Ulasan Komik

Oleh -
0 1104
Class Struggle by Kharisma Jati

Perjumpaan saya dengan komik Indonesia lebih sering terjadi karena ketidaksengajaan. Sungguh sebuah kalimat pembuka yang buruk untuk tidak mengatakan bahwa komik Indonesia memang susah didapatkan selain pada acara pameran komik atau pembelian online melalui group facebook berisi maniak komik bangkotan senior yang melelang koleksi koleksinya dengan harga yang bikin geleng geleng kepala. Begitu juga perjumpaan saya dengan komik ini. Di sebuah siang di awal Februari 2016, saya mengunduh sebuah zine elektronik bernama Bhinneka dari Yayasan Bhinneka Nusantara. Saya mendapatkan tautan untuk mengunduhnya dari akun twitter Soe Tjen Marching, yang juga founder yayasan ini (klik disini untuk mengunduh). Zine ini dijuduli dengan sebuah kalimat yang agak seram, sesuai dengan tema yang diangkatnya untuk untuk edisi ini (Oktober 2015), yaitu “Setengah Abad Genosida ‘65”, dan saya menemukan sebuah komik karya Kharisma Jati di dalamnya. Taraaaa…

Komik ini menambah daftar karya yang mengangkat tema ’65 dalam format sekuensial alias komik. Sebenarnya masih ada 1 komik lagi di zine ini, yaitu komik berjudul Produk Propaganda karya Aji Prasetyo, tapi saya lebih tertarik untuk membahas komik Kharisma Jati ini.

Tapi sebelumnya, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu. Pertama karena saya menulis dengan gaya seorang hipster yang biasa saja, lalu saya sebenarnya tidak paham betul mengenai tragedi ‘65, dan yang terakhir adalah karena pemahaman saya terhadap teori-teori dalam dunia sekuensial amatlah lemah.

Komik berjudul Class Struggle ini hanya terdiri dari 5 halaman saja. Dengan jumlah halaman yang sedikit itu, narasinya tampak lebih kuat untuk menggambarkan situasi peristiwa yang ingin digambarkan ketimbang gambar visualnya. Asumsi saya, komik ini pastilah menggambarkan tragedi ‘65, terlepas tidak ada satu narasipun yang menyatakan bahwa peristiwa yang digambarkan merujuk pada peristiwa tersebut, kecuali kata “kup” di awal komik. Alasan lain yang memperkuat asumsi tersebut adalah bahwa komik ini dimuat di zine yang berjudul “Setengah Abad Genosida ‘65”( yaiyalah goblog).

Komik dibuka dengan sebuah panel yang menggambarkan orang orang yang digiring ke dalam sebuah truk oleh manusia berkepala serigala (atau serigala yang berjalan tegak?) yang menenteng senjata. Pemilihan serigala bersenjata sebagai sisi kelompok yang menang dalam komik ini mungkin hendak mewakili satu kelompok militer (yang disebut-sebut sebagai aktor utama dalam tragedi 65) dan juga rakyat sipil/paramiliter yang dipersenjatai. Sebuah perumpamaan latin “homo homini lupus” nampaknya benar benar telah terjadi atas nama revolusi. Sebuah perumpaan yang dengan pedih harus kita akui kebenarannya, karena kitalah manusia itu.

“Dari kejauhan mereka bilang: kup prematur itu telah gagal. Kami menanti dengan waspada apa yang terjadi kemudian”. Begitu tertulis dalam narasinya. Kharisma Jati menempatkan dirinya sebagai pihak pertama jamak, dengan menggunakan kata “kami”, yang menjelaskan secara gamblang posisinya dalam peristiwa yang dilukiskannya ini. Ia memilih untuk berada di pihak korban, atau mewakilinya, setidaknya begitulah tafsir sederhana saya.

Panel selanjutnya menggambarkan adegan seorang lelaki dan perempuan yang menatap ke arah luar melalui jendela dengan ekspresi yang penuh ketakutan. Penyebab ketakutan itu tergambarkan dalam panel ketiga dimana digambarkan para serigala bersenjata itu melakukan eksekusi terhadap sebarisan manusia yang tengah duduk berlutut.

Dua panel di halaman selanjutnya menggambarkan sebuah bangunan yang hancur, wajah wajah ketakutan, dan lagi lagi penembakan yang dilakukan oleh oknum serigala bersenjata. Di narasinya tertulis: “Pak Guru dan teman-temannya yang telah mengajari kami baca tulis digiring paksa ke dalam truk dan dibawa pergi entah kemana”. Pemilihan kata “pak guru”, “yang telah mengajari kami baca tulis” dalam tafsir saya menjelaskan bahwa betapa pembantaian yang dilakukan itu benar benar tanpa pandang bulu. Guru, dalam etika ketimuran, dianggap sebagai tokoh yang mulia dan dihormati. Melawan guru, contohnya, dianggap sebagai sikap yang sangat tidak terpuji. Dari kalimat ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Jati berusaha membuat kesan tentang betapa peristiwa ini sangatlah kejam,brutal, dan amoral. Sebuah kondisi yang sangat jauh melenceng dari etika ketimuran yang oleh sebagian orang di negeri ini sangat diagung-agungkan.

Selanjutnya, Jati mencoba melakukan perbandingan antara kekejaman yang terjadi pada peristiwa ‘65 dengan kejadian yang juga menyedihkan di tahun tahun sebelumnya, penjajahan Belanda. “Sejak jaman Belanda, belum pernah begitu banyak orang di negara ini mati atau kehilangan kebebasan… demi pembentukan sebuah tatanan politik baru”. Dari kalimat itu Jati ingin mempertegas bahwa kekejaman pada masa penjajahan, yang banyak sekali dikisahkan baik dalam buku sejarah resmi maupun bentuk bentuk produk budaya lainnya, yang dilakukan oleh bangsa lain, memakan korban tidak lebih banyak dari tragedi ‘65, yang dilakukan oleh dan terhadap bangsa sendiri, yang sayangnya justru tak banyak dikisahkan, setidaknya dalam narasi sejarah resmi.

Pada halaman berikutnya, dalam dua buah panel tergambar kembali kebengisan para serigala bersenjata, yang menunjukkan wajah buasnya dengan mulut menganga dan lidah yang terjulur keluar serta air liur yang menetes-netes. Dibawahnya terbaring korban korban keganasan mereka, dengan kondisi yang mengenaskan. “Ini adalah revolusi demokrasi. Mereka yang jahat, yang ingin mendirikan Negara dalam Negara. Yang durhaka terhadap cita cita republik harus dibersihkan!, dalihnya”. Narasi yang menggambarkan alasan para serigala bersenjata untuk melakukan pembantaian. Bagi mereka, cita cita republik adalah segala-galanya, dan kemanusiaan tidak lebih tinggi posisinya ketimbang hal itu, sehingga setiap yang durhaka terhadapnya pantas untuk dianggap jahat dan dihabisi.

“Persetan dengan terpaan prasangka, tuduhan. Konflik & kebencian. Teori konspirasi, infiltrasi & perang urat syaraf. Kami tidak terlalu peduli siapa yang terlibat, atau siapa yang ditunggangi CIA. Kepedulian kami ada pada sahabat terpercaya yang tengah berjuang di sebelah kami”. Saya agak bingung untuk menafsirkan narasi ini. Tidak cukup jelas bagi saya, apakah narasi ini mewakili tokoh dalam komik, atau mewakili Jati sendiri sebagai komikus. Jika mewakili tokoh dalam komik, jelas bahwa terdapat ketidaksesuaian konteks waktu antara kejadian yang digambarkan dengan informasi yang dituliskan. Teori konspirasi dan keterlibatan CIA dalam tragedi 65, sejauh pengetahuan saya, muncul setelah kejadian, sehingga tidak mungkin tokoh dalam komik dapat mengetahui informasi itu. Dengan asumsi itu, saya beranggapan bahwa narasi ini adalah adalah narasi komikus sebagai pengamat yang mengambil sikapnya.

Tapi tunggu, dalam konteks manakah komikus dalam narasinya :” Kepedulian kami ada pada sahabat terpercaya yang tengah berjuang di sebelah kami” berada? Kalau dalam konteks masa lalu, saat peristiwa dalam komik ini terjadi, perjuangan apakah yang dimaksudkan? Sosialisme? Komunisme? Atau dalam konteks waktu sekarang, saat ini, saat kita mengenang peristiwa 65 sebagai sebuah tragedi kemanusiaan, perjuangan ini mungkin bisa diartikan sebagai usaha usaha rekonsiliasi, seperti yang selama ini didengung-dengungkan. Atau juga perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan hak sebagai warga Negara, tanpa diskrimasi hanya karena seseorang, atau keturunannya, di masa lalu memiliki hubungan dengan PKI dan afiliasinya. Atau juga perjuangan agar Negara menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada korban peristiwa 65.

Narasi ini sama samarnya dengan narasi berikutnya, yang berapi-api dan cukup provokatif “Bagi kami, hidup adalah membela segala hal yang kami percayai!”.Tentu saja lagi lagi kita akan memunculkan pertanyaan yang sama: apakah yang dipercayai itu? Komunisme? Sosialisme? Tidak cukup jelas. Dan lalu, tidakkah “membela segala hal yang kami percayai” terdengar seperti fanatisme, yang barangkali tak berbeda dengan fanatisme agama agama yang melakukan teror atas nama Tuhan. Sebagai bagian dari masyarakat ilmiah mantan anak kuliahan,  yang memulai segala sesuatu dengan keraguan dan pertanyaan, saya tentu tidak sepakat dengan pembelaan yang fanatik semacam itu. Narasi itu seakan akan menegaskan tentang suatu keyakinan yang anti dialog.

Atau mungkin membela yang dimaksud adalah membela kawan kawan korban untuk memperoleh kembali hak hak mereka sebagai warga Negara (dalam zine ini dituliskan tentang banyak sekali kisah sedih para eks tapol 65 dan keturunannya yang dikebiri hak haknya sebagai warga Negara), dan yang lainnnya yang saya tulis dalam 2 paragraf sebelum ini? Kalau itu tentu saja saya sepakat dan mendukung, dan akan ikut mengucapkan kalimat dalam narasi terakhir: “Perjuangan kami tak pernah mati”.

Baca juga: Aku, Humor, dan Takdir: Representasi ‘65-66 Dalam Komik Indonesia 

Oleh -
0 694
Sampul Komik Tawur, karya C. Suryo Laksono

Bagaimana anda menghargai sebuah ide? Pentingkah bagi anda kebaruan dalam sebuah karya? Menurut saya, usaha untuk menggali secara terus menerus sebuah ide dalam konteks dunia komik di Indonesia haruslah dihargai secara layak. Tanpa sebuah kebaruan ide, baik itu cerita, gaya gambar dan ilustrasi ataupun medianya, komik Indonesia khususnya hanya akan berisi pengulangan demi pengulangan yang membosankan. Einstein pernah bilang: “imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan”. Saya sangat sependapat, meski anehnya saya juga mempercayai sebuah kredo postmodernisme; bahwa tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.

Oke, cukup sudah prolognya. Beberapa waktu yang lalu saya membeli sebuah komik di sebuah event pameran komik yang harga tiket masuknya cukup untuk membeli 10 judul komik fotokopi. Awalnya, saya membeli komik ini hanya sebagai bentuk dukungan kepada komik lokal saja. Saya pesimis bahwa komik Indonesia yang satu ini mampu membuat saya mengalami ekstase dan merasa hilang sejenak dari dunia nyata seperti saat saya membaca komik komik yang bagus. Saya kadang memang pesimis, juga sinis, dengan kualitas cerita komik tanah air. Sering terlintas dalam pikiran saya bahwa komikus-komikus lokal tampak sangat egois. Mereka selalu meneriakkan “dukung komik lokal”, tapi tak pernah memikirkan kepuasan pembaca yang sudah rela mengorbankan uangnya untuk membeli sebuah komik bikinan mereka, yang kadang cerita dan ilustrasi tampak lebih cocok untuk sekedar koleksi saja.

Tapi komik yang saya beli ini benar benar di luar dugaan saya. Berjudul Tawur vol. 1, komik terbitan re-ON Comics ini mampu memukau saya untuk sekian waktu. Bercerita tentang perkelahian pelajar SMA di Jakarta, komik ini menawarkan sebuah cerita yang sangat segar untuk ukuran komik dalam negeri.

Dikisahkan Budi, seorang pelajar dari SMA yang tak dianggap dalam percaturan dunia tawuran di Jakarta, terlibat dalam tawuran massal antar sekolah, bahkan melawan sebuah sekolah yang punya reputasi terbaik dalam hal perkelahian pelajar.

Tawuran tersebut bukanlah tanpa tujuan. Tawur ini merupakan nama sebuah program aneh yang didesain oleh Kementerian Pendidikan untuk sekolah sekolah di Jakarta. Sekolah pemenang program tawur akan mendapatkan reward berupa dana bantuan operasional sekolah (BOS). Dilatarbelakangi oleh kondisi sekolah yang hancur tak terawat, teman-teman yang tak bisa belajar karena tak ada biaya, keinginannnya untuk menjadi seorang guru, dan karena motivasi dari seorang teman, Budi berambisi untuk memenangkan program ini. Budi sang tokoh utama berharap dapat membangun kembali sekolahnya, membantu teman temannya, dan mewujudkan impiannya menjadi seorang guru. Maka petualangan Budi dalam kerasnya arena tawuran antar sekolah pun dimulai.

Banyak lelucon lelucon terselip dalam panel panel di komik ini, juga sindiran sindiran dan kritik. Ada kata kata macam Srengenge Foundation (mengejek Sitok? Ah, mungkin saya terlalu sensitif), lalu korban tawuran yang dikalungi papan nama bertuliskan “korban kurikulum”, jurus mama minta putus, lagu “Darah Muda” dari Rhoma Irama dan sebagainya.

Di luar itu, yang terpenting bagi saya adalah cara komikus mengangkat realita dunia tawuran di Jakarta dalam medium komik ini sungguh suatu bentuk penggalian ide yang sangat patut diapresiasi. Tawuran pelajar di Jakarta adalah kenyataan yang menyedihkan (saya bahkan mengikuti sebuah akun twitter @tubirpelajardki sekedar untuk mengetahui  bagaimana tawuran menjadi gaya hidup di kalangan pelajar SMA di Jakarta). Tema tawuran memang bukanlah tema baru dalam komik Indonesia. Dalam komik “Suatu Saat Sebelum dan Sesudah Si Dul Mati” karya almarhum Didoth, tema ini diangkat dalam kisah sedih seorang siswa cemerlang yang tewas akibat tawuran pelajar.

Namun berbeda dengan Didoth, komik karya C. Suryo Laksono ini mencoba menawarkan cerita yang unik, mencoba membelokkan pandangan umum bahwa tawur hanya untuk bersenang senang dan adu kejantanan belaka menjadi tawur yang lebih terarah dan bertujuan mulia. Meski hanya fiksi, tentu kita tidak menyangkal kekuatan sebuah komik untuk merubah cara pandang seseorang bukan?

Sebagian dari kita pencinta komik tentu percaya rumor tentang bagaimana Jepang membangun semangat anak mudanya dengan komik, lewat Tsubasa (dengan semangat sepakbola-nya), Slam Dunk (dengan semangat basketnya), dan lain sebagainya. Apakah Tawur punya potensi untuk menjadi komik seperti disebut belakangan? Menurut saya jawabannya masih terlalu jauh, meski ini adalah sebuah permulaan yang bagus.

Oleh -
1 220
Aksen-Komik-John-Lie
Photo Credit: Rakhmad Dwi Septian
“Siapakah sebenarnya orang pribumi dan non pribumi itu?”
“Orang pribumi adalah orang orang yang pancasilais, saptamargais, yang jelas jelas membela kepentingan bangsa dan negara. Sedangkan orang non pribumi adalah mereka yang suka korupsi suka pungli, suka memeras, dan melakukan subversi. Mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka patutlah mereka digolongkan orang non pribumi.”  — John Lie
*******

Jahja Daniel Dharma adalah pahlawan nasional pertama yang berasal dari etnis Tionghoa. Meskipun bergelar pahlawan nasional, sosok ini nampaknya tak cukup populer, setidaknya saya mengukur dari pengetahuan saya sendiri. Jika tak dibantu mesin pencari di dunia maya, mungkin saya tak pernah tahu sejarah dari pemilik nama ini. Saya bahkan pertama kali mengetahuinya dari sebuah novel grafis biografi terbitan Milisi Press, dengan judul John Lie, yang akan saya bahas setelah ini.

Jahja Daniel Dharma, atau yang lebih dikenal sebagai John Lie, adalah seorang kapten kapal yang paling berani dalam sejarah TNI AL. Ia dilahirkan pada 1911 di Manado. Keluarganya menjalankan sebuah perusahaan pengangkutan. Sejak kecil, sosok John Lie memiliki ketertarikan besar pada dunia kelautan dan pelayaran. Dalam novel grafis ini digambarkan bagaimana John Lie kecil begitu terpesona pada kapal kapal yang lalu lalang, berlayar dan berlabuh di kotanya, Manado. Ia bahkan nekat berenang untuk melihat dari dekat sebuah kapal uap milik KPM (Koninklijk Paketvaart Maatschappij, sebuah perusahaan pelayaran Belanda), karena tak punya uang untuk membeli tiket masuknya.

Beranjak remaja, John Lie bekerja sebagai penagih hutang di perusahaan milik keluarganya. Karena obsesinya yang kuat pada dunia kelautan, pada usia 17 tahun, ia kabur dari rumahnya menuju Batavia untuk menjadi pelaut. Namun perjalanan menjadi pelaut tak mudah, John Lie bahkan harus bekerja dulu sebagai buruh pelabuhan, sebelum akhirnya berhasil mengikuti kursus singkat kelautan oleh KPM. Dari sinilah karir pelautnya bermula, saat ia menjadi seorang mualim pada kapal Singkarak, sebuah kapal milik KPM.

Pengalaman perjalanannya yang banyak membuat ia  memahami bagaiman gambaran situasi di Hindia Belanda saat itu. Jiwa pemberontakannya tergugah demi melihat kesusahan kesusahan yang tercipta akibat kolonialisme. Pada saat Jepang memasuki Hindia Belanda, John Lie bertugas mengevakuasi penduduk sipil di daerah Cilacap, dengan kapal bernama Tosari. Pada tahun 1942, seluruh awak kapal Tosari, termasuk John Lie, mendapatkan pelatihan militer di Khorramshahr, Iran, sembari tetap melakukan pekerjaan utama yaitu mengangkut perbekalan untuk tentara sekutu.

Suasana kerja yang tidak nyaman pada masa itu, yaitu masa perang dunia ke dua, saling curiga, dan jauh dari kerabat, membuat John Lie merasakan kekosongan batin dan gelisah. Akhirnya ia mengikuti ajakan sepasang suami istri untuk berkunjung ke Yordania. Di Yordania, John Lie dibaptis di sebuah gereja di tepi sungai Yordan. Prosesi pembaptisan ini membuatnya merasa seperti terlahir kembali dan memiliki identitas serta keyakinan beragama yang kuat.

Jepang menyerah di tahun 1945. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. John Lie kembali ke tanah air. Meski telah merdeka, namun situasinya belumlah terlalu kondusif. Tentara sekutu kembali memasuki wilayah kedaulatan Indonesia. Maka di sinilah karir kepahlawanan John Lie di Angkatan Laut Indonesia dimulai. Sayangnya disini pula novel grafis ini disudahi dengan tulisan “bersambung” di pojok kanan bawah.

Dari literatur di internet, cukup banyak dituliskan tentang kisah kisah kepahlawanan John Lie, hingga ia meninggal pada tahun 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995, Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009.
*********

Komik John Lie volume 1 (walaupun di halaman judul tak ada yang menjelaskan bahwa novel grafis ini ternyata berseri)  ini di kerjakan oleh dua, yaitu Rakhmad Dwi Septian pada cerita, serta Redi Murti dan juga Rakhmad Dwi Septian (lagi) untuk gambarnya. Terbit tahun 2015 setebal 68 halaman hitam putih, dibagi dalam 4 chapter, novel grafis ini patut diapresiasi, mengingat tema seperti ini (biografi) cukup jarang diangkat dalam novel grafis/komik terbitan lokal. Sebelum ini ada novel grafis “Munir” karya Sulaiman Said yang mengangkat tema tokoh nasional, itupun bukan yang bergelar pahlawan nasional yang resmi oleh negara, meski mungkin banyak orang tetap menganggapnya pahlawan.

Cukup menarik untuk mencermati tema tema yang diangkat oleh kawan kawan Milisi Press/ Milisi Fotocopy dari Surabaya ini. Jika kita lihat dalam terbitan terbitannya, nampaknya mereka cukup concern pada isu isu seputar rasisme. Mari kita lihat apa yang mendasari mereka dalam mengangkat tema tema tersebut.

Dalam catatan pembuka, dikatakan bahwa pada awalnya novel grafis ini adalah sebuah proyek tugas akhir. Latar belakang dipilihnya John Lie, seorang pahlawan nasional dari etnis Tionghoa, pada awalnya tidaklah memiliki maksud khusus. “Keputusan mengambil  judul pun dengan alasan pertama ialah sebab judul ini diterima oleh dosen pembimbing saya” demikian menurut Rakhmad Dwi Septian. Dalam proses riset mengenai  novel grafis ini, lalu muncullah alasan yang kedua, seperti tertulis: “dari pembelajaran itulah saya mengerti bahwa judul (ini)*  tepat dan bahkan di tahun ini dimana persoalan sentimen rasialisme masih tumbuh subur dan membuat kita sesama bangsa Indonesia men(jadi)* saling membenci”.

Lebih lanjut tertulis: “John Lie memberitahukan kepada saya dan kita semua sebuah bentuk perjuangan, bakti, dan rasa cinta tanah air tidaklah dapat diukur oleh ras, suku, maupun agama. John Lie melihatkan suatu sikap yang luar biasa . Ia pribadi jujur, pintar, sangat dekat dengan Tuhan, dan rela berkorban. Sebuah pengorbanan yang tanpa pernah ragu dari seorang putera (Indonesia)*”.

Anda tentu tahu bahwa saat ini nampaknya sentimen kebencian yang mengarah pada rasisme pada etnis Tionghoa ini sedang marak, tak hanya di media sosial dan dunia maya tapi juga dalam beberapa aksi unjuk rasa, seperti yang pernah saya bahas dalam tulisan sebelum ini tentang komik terbitan Milisi Fotocopy yang lain: Hidup dan Mati di Tanah Sengketa. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang baik. Sejarah kelam tentang kerusuhan etnis sungguh sesuatu yang sangat perlu disesalkan.

Mengutip Goenawan Mohamad dari akun twitternya: “Nasionalisme Indonesia, lain dari nasionalisme di Eropa dan Afrika, tak bertolak dari perbedaan ras, tapi dari hasrat keadilan untuk semua”. Pengetahuan sejarah yang imbang  tentang kontribusi semua etnis dan kelompok, termasuk etnis Tionghoa, dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, adalah hal yang mutlak diperlukan, agar sejarah buruk tak berulang kembali.

Beberapa buku sejarah tentang pergerakan masyarakat Tionghoa dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia memang telah pula diterbitkan. Namun di negara dengan minat baca yang rendah, media yang lebih ringan dan populer seperti novel grafis dan komik bisa dijadikan alternatif, meski sayangnya novel grafis dan komik, yang katanya “memiliki tenaga besar untuk mempengaruhi siapa saja dan kapan saja” ini lebih banyak diterbitkan oleh penerbit penerbit kecil/ independen dengan skala komunitas atau bahkan perorangan, sehingga oplah dan distribusinya sangatlah terbatas.

Beberapa kekurangan lain yang banyak terdapat dalam penerbitan independen, selain yang telah disebutkan di atas, khususnya dalam novel grafis ini adalah kurang baiknya proses editing sehingga menyebabkan banyaknya kesalahan kesalahan dalam proses pencetakan. Beberapa yang nampak oleh saya adalah terpotongnya tulisan, seperti pada catatan pembuka, dan kesalahan kesalahan redaksional seperti penggunaan tanda baca dan kesalahan ejaan. Meski tidak substansial, kesalahan kesalahan ini sebenarnya bisa diminimalkan dengan proses editing yang baik.

Penutup, sebagai penikmat komik/novel grafis tanah air, saya kira perlu saya tuliskan bahwa saya merasa senang melihat perkembangan penerbitan komik/novel grafis tanah air beberapa tahun tahun terakhir ini. Cukup banyak terbitan dengan beragam tema yang membuat iklim perkomikan tanah air menjadi lebih berwarna. Dan nampaknya juga, berkaca dari perdebatan dan konflik konflik di dunia sastra dan musik yang tak berkesudahan itu, tak perlulah dunia komik/novel grafis ikut atau terlibat dalam perdebatan perdebatan tidak penting mengenai kelebihan genre/tema tertentu, atau juga antar kelompok tertentu, yang justru kontraproduktif pada proses proses penerbitan komik John Lie sendiri. Maaf kata, itu sungguh memuakkan.

*) kata kata didalam kurung ini, dalam buku aslinya terpotong karena kesalahan cetak. Kata kata itu saya tambahkan untuk menyesuaikan dengan konteks kalimat.

Oleh -
0 306
Aksen-Becak-C-Suryo-Laksono

“Ceritakanlah padaku tentang kepunahan”, kata Alina, seorang anak jalanan di sebuah kota besar kepada sang Juru Cerita, membuka komik ini pada panel pertama. Maka bergulirlah kisah komik ini dari mulut sang Juru Cerita. Sebuah kisah tentang kepunahan, kepunahan sebuah moda transportasi di suatu negeri.

Dikisahkan, di sebuah kota di waktu senja, jalanan dipenuhi oleh iring-iringan truk yang mengangkut ribuan becak untuk dibuang ke laut utara. Rupanya pemerintah kota itu sedang getol melakukan perburuan terhadap becak becak ini karena dianggap mengganggu ketertiban umum dan membuat semrawut wajah kota. Oleh karena itu terbitlah larangan akan keberadaan salah satu moda transportasi masyarakat tersebut. Dan aparat kepolisian pun menjalankan tugasnya dengan baik, merazia semua becak yang masih beroperasi.

Tapi ternyata penertiban berjalan tak semudah yang dikira. Adalah Rambo, seorang tukang becak, yang berhasil membuat semuanya menjadi kacau dan tidak mudah. Rambo, dengan ketenangannya, masih melakukan hal yang dilarang keras oleh pemerintah kota, mengantarkan penumpang dengan becaknya. Dan pada sore laknat itu, Rambo sedang menerima order dari seorang wanita, yang memintanya mengantarkannya ke ujung dunia. Rambo, dengan becak kencananya, becak terakhir di dunia, menyanggupi untuk mengantarkan.

Maka terjadilah kehebohan di jalanan. Ribuan polisi dikerahkan untuk mengepung dan menangkap Rambo. Dari jalanan, para pendukung Rambo berseru agar Rambo berhati hati, sebab ialah pengendara becak terakhir di dunia.  Rambo, bukanlah tukang becak sembarangan, demikian pula becaknya, becak kencana.Becak itu telah menjuarai reli paris dakar kelas becak, telah keliling dunia tiga kali, bahkan ikut sirus keliling atraksi becak. Dengan mudah Rambo menghindari serbuan aparat. Becaknya bergerak lincah di jalanan kota, di gang gang, di lorong lorong. Para polisi kewalahan mengejarnya. Proses pengejaran ini pun, karena serunya, diliput secara langsung oleh banyak media massa. Semua orang ingin tahu nasib becak terakhir di dunia ini.

Polisi di jalanan hampir menyerah, hingga Rambo akhirnya berhenti di sebuah daerah prostitusi kumuh, karena sang penumpang telah sampai di tujuan. Satu batalion tentara diturunkan untuk membantu polisi mengepung Rambo. Melalui pengeras suara diteriakkan agar ia menyerah saja. Tak disangka sangka, Rambo melangkah keluar dari gubuk kumuh tersebut, menyerah. Kini giliran penonton yang menjadi ribut. Mereka tak ingin Rambo menyerah. Rambo yang mewakili perasaan mereka, menjadi simbol perlawanan mereka tak boleh menyerah begitu saja. Rambo harus terus melawan, begitulah tuntunan penonton. Ketika Ramboberjalan ke arah polisi dengan kedua tangan terangkat, mereka yang tadinya memberi semangat dan memuji berbalik memaki dan marah. Tapi apa boleh buat, Rambo tak ingin jadi pahlawan, dan ia menyerah begitu saja.

“Aku bukan pahlawan. Dan aku tidak mau jadi pahlawan.. Aku cuma tukang yang takut mati dan perlu makan” Demikianlah Rambo mengakhiri perjuangannya.

Komik karya C. Suryo Laksono ini merupakan sebuah adaptasi atas cerita pendek karangan Seno Gumira Ajidarma dengan judul: Becak Terakhir di Dunia. Kisah ini nampaknya diangkat Seno dari suatu masa dimana terjadi pelarangan atas becak di Jakarta pada akhir dekade 80an, sebuah represi negara atas kalangan miskin kota, yang nampaknya akan terus berulang. Barangkali ini juga termasuk dalam apa yang disebut Seno sebagai: ” ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Barangkali sudah waktu yang tepat, ketika sastra juga hanya terjangkau oleh segelintir orang, komiklah yang ambil bagian dari jurnalisme yang dimaksud tadi. Jurnalisme komik ala Joe Sacco barangkali bisa dijadikan acuan?

Tapi selain itu, adalah cukup menarik untuk melihat sisi anti-hero dari tokoh utama komik ini, Rambo, yang memilih menyerah daripaada mati sebagai seorang pahlawan seperti yang diharapkan orang orang. Sebuah sikap yang nampak realistis, ketimbang menjadi naif dalam perjuangan yang apabila dimenangkankan pun nampaknya seperti peribahasa kalah jadi abu menang jadi arang. Dari sikap anti-hero itu lalu muncul pula ke permukaan sifat sifat munafik sebagian dari masyarakat (dalam hal ini para penonton dan pendukung Ramo), yang ingin memiliki simbol kepahlawanan, yang merasa terwakili oleh sifat kepahlawanan, mungkin bahkan menikmati hasil hasil dari perjuangan, namun enggan menceburkan dirinya secara langsung dalam perjuangan tersebut. Hal tersebut nampak dari bagaimana para penonton dan reporter memaki maki Rambo saat ia memilih menyerah. Tidakkah itu nampak seperti kita?

Sepengetahuan saya, ini adalah komik kedua yang dibuat berdasarkan cerpen dari Seno Gumira Ajidarma, setelah yang pertama yang berjudul Taxi Blues karya Erwin Prima Arya. Di sisi cerita, jangan tanya soal kepiawaian Seno merangkai kata kata menjadi kalimat yang puitis, juga penuh kritik, yang tentunya menjadi salah satu kekuatan komik ini. Selain itu, komik setebal 40 halaman ini juga menghadirkan gambar gambar yang apik dalam panel panelnya, dengan blok blok hitam dan putih, juga menjadi nilai tambahnya.

Beberapa hal kecil yang terlewat, barangkali adalah tak ada pencantuman tahun terbit dan penomoran tiap tiap halaman. Mungkin tidak terlalu penting, tapi saya kira hal itu cukup menyulitkan
apabila seandainya ada yang ingin membahas komik ini halaman per halaman.

Oleh -
2 623
Aksen-Harimau-Dari-Madiun

Perhatian, ulasan di bawah ini sangat mungkin MENGANDUNG SPOILER. Karena itu kami menyarankan Anda untuk mempertimbangkan ulang membaca ulasan ini, terutama jika tidak merasa nyaman dengan hal tersebut. Versi pertama tulisan ini dikeluarkan tahun lalu, pada bulan Maret. Pembaharuan dilakukan demi kepentingan diskusi komik tersebut pada tanggal 26 Juni 2015 di Rumah IVAA, Yogyakarta. 

Berbeda dengan Hidup itu Indah (Cendana Art Media, 2010) yang umum disebut secara populer sebagai komik opini, Aji Prasetyo menyodorkan sebuah tema yang berbeda lewat Harimau dari Madiun, sebuah komik yang pada tahun 2013 ikut serta bertanding di dalam ring Kompetisi Komik Indonesia. Lalu mengapa saya mengatakan bahwa Harimau dari Madiun berbeda dengan Hidup itu Indah (maupun Teroris Visual sebagai karya termutakhir yang disodorkan oleh Aji)?

Pembaca setia Hidup itu Indah dan juga Teroris Visual kemungkinan besar tidak akan menemui banyak kesulitan untuk memahami bahwa keduanya adalah ruang kecil di mana isu-isu yang ditumpahkan oleh Aji seakan-akan tidak punya batasan (mulai dari persoalan tanah, lagu yang dikomikkan, setan, sejarah, PNS, pengurusan KTP, Facebook, dan lain sebagainya) dan semuanya disajikan melalui format ilustrasi-sekuensial plus teks.

Orang telanjur melihat keserupaan pada Hidup itu Indah dan Teroris Visual: keduanya menyajikan format yang malahan membuat apa-apa yang ingin dibicarakan Aji seakan membaur begitu saja dan saling berdesakan meminta perhatian. (“Eklektik”, kalau kita ingin menyebutnya dalam istilah yang lebih keren). Walau demikian, saya ingin meluangkan fokus di sini pada fragmen sekuensial dalam Hidup itu Indah, yang sebetulnya sudah memperlihatkan minat Aji terhadap narasi dengan konteks sejarah Indonesia di masa kolonial. Sebagai bukti, coba Anda buka kembali bab mengenai ‘Perang Jawa’ dan ‘Perang Jawa: Darimana Dendam itu Bermula’ pada komik yang diterbitkan oleh Cendana Art Media pada tahun 2010 itu.

Minat Aji terhadap perang Jawa terus berlanjut melalui Harimau dari Madiun meski judul ini bukan satu-satunya pelabuhan di mana Aji menyalurkan minatnya itu. Konten dalam  Harimau dari Madiun  mau saya perlakukan sebagai satu fragmen dari keseluruhan kisah mengenai perang Jawa yang petilan-petilannya sebenarnya tidak hanya dihadirkan lewat Hidup itu Indah, namun juga lewat karya lain seperti Kidung Malam yang dimuat di kompilasi Kumpulan Cergam Kampungan: Romansa (Februari 2010). Dengan tiga fragmen yang muncul di tiga judul yang berbeda, apakah Aji kemudian terobsesi dengan perang Jawa? Saya tidak tahu benar.

Justru pada minat Aji pada sejarah itulah segalanya tampak menjadi lebih pelik, sebab yang menjadi bahan sajian adalah persinggungan antara komik dan sejarah. Berhadapan dengan dua titik tolak yang berbeda, tiga pertanyaan kemudian memungkinkan untuk mengambang di permukaan: bagaimana fakta sejarah diperlakukan lewat bentuk komik – sebagai ruang di mana orang bisa bermain-main dengan imajinasinya? Selanjutnya, apakah ‘sejarah’ yang diungkap melalui bentuk komik merupakan kumpulan data-data yang siap diuji berkali-kali dan dipertanggungjawabkan kebenarannya? Lebih jauh lagi, apakah Aji berusaha mengungkap fakta sejarah lewat komik, ataukah dia bermain-main dengan imajinasinya untuk menafsirkan sejarah yang sudah ditulis oleh orang lain dengan metode yang khas bidang keilmuan tersebut?

Harimau dari Madiun adalah karya sekuensial yang menarasikan satu babak dalam epos perang Jawa (1825-30), terutama yang berkaitan erat dengan sepak terjang Alibasah Sentot Prawirodirjo. Sekilas pandang orang bisa dengan mudah melihat irisan antara komik dan sejarah, oleh karena titik berat utamanya adalah seorang tokoh panglima perang yang “nyaris tak terkalahkan”. Sentot yang diacu oleh Aji adalah tokoh sejarah, dan sampai di sini pula tadinya saya menduga bahwa Harimau adalah komik yang berusaha mengungkap fakta di sekitar Sentot yang kelak bisa menjadi kebenaran sejarah baru. Namun dugaan saya keburu dipatahkan oleh Aji sendiri.

Mengapa Sentot Prawirodirjo memutuskan berhenti perang dan bergabung dengan militer kerajaan Belanda? Panglima perang andalan Pangeran Diponegoro itu tidak pernah menulis tentang apa yang dipikirkannya, sehingga hal itu tetap menjadi misteri dalam sejarah. Orang boleh menebak sesukanya. Mungkin saja dia takut mati. Atau mungkin tergiur iming-iming kekayaan yang ditawarkan Belanda. Atau, siapa tahu bangsawan itu sudah tidak kuat lagi hidup bergerilya. Dan masih banyak kemungkinan lain.

“Harimau dari Madiun” adalah komik (atau lebih tepatnya novel grafis, mengingat betapa serius alur dan banyaknya catatan kaki) yang saya buat di tahun 2013 adalah spekulasi saya tentang motivasi pemuda belia itu mengakhiri perang. Butuh banyak literatur untuk memperkuat analisa. Saya pelajari latar belakang keluarganya, perwatakan pribadinya, dan kondisi di medan tempur perang jawa di penghujung tahun keempat. Saya yakin semua itu berkaitan dan menjadi dasar pertimbangan Sentot.

Di antara semua literatur, buku karya Peter Carey lah yang paling banyak saya rujuk. Bagaimana tidak, beliau adalah sejarawan Inggris yang mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk menggali sejarah Diponegoro dan konflik seputar perang jawa. Tak pelak, obsesi mengejar Sentot mempertemukan saya dengan beliau.”

Dari tiga baris kutipan di atas, orang bisa melihat setidaknya tiga hal penting yang berkaitan dengan proses ‘menjadi’-nya Harimau. Pertama adalah karya tersebut diciptakan berdasarkan literatur tertentu (saya menduga yang dimaksud Aji sebagai ‘literatur’ adalah sumber-sumber bacaan sejarah yang terkait dengan perang Jawa). Kedua adalah adanya rujukan yang dijadikan kiblat oleh Aji, yakni karya-karya Peter Carey. Dan ketiga adalah rasa penasaran sang komikus yang berhilir pada sebuah pertanyaan mengapa Sentot Prawirodirjo memutuskan berhenti perang dan bergabung dengan militer kerajaan Belanda. Dengan demikian, rasanya pendakuan Aji membuat pembaca lebih dekat dengan jawaban untuk pertanyaan ketiga yang saya umumkan di atas, yakni: Harimau Dari Madiun adalah sebuah karya di mana sang komikus [berusaha] bermain-main dengan imajinasinya guna menafsir sejarah dalam kaitannya dengan sosok Sentot Prawirodirjo.

Rasa penasaran sang komikus terpenuhi sebab ia sendiri menyediakan jawaban tegas untuk itu, yakni pada babakan ketika Sentot Prawirodirjo bersama rombongan pasukannya mengunjungi sebuah desa untuk “menyaksikan bakti kesetiaan dan dukungan” para penduduk terhadap perjuangan mereka. Pada babakan tersebut, Sentot Prawirodirjo mendapati seorang nenek yang rela mempersembahkan seekor ayam yang “kalaupun tidak sampai dinikmati oleh anak-anaknya [yang pergi berperang namun belum kembali pulang], semoga bisa dinikmati oleh mereka, anak dari para ibu lainnya”. Sekonyong-konyong, Sentot Prawirodirjo turun dari kuda, berjalan sembari merutuk perang yang harus segera diakhiri. Pada sebuah babakan, pertemuan dan dialog antara Sentot Prawirodirjo dengan seorang nenek yang kesepian karena lima anaknya belum pulang dari medan perang itulah yang dikesankan sebagai sebuah penyelesaian, pemenuh dahaga bagi rasa penasaran Aji sendiri atas sebuah pertanyaan yang ia ajukan. Perang harus segera selesai sebab semakin membuat rakyat kelaparan.

Satu misteri telah terpecahkan dan Aji sudah “menebak sesukanya” lewat dramatisasi adegan antara Prawirodirjo dan seorang nenek yang tak dikenalnya. Artinya, pembaca dengan mudah mengenali adegan tersebut sebagai salah satu pemicu yang kelak dalam rangkaian sekuensial Harimau dari Madiun turut mempengaruhi keputusan sang panglima untuk menghentikan perang. Akan tetapi satu misteri tetap dibiarkan mengambang sampai akhir. Alih-alih “menebak” mengapa Prawirodirjo memutuskan untuk bergabung dalam kesatuan militer Belanda, Aji memilih untuk tidak menyediakan satupun petunjuk yang mengarah pada jawaban atas pertanyaan tersebut. Apakah kelak Aji akan menyajikan jawabannya ketika komik tersebut diterbitkan dalam format buku yang lebih tebal? Entahlah. Namun menjadi jelas pula bahwa Aji masih menyisakan ruang kosong yang barangkali memang dibiarkan terbuka oleh sang komikus.

Aji sendiri memang sepertinya telah menetapkan hati untuk memfokuskan diri pada narasi tentang Sentot sebagai karakter utama yang bakal mengisi plot demi plot di dalam Harimau Dari Madiun. Hanya saja fokus kisah kemudian bergeser sedemikian rupa oleh karena ada pemain tambahan yang mengisi ruang narasi dengan berbagai plot kisahnya sendiri. Maka kemudian pembaca tidak bisa melewatkan tokoh Kliwon. Yang disebut terakhir ini justru memberi kesempatan bagi kita untuk merenungi apa makna perang Jawa bagi kebanyakan rakyat jelata cum prajurit perang seperti Kliwon.

Lebih jauh lagi, tokoh Kliwon menurut saya memiliki energi kehidupan yang jauh lebih menarik dibandingkan dengan Sentot Prawirodirjo sendiri – yang ironisnya dijadikan tokoh sentral dalam keseluruhan narasi Harimau. Kliwon adalah pemanah ulung yang sebelum perang meletus bekerja sebagai petani. Ia memiliki istri dan seorang anak yang ditinggalkannya pergi berperang. Apa yang membuat saya jatuh hati kepada Kliwon adalah wataknya yang ambivalen. Hal ini terlihat jelas dalam sebuah dialog angan-angan antara Kliwon dan istrinya yang bertanya mau jadi apa sang pemanah ketika perang berakhir nanti. Dengan tegas Kliwon menyatakan ingin kembali menjadi petani ketika perang usai, sebab bertani bukanlah pekerjaan sepele, melainkan membutuhkan tangan dingin untuk menyuburkan benih yang ditanamnya. Dengan begitu ia tidak perlu lagi membunuh lawan yang sama seperti dirinya: suami dan anak dari seseorang. Pandangan hidup yang ditawarkan oleh Kliwon menjadi sangat bertolak belakang dengan adegan sebelumnya, terutama ketika dia dan prajurit Prawirodirjo yang lain dengan tanpa ampun membunuh para prajurit yang menjaga benteng Belanda. Tidak diketahui sebab apa yang membuat pandangan hidup Kliwon berubah sedemikian drastis, sebab Aji sendiri malah memilih untuk tidak menyediakan plot tersebut. Padahal barangkali menarik untuk menyediakan plot tersendiri supaya pembaca bisa mengetahui mengapa Kliwon bisa sampai pada sebuah kebijaksanaan hidup seperti yang dimaksud di atas. Bukankah perang biasanya memang sebuah medan di mana pandangan hidup seseorang bisa berubah dengan drastis?

Apakah keputusan Kliwon menjadi prajurit hanya didasarkan pada alasan untuk menunjukkan baktinya pada Diponegoro, ataukah dia memang memiliki kesadaran politis yang kuat, bahwa rakyat sedang menderita dan dia terpanggil untuk membelanya? Jika ya, apa yang kemudian membuatnya berubah pikiran, di mana pada gilirannya ia menjadi seseorang yang di satu sisi harus memenuhi kewajibannya sebagai prajurit namun di sisi lain adalah seorang pria dengan tanggung jawab dan kasih sayang pada anak dan istrinya? Jawaban tidak tersedia. Dengan meniadakan plot yang menyediakan jawaban atas perubahan pandangan hidup Kliwon, berarti pupus pula harapan orang untuk melihat sebuah pengayaan materi narasi dalam sebuah komik.

Dimensi ambivalensi itulah yang kemudian membuat perhatian saya sebagai pembaca teralihkan. Walau tak begitu memuaskan, oleh karena saya gagal mendapatkan jawaban atas perubahan cara pandang Kliwon. Namun di sinilah dimensi pemikiran Kliwon membuat hidupnya sebagai orang biasa menjadi lebih menarik dibandingkan panglimanya sendiri. Di titik ini pula, Harimau dari Madiun menurut saya menampilkan lapis narasi dengan fokus penokohan (yang turut membangun keseluruhan plot) bercabang: tidak hanya jatuh kepada tokoh utama, melainkan juga kepada tokoh sampingan yang mungkin tadinya hanya mau diperlakukan sebagai hidangan pendamping. Ini bisa menjadi hal menarik sejauh diolah dengan baik. Pembaca “dipaksa” untuk tidak hanya fokus pada kehidupan seorang Prawirodirjo, namun juga penasaran pada tokoh lain seperti Kliwon. Namun sejauh yang saya nikmati dari komik tersebut, tokoh Prawirodirjo kehilangan “aura”-nya sebagai tokoh utama oleh karena watak ambivalensi pada Kliwon yang membuat Harimau memiliki nuansa lebih dari sekedar komik dengan setting perang Jawa dan kehidupan priyayinya yang mengajak rakyat mengangkat senjata untuk menentang kekuasan keraton.

Di atas saya telah menyinggung soal dua karya Aji lainnya yang juga meletakkan setting-nya pada perang Jawa, yakni Kidung Malam dan dua bab dalam Hidup Itu Indah. Ada perbedaan tegas antara narasi Kidung Malam dan Harimau. Bila yang disebut terakhir maunya memfokuskan narasi pada perjuangan seorang panglima perang (kelas yang berada di tingkat jauh di atas rakyat jelata), maka fokus pada Kidung Malam ada pada rakyat jelata bernama Dayat yang pada perang Jawa tergabung bersama korps Bulkiyo.

Hanya saja kalau Harimau juga ikut menekankan plot pada ambivalensi Kliwon, Kidung tidak begitu, dan dengan demikian menjadi satu dimensilah ia. Maksudnya, perang adalah perang dan semua prajurit (baca: rakyat jelata) siap membaktikan hidupnya demi membela yang teraniaya serta Pangeran Diponegoro. Akan tetapi beruntung bahwa Kidung masih menyajikan ironi, di mana pembelaan mati-matian Dayat atas pangeran dan rakyatnya itu malah membuat istri dan keluarganya menderita. Setidaknya saya mendapatkan kesan bahwa Aji masih menganggap perang sebagai entitas buas yang tidak perlu dirayakan dengan selebrasi, melainkan direnungi dengan cara mengalihkan pandangan pada nasib keluarga yang ditinggalkan di rumah dan menunggu ayah sekaligus suaminya kembali. Ironi dan ambivalensi yang masing-masing tergambar jelas lewat Kidung dan Harimau sangat berbeda dengan apa yang disodorkan Aji lewat dua bab dalam Hidup itu Indah. Yang terakhir ini memasukkan unsur humor ke dalam setting perang Jawa. Ilustrasi-humoris menjadi cermin yang merefleksikan serangkaian teks informatif (teks yang menerangkan fakta yang menjadi pengetahuan umum mengenai konteks yang diacu) di mana tulisan, pada gilirannya, menjadi narator (dalam hal ini komikusnya sendiri). Di sana gambar seakan-akan menjadi parasit yang tanpanya teks sesungguhnya bisa hidup mandiri. Di sana pula keduanya hidup berdampingan dan boleh dibilang saling berebut menampilkan mana yang lebih pantas diperhatikan pembaca. Sekilas pandang jejak-jejak metode penyampaian semacam itu masih terasa baik pada Kidung maupun Harimau, meski dengan intensitas yang berbeda.

Lalu kiranya ada perbedaan jelas antara cara penyajian gaya visual di dalam Hidup itu Indah dan Kidung Malam, serta terlebih lagi pada Harimau dari Madiun. Perbedaan yang saya maksud tampak jelas terlihat elemen-elemen visual yang ditonjolkan pada masing-masing karya. Maksudnya begini: Kidung Malam merupakan wahana bagi Aji, tempat di mana ia berani bermain-main menggoreskan arsiran tebal yang terlihat sangat dominan dari satu panil ke panil lain. Karena bermain dengan arsiran tebal, volume gambar menjadi cenderung terlihat penuh dengan garis-garis kasar pada bidang-bidang tertentu yang membentuk bayangan. Dengan kata lain, pilihan Aji atas kepenuhan arsiran memguatkan citra, baik pada objek maupun subjek, meski mata ini kemudian kesulitan untuk melihat konsistensi nada gelap-terang yang seharusnya bisa dinikmati dengan elok dari sebuah benda/objek maupun dari subjek/karakter. Formasi visual serupa harus diakui juga digunakan oleh Aji untuk bab Perang Jawa di dalam Hidup itu Indah.

Jika dibandingkan dengan kedua judul yang disebut di atas, orang bisa menikmati perubahan drastis dalam soal visual yang diterakan Aji lewat Harimau dari Madiun. Halaman demi halaman dalam Harimau diimbuhi dengan warna-warna lembut. Sapuan-sapuan halus namun tegas baik pada figur karakter demi karakter maupun pada latar alam mengesankan cueknya Aji atas modalitas visual yang mengejar gaya keras yang disajikannya lewat Kidung Malam. Garis-garis tipis namun luwes dan minim arsiran pada karakter membuat segi visual dari Harimau membantu membentuk kelembutan yang tentu saja sangat berbeda dari apa yang bisa kita nikmati dari dua komik lain yang saya rujuk sebelumnya.    

Dengan menyebut bahwa komik ini ada hubungan dengan sejarah, apakah kemudian kita bisa Harimau disebut sebagai dokumen sejarah tertulis? Rasanya tidak, dalam arti saya menduga bahwa Aji tidak berusaha untuk bekerja mencari fakta a la sejarawan, untuk kemudian menyodorkan kebenaran sejarah baru. Dengan kata lain, saya menduga Aji Prasetyo menambahkan perombakan di sana-sini atas dokumen sejarah (bukan demi menciptakan versi sejarahnya sendiri, melainkan – mungkin – untuk tujuan yang lebih sederhana: intrepretasi atas sejarah yang sudah dimapankan oleh sejumlah akademisi seperti Peter Carey, misalnya) yang dipunyainya, guna membuat narasi mengenai perang Jawa menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan dan misi pribadinya sebagai komikus yang pengin “menebak” apa sebetulnya motif Sentot Prawirodirjo ketika ia memutuskan menghentikan perang dan kemudian bergabung dengan militer Belanda sesudah perang usai.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu