Ulasan Komik

Sebagai sebuah genre, komik bertema sejarah mungkin adalah salah satu yang cukup jarang hadir dalam wacana komik Indonesia pasca tahun 2000. Sepanjang pengetahuan saya, beberapa komik sejarah yang patut dicatat adalah Harimau dari Madiun karya Aji Prasetyo, Pejuang Muda: Longmarch Divisi Siliwangi karya Sungging, dan beberapa komik terbitan Metha Studio yang menerbitkan komik bertema sejarah dibalut dengan cerita-cerita fiksi. Untuk yang bertema lebih spesifik yaitu sejarah tokoh, tercatat John Lie terbitan kolektif asal Surabaya Milisi Fotocopy, yang menceritakan sejarah kehidupan pahlawan nasional beretnis Tionghoa itu. Selebihnya, saya tak tahu. Pernyataan saya di kalimat pertama yang menyatakan bahwa komik bergenre sejarah ini cukup jarang hadir, lebih disebabkan karena ketidaktahuan saya. Kalau ternyata memang lebih banyak, mohon untuk diluruskan.

Nah, kali ini saya baru saja mendapatkan dan membaca sebuah komik tentang tokoh sejarah yang bukan hanya melegenda karena perjuangannya melawan penjajahan, tapi juga mengangkat wacana kepemimpinan wanita dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Adalah Nyimas Ratu Kalinyamat, satu dari tiga wanita Jepara yang menjadi ikon perjuangan bangsa, yang kisah hidupnya diangkat dalam sebuah novel grafis biografi sejarah yang apik oleh Muhammad B. Pontian.

Sebagai komik sejarah, Pontian sebenarnya tidak menawarkan wacana baru mengenai kehidupan Ratu Kalinyamat. Novel grafis ini memfokuskan jalinan cerita berdasarkan sosok sejarah Ratu Kalinyamat, yang lahir di Demak, dan meninggal di Jepara pada tahun 1579. Puteri Sultan Trenggono yang memerintah Demak pada tahun 1521-1546 itu sangat terkenal di kalangan bangsa Portugis karena sosoknya yang sangat berani menentang penjajahan bangsa asing (Portugis) yang merugikan orang-orang Jepara. Kisah hidup Ratu Kalinyamat itu ditulis dan digambarkan ulang dalam narasi dan ilustrasi sepanjang 158 halaman yang dibagi menjadi 5 bab, mulai dari perkenalan sosok Ratu Kalinyamat hingga masa kejayaannya. Bagian yang paling diingat orang, selain serangannya kepada Portugis yang sangat heroik itu, yaitu pertapaannya, mengambil 1 porsi bab tersendiri.  Beberapa narasi sejarah mengisahkan bahwa Nyimas Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan telanjang. Namun demikian, Pontian menampilkan adegan pertapaan itu dengan cara yang lebih halus, alih alih menampilkan ketelanjangan sosok perempuan legendaris tersebut. Cukup aman untuk yang ingin memperkenalkan novel grafis ini pada pembaca di bawah umur 18 tahun.

Satu hal yang penting dicatat —saya sependapat dengan pengantar novel grafis ini, adalah tata letak panil-panilnya. Mengutip pengantar penerbit, Pontian “secara sadar menciptakan karya sekuensialnya dengan kesadaran ruang yang berbeda dengan jenis karya lainnya.” Jika anda membaca novel grafis ini, anda akan menemukan cukup banyak ruang-ruang kosong yang sengaja diciptakan oleh Pontian, yang —lagi lagi mengutip pengantar dari penerbit: “…membantu penikmat karya untuk tidak tergesa-gesa dalam menikmati narasi yang ditawarkan…”

Di tengah kebangkitan komik lokal yang perlahan-lahan mulai menunjukkan geliatnya, untuk kemudian disesakkan oleh komik-komik strip bergenre humor dan komedi yang lama-lama mulai terasa membosankan, Nyimas Ratu Kalinyamat menjadi alternatif bagi penikmat komik lokal yang menginginkan tema-tema yang lebih serius dan dewasa, yang nampaknya belum banyak digarap oleh komikus lokal. Di sisi lain, novel grafis ini dapat dipandang sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh sejarah bangsa melalui medium yang katanya ‘memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja’¹ ini.

Terakhir, seperti tertulis dalam pengantarnya: “Nyimas Ratu Kalinyamat menjadi sebuah buku yang patut dinikmati oleh para penggemar cerita-cerita sejarah yang dituturkan secara visual-sekuensial.”

Jakarta, Mei 2017


¹Kutipan milik Agus Dermawan T, kritikus seni dan penulis buku-buku budaya, yang saya ambil dari sini dan sini.

Saat sampai pada halaman kedua komik ini —saya sedang dalam perjalanan di kereta jarak pendek saat membacanya— saya segera berjanji dalam hati untuk menuliskan sedikit komentar saya. Saat itu, sebenarnya perasaan saya sedang kalut. Biasalah, banyak urusan duniawi yang membuat hati dan otak saya menjadi tidak karuan, tapi tak perlu saya ceritakan di sini karena itu bukan urusan anda, dan anda juga tidak akan peduli. Lagi pula saya bukan Deidra Mesayu, pembuat komik yang akan saya tulis reviewnya ini. Kalau anda nanti membaca komiknya, anda akan tahu mengapa saya menulis begini.

Chandra Agusta | Sekuensi.com

Pertama, untuk mempermudah, walaupun bentuk karya Deidra ini adalah ilustrasi berteks (seperti tertulis pada pengantarnya yang ditulis oleh kritikus komik kita yang termasyhur a.k.a M. Hadid), atau teks berilustrasi, saya akan tetap menyebutnya sebagai sebuah komik. Saya tidak tahu, dan tidak ingin memperdebatkan, apakah dalam karya ini unsur-unsur komik itu sudah tercapai atau tidak, namun karena karya ini berada dalam sebuah kompilasi komik milik kolektif Barasub yang punya jargon “Manifeskuensi”, kita anggap saja ini memang komik.

Komik setebal 25 halaman (termasuk cover depan dan belakang) ini berjudul Deidra Dengue Danar, Komik Pendek Berselimut Racun Aedes Aegypti, merupakan komik kedua dalam kompilasi komik bertajuk Beringas Vol. 2. Bentuknya, kalau dilihat-lihat dan dimirip-miripkan, mungkin dapat digolongkan ke dalam kategori graphic diary, seperti komiknya Tita Larasati dengan Curhat Tita-nya. Sudah barang tentu sebagai graphic diary, ceritanya sangat personal. Saya tidak tahu apakah ini benar-benar kisah nyata si komikus, tapi anggap saja begitu, dan disitulah letak kekuatan ceritanya.

Ia memulai narasinya dengan memperkenalkan dirinya sendiri, sebagai seorang yang aneh (walaupun ia menegaskan bahwa banyak orang punya kecenderungan mengaku-ngaku sebagai orang aneh). Ia juga mempertegas karakter dirinya dengan menceritakan kebiasaan-kebiasaannya, hobinya, dan hal yang dibencinya, yaitu nyamuk. Dari nyamuk inilah semua cerita dimulai. Pacarnya digigit nyamuk dan terserang demam berdarah. Ia dengan kasih sayang dan pengorbanan yang tidak sedikit merawat sang pacar sampai sembuh. Sialnya, setelah sembuh pacarnya justru kencan dengan mantannya. Mereka kemudian putus, dan ia patah hati. Dalam suasana patah hati itu ia memberikan tips-tips bagaimana mengatasinya hingga ia sembuh dari luka hatinya.

Sebuah cerita yang sebenarnya sangat sederhana, tapi kalau anda membaca komik ini, anda akan mengetahui kuatnya Deidra dalam membangun narasi. Dalam cerita yang sederhana itu, dengan balutan kalimat-kalimat dan ilustrasinya, Deidra menyampaikan rasa cintanya, kemarahannya, serta tips-tips menghadapi keadaan patah hati, membuat saya terhanyut, ikut terharu, lalu ikut marah dan jengkel, untuk kemudian ikut merasa bahagia karena semua berakhir baik-baik saja. Tentu saja saya membacanya sambil tertawa-tawa. Menertawakan nasib buruk orang lain mungkin adalah salah satu bentuk hiburan terbaik.

Chandra Agusta | Sekuensi.com

“Aku menangis hebat. Aku menangis meski tetap hebat”, tulis Deidra dalam adegan ketika ia mengetahui pacarnya berboncengan dengan mantannya. Sebuah kalimat ajaib yang membuat saya memaki dalam hati.
Lalu ada kalimat: “Akupun bertanya-tanya kenapa setelah dia meledek menu lauk keluargaku yang selalu cuma tahu dikuahi santan, aku masih ingin dia tetap bersamaku sambal menangis tersedu-sedu.” Lalu: “Aku ingin meninju perut laki-laki yang menghina cara hidup dan sistem lauk keluargaku padahal dia beli sepatu vans minta aku menambah seratus ribu…” Sistem lauk? Apa itu? Sialan betul.

Mungkin kemampuan untuk menceritakan kisah hidupnya ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang ekstrovert, yang dengan senang hati mengisahkan cerita pribadinya kemudian membagikannya ke publik, untuk kemudian kita baca sambal tertawa sambil guling guling di lantai kereta saking lucunya. Agak ironi juga sih, tapi saya pikir komik ini dibuat untuk tujuan itu (ini mungkin perlu dipertanyakan ulang, karena komik ini dimuat dalam kompilasi bernama Beringas :p), dan itu berhasil untuk saya. Jadi di kereta, mendung yang menggelayuti perasaan saya tadi jadi agak sedikit menjadi cerah. Dan seperti kalimat saya di paragraf pertama tadi, saya jadi tidak perlu menceritakan kekalutan hati saya, terutama karena saya mungkin tidak bisa menyusun kalimat yang lucu dan menghibur, dan karena kelucuan tersebut hari ini, saat tulisan ini dituliskan, sudah menjadi milik komik ini.

Jakarta, 1 Mei 2017

Sebagian dari kita percaya bahwa hidup ini dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang tak nampak, yang membuat seluruh makhluk hidup, khususnya manusia, tunduk pada suatu keadaan tertentu yang tidak dapat dihindarinya. Kekuatan itu, yang karena tak nampak dan mungkin susah dipahami, kemudian dikembangkan dalam konsep-konsep yang dapat dipahami manusia, lalu diberi berbagai macam nama. Konsep-konsep itu berkembang luas melalui tradisi lisan dan tulisan manusia.

Narasi paling populer untuk menjabarkan konsep-konsep ini tentu saja adalah kitab-kitab suci agama, yang mengatakan dengan tegas bahwa apa yang tertulis di dalamnya berasal dari pemilik kekuatan itu sendiri. Lainnya, yang juga punya pengaruh besar, tentu saja adalah sains dan ilmu pengetahuan. Bedanya, agama mempertahankan posisi kekuatan tersebut sebagai sesuatu yang misterius, dan yang dibutuhkan hanyalah mengimaninya saja, sedangkan sains memposisikannya sebagai sesuatu yang bisa diselidiki, ditelaah, disanggah, dan dipertahankan dengan metode-metode tertentu, agar dapat dibuktikan dan disusun menjadi teori teori yang universal, katakanlah misalnya hukum fisika, kimia, dan lainnya.

Di luar itu, banyak narasi lain yang beredar, termasuk di dalamnya adalah produk produk budaya populer saat ini, salah satunya adalah cergam¹. Walaupun untuk yang terakhir ini sifatnya lebih bebas, dalam artian tidak perlu diimani, dan tidak perlu pembuktian dengan metode-metode tertentu, imajinasi semacam ini tetap bisa dikategorikan sebagai konsep-konsep alternatif.

Soliter, sebuah cergam karya Poton V, mencoba menawarkan konsepnya mengenai kekuatan tersebut, dan bagaimana kekuatan tersebut mengatur kehidupan manusia. Dalam dunia imajinasinya yang tertuang dalam panil-panil cergam, Soliter menggambarkan sebuah dunia di mana kehidupan manusia diatur oleh Four Horsemen, sebentuk ‘makhluk-makhluk’ yang mempunyai tugas khusus untuk mengatur berbagai hal dalam kehidupan manusia, semacam konsep dewa-dewa atau malaikat dalam agama-agama. Setiap ‘makhluk’ itu mempunyai tugas yang spesifik, ada yang mengatur kebencian, penyakit, mimpi, kematian, keserakahan, mukjizat, dll dsb. Namun demikian, keberadaan ‘makhluk’ bertugas khusus ini ternyata juga tak bisa lepas dari sesuatu yang dinamakan takdir, begitulah kira-kira garis utama dari kisah ini. Dalam kalimat pembuka, dengan lugas Poton menuliskan: “ada beberapa hal [tak] kasat mata… yang membuat kehidupan ini… menjadi tunduk kepada takdir…”²

Dikisahkan, Sirna, petugas pengendali mimpi yang tugasnya adalah menghapus mimpi manusia di penghujung malam, sedang berada dalam kebosanan karena rutinitas pekerjaannya. Pada suatu ketika, ia mendapati sebuah mimpi yang menggambarkan percintaan sosok dirinya dengan sang pemilik mimpi, seorang wanita yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut bernama Yati. Penasaran, ia akhirnya mengetahui bahwa Yati bermimpi dalam kondisi koma. Singkat cerita, Sirna menjadi simpati dan jatuh cinta pada seorang wanita itu. Ia, dibantu Maut, pengendali kematian, mencari cara untuk dapat melepaskan penderitaan Yati, melalui sebuah petualangan di Kebun Malapetaka. Paska kesembuhan Yati, mimpi-mimpi percintaannya dengan Sirna justru menghilang. Sirna yang sudah kadung cinta menjadi kecewa. Untuk mendapatkan cintanya, Sirna memutuskan mengubah dirinya menjadi manusia, dan cerita terus mengalir hingga berakhir dengan tragis di tangan takdir, yang ironisnya justru hanya dianggap permainan oleh pengendalinya.

Jika kita mengamati cergam-cergam Poton, termasuk beberapa karyanya terdahulu seperti Jagger Myth, Tuna Kala, Hama, atau Djinah 1965, kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa gaya ilustrasi Poton tidaklah fokus pada detail. Tak ada gambar-gambar bombastis seperti tokoh-tokoh yang keluar dari panil ataupun yang penuh detail dengan gaya realis. Adegan demi adegan dalam panil-panil cergamnya tercetak dalam gambar-gambar sederhana para tokoh dan aktivitasnya, nyaris tanpa tambahan apapun selain balon kata dan narasi. Sangat banyak dijumpai panil gambar yang bahkan tidak memiliki gambar latar, diganti dengan blok-blok hitam ataupun arsiran. Meski demikian, konsistensi karakter tokoh-tokohnya tetap terjaga dengan baik. Kejelian Poton memanfaatkan ciri khusus untuk setiap tokoh saya pikir adalah kuncinya. Misalnya, Sirna digambarkan berambut gondrong a la suku Indian lengkap dengan bulu unggasnya, Maut dengan kacamata dan topi, juga pengawas kebun Malapetaka yang memakai masker. Penggunaan ciri khusus tersebut memudahkan identifikasi pembaca untuk membedakan satu tokoh dari lainnya. Sebagai catatan tambahan, saya cukup terkesan pada panil-panil di setiap pergantian chapter dan pembukaan chapter baru. Sebuah komposisi layout yang manis dan enak dilihat.

Sebaliknya dari gambar yang sederhana, Poton adalah komikus yang cukup serius membangun jalan cerita. Teknik pengisahan cerita dalam cergam ini memang bukan sesuatu yang baru. Menggunakan rumus drama tiga babak: pengenalan tokoh, konflik, dan penyelesaian konflik, dengan alur maju yang konstan, tak berarti jalan cerita menjadi asal-asalan dan membosankan. Poton cukup lihai membentuk karakter tokoh-tokohnya dalam dialog-dialog dan gambar, sembari merambat masuk ke konflik utama tanpa harus bertele-tele menambahkan halaman khusus daftar tokoh seperti yang sering kita jumpai dalam komik-komik Jepang. Dalam beberapa panil, dapat kita lihat juga bagaimana Poton membangun ketegangan/suspense cerita dengan cukup baik, misalnya dalam adegan petualangan di Kebun Malapetaka dan saat pelarian Sirna dan Yati di jalanan.

Pendekatan kelokalannya juga harus menjadi perhatian khusus. Lihatlah bagaimana identitas-identitas kelokalan yang berserakan dengan alami tanpa harus terlihat dipaksakan: Yati yang penyanyi dangdut, bapaknya yang tidak mau melakukan suatu pekerjaan karena menganggap hal tersebut adalah urusan perempuan, mimpi Yati menjadi juri Diva Dangdut Indonesia, atau ajakan Sirna kepada Yati untuk kawin lari karena hubungan mereka tak direstui oleh ayah Yati, juga penggerebekan di hotel.

Musik pengiring kiamatChandra Agusta | Sekuensi.com
Preview panel: musik pengiring kiamat; hal. 100

Selain itu, Poton juga piawai menyelipkan humor-humor gelap dalam cerita ini. Beberapa yang bisa saya tunjukkan, misalnya pada adegan alarm kiamat, yang berubah menjadi musik gubahan Beethoven, Symphony no. 7 in A Major, Op 92-II, Allegreto. Pengawas Kebun Malapetaka dengan enteng mengomentarinya dengan: “tak kusangka akhir dunia diiringi oleh musik ini…” ditimpali gumaman Maut: “aku berharap mereka bakal memutar Lux Aeterna atau No Surprises…”

Bagian sampulnya pun sangat apik. Potret tampak belakang Sirna sang tokoh utama, dengan pilihan warna yang eye-catching. Bagus! Secara keseluruhan, penilaian saya untuk cergam setebal 104 halaman ini adalah: Sangat Layak Untuk Anda Koleksi.

Bogor – Jakarta, April 2017

¹ Cergam: cerita bergambar. Saya menggunakan istilah ini untuk menggantikan kata komik. Dalam sebuah obrolan saya dengan Poton, ia menyatakan menolak untuk menggunakan istilah komik untuk Soliter. Menurutnya, komik merujuk pada cerita bergambar untuk kisah kisah yang lucu. Ia lebih sepakat untuk menggunakan istilah cergam bagi karya-karyanya.

² Kata [tak] dalam kutipan tersebut adalah tambahan dari saya. Merujuk pada KBBI, kasat mata berarti dapat dilihat, konkret, atau nyata. Dalam konteks Soliter, penggunaan yang tepat menurut saya adalah tak kasat mata.

Oleh -
0 93
Sampul Sepotong Kisah
Sepotong Kisah Pemenggal Kepala
Apa yang anda harapkan bakal didapatkan ketika membaca sebuah komik? Sedikit hiburan, kesenangan, atau apa? Bagi seorang pengamat/kritikus komik, mungkin penting baginya untuk mendedah komik, mengulitinya dalam perspektif estetika dan gaya ilustrasi, lalu menguraikan plot plot cerita serta gaya bahasa yang digunakan, hingga menelisik maksud maksud yang tersurat dan tersirat dari kumpulan gambar gambar dan balon teks itu. Namun bagi saya sendiri, membaca komik adalah tentang pengalaman personal, sebuah proses interaksi antara saya sebagai subjek dan komik sebagai objeknya. Pengalaman personal yang ditimbulkan dari aktivitas ini kemudian memunculkan perasaan perasaan tertentu, yang sangat mungkin berkaitan dengan kondisi saya sebagai subjek, juga komik sebagai objek.

Maksud saya kira kira begini, kadang kadang saya tidak bisa tertawa meskipun sedang membaca komik humor, meski di saat lainnya saya bisa tertawa terbahak bahak untuk komik yang sama. Atau katakanlah, seberapa tergugahkah anda ketika membaca sebuah komik dengan tema protes atau perlawanan? Kondisi psikologis kita sebagai pembaca pasti sangat berpengaruh terhadap interpretasi kita terhadap objek komik yang kita baca. Tapi yang paling penting, serta bisa dinilai, tentu berada pada komik itu sendiri. Seberapa mampu sebuah komik untuk mempengaruhi pembaca secara personal? Tentu saja dibutuhkan penelitian untuk menjawab pertanyaan ini, tapi sekali lagi, bagi saya yang paling penting adalah tentang bagaimana saya sebagai pembaca memperoleh pengalaman personal yang berkesan. Saya tidak tahu apakah para komikus juga memikirkan hal yang sama: bagaimanakah agar komiknya menimbulkan kesan yang mendalam -sehingga pesannya tersampaikan- bagi pembaca?

Dalam perjalanan mudik lebaran beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah komik berjudul Sepotong Kisah Sepenggal Kepala karya Abdoel Semute. Komik bertahun terbit 2016 ini dicetak secara mandiri oleh Milisi Fotocopy, sebuah kolektif komik bawah tanah yang berlokasi di Surabaya. Komik komik terbitan Milisi Fotocopy sering mengambil bentuk dan tema yang tidak populer untuk ukuran komik yang beredar di tanah air, demikianlah kesimpulan saya setelah membaca beberapa judul komik yang diterbitkan oleh kolektif ini. Dalam pemilihan tema -di tengah demam komik strip humor dan komedi- Milisi Fotocopy konsisten mempertahankan tema tema kritik sosial tentang kehidupan kaum miskin kota, juga isu isu rasial, begitupun komik ini, begitu juga gaya artistiknya. Meskipun pada pengantarnya, yang ditulis oleh Rakhmad Dwi Septian  dengan eksplisit dituliskan bahwa karya ini adalah sebuah komik, istilah komik untuk karya ini sesungguhnya sangat menarik untuk didiskusikan, lantaran formatnya yang tidak lazim untuk sebuah komik yang kita kenal secara umum. Gambar gambar yang cenderung abstrak, tanpa panel panel, ditambah dengan teks yang berada terpisah dari gambar, tanpa balon teks. Melihat hal tersebut, masih layakkah karya Aboel Semute ini dianggap sebagai komik?

Kalau kita mengacu pada definisi komik menurut Scott Mcloud di bukunya yang terkenal, Memahami Komik, komik adalah “gambar gambar dan lambang lambang lain yang terjukstaposisi dalam urutan tertentu, bertujuan untuk memberikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembaca”. Dari definisi itu, cukup jelas bahwa karya Abdoel Semute ini adalah sebuah komik. Lagipula, pada ajang Kosasih Award 2016, karya Abdoel Semute ini berhasil meraih Penghargaan Khusus dari juri. Pertanyaan sebelumnya tadi hanyalah sebuah gimmick saja. Lebih dari itu, saya lebih suka menganggap bahwa produk produk budaya dan kesenian sebagai proses proses pengekspresian diri ketimbang kepatuhan terhadap suatu pakem atau pencapaian estetika tertentu. Dengan demikian, bentuk macam apapun menjadi sah sah saja.

Komik ini dibuka dengan sebuah gambar hitam putih seorang pria tanpa kepala berdiri di satu sudut dan sebuah kepala tanpa tubuh tergeletak di sudut lainnya. Dalam kata pengantarnya, Rakhmad Dwi Septian mencoba menafsirkan apa yang hendak disodorkan Abdoel Semute kepada pembaca. Kisah komik dipaparkan dalam pembabakan yang dimulai dengan cerita cerita penghancuran nilai nilai dan tatanan kehidupan masyarakat oleh penetrasi kapital dalam kedoknya yang bernama pembangunan. Dapat dilihat dalm ilustrasinya, Abdoel Semute menggambarkan realitas kehidupan masyarakat dalam ilustrasi ilustrasi yang suram: tangan tangan yang tergenggam dan menggapai, lirikan mata yang bengis, potongan potongan kayu, dan pabrik pabrik. Dalam teks yang melengkapi ilustrasi, Abdoel Semute menulis: “Dari balik jendela kita menengok awan pekat menggantung mendulang berita tentang kota, tempat kita dilahirkan, tempat kita tumbuh dan besar, dan mungkin tempat kita binasa… tergerus kota yang makin rakus memangsa semua…tanah kering kerontang menjelaga hitam, pohon meranggas, udara sesa beracun penuh pestisida dan karbon monoksida –biji-bijian-beton tumbuh bak parasit dalam dahaga serupa belukar kerakusan bernama ideologi pembangunan”

Kemarahan Abdoel Semute makin tergambar dalam ilustrasi dan teks teks di halaman selanjutnya. Asap asap hitam keluar dari mulut topeng yang dikenakan seseorang di atas kepalanya, kepala kepala dalam kotak yang berjeruji, juga ilustrasi isi kepala yang dipenuhi ular. “Atas nama kerakyatan…bahkan ia juga telah merombak punden leluhur kita menjadi taman2 kota yang tak lebih dari tempat prostitusi” tulisnya lagi. Lebih lanjut ia menulis: “ …kemajuan yang mencipta gedung bertingkat dengan menyingkirkan rumah kita hingga batas pinggir kota!…hingga tanah tempat untuk menanam ari-ari sebagai bibit kelahiran hingga tempat menanam bangkai bangkai tak luput dari penggusuran”. Ilustrasi ilustrasi kepala dengan leher terikat tali dan mulut ternganga mengepulkan asap, sendok dan garpu di atas piring kosong, dan seseorang dengan leher terkulai duduk di atas kursi, dan lelaki tanpa kepala memegang sebatang rokok yang mengepulkan asap, menatap kursi kosong di hadapannya, membentuk atmosfer yang kelam dan penuh kemuraman, menggambarkan kelaparan dan penderitaan hidup. Narasi yang tertulis menegaskan gambaran itu: “sambil sesekali  memukul2 sendok dan garpu pada piring seng karatan yang kosong sejak kemarin! Sejak prasejarah! Sejak para raja masih berkuasa! Sejak kidung gemah ripa loh jinawi menjadi dongeng sebelum tidur untuk anak anak yang merengek minta makan dan terus bertanya mengapa sawah yang mereka semai tiak berbuah beras!” Hiperbolik, tapi juga sangat menohok ulu hati. Di bagian selanjutnya, nampaknya Abdoel Semute menantang kita, atau entah siapa, dengan runtutan pertanyaan: “beranikah engkau berdiri telanjang meninggalkan jubahmu dan mengurai auratmu? Kelaminmu? Meninggalkan kursi kayu tempatmu selama ini bersembunyi?” sambil tetap melancarkan serangan bertubi tubi pada objek objek yang menurutnya pantas dihakimi. Kemarahannya pada tayangan televisi, pola pola pendidikan, dan merosotnya moralitas, tergambar dalam prosa prosa teks yang melengkapi ilustrasi.

Pada bagian akhir, seperti dikutip dari kata pengantarnya, Abdoel Semute mencoba menawarkan pilihan bagaimana kisah kisah sebelumnya akan diakhiri: bisa berakhir indah, kemenangan, kekalahan meratapi kesedihan, atau kegamangan. Ilustrasinya berubah dari kemelut perkotaan menuju ke suasana di desa. Kelahiran seorang bayi yang dirayakan di pinggir hutan, tradisi menanam, dan orang orang yang berpakaian seperti masyarakat jawa. Pada bagian akhir ini Abdoel Semute menghilangkan sama sekali teks dan narasi yang muncul pada bagian bagian sebelumnya, yang memang mungkin berarti bahwa ia membuka interpretasi seluas-luasnya kepada pembaca, tentang bagaimana hal hal yang ia uraikan sebelumnya harus diakhiri.

*****

Dilihat dari isinya, komik ini jelas bukan jenis komik untuk berhaha-hihi, dan membuat gembira pembacanya. Gambar gambar yang muram dengan teks teks puitis yang gelap ini berusaha mengajak anda berkontemplasi, merenungkan kembali makna makna kehidupan, bagaimana hidup ini berjalan dalam sebuah sudut pandang lain, sudut pandang Abdoel Semute yang muram dan marah.
Secara pribadi, sebagai seorang pembaca komik Indonesia, saya sangat menyukai komik ini. Bagi saya, bentuk yang ditawarkan adalah sebuah kebaruan –setidaknya buat saya-, yang layak untuk diapresiasi, begitupun temanya. Apa yang diangkat oleh Abdoel Semute dalam Sepotong Kisah Sepenggal Kepala ini jelas membuktikan bahwa komik bukanlah sekedar bacaan anak anak dan remaja. Keberadaan komik ini mengangkat derajat komik ke arah yang -kalau boleh dikatakan- lebih adiluhung, ketimbang anggapan tentang komik sebagai bacaan rendahan (walaupun saya sebenarnya bersikap masabodo pada pengklasifikasian seni rendah dan seni tinggi dan menyerahkan semuanya pada selera pribadi).

Di sisi lain, saya tak tahu seberapa banyak jumlah orang naïf di negara ini, yang kemudian menganggap bahwa hidup ini sedemikian hitam putihnya. Sebagai pembaca dewasa, mudah mudahan (saya tak tahu segmen pembaca yang disasar oleh Milisi Fotocopy), saya jelas harus mengambil sikap terhadap apa yang saya baca. Adalah benar bahwa orang orang yang terpinggirkan, harus dibela dan disuarakan, dalam medium apapun termasuk komik, tapi memandang pembangunan sebagai satu satunya pihak yang yang harus dirongrong terus menerus, disalahkan atas semua keburukan yang terjadi, jelas tak masuk di akal saya. Mengatakan pembangunan adalah melulu sebuah kejahatan sama naifnya dengan penganut “ekologi dalam” yang mengatakan bahwa pertanian adalah sebuah dosa karena memanipulasi alam. Saya pikir kita harus menempatkannya secara proporsional, dan komik komik kritik sosial semacam ini dapat dijadikan sebagai fungsi kontrol terhadap hal hal –katakanlah pembangunan- yang kebablasan.

Oleh -
0 1287

Bangsat! Kata itu sepertinya cocok untuk menggambarkan betapa brengseknya komik ini, God You Must Be Joking (selanjutnya disebut GYMBJ), sekaligus betapa berani komikusnya, Kharisma Jati. GYMBJ awalnya adalah komik strip yang terbit di facebook, entah sejak tahun berapa. Bulan Mei 2016 yang lalu, akhirnya kumpulan komik strip digital tersebut dicetak dalam bentuk buku komik oleh K. Jati Studio.

Sebagai materi yang direproduksi (saya kurang paham apakah seluruh materi pernah diedarkan via facebook atau ada yang sama sekali baru), jika anda memang belum pernah membacanya sebelumnya, bersiaplah untuk sebuah serangan jantung dan goyahnya iman. Berani jamin, komik ini akan susah dinikmati oleh pembaca yang mudah tersinggung, temperamental, atau mengidap tekanan darah tinggi. Di GYMBJ, Jati membawa komik strip ke dalam wacana wacana yang lebih serius dari sekedar lelucon menyedihkan khas komik digital di media sosial tentang jomblo, menikah, skripsi, dan hal hal tolol semacam itu. GYMBJ bertutur tentang agama, Tuhan, eksistensi manusia, seks, dan tak lupa juga tentang dunia komik dan kritik komik dalam lelucon lelucon yang kasar dan menohok ulu hati.

Isu yang dibahas dalam komik K. Jati ini boleh dibilang cukup berani ditengah suasana sosial politik sekarang ini, di mana razia dan amuk massa bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, apalagi kalau sudah menyinggung agama. Membahas dan mempertanyakan agama, apalagi mengejeknya, bisa jadi adalah hal yang paling berbahaya di negeri ini, selain tentu saja membahas komunisme. Beraninya lagi, Jati bahkan tak menggunakan nama pena atau alias dalam merilis komik komiknya. Sebagai salah satu penggemarnya, saya berdoa agar dia tidak ditimpa hal hal buruk gara gara komik komiknya (ingat kasus Aji Prasetyo dengan komik “Hidup Itu Indah”nya).

Sayangnya, dari sekian banyak komik strip dalam GYMBJ, tercatat hanya 6 komik saja yang diberi sub judul. Sisanya hanya bertuliskan God You Must Be Joking, dan alamat email komikus jika anda ingin melayangkan komplain, tanpa sub judul. Bahkan tak ada nomor halaman. Bayangkan kalau komik ini akan dibedah oleh Hikmat Darmawan atau M. Hadid (dua orang ini sering membahas komik dengan serius, baik dari segi estetika maupun tema temanya), tentu mereka akan kesulitan untuk membahas komiknya secara spesifik . Saya akan tuliskan ini sebagai salah satu kekurangan komik ini yang berhasil saya temukan.

Terakhir, mungkin dapat dikatakan bahwa Jati dan GYMBJ-nya adalah satu dari sedikit komikus yang masih dengan gagah mengangkat wacana yang tidak pop dan berbahaya dalam komik komiknya. Beginilah seharusnya komik bawah tanah dibuat, untuk menuliskan ide dan tema tema yang tak mungkin dapat ditemukan dalam komik komik di toko buku.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu