik. Katanya “[…] komik (sampai tahun 1960-an) dikelilingi oleh keheningan yang cukup memekakkan telinga” (hlm. 4). Tentu saya mesti bertanya, bagaimana bisa keheningan memekakkan telinga?Walau terkesan hiperbol, namun dari sinilah basis paradoks yang dikemukakan oleh Groensteen menjadi masuk akal. Groensteen memberi kesan eksplisit: meski di Perancis komik disebut seni kesembilan dan pada 1845 sudah ada Töpffer yang mengajukan fondasi bagi teori komik, namun sampai 1960-an ia justru tidak melihat perhatian akademis, wacana kritis, maupun juru arsip yang membangun pengetahuan atau teori tentang komik. Baginya fakta tersebut merupakan hal yang ironis karena sampai tahun 1955 di Perancis “[b]uku-buku tentang sinema dan fotografi dipublikasikan oleh lusinan orang!” (hlm. 4).

Minimnya akademisi dan kritikus komik di Perancis pada waktu itu membuat komik berada di titik nadir. Dari kekosongan wacana komik yang dalam bayangan Groensteen mesti diisi oleh akademisi dan kritikus komik, pendidiklah yang kemudian menjadi kelas yang memonopoli wacana komik. Celakanya kebanyakan pendidik Perancis waktu itu menganggap komik sebagai sebuah entitas yang berpengaruh kepada moralitas kaum muda. Potensi komik (kalaupun ada hal semacam itu) dinilai sebatas kemampuannya dalam mengkorupsi jiwa anak-anak. Esei Groensteen tersebut menarik perhatian saya oleh karena pemaparannya yang terasa dekat dengan fenomena kultural yang terjadi di Indonesia. Adalah Marcell Bonneff yang mencatat lewat Komik Indonesia, bahwa pada tahun 1954-1960 “para pendidik menentang komik yang berasal dari Barat, bahkan produk imitasinya (Sri Asih)”. Periode tersebut dicatat oleh Bonneff sebagai periode di mana para pendidik di Indonesia menganggap komik sebagai bahan bacaan yang tidak mendidik, sekaligus mengandung gagasan berbahaya. Kemiripan fenomena delegitimasi komik yang terjadi di Perancis dan Indonesia membuat saya bertanya-tanya: apakah fenomena tersebut merupakan gejala universal? Sayangnya saya tidak punya cukup bahan untuk menjawab pertanyaan ini.

Walau begitu, esei Groensteen itu menjadi bahan bacaan yang menarik karena situasi di Perancis kemudian berubah pada 1970, di mana komik kemudian memperoleh persetujuan kultural lewat slogan “comics can be educational” (hlm. 7). Sampai di sini agaknya kita bisa meninggalkan debat seputar deligitimasi komik sebagai sebuah genre yang merusak moral remaja. Debat seputar komik kemudian beralih ke pembahasan mengenai estetika komik dan pertanyaan kultural. Apa yang kemudian perlu dicermati kemudian adalah kemunculan stigma “artistic mediocrity” (hlm. 7) yang menurut Groensteen membuat genre komik disepelekan secara artistik. Lebih jauh lagi, ada empat faktor yang memicu laku penyepeleaan tersebu, yakni: 1) bentuk komik yang merupakan hibrida antara teks dan gambar, 2) tipe penceritaan komik yang  tergolong sub-literatur, 3) koneksinya kepada karikatur, dan 4) walau ada komik yang ditujukan untuk dewasa, namun komik tidak menawarkan apapun selain sebuah jalan untuk kembali ke fase kanak-kanak (hlm. 7).

Perbincangan seputar status artistik dan kultural yang dipaparkan oleh Groensteen merupakan sebuah gejala yang menarik, karena ia secara eksplisit mengungkap kegelisahan tentang status artistik komik, sebuah hal yang tampaknya juga bisa menjadi cermin atas apa yang terjadi di Indonesia. Di sini komik sudah lama dianggap sebagai gejala seni yang dianggap memilki kekhasan sendiri yang terpisah dari Sastra dan Seni Rupa (baca misalnya, esei berjudul “Komik : Antara Seni Visual dan Ambisi Sastrawi”). Di luar sana, secara tidak sadar kata “seniman” menjadi sebuah pengganti untuk profesi “komikus”. Kritikus seni dan penulis buku-buku budaya Agus Dermawan T. pun menganggap komik sebagai sebuah genre yang memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja. Bayangkan, seorang dari dunia Seni Rupa sudah menghargai komik sedemikian rupa! Kurang perhatian apa lagi?! Namun toh masih tersisa pertanyaan yang pantas untuk dibahas secara lebih mendalam, yakni apa gerangan yang membuat komik pantas dianggap sebagai Seni? Saya pernah berbincang dengan pelaku seni yang juga membuat komik. Katanya komik pun sah dianggap sebagai seni karena ada gambar. Berhadapan dengan klaim-klaim ihwal sifat Seni pada komik, saya masih belum merasa puas, sebab bukankah Seni adalah juga soal bagaimana mengukur dan menilai karya supaya ia pantas disebut sebagai Seni. Singkat kata, dibutuhkan standar untuk menilai apa yang disebut estetika komik, yang tentu terpisah dari standar penilaian atas bentuk-bentuk karya seni lainnya.

Saya menyelipkan cerita di atas karena Groensteen sendiri beberapa kali menyebut kata “estetika” di dalam eseinya itu. Hal yang menjadi pertanyaan saya adalah: estetika komik, makhluk macam apa itu? Bermula dari sejarah tentang paradoks komik dalam masyarakat Perancis, bagian akhir dari esei Groensteen membahas secara rinci ihwal wacana yang menaungi empat faktor di atas, yang disebutnya sebagai “[d]osa asal seni kesembilan yang menjadi prasangka dasar akademik” (hlm. 8). Faktor pertama, yakni komik sebagai produk hybrid, antara teks dan gambar, seringkali dijadikan dasar metode pembahasan komik. Tetapi penjabaran Groensteen atas wacana yang membahas salah satu bagian dari dosa awal tersebut mengesankan bahwa ihwal sifaf hybrid komik tidak bisa diterima oleh kalangan tertentu. Singkatnya ada keberatan dari kalangan tertentu (Groensteen menyebut beberapa nama seperti penulis Perancis Pascal Quignard, dan mantan kurator National Library of France Michel Melot) yang menganggap bahwa perkawinan antara teks dan gambar dalam satu bidang adalah “membosankan (so monotonous) – menurut Melot – sekaligus “bertentangan” – menurut Quignard. Groensteen membela dosa asal tersebut dengan menjabarkan sebuah hal penting, yakni kriteria estetik komik itu sendiri, di mana gambar dan teks dipakai bersamaan, yang domainnya berbeda dengan domain seni lain. Artinya, Ini adalah pembelaan yang cukup baik, karena mengisyaratkan sifat utama dari formkomik itu sendiri, yang mana teks dan gambar sama-sama berkontribusi terhadap narasi. Akan tetapi kesulitan utama saya dalam memahami penjelasan tersebut adalah:  adakah kriteria penilaian dan standar tertentu untuk sebuah genre di mana gambar dan teks bekerja dalam sebuah bidang yang sama dan salah satu dari keduanya tidak menegasikan yang lain? Bagaimana supaya kriteria tersebut – kalau ada – menjadi sebuah metode yang logis dan siap dipakai dalam sebuah pembahasan karya komik, supaya domain komik benar-benar terbukti berbeda dengan, misalnya, teks yang diberi ilustrasi?

Tiga dosa asal lainnya menjadi bumbu pelengkap bagi “Why are Comics Still in Search of Cultural Legitimization?” Satu yang sangat menarik – setidaknya bagi saya – adalah sifat naratif komik yang membuatnya tergolong sebagai sub-literatur. Menurut Groensteen, prasangka atas sifat naratif dari komik muncul karena faktor ekstrakomikal, yakni “[f]akta bahwa pasar komik mematuhi aturan komersial. [Dengan demikian] kemampuan menjual produk menjadi sesuatu yang lebih penting dibandingkan nilai intrinsik dari bentuk seni tersebut” (hlm. 10). Terhadap prasangka semacam ini, Groensteen melakukan pembelaan dengan mengacu kepada laku pembacaan komik yang disebutnya sebagai tindakan di mana subjek pembaca tidak hanya menikmati “a story-related pleasure, but also an art-related pleasure, an aesthetic emotion founded on the appreciation of the exactness and expressivity of a compostion, pose, or line” (hlm. 10). Selain kedua konsep kenikmatan yang  terkesan abstrak itu, dia juga menyebut satu kategori kenikmatan lain, yakni “[a] medium related pleasureIt cannot be reduced to the sum of the other two, but is related to the rhythmic organization in space and time of multiplicity of small images” (Hlm. 10). Ketiga kategori kenikmatan tersebut memang terkesan abstrak, karena berhubungan dengan subjektifitas (bukankah konsep “menikmati” itu juga sangat subjektif?). Meski demikian, hendaknya kita melihat irisan hubungan di mana Groensteen memparalelkan subjektifitas dengan konsep-konsep objektif, yakni yang terlihat pada kode-kode seperti space (ruang), time (waktu), composition (komposisi), pose(gestur), dan line (garis). Tampaknya estetika komik sebagai domain ilmiah terlihat logis ketika yang subjektif dari komik (kenikmatan ketika membaca komik) ditentukan berdasarkan penilaian objektif atas hal-hal intrinsik dari komik.

Esei Groensteen yang dibahas di sini sesungguhnya membuka ruang bagi kita untuk kembali menelisik konsep estetika dalam komik. Harus diakui bahwa perbincangan mengenai estetika komik kurang mendapat ruang di dalam wacana komik Indonesia. Dalam banyak hal, esei tersebut beserta buku A Comics Studies Reader sesungguhnya membuka ruang bagi kita untuk kembali merenungkan makna apa pentingnya legitimasi komik dari kritikus komik dan akademisi komik, serta pentingnya melakukan studi komik berdasarkan kriteria intrinsik pada komik yang membuatnya terpisah dari genre seni lainnya.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu