Ulasan Komik

Oleh -
1 167
Aksen-Tuna-Kala

Schizophrenia, adalah jenis penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, dan tidak mampu memisahkan kenyataan dan ilusi. Hal inilah yang menjadi tema utama dalam komik yang berjudul Tuna Kala, karya Potonv, yang diterbitkan oleh Sekte Komik, sebuah komunitas komik kampus di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Diceritakan Kinanti, seorang perempuan yang kehilangan ayahnya yang mati bunuh diri akibat depresi karena menjadi tersangka korupsi, dan ibunya yang menjadi gila karena hal itu. Kinanti yang malang itu akhirnya hidup bersama tantenya. Di sana, Kinanti berteman dengan Dini, seorang perempuan lain yang memiliki hari ulang tahun yang sama dengannya, 29 Februari, yang kemudian menjadi sahabat dekatnya.

Lebih lanjut, dalam kehidupannya Kinanti kemudian berpacaran dengan Angga, yang sedang menangani sebuah proyek besar tentang luar angkasa. Disinilah konflik cerita bermula. Kinanti merasa lelah dan eneg dengan sikap Angga yang kurang perhatian dan tidak punya waktu untuknya. Kinanti mengira bahwa sang pacar mulai bosan dengannya. Ia mulai merasa curiga, dan menduga bahwa Angga telah mengkhianatinya, berselingkuh dengan cewek lain.
Suatu malam, setelah sebuah hubungan seksual diantara mereka, Kinanti memeriksa telepon genggam milik Angga, dan menemukan kenyataan itu. Kecurigaannya terbukti benar. Angga selingkuh. Yang lebih mengejutkan, Angga ternyata berselingkuh dengan sahabat dekatnya sendiri, Dini.

Cerita kemudian berpindah pada penjelasan mengenai siapakah Dini, yang ternyata adalah Kinanti sendiri, dalam pribadinya yang kedua. Seorang sahabat imajiner, kepribadian kedua, dari seorang penderita schizofrenia yang tenggelam dalam obat-obatan.

Meski bagi saya kisah kisah perselingkuhan sang pacar dengan sahabat dekat adalah sumber cerita yang klise, tapi sang komikus mampu mengemasnya menjadi sesuatu yang menarik. Potonv mampu mengangkat ide-ide tentang kecemburuan, cinta, dan persahabatan menjadi kisah yang kelam dan muram dalam kehidupan seorang pengidap schizophrenia. Menegangkan, tapi juga seru. Alur cerita disusun rapih dalam sejumlah panil gambar dan balon kata, dengan susunan yang mampu membuat pembaca terus penasaran membacanya dari halaman ke halaman. Gaya gambar yang rapi dan keren juga menjadi nilai tambah untuk komik setebal 56 halaman ini.

Kasus schizophrenia dalam sebuah komik ini mengingatkan saya pada kisah Ruth dalam novel grafis “Swallow Me Whole”, meski dengan kisah yang berbeda. Potonv juga menyinggung Enid dan Rebecca, tokoh dari novel grafis “Ghost World”, dalam percakapan tentang persahabatan antara Kinanti dan Dini. Komik ini, Tuna Kala, adalah sebuah kisah yang menarik, setidaknya menurut standar saya untuk komik Indonesia.

Diluar itu, saya tak cukup paham tentang arti “antologi #2” yang menjadi kalimat kecil di dibawah judul komik Tuna Kala. Dalam pengertian saya, antologi berarti kumpulan, misalnya pada antologi puisi atau cerpen, namun komik ini adalah komik tunggal, “one shot”, tanpa cerita lain didalamnya. Yang saya ketahui Potonv memang membuat satu komik sebelum ini yang dijuduli Jagger Myth, antologi waktu #1. Mungkin pengarangnya memang berniat untuk menjadikannya sebuah antologi suatu saat nanti. Dan kata-kata antologi waktu mengingatkan saya pada komik antologi terbitan Metha Studio beberapa waktu lalu dengan judul sama: Antologi Waktu.

Komik ini cukup serius, tak ada humor humor ala komik strip didalamnya, sehingga meskipun tak membaca sebuah kalimat di halaman judul: “sebuah komik yang semoga serius oleh @Potonv”, pembaca akan paham bahwa ini bukan komik lucu atau humor. Saya tak paham (untuk kedua kalinya) maksud kalimat itu, apakah merujuk pada cerita, atau pada proses penggarapan, atau mungkin keduanya. Yang jelas, sebagai pencinta dan pendukung komik Indonesia, anda harus membaca komik ini.

Oleh -
0 168
Aksen-Hidup-dan-Mati-di-Tanah-Sengketa

Beberapa waktu lalu, bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, sekelompok mahasiswa mengadakan demonstrasi dengan mengangkat tema yang menurut sebagian orang adalah rasis, yaitu tentang pribumi dan non pribumi. Menurut akun twitter organisasi mahasiswa yang menginisiasi demonstrasi tersebut, isu tersebut diangkat karena mereka melihat ketimpangan sosial ekonomi antara pribumi dan non pribumi (dalam terminologi yang mereka maksudkan).

Organisasi mahasiswa ini menganggap bahwa etnis non pribumi, Tionghoa peranakan, mendominasi sektor ekonomi di Indonesia, dan kaya raya, sedangkan etnis pribumi (entah siapa yang dimaksudkan dengan pribumi ini) hidup miskin dan menderita. Sangat picik memang, dan menyedihkan, betapa kebencian berbau rasial macam begitu masih ada di negeri ini.

Saya pikir, selain membaca kitab kitab suci dan buku buku teori (seandainya mereka benar benar membaca), kelompok tersebut setidaknya perlu membaca komik yang bakal saya bahas ini: Hidup Mati di Tanah Sengketa, karya Redi Murti, yang diterbitkan oleh Milisi Fotocopy, Surabaya.

***

Komik yang terbit tahun 2014 ini adalah komik eksperimental yang berkisah tentang kehidupan warga Tionghoa peranakan yang miskin di kawasan kumuh di sudut kota Surabaya, Tambak Bayan. Seperti layaknya sebuah kota yang terus menerus membangun, Surabaya – yang merupakan kota terbesar kedua di negeri ini – seperti juga kota kota besar lain, tak pernah lepas dari permasalahan permasalahan sosial seperti yang dimaksud komik tersebut, termasuk juga di dalamnya kemiskinan struktural dan okupasi lahan oleh pemilik modal atas nama pembangunan yang mengancam masyarakat miskin di kawasan itu.

Nampaknya paradigma pembangunan tak pernah berubah sejak dahulu, atau setidaknya sejak era Orde Baru. Kebijakan pembangunan kawasan selalu dilakukan dengan skema top down, di mana pengambil kebijakan membuat program program pembangunan dari balik meja dengan melibatkan pemilik modal tanpa merasa perlu untuk mendapatkan persetujuan/aspirasi penduduk sekitar. Orang-orang lokal cenderung dianggap sebagai bodoh, tidak mampu berpartisipasi, dan cenderung diposisikan sebagai penghambat bagi pembangunan. Hal itu pulalah yang diangkat Redi dalam komik ini. Dalam pengantarnya, disebutkan:”komik ini layak dimiliki dan dibaca oleh mereka pencinta dan pemerhati masalah perkembangan kota sebagai salah satu referensi sejarah kampung pecinan di Surabaya yang terancam punah, oleh beton beton modern para pemodal, yang belum tentu bermanfaat bagi masyarakat Surabaya”

Komik ini terbagi dalam dua bagian. Pada bagian I, Kisah dimulai dari Dani, seorang pemuda peranakan Tionghoa di Tambak Bayan, menemukan sebuah foto lama di lemari ibunya. Foto ibunya, Boboh, dan dua orang temannya di masa muda, saat masih anak-anak. Dani yang penasaran lalu bertanya pada ibunya. Lalu mulailah si ibu menceritakan kehidupannya di masa lalu, sebagai bagian dari sejarahnya, yang juga sejarah orang orang Tionghoa peranakan di Indonesia, khususnya Tambak Bayan.

Tersebutlah Lie Jiuwee, teman Boboh dalam foto tersebut, yang pada tahun 1930-an datang ke Surabaya bersama orangtuanya, dengan kapal laut, mengungsi dari daerah asalnya, RRT (Republik Rakyat Tingkok – ed), karena situasi ekonomi politik RRT yang sedang bergejolak saat itu. Tak lama setelah berada di Surabaya, ayah Jiuwee meninggal dunia. Ibunya tak punya cukup uang untuk terus menyekolahkannya, maka Jiuwee kecil ini berjualan untuk membantu keuangan keluarga.

Waktu berjalan, Jepang menguasai kota di tahun 1942. Situasi mulai berubah, suasana tak aman, perang terjadi di sana-sini. Sebagian penduduk yang punya cukup uang pindah ke Malang, daerah yang lebih kondusif dan aman pada saat itu. Jiuwee tidak pindah, tentu saja karena kemiskinannya. Pada tahun 1945, terjadi perang antara tentara pendudukan Jepang dan tentara republik yang dibantu pemuda. Pada waktu itu pula, salah satu anak di foto yang ditemukan Dani tersebut, teman Jiuwee dan Boboh, tewas terbunuh. Boboh mengenangnya sebagai kisah yang gelap dalam sejarah hidupnya.

Paska kemerdekaan republik, suasana kembali berubah. Kampung kampung di Surabaya mulai menggeliat, hingga saat terbitnya peraturan pemerintah di tahun 1959 tentang keharusan warga pendatang (Tionghoa) merubah status kewarganegaraan menjadi WNI. Banyak dari warga Tambak Bayan yang kemudian kembali ke negara asalnya, RRT. Warga Tionghoa tersebut makin terjepit paska 65, setekah terjadi genosida besar besaran terhadap para pendukung komunis. Mereka, karena rasnya, dicurigai dan dianggap ikut mendukung Peking (Beijing) dan ideology komunisnya.

Pada bagian kedua, dikisahkan tentang keadaan Tambak Bayan setelah kemerdekaan. Banyak warga Tionghoa totok dan peranakan diharuskan untuk menjadi WNI dengan segala kerumitan birokrasinya. Di era Orde Baru, daerah ini tak luput dari pembangunan a la Soeharto, di mana pemilik modal menjadi anak emas pembangunan.

“Segalanya cepat dilupakan. Tak ada bekas masa lalu. Pendisiplinan terjadi pada segala aspek kehidupan. Sementara, laju peradaban kota terus menggilas sekelilingnya yang dianggap ketinggalan.” Demikian tulis Redi dalam narasinya di halaman 39.

Era Orde Baru berlalu, yang tersisa hanyalah kesenjangan sosial ekonomi yang sangat nyata nampak dari bangunan bangunan gedung yang berhimpit dengan rumah rumah yang sepersekian kecilnya dibandingkan gedung gedung itu.

Perlawanan akan okupasi kepemilikan tanah ini bukan tak ada. Tersebutlah Seno, Paman, Murtini, dan Gepeng, yang mengorganisasikan penduduk setempat untuk mempertahankan tanah tanah mereka. Pada beberapa tahap mereka berhasil. Namun seperti juga banyak perlawananan lainnya, konsistensi untuk terus berjuang adalah hal yang mahal harganya. Kebutuhan hidup yang lain tampak lebih mendesak. Dan orang orang kemudian memilih berdamai dengan keadaan, kekalahan mereka.

Komik Redi ini bukanlah komik fiksi dengan penokohan protagonis dan antagonis yang tegas ataupun plot cerita yang dipenuhi konflik konflik dan dramatisasi yang sedemikian rupa. Komik ini lebih menyerupai reportase/dokumentasi sejarah dan kisah hidup penduduk Tambak Bayan, yang meski nampak sangat datar dalam alur cerita, namun sangat gelap, dan penuh dengan rasa keputusasaan yang dalam dan kelelahan yang sangat. Tentang bagaimana orang orang akhirnya menyiasati hidupnya yang keras dengan cukup memikirkan dirinya sendiri. Pemilihan kata kata dalam narasi komik ini sangat tepat untuk menggambarkan suasana itu.

“Orang orang sudah lelah, terpuruk oleh rencana dan kebutuhan sehari hari yang mendesak. Disibukkan dengan tetek bengek kenyataan lainnya yang tak perlu masuk akal”. Demikian gambaran Redi untuk suasana penduduk Tambak Bayan. Lebih lanjut ia menulis: “Mereka hanya menunggu giliran waktu, mengatur strategi bagaimana berkompromi dengan semua peristiwa nyata, yang hanya menjadi berita sekilas dalam Koran. Berita umum yang semua orang sudah menganggapnya lumrah, biasa saja, salahnya “pemerintah”, salahnya warga, salahnya pendatang, semua tampak bersalah di mata pembaca. Berita yang paginya nangkring sebentar, lalu esok paginya cabut, tergantikan oleh berita yang lebih sadis!”

Ya begitulah, arus informasi yang demikian deras, membuat pembaca terbiasa akan hal hal yang begitu begitu saja, bahkan untuk konflik konflik kemanusiaan sekalipun. Kita bahkan tak mampu lagi memilah mana informasi yang penting dan mana yang tidak penting, alih alih ikut ambil peduli dalam masalah masalah tersebut. Kita tersesat dan berputar putar dalam arus kedangkalan informasi dan kehilangan fokus, juga kehilangan diri sendiri.

Saya pernah menetap di Surabaya kurang lebih selama dua tahun. Pada masa itu saya menetap di kawasan pinggiran Surabaya yang tak jauh dari Tambak Bayan. Sebagai kota besar yang keras, Surabaya, seperti kota kota metropolitan yang lain, dimana kehidupan dengan kejam menggilas masyarakat miskin, tak terkecuali juga komunitas Tionghoa peranakan.

Dengan keadaan itu, saya pikir bahwa isu rasial mempertentangkan pribumi dan non pribumi karena ketimpangan kondisi sosial ekonomi, yang diangkat oleh kelompok mahasiswa yang berdemo tadi, sungguh sangat tidak relevan. Adalah benar, dan mulia, bahwa kita, atau sebagian dari kita, terlibat dalam kepedulian untuk orang lain, orang orang miskin di negara ini, namun tentunya tidak perlu, dan sangat tidak perlu, untuk memasukkan isu isu rasial di dalamnya, bukan saja karena itu sangat tidak relevan, tapi juga bahwa kemanusiaan, tidak mengenal batas batas rasial. Mengutip Mandela : “”No one is born hating another person because of the color of his skin, or is background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes naturaturally to the human heart than its opposite.”

Oleh -
0 117
Aksen-Teroris-Visual-Aji-Prasetyo

Tak berbeda jauh dengan komik sebelumnya, Teroris Visual ini masih mengangkat kritik sosial sebagai konten utamanya, namun komik kritik gaya Aji ini cukup berbeda dari komik kritik lain di Indonesia, yang kebanyakan berbentuk komik strip ataupun karikatur. Aji mengembangkan komik dengan genre sendiri (?) yang kerap disebut komik opini, sebuah komik kritik yang mengkritik lebih dalam dari sekedar nyinyir-nyinyiran 3-4 panel a la komik strip. Ia membangun kritik kritik dalam opininya dibungkus dengan teori-teori, juga data data sejarah, juga ayat ayat kitab suci.

Dalam setiap panelnya, nampak bahwa komikus ini melakukan riset yang cukup dalam tentang apa yang ia bicarakan (terlepas dari benar tidaknya opininya tentang hal itu, karena kebenaran universal itu tidak ada di dunia, begitulah kredo dunia postmodern). Meski begitu, tak semua komik di dalam buku ini merupakan komik opini, beberapa lebih merupakan sebuah reportase/hasil investigasi, dan komik fiksi. Terbagi dalam 5 bab, Aji berupaya menyuarakan opini opini dan kritik kritiknya kepada para pembaca.

Di bagian pertama, pengantar sebelum bab I, Aji membahas apa yang dia maksud dengan teroris visual, yaitu poster poster caleg pada masa kampanye, yang memang menjijikan dan norak. Saya pun sepakat untuk mengatakannnya sebagai teror visual yang mengganggu. Lebih dalam Aji membahasnya dalam balon balon narasi yang lugas dan gaya gambarnya yang unik, tentang betapa dangkalnya gaya gaya kampanye yang seperti itu.

Pada Bab I, Merayakan Manusia, satu yang menjadi perhatian saya adalah ketika Aji membahas mengenai kegiatan ospek mahasiswa baru, yang licik dan dipenuhi unsur bisnis yang kotor dan menyedihkan. Sangat menyedihkan memang melihat bagaimana mahasiswa baru dieksploitasi oleh kakak angkatannya untuk mendapatkan keuntungan finansial. Sangat tidak mendidik. Hih!

Aji juga membandingkan bagaimana budaya berbagi yang ada di masa lalu, yang dihadapkan pada fenomena masa kini dimana semua hal bisa dijadikan komoditi dan dijual, termasuk buang air kecil dan buang air besar.

Di Bab II, Wanita Berdaya dan Mulia, Aji membahas tentang wanita, dalam perspektif agama, politik, feminisme, dalam konteks perempuan di Indonesia. Mendasarkan argumennya pada sejarah bahwa di Indonesia cukup banyak wanita yang menjadi pemimpin kerajaan ataupun pemimpin perang, juga perbandingan pembagian pekerjaan antara pria dan wanita dalam konteks kekinian, Aji menyerang opini umum (setidaknya ini merupakan pernyataan dari beberapa orang, termasuk pejabat publik) bahwa wanita adalah makhluk yang lemah, yang memiliki 9 perasaan dan satu logika, dan merupakan orang nomor dua dalam rumah tangga, yang menyebabkan wanita pada umumnya berada dalam posisi yang kurang menguntungkan baik dalam hubungan rumah tangga, agama, dan juga politik. Aji juga menyinggung tentang Gerwani, organisasi sayap PKI, yang getol menolak prostitusi dan poligami, yang kemudian ikut hancur akibat genosida 1965.

Pada Bab III, Media yang belum Kunjung Memediasi, adalah tentang acara acara televisi yang kalau kata Navicula, band grunge itu, sebagai televishit. Yap. Televishit. Acara televisi yang merendahkan perempuan, acara amal yang palsu, juga infotainment yang memuakkan, semua tak luput dari kritik pedas Aji.

Setelah itu masih ada 3 bab lagi dalam komik ini. Bab IV, Sebelum Kita Lupa Berbudaya, yang membahas tentang budaya lokal versus budaya impor, termasuk juga kecenderungan salah satu kelompok agama tertentu yang cukup sering menyerang budaya tertentu. Lalu Bab V Negeriku, Negara Siapa? yang salah satunya mengisahkan seorang teller bank yang dijebak dan dikriminalisasi (ini kisah nyata yang menyedihkan), yang ditutup dengan manis di Bab VI: Salam Penutup Dari Lembah Biru, kisah tentang seorang laki laki pulang kampung yang tak menemukan lagi kekasihnya, lalu berjalan dengan minuman keras ditangan penuh keputusasaan dan melankolia.

***

Di luar dunia komik, Aji dikenal juga sebagai musisi, dan aktivis. Yang saya tahu, baru baru ini Aji juga ikut berpartisipasi dalam album musik sebuah kelompok folk Surabaya, Silampukau. Aji juga kerap mengadakan diskusi diskusi di warung kopinya atau dalam acara acara lain, termasuk di forum dunia maya.

Sepanjang pengetahuan saya, ketajaman kritik Aji dalam komik bukan tanpa masalah. Booth komik Aji pernah dirusak sekelompok orang dalam sebuah pameran beberapa waktu yang lalu. Termasuk juga beberapa kali perdebatan perdebatan di dunia maya muncul karena coretan gambarnya. Blurb dari Soe Tjen Marching, pendiri Lembaga Bhinneka, di bagian belakang buku bahkan menyebutkan bahwa komik ini adalah sebuah karya balas dendam terhadap apa yang menimpa Aji tersebut.

Secara keseluruhan, saya menilai komik ini adalah komik yang serius, dengan wacana yang serius pula. Tema yang beragam, mulai dari sejarah, opini, reportase, juga fiksi membuat komik ini jadi tidak membosankan. Beberapa bahkan mengagetkan, terutama ketika melihat bagaimana Aji mengembangkan opininya lewat garis-garis gambar yang tegas.

Melalui komik ini, saya rasa saya saya harus menempatkan Aji sebagai satu komikus terbaik di Indonesia saat ini. Kritik yang keras dan lugas, juga padat dan berisi, jarang ditemukan dalam komik lainnya; mungkin hingga saat ini, dan dengan komik ini pula, saya mengamini ucapan Beng Rahadian dalam acara televisi “Mata Najwa” tempo hari lalu, bahwa saat ini komik Indonesia sedang dalam puncak keindahanannya dalam segi artistik dan keragaman tema. You rock, Aji.

Di luar isinya yang istimewa tersebut, ada beberapa hal kecil yang mengganggu kenyamanan saya sebagai pembaca. Yang pertama adalah kata pengantar yang tidak jelas siapa penulisnya. Tidak tahu apakah hal tersebut cukup penting atau tidak, tapi saya kira saya perlu tahu siapa yang menulis pengantar tersebut, apalagi pengantar tersebut dituliskan dengan sudut pandang orang pertama.

Yang kedua adalah foto sang komikus di halaman 10. Menurut saya pemasangan foto tersebut agak mengganggu visual komik secara keseluruhan, karena letaknya yang berada di halaman utama komik. Barangkali lebih baik foto tersebut diletakkan di bagian belakang, bersama dengan foto-foto Aji yang lainnya yang juga ada di komik ini.

Yang terakhir, adalah pemilihan jenis huruf yang dipakai untuk penjelasan diawal bab, termasuk juga untuk kata pengantar. Jenis huruf yang dipakai tampak kurang “nyambung” dengan rangkaian gambar yang ada. Tapi tenang, ini hanya penilaian prbadi, sangat subjektif, dan tanpa acuan atau standar penilaian tertentu yang bisa dikuliti dan diperdebatkan layaknya sebuah kritik komik yang ideal. Demikianlah.

Oleh -
1 4868
Sampul-Old-man-Logan

Bayangkanlah seorang pembela kebenaran yang di masa lalu tangguh dan hidup penuh dengan kekerasan; tangannya berlumuran darah musuh-musuhnya. Pada satu momen di menemukan titik balik, di mana dia memutuskan untuk memutus rantai kekerasan dengan tidak membunuh lagi dan menjadikan kekerasan sebagai pantangan. Ia kini hidup sebagai orang biasa, dalam arti benar-benar biasa: bangun pagi, mencari nafkah, membayar sewa kepada tuan tanah, membesarkan anak-anaknya bersama istri tercintanya, kemudian berharap mati di ranjang dalam keadaan tenang dan bahagia dikelilingi keturunannya. Singkat cerita: sang pembela kebenaran bertekad untuk tidak membunuh lagi, meski ada momen masa depan di mana dia akhirnya mesti mengambil jalan awal yang dulu pernah ditinggalkannya itu.

Apa yang saya ceritakan adalah sedikit premis yang mendasari cerita pada komik Old Man Logan karya Mark Millar dan Steve McNiven. Terasa klise karena modelnya sudah pernah digarap orang lain? Memang premis macam itu terasa akrab bagi saya, meski ceritanya dihantarkan lewat medium berbeda. Ambillah satu contoh lewat film Kung Fu Hustle, misalnya. Yuen Wah dan Yuen Qiu – pasangan suami istri yang perannya cukup menonjol dalam film tersebut – adalah contoh baik untuk menggambarkan keserupaan premis yang saya maksud. Mereka dulunya adalah pendekar Kung Fu nomor wahid, sampai akhirnya memutuskan keluar dari dunia pendekar karena kematian anak mereka. Pasangan itu kemudian hidup biasa, berusaha menghindari masalah. Sangat biasa … sampai akhirnya mereka kembali ke dalam rutinitas dunia Kung Fu karena “keadaan yang memaksa”.

Tentu saja komik bukan film, juga sebaliknya. Namun bila premis yang ditawarkan sudah pernah kita lihat di medium lain, apakah melalui komik Old Man Logan kita bisa berharap lebih dari sekedar pengulangan model cerita?

Saya tidak bermaksud untuk mengatakan komik yang baik adalah komik yang benar-benar menyodorkan kebaruan cerita maupun gaya. Apa yang saya baca dan nikmati dari Old Man Logan lebih terasa sebagai sebuah komik yang dikerjakan dengan cara-cara a la pastiche, sebuah konsep yang dimengerti sebagai tiruan dari sebuah gaya tertentu – mirip dengan parodi namun minus rasa humor. Sederhananya, Old Man Logan menyajikan sebuah tiruan gaya bercerita yang sudah pernah dipakai oleh kreator lain, di medium lain; meski harus saya catat pula: peniruan yang dilakukannya bukan berarti tidak membawa individualitas dan kepribadian gaya yang unik.

Salah satu kepribadian dan individualitas gaya bisa kita lihat, misalnya, pada konteks cerita yang dihantarkan oleh Millar. Logan (Wolverine) dalam semesta Millar dan McNiven adalah seorang tua sekaligus mantan pahlawan super, yang karena kejadian 50 tahun ke belakang yang melenyapkan eksistensi pahlawan super Marvel, memutuskan untuk hidup normal layaknya manusia biasa. Di titik inilah cerita yang ditawarkan Millar menjadi menarik. Logan hidup sebagai seorang manusia biasa di tengah dunia yang kacau karena lenyapnya pahlawan super. Dunia di mana Logan hidup sangat pas untuk disebut sebagai distopia: penuh dengan kondisi kacau di mana semua orang yang hidup di dalamnya tampak tidak menginginkannya. Siapa yang mau hidup di negara penuh dengan diktator kejam berkekuatan super? Siapa yang mau hidup di negeri yang kini menjadi berubah menjadi gersang paska kekacauan apocalypse? Itulah dunia di mana Logan menghidupi keinginannya untuk tidak membunuh lagi.

Fokus Old Man Logan adalah kehidupan Wolverine paska pembantaian massal atas pahlawan super oleh para penjahat super yang dikumpulan oleh Magneto, Dr. Doom, dan Skull 50 tahun lalu. Bagaimana Logan menghidupi dirinya  – bagaimana ia membayar sewa tanah kepada Hulk yang menguasai California tempat dia hidup, dan bagaimana ia berusaha menjadi ayah yang baik dengan melupakan masa lalunya sebagai pahlawan super – paska pembantaian rekan-rekannya merupakan elemen pembangun cerita yang membuat komik tersebut tidak terasa membosankan untuk diikuti. Akan tetapi orang yang terbiasa dengan cerita pahlawan super, dan mengidolainya, rasanya sulit untuk berharap bahwa idolanya suatu saat akan hidup sebagai manusia biasa yang disibukkan dengan segala tetek bengek urusan duniawi layaknya orang-orang biasa, dan juga barangkali tidak berharap bahwa sang idola bisa menjadi tua.

Hanya saja, jika para pembaca berharap bahwa Logan akan hidup biasa-biasa saja, maka harapan itu akan menjadi sia-sia. Keseluruhan elemen cerita dalam Old Man Logan dibangun melalui serangkaian plot di mana dia kemudian harus membantu Hawkeye mengantarkan sesuatu ke New Babylon guna mendapat uang banyak untuk membayar sewa tanah Hulk yang dalam semesta komik tersebut diceritakan menjadi tuan tanah. Perjalananannya bersama Hawkeye itulah, yang kendati menarik untuk disimak, namun terkadang ada sisi di mana kompleksitas psikologis tokoh kurang digarap dengan baik.

Menarik untuk disimak sebab pembaca tentu ingin tahu apa yang menyebabkan dunia (Amerika, khususnya) kehilangan banyak pahlawan super. Situasi macam apa yang dihadapi Logan 50 tahun lalu, yang akhirnya membuat dia meninggalkan ritus kekerasan yang dulu dihidupinya atas nama kebenaran. Jawaban-jawaban atas pertanyaan yang muncul di benak kemudian diperlihatkan satu-per-satu, seiring halaman demi halaman yang dibuka oleh pembaca.

Meski demikian, ada saja plot yang terkesan tidak digarap dengan baik. Ini terlihat misalnya ketika Hawkeye dan Logan bertemu dengan mantan istri ketiga Hawkeye bernama Tonya yang merupakan anak dari Spiderman (Peter Parker). Tonya yang mendapat masalah karena anaknya, Ashley, tertangkap oleh Kingpin ketika dia dan anggota super team lainnya bermaksud untuk menyingkirkan Kingpin – sang penjahat super – dari tampuk kekuasaan. Plot ini awalnya menarik sebab menjanjikan sebuah kondisi psikis di mana Ashley tidak mengenal Hawkeye sebagai ayahnya. Hubungan Ashley dan ayahnya dalam semesta Old Man Logan adalah hubungan yang sangat buruk, sebab sang ayah meninggalkannya ketika Ashley berusia tiga tahun. Konstelasi hubungan ayah-anak yang seharusnya diceritakan penuh kerumitan emosional dalam benak Hawkeye dan juga Ashley sekaligus diceritakan dengan tawar. Pada satu-dua halaman terlihat Ashley berhasil membunuh Kingpin setelah ayahnya dan Logan mengobrak-abrik markas sang bos besar. Di halaman-halaman itulah Ashley, yang setelah Kingpin tewas di tangannya, kemudian bermaksud membunuh ayahnya sendiri. Kendati demikian, perbuatannya itu lebih memperlihatkan sosok Ashley yang menginginkan kekuasaan Kingpin dibandingkan dengan seorang anak yang membenci ayahnya.

Jadi bukan sabab musabab seperti karena Hawkeye meninggalkan Ashley di usia dini, yang menyebabkan dia ingin membunuh ayahnya sendiri, melainkan karena Ashley ingin memperlihatkan kepada anak buahnya bahwa dia adalah penjahat yang lebih kejam daripada Kingpin. Hubungan ayah-anak seperti itu yang seharusnya penuh dengan ambivalensi, mungkin juga cinta bercampur benci, absen. Pembaca menemukan hubungan ayah-anak yang nyaris tanpa emosi sedikitpun. Lain halnya dengan hubungan Logan dan anak-anaknya yang diceritakan dengan intensitas layaknya seorang ayah yang berusaha mati-matian memberi makan keluarganya, walau nyatanya mereka sekeluarga hidup miskin.

Meski teknik narasi dalam keseluruhan bangunan cerita Old Man Logan terlihat sederhana dengan penekanan pada bagaimana Logan menghadapi petualangan demi petualangannya bersama Hawkeye, elemen visual dalam komik tersebut sangat memanjakan mata. McNiven berhasil menghadirkan semesta “dunia paska-pahlawan super” dengan apik dan chaotic sekaligus. Apik sebab Old Man Logan menyajikan warna-warna terang khas semesta komik-komik pahlawan super terbitan Marvel (dan juga DC Comics, dalam takaran yang sama) yang berhasil menopang suasana chaotic dengan kokoh. Dramatisasi juga dibangun dengan cara memecah panil demi panil dan memberi masing-masing dari mereka sentuhan waktu-antar-panil yang dalam beberapa babakan tampak sengaja diperlambat demi menekankan kualitas adegan, di mana darinya pembaca akan mudah menemukan, salah satunya, elemen kekerasan.

Kekerasan memang menjadi verbalitas visual yang ditonjolkan di sana-sini, dan sanggup membuat dunia dalam Old Man Logan menjadi sebuah ruang yang tampak sadis untuk sebuah karakter yang sejatinya dimaksudkan untuk hidup lurus-lurus saja – kendati jelas bahwa dunia di mana dia hidup tampak tidak mengijinkannya untuk hidup dengan cara demikian. Ada banyak elemen cerita yang oleh Mark Millar sendiri tampaknya disodorkan sebagai sebuah kesadaran bahwa semesta di dalam Old Man Logan adalah semesta khusus, yang tidak normal, dan mengerikan untuk dihidupi orang biasa. Pada kondisi semacam itu, hanya pahlawan super lah yang mesti mendatangkan kebaikan dan penerangan kepada manusia biasa.

Terlihat klise dan pada akhirnya hanya bisa dinikmati sebagai hiburan belaka? Memang. Old Man Logan bukanlah sebuah komik yang menyajikan cerita yang mampu mengasah otak, membuat kita merenungi apa makna menjadi orang bisa dengan masalah sehari-hari yang dihidupi oleh rutinitas kita. Anda tidak bisa berharap akan menemukan hal-hal seperti itu, sebab Old Man Logan hanyalah komik sekali telan, untuk kemudian kita lupakan. Kendati demikian, Anda barangkali bisa mengharapkan komik tersebut untuk berperan sebagai ekstasi yang menghibur dan membuat kita bertanya-tanya: adakah kelanjutannya?

Oleh -
0 971
Say-Hello-to-Black-Jack-manga

Dunia kedokteran modern sudah lama menjadi sumber penceritaan yang tidak ada habis-habisnya bagi para komikus Jepang. Sebagian judul-judul komik bertema kedokteran modern seperti Black Jack (Ozamu Tezuka), Team Medical Dragon ((Akira Nagai & Taro Taro Nogizaka), Lucifer’s Right Hand (Naoki Serizawa) serta satu nomor lepas seperti Pandemic (Kakizaki Masasumi) rasanya sudah akrab di telinga pembaca dan penikmat komik; dan beberapa diantaranya bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, termasuk Bahasa Indonesia.

Dari sekian banyak judul manga yang sudah diterjemahkan di sini, Say Hello to Black Jack manga (Syuho Sato) rasanya menjadi sebuah karya sekuensial yang perlu diperhatikan secara intens. Say Hello to Black Jack manga mengambil fokus pada perjalanan seorang dokter muda bernama Saito yang diceritakan sedang menempuh jalan awal untuk menjadi seorang dokter dengan cara magang di rumah sakit universitas.

Apa yang Menarik

Salah satu kekuatan yang tampak menonjol pada karya tersebut adalah penggambaran sisi buruk dunia kedokteran sebuah rumah sakit di Jepang modern yang bukan hanya diimajinasikan dengan cara apik dan meyakinkan, melainkan juga menyajikan ambivalensi yang tidak mudah dimengerti sepenuhnya.

Sebagai lulusan Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Eiroku, Saito menempuh magang di rumah sakit yang berafiliasi dengan universitasnya itu. Di rumah sakit universitas itulah Saito kemudian menemukan banyak fenomena, peraturan dan kebobrokan yang membuatnya mempertanyakan arti menjadi seorang dokter. Membuka halaman demi halaman sambil menikmati sajian cerita Say Hello to Black Jack, seorang pembaca tidak akan menemukan kesulitan untuk sampai pada penilaian bahwa Saito adalah seorang dokter idealis. Dia diceritakan secara lugas sebagai dokter yang selalu mendahulukan kepentingan pasien dibandingkan kepentingan rumah sakit; tipikal pemberontak idealis yang mudah dibenci siapapun yang mendukung status quo.

Ini terlihat misalnya pada cerita di nomor-nomor awal ketika Saito memutuskan untuk membawa seorang pasien penyakit jantung yang diperlakukan tidak manusiawi oleh rumah sakit Eiroku. Di tengah ancaman pemecatan karena peraturan Eiroku melarang dokter di rumah sakit tersebut untuk memindahkan pasien ke rumah sakit lain, Saito malah membawa sang pasien untuk dioperasi oleh dokter ahli bedah jantung bernama Kita yang tidak berafiliasi dengan asosiasi kedokteran manapun.

Kendati sikap serta kepeduliannya kepada pasien menjadi bagian penting dari keseluruhan bangunan tema yang diceritakan dengan sangat rinci, komikus dengan sangat lihai berhasil menghindari usaha pengkultusan Saito sebagai seorang pahlawan. Dalam karya tersebut diceritakan bahwa Saito sering mengalami kebimbangan di dalam dirinya sendiri. Apakah kepeduliannya kepada pasien – yang seringkali berlebihan – adalah demi kepuasan dirinya belaka, atau memang benar-benar demi kebahagiaan sang pasien? Contoh paling baik dari “krisis eksistensial” dan ambivalensi sikap semacam itu bisa dilihat pada bagian cerita lain di mana Saito bertugas di divisi anak.

Suatu malam divisi anak rumah sakit Eiroku sedang mengalami kerepotan karena membludaknya pasien. Saito yang pada malam itu sedang bertugas di sana bersama dokter Yasutomi terpaksa menolak permintaan darurat dari orang tua yang anaknya tengah berada dalam kondisi kritis. Sang anak yang ditolak oleh Eiroku itu akhirnya meninggal.

Penilaian moral atas kejadian tersebut pun digarap dengan rinci: menolak pasien yang sedang kritis bukanlah tindakan terpuji. Namun di sisi lain, penolakan itu tampak menjadi wajar oleh karena plot diarahkan ke kondisi di mana menerima seorang pasien darurat lagi, di saat ketika ruang periksa masih penuh, menjadi tidak memungkinkan. Kejadian ini praktis meninggalkan lubang menganga pada diri Saito hingga dia kemudian mempertanyakan apa sesungguhnya arti menjadi seorang dokter. Apakah idealismenya sebagai dokter sanggup dipertahankannya sampai tua nanti, atau malah dia akan masuk ke tahap di mana dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain mengobati pasien yang ada di depannya? Dalam serial itu pula terkadang pembaca bisa menjadi geregetan dengan Saito dan bertanya-tanya: apakah semua tindak-tanduk yang dilakukannya itu sudah benar?

Pertanyaan itu muncul ketika saya menikmati bagian cerita ketika Saito bertugas di divisi bedah, di mana dia menangani pasien kanker pankreas yang sudah divonis mati karena penyakitnya itu yang tidak bisa disembuhkan. Saito diceritakan memaksakan keinginannya untuk memberikan obat anti-kanker kepada pasien itu kendati sang pasien sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Pada bagian itu Saito betul-betul ditampilkan sebagai tokoh keras kepala dan egois yang tampak hanya memikirkan kepuasan dirinya sendiri. Walau Saito tempak egois, namun apa yang dilakukannya kemudian menjadi tampak wajar. Terombang-ambing oleh sikapnya sendiri, dia tampak selalu berusaha melakukan sesuatu untuk pasiennya kendati sang pasien itu sudah tidak bisa diselamatkan.

Visualitas

Mari kita sedikit beralih ke segi visual. Segi visual pada Say Hello to Black Jack manga mengesankan dirinya sendiri sebagai sebuah karya sekuensial yang kelam. Penempatan blok hitam yang tegas serta arsiran dan garis-garis tegas yang dipakai guna mendramatisir konteks dalam panel, merupakan dua hal yang turut menopang keseluruhan suasana yang ingin dibangun oleh Syuho Sato. Dramatisasi suasana memang menjadi bagian yang asyik untuk dinikmati, sebab ada banyak contoh di mana panil disajikan dengan cara menarik garis-garis arsiran yang memberi ketegangan. Kumpulan garis luwes nan tegas yang dibentuk pun terkadang menyajikan bidang gambar yang terlihat chaotic, namun penuh energi dan kemarahan.

Gaya Sato mengingatkan saya akan Kakizaki Masasumi yang membawa gaya serupa, kendati nama yang disebut terakhir ini kerap bermain dengan blok hitam serta arsiran yang jauh lebih pekat dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Sato lewat Say Hello to Black Jack manga. Kemiripan gaya tersebut memang terlihat wajar, karena Kakizaki tercatat pernah menjadi asisten Sato setahun sebelum Kakizaki melakukan debut di industri manga.

Kesimpulan

Menikmati dunia kedokteran dalam Say Hello to Black Jack manga berarti memfokuskan pandangan dan pikiran kita kepada sebuah perjalanan untuk mencari esensi praktik kedokteran. Apakah tugas dokter hanya mengobati dan menerangkan dengan rinci keadaan pasiennya? Bolehkah dokter memberikan lebih banyak waktu untuk berinteraksi secara personal dengan pasiennya, membantunya bahkan setelah keluar dari rumah sakit? Jawaban atas dua pertanyaan tersebut dibiarkan mengalir melalui seorang tokoh bernama Saito.

Di luar visualisasi dan sederet pertanyaan yang mungkin muncul sehabis menikmati Say Hello to Black Jack manga, dunia kedokteran di sebuah rumah sakit di Jepang diceritakan penuh dengan potret realistis tentang sistem yang korup. Dalam potret semacam itu, hubungan pasien dan dokter menjadi elemen pembangun cerita yang jauh lebih menonjol dibandingkan unsur lain seperti praktik medis, misalnya. Bagaimana Saito berhubungan dengan pasiennya, bagaimana dia berkembang sebagai dokter lewat hubungan tersebut, dan bagaimana dia menyiasati sistem dunia medis yang korup; semuanya dirinci melalui keseluruhan plot dalam karya sekuensial tersebut.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu