Ulasan Komik

Oleh -
0 96
kaver Hantu Hantu Kota

Oleh: Agung Prabowo

Catatan Editorial: Tulisan ini mengandung spoiler. Harap berhenti membaca jika anda belum menikmati komiknya. 

kaver Hantu Hantu KotaPertama kali melihat penampakan komik “Festival Sial” (dalam Kompilasi Hantu Hantu Kota, Kedai Kebun Forum & Lembaga Indonesia Perancis ) ini, yang terlintas di kepala saya adalah bahwa komik ini kemungkinan besar (sekitar 92,07%) adalah buatan komikus dari Jurusan Seni Rupa.

Entah siapa yang memulainya, sepertinya style gambar semacam ini sudah menjadi sebuah ikon wajib bagi komikus-komikus dari jurusan Seni Rupa yang sudah sangat akrab saya lihat sejak era 90-an. Saya juga pernah melakukan riset kecil-kecilan dengan mengumpulkan beberapa komik buatan anak Seni Rupa asal Jawa Timur, Yogyakarta dan Jawa Tengah. Rata-rata memang begini-begini aja gaya gambarnya, nggak jauh-jauh. Warisan turun temurun dari dosen-dosennya mungkin, satu guru satu ilmu. Ciri khas yang menonjol adalah goresan-goresan yang relatif spontan, agak kasar, unik, artistik dan “malas” menggunakan penggaris. Sisi positifnya, bisa jadi, di kemudian hari ini bisa kita usulkan ke Dewan Komik Dunia (DKD) untuk menjadi style yang “Indonesia Banget”, karena, stylestyle model begini justru sangat disukai oleh penikmat komik asing dan sering lolos ke galeri pameran-pameran di luar negeri.

Begitu membuka halaman demi halaman sampai dengan akhir, jujur, saya masih  belum bisa menangkap apa yang ingin disampaikan komik ini. Saya malah mengira kalau ada yang salah dengan urutan komik ini atau salah cetak dan semacamnya. Bolakbalik, bolak balik, masih saja bingung. Kemudian saya ulang lagi membaca 2 sampai 3 kali dan saya baca tepat pukul 00.00 di saat suasana sunyi senyap, baru saya bisa mulai menangkap cerita di komik ini, walau belum 100% nyantol di kepala saya, karena ada beberapa bagian yang multitafsir, biasalah, namanya juga seni. Ini yang menjadi poin penting kelemahan komik ini, pembaca akan dibuat bingung pada saat pertama kali membaca.

Sebenarnya konsep komik ini sangat unik dan jarang dilakukan komikus-komikus lain. Mungkin kalian juga pernah membaca komik yang menceritakan 3 atau lebih tokoh yang berbeda karakter, dengan setting cerita yang berbeda-beda, yang kemudian mereka bertemu di halaman terakhir komik untuk menjadi satu kesatuan endingcerita. Sebuah Konsep dan Jurus rahasia yang seringkali membuat pembaca menggeleng-gelengkan kepala dan terkagum-kagum pada akhir halaman, karena komikus bisa  merangkai sedemikian rupa dan mengkaitkan cerita tokoh yang satu dengan yang lain dan ditutup dengan sempurna di akhir panel.

Perbedaan komik “Festival Sial” ini dengan komik sejenisnya adalah, jika komik-komik yang lain memvisualisasikannya dengan 1 style gambar yang sama, di komik ini justru kalian akan mendapati 3 styleyang berbeda untuk tiap-tiap setting cerita dari masing-masing tokoh tadi. Bagus sekali memang, sebuah invention kalau saya bilang, tapi ini bisa sekaligus menjadi bumerang bagi komik ini, karena pembaca komik awam yang belum akrab dengan konsep dan jurus seperti ini, akan sangat dibuat pusing hanya dengan 1 atau 2 kali baca saja.

Ada 3 tokoh utama komik ini, anak band, asisten pelukis dan anak motor (?) Dalam setting anak band, kita akan menjumpai style gambar yang lebih soft dan  lebih popdengan toning ala water colour. Di setting asisten pelukis kita akan mendapati style gambar hitam putih atau akrab kita sebut gaya stencil yang dipenuhi dengan panel-panel yang cukup bermanuver dan asimetris. Dan terakhir, di setting anak motor, memakai style gambar yang hampir sama dengan anak band tadi, tapi dibuat lebih gelap dan menampilkan sisi detail tiap panel.

Saya tidak akan menyinggung masalah intrinsik, seperti goresan, proporsi, perspektif, atau angle, karena saya yakin komikus ini sudah sangat memiliki jam terbang yang cukup tinggi dalam hal menggambar.

Komik 13 halaman ini dibuka dengan 1 halaman estabilishing shoot yang menggambarkan sebuah kesibukan kota padat penduduk dengan nuansa Jawa-nya. Dan terdapat 3 panel kecil yang merupakan awalan dan kunci dari pemecahan 1 menjadi 3 cerita dan diharapkan oleh komikus sebagai eksposisi cerita.

Komik ini mencoba mengangkat sebuah mitologi Jawa Kuno, mengenai cicak. Ada sebuah kepercayaan turun temurun, yang menyebutkan bila kita kejatuhan cicak, maka kita akan mendapatkan sebuah kesialan. Konsep dasar cerita di komik ini adalah ada 3 tokoh utama yang masing-masing kejatuhan cicak dan mendapatkan kesialan.

Besar kemungkinan komikus sangat kurang dalam penyusunan naskah cerita, karena “kesialan” yang dialami tokoh utama cenderung sangat dipaksakan, ambil saja contoh tokoh anak band yang tadinya biasa-biasa saja saat latihan band, mengantarkan temannya pulang, kemudian tiba-tiba di tengah jalan dia diserang dan dipukuli oleh dua orang tak dikenal. Ternyata dua orang tidak dikenal tadi salah orang dan tokoh utama dibiarkan kabur dengan motornya.

Di tokoh asisten pelukis, disaat dia selesai mengerjakan pekerjaannya memberi warna dasar ke kanvas, dia pun istirahat dan pulang, kemudian di jalan dia seperti berhalusinasi dengan “gedhek” yang seakan-akan terus menghantui dan menghalang-halangi jalannya, kemudian tiba-tiba saja dia terjatuh ke sungai dan basah kuyup.

Maksud saya, konflik di 2 setting cerita tadi terlihat kurang alami. Mungkin, kesialan mereka berdua tadi lebih alami, jika menyangkut tentang 2 profesi mereka tekuni. Misalkan saja, si asisten pelukis mendapat kesialan saat lukisan milik pelukis terkenal yang sedang ia kerjakan rusak dan dia mendapat cemoohan dari bos-nya karena itu adalah lukisan pesanan orang lain dan harganya mahal, kemudian dia dipecat, dan lain-lain.

Untuk Anak band, mungkin pada saat setelah latihan band, kemudian dia manggung di sebuah acara penting, lalu terjadi kesalahan teknis yang membuat band-nya ditertawakan atau gagal audisi.

Dari ketiga setting tadi, yang cukup berhasil adalah pada tokoh utama “Anak Motor”. Di sini diceritakan pada saat anak motor tadi memacu motornya di jalan, ban motornya terkena batu kecil di jalan yang kemudian membuat plat nomornya terlepas dan terjatuh. Kemudian, pada saat dia berhenti di lampu merah, ada polisi yang melihatnya dan kemudian menilangnya. Di bagian ini, konflik yang dialami tokoh anak motor sangat sinkron dengan profesinya, jadi efek yang ditimbulkan adalah Pembaca akan lebih mempercayai “mitos sial cicak” tadi pada saat membaca setting cerita ini.

Komikus harus berhati-hati dalam penggunaan bahasa-bahasa kedaerahan. Saya memaklumi, jika ini dilakukan dalam rangka usaha komikus  menampilkan nuansa Jawa-nya, tapi pembaca di sesama pulau Jawa pun (Jawa Barat) akan kesulitan menangkap kalimat – kalimat “rasah kakean cangkem”, “raine bedo ki, wes minggat wae kowe”, atau “sek mas, aku ra ngerti opo-opo”. Apalagi pembaca-pembaca di luar jawa, pasti harus membuka google translate.

Karakteristik tiap tokoh juga sudah kuat. Tokoh anak band di desain dengan rambut gondrong semi mohawk yang membuat kita selaku pembaca akan mudah membedakan dia dengan tokoh-tokoh antagonis dan protagonis yang lain. Tokoh anak motor juga sangat kuat, dimana tokoh utamanya adalah sesosok tengkorak dengan gaya oldschool khas anak motor, dengan jaket kulit dan boots-nya. Hanya di tokoh asisten pelukis yang tidak konsisten dan saya rasa kurang kuat pencitraannya.

Bumerang bagi komikus juga terjadi di akhir halaman, dimana 3 setting cerita yang sengaja dia buat dengan berbeda-beda style gambar harus berujung di ending cerita yaitu halaman 13 yang kesemua tokoh hadir di halaman itu. Pada akhirnya, si komikus menggambar halaman terakhir dengan style water colour padahal tokoh asisten komik menggunakan style stencil dan tokoh anak motor dengan terpaksa tidak ditampilkan, hanya diperlihatkan posisi bahwa dia sedang berada di dalam sebuah pos polisi.

Satu masukan lagi dari saya kepada komikus, alangkah lebih keren lagi kalau komik ini memiliki konflik awal dan krisis (konflik puncak). Bayangkan saja, jika 3 konflik yang dialami 3 tokoh utama, kemudian berujung ke sebuah konflik utama yang saling berhubungan dan digambarkan dengan sangat jelas di halaman terakhir. Mungkin ini akan lebih membuat pembaca terkagum-kagum, karena 3 tokoh tadi muncul di halaman terakhir, saling berhubungan dan memiliki 1 konflik akhir yang kick ass !!

 

Oleh -
0 133
nanny

Oleh: Niken Anggrek Wulan

Lemahnya perlindungan dan diskriminasi bukanlah satu-satunya persoalan yang dihadapi buruh migran Indonesia. Dibalik status ‘pahlawan devisa’ yang sering dilekatkan, sejatinya buruh migran mengalami kerugian dari segi sosial yang amat besar.

Nanny, komik pendek yang dibuat oleh Lim Cheng Tju dan Stephani Soejono mampu memotret persoalan sosial itu (komik ini dimuat di dalam kompilasi 24 hour comics day – red).

kaver komik

Yati adalah buruh migran di Singapura yang bekerja sebagai pengasuh anak atau Nanny. Cerita dimulai dengan menuturkan keseharian Yati. Perempuan pekerja rumah tangga itu bekerja pada seorang majikan perempuan. Suatu hari, usai menidurkan anak si majikan, ia diberi tahu bahwa keesokan harinya ia mendapat jatah libur.

Hari libur semestinya membuat Yati berbahagia. Namun, di negeri orang, semua itu terasa kosong baginya. Kekosongan itu diperlihatkan lewat ekspresi muram yang dilekatkan. Pada adegan-adegan awal, panel-panel sengaja dibuat lebar dan sudut pandang close-up diperbanyak pada awal-awal adegan untuk menonjolkan rutinitas Yati yang membosankan.

Pada hari libur itu, Yati memutuskan keluar pagi-pagi dari apartemen majikannya untuk berjalan-jalan. Dalam perjalanannya di kereta, Yati tertidur dan bermimpi. Mimpi itu menceritakan perjalanan Yati  hingga ia terpaksa mengadu nasib ke negeri tetangga. Yati dalam mimpi adalah Yati yang berbeda. Wajahnya dipenuhi senyum. Matahari dengan cerahnya menyinari wajah dan sawah yang ada di sekelilingnya. Dengan wajah sumringah ia menanam padi di sawah, dan bersama orangtuanya makan bersama. Di mimpi yang sama, ia juga bertemu dengan pria yang dikasihinya. Mereka menikah dengan bahagia.

Keadaan berubah ketika suatu hari ia tak mendapati suaminya di sisi tempat tidurnya. Dikisahkan suaminya menghilang. Saat itu hidupnya berubah menjadi kelam. Berpasang-pasang mata mencibirnya saat Yati tengah mengandung anaknya. Menyandang status janda dan makin tingginya kebutuhan hidup anaknya, membuat Yati terpaksa memilih bekerja di rantau, meninggalkan sanak keluarganya.

Kisah Yati adalah kisah yang sangat mewakili suara buruh migran. Anak-anak para Nanny seperti Yati terpaksa ditinggal dan dipercayakan kepada orang lain. Sedang ia sendiri bekerja mengasuh anak majikannya di negeri nun jauh di sana.  Risiko mendapatkan perlakuan tak menyenangkan, perkosaan, penipuan umumnya tak membuat mereka mundur. Ungkapan ‘lebih baik di tanah sendiri’ terpaksa dilanggar dengan tujuan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, meski hanya berstatus sebagai buruh yang berposisi tawar rendah dan rentan kekerasan, seperti buruh perkebunan atau pekerja rumah tangga.

Realitas tentang buruh migran itu ditampilkan cukup baik oleh komik yang terdiri dari 23 halaman ini. Adegan per adegan sengaja dibuat lambat, menonjolkan suasana hati yang dialami tokoh utama. Pembaca diajak untuk lebih menikmati sisi visual dengan membuat panel-panel yang minim dialog. Efek suara pun menjadi elemen yang cukup kuat dalam mendukung cerita.

Meski begitu, ada beberapa elemen yang dirasa kurang. Halaman awal misalnya, dirasa terlalu singkat dan digambarkan dengan sudut pandang yang terpatah-patah sehingga kurang nyaman secara visual. Beberapa latar belakang mungkin memang sengaja dibuat kaku, tetapi kadang menjadi terlalu kaku dan terlihat sangat ‘komputer’. Detail yang kurang digarap membuat kesan ruang pun terasa kurang. Akibatnya beberapa latar belakang terlihat sangat datar.

Salah satu bagian yang menggambarkan calo Tenaga Kerja Indonesia (TKI), terkesan sangat berlebihan karena dirasa kurang menyatu dengan setting cerita. Calo digambarkan sebagai Bapak-bapak tambun yang memegang koper bergambar pel dan ember serta berhiaskan bintang-bintang. Meski hal itu dimaksudkan untuk memperjelas status calo, tetapi tak menutup kemungkinan hal itu bisa digambarkan dengan cara yang lebih halus. Di sisi lain, adegan yang menggambarkan kesulitan ekonomi terlihat kurang dramatis karena terlampau disingkat dalam satu halaman.

Dibalik kekurangannya, komik ini jelas bisa menjadi media untuk membuka wacana pembacanya tentang persoalan sosial yang dialami buruh migran. Pembaca diajak untuk merenungi persoalan ‘Yati-Yati’ lain di negeri ini. Ketimpangan, ketidakadilan, serta kerentanan yang mereka hadapi terus ada. Tapi bagi para pekerja itu, hidup harus terus berjalan, meski harus mencerabut diri mereka dari kedamaian dari tanah kelahiran.***

 

Oleh -
0 134
Cinta-Itu-Buta

Oleh: Ahmad Alhamra Putra

Catatan Editorial: komik yang dibahas di sini hanyalah satu fragmen dari keseluruhan tema yang disodorkan lewat Cinta Itu Buta (Metha Studio, 2013)Fragmen yang dibahas adalah tema komik terakhir yang menceritakan diskriminasi sosial yang dialami seorang anak karena cap ayahnya yang dianggap sebagai bagian dari PKI.

Judul komik ini adalah istilah lama yang tertanam di antara masyarakat. Perihal cinta yang tak pandang bulu dalam menjatuhkan orang-orang ke dalamnya membuat kalimat ‘cinta itu buta’ begitu tenarnya. Mungkin inilah kenapa Gerdi WK selaku komikus dari komik  ini memilih judul tersebut untuk komiknya.

Komik ini sendiri memberi kesan miris karena membahas soal perjuangan hidup anak-anak bangsa yang ayahnya pernah menjadi tahanan politik pasca gerakan penghakiman terhadap PKI. Perjuangan mereka agar diterima dalam sosialita rakyat Indonesia yang menjadi sorotan di komik ini membuat komik ini memiliki nilai plus dan pelajaran berharga bahwa masa lalu yang membayang-bayangi kehidupan bisa diatasi dengan kerja keras dan tidak seharusnya menjadi beban teus-terusan.

Pada halaman-halaman awal, saya tidak mendapati kesan soal cinta macam apa yang dimaksud dalam Cinta Itu Buta. Cerita diawali masa kecil tokoh utamanya yang tidak diberikan nama. Ya, penokohan dalam komik ini hanya sebatas ‘ibu’, ‘ayah’, ‘Kakak ke-sekian’. Hanya salah satu kakak dari tokoh utama saja yang dikenalkan sebagai Leni. Sisanya anonim, termasuk tokoh utamanya.

Pada awalnya tokoh utama dimaki oleh teman sebayanya yang tengah bertaruh uang agar pergi meninggalkan mereka karena tuduhan membawa sial sebagai anak PKI. Tokoh utama menangis dan ibunya datang, tidak mampu membela si anak dan menyuruhnya main dengan kakaknya saja. Hal ini menyatakan bahwa apa yang dikatakan rekan-rekan si tokoh utama adalah benar, bahwa tokoh utama kita adalah anak dari anggota PKI. Inilah awal mula konflik yang akan dijadikan bahan utama dari komik ini.

Komik ini menceritakan alur kehidupan keluarga si tokoh utama sepeninggal ayahnya mendekam di penjara sebagai tahanan politik. Betapa kesulitan demi kesulitan menghadang mereka untuk bertahan hidup dan tidak putus sekolah. Tapi sayang, satu demi satu dari mereka harus menghadapi jalan berbeda-beda. Kesemuanya diceritakan dalam bentuk narasi oleh si tokoh utama, bungsu dari tujuh bersaudara yang ayahnya adalah seorang tahanan politik dan ibunya menjadi satu-satunya yang menopang mereka.

Pada akhir narasi tentang peliknya kehidupan si tokoh utama di masa lalu, gambaran masa kini disajikan. Bahwasanya sebenarnya saat ini si tokoh utama telah melewati itu semua dan tumbuh dewasa, bahkan hingga ke perguruan tinggi, tidak seperti keenam kakaknya yang memiliki nasib berbeda-beda. Narasi tersebut adalah bentuk cerita si tokoh utama yang diobrolkan dengan seorang gadis sebayanya yang memanggilnya, ‘Mas’.

Penyajian lompatan alur yang mulus, gambar dan latar yang bagus, serta mimik wajah yang kebanyakan ekspresif dan tepat, menjadikan komik ini begitu lancar dan enak dibaca. Cara komikusnya menggambarkan kehidupan mereka yang berat dan pembagian tokohnya yang imbang benar-benar memanjakan otak untuk membaca sambil berpikir. Meski tidak diberi garis panel yang jelas hingga terkadang menjebak, penggambarannya yang tepat sudah membantu saya sebagai pembaca untuk menikmati alur komik ini.

Sayang di beberapa titik, seperti secara tiba-tiba cerita berubah menjadi nyaris sepenuhnya narasi setelah di halaman-halaman awal diisi penuh dengan balon percakapan agak mengagetkan. Meski pergantian tersebut dengan mulus diletakkan di halaman selanjutnya.

Selain itu ceritanya juga tidak memiliki ending yang memuaskan dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Cinta Itu Buta yang menjadi judul komik tersebut. Mungkin maksudnya si gadis muda memilih si tokoh utama tanpa memandang latar keluarganya. Sayang penyajiannya hanya dilakukan lewat gambar terakhir, di mana si gadis menyandarkan tubuhnya pada si tokoh utama. Memberi gambaran bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang mencintai satu sama lain, dan gadis itu telah dibutakan oleh cintanya secara positif pada si tokoh utama.

Komik ini cukup pendek dan packed karena jumlah halamannya yang terbatas. Namun penyajiannya cukup apik untuk dinikmati hingga akhir. Gambar-gambarnya menyiratkan keadaan tokoh-tokohnya tanpa perlu diberi balon dialog. Peletakkan ending-ending kehidupan keenam kakak si tokoh utama saat ini juga cukup jelas, meski di beberapa gambar mimik wajah karakternya terasa kurang dramatis. Namun secara keseluruhan, komik ini penyajiannya pantas diacungi jempol.

Esei

Terpopuler Dalam Seminggu