Cerita Untuk Alina, Becak Terakhir di Dunia

Cerita Untuk Alina, Becak Terakhir di Dunia

Oleh -
0 306
Aksen-Becak-C-Suryo-Laksono

“Ceritakanlah padaku tentang kepunahan”, kata Alina, seorang anak jalanan di sebuah kota besar kepada sang Juru Cerita, membuka komik ini pada panel pertama. Maka bergulirlah kisah komik ini dari mulut sang Juru Cerita. Sebuah kisah tentang kepunahan, kepunahan sebuah moda transportasi di suatu negeri.

Dikisahkan, di sebuah kota di waktu senja, jalanan dipenuhi oleh iring-iringan truk yang mengangkut ribuan becak untuk dibuang ke laut utara. Rupanya pemerintah kota itu sedang getol melakukan perburuan terhadap becak becak ini karena dianggap mengganggu ketertiban umum dan membuat semrawut wajah kota. Oleh karena itu terbitlah larangan akan keberadaan salah satu moda transportasi masyarakat tersebut. Dan aparat kepolisian pun menjalankan tugasnya dengan baik, merazia semua becak yang masih beroperasi.

Tapi ternyata penertiban berjalan tak semudah yang dikira. Adalah Rambo, seorang tukang becak, yang berhasil membuat semuanya menjadi kacau dan tidak mudah. Rambo, dengan ketenangannya, masih melakukan hal yang dilarang keras oleh pemerintah kota, mengantarkan penumpang dengan becaknya. Dan pada sore laknat itu, Rambo sedang menerima order dari seorang wanita, yang memintanya mengantarkannya ke ujung dunia. Rambo, dengan becak kencananya, becak terakhir di dunia, menyanggupi untuk mengantarkan.

Maka terjadilah kehebohan di jalanan. Ribuan polisi dikerahkan untuk mengepung dan menangkap Rambo. Dari jalanan, para pendukung Rambo berseru agar Rambo berhati hati, sebab ialah pengendara becak terakhir di dunia.  Rambo, bukanlah tukang becak sembarangan, demikian pula becaknya, becak kencana.Becak itu telah menjuarai reli paris dakar kelas becak, telah keliling dunia tiga kali, bahkan ikut sirus keliling atraksi becak. Dengan mudah Rambo menghindari serbuan aparat. Becaknya bergerak lincah di jalanan kota, di gang gang, di lorong lorong. Para polisi kewalahan mengejarnya. Proses pengejaran ini pun, karena serunya, diliput secara langsung oleh banyak media massa. Semua orang ingin tahu nasib becak terakhir di dunia ini.

Polisi di jalanan hampir menyerah, hingga Rambo akhirnya berhenti di sebuah daerah prostitusi kumuh, karena sang penumpang telah sampai di tujuan. Satu batalion tentara diturunkan untuk membantu polisi mengepung Rambo. Melalui pengeras suara diteriakkan agar ia menyerah saja. Tak disangka sangka, Rambo melangkah keluar dari gubuk kumuh tersebut, menyerah. Kini giliran penonton yang menjadi ribut. Mereka tak ingin Rambo menyerah. Rambo yang mewakili perasaan mereka, menjadi simbol perlawanan mereka tak boleh menyerah begitu saja. Rambo harus terus melawan, begitulah tuntunan penonton. Ketika Ramboberjalan ke arah polisi dengan kedua tangan terangkat, mereka yang tadinya memberi semangat dan memuji berbalik memaki dan marah. Tapi apa boleh buat, Rambo tak ingin jadi pahlawan, dan ia menyerah begitu saja.

“Aku bukan pahlawan. Dan aku tidak mau jadi pahlawan.. Aku cuma tukang yang takut mati dan perlu makan” Demikianlah Rambo mengakhiri perjuangannya.

Komik karya C. Suryo Laksono ini merupakan sebuah adaptasi atas cerita pendek karangan Seno Gumira Ajidarma dengan judul: Becak Terakhir di Dunia. Kisah ini nampaknya diangkat Seno dari suatu masa dimana terjadi pelarangan atas becak di Jakarta pada akhir dekade 80an, sebuah represi negara atas kalangan miskin kota, yang nampaknya akan terus berulang. Barangkali ini juga termasuk dalam apa yang disebut Seno sebagai: ” ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Barangkali sudah waktu yang tepat, ketika sastra juga hanya terjangkau oleh segelintir orang, komiklah yang ambil bagian dari jurnalisme yang dimaksud tadi. Jurnalisme komik ala Joe Sacco barangkali bisa dijadikan acuan?

Tapi selain itu, adalah cukup menarik untuk melihat sisi anti-hero dari tokoh utama komik ini, Rambo, yang memilih menyerah daripaada mati sebagai seorang pahlawan seperti yang diharapkan orang orang. Sebuah sikap yang nampak realistis, ketimbang menjadi naif dalam perjuangan yang apabila dimenangkankan pun nampaknya seperti peribahasa kalah jadi abu menang jadi arang. Dari sikap anti-hero itu lalu muncul pula ke permukaan sifat sifat munafik sebagian dari masyarakat (dalam hal ini para penonton dan pendukung Ramo), yang ingin memiliki simbol kepahlawanan, yang merasa terwakili oleh sifat kepahlawanan, mungkin bahkan menikmati hasil hasil dari perjuangan, namun enggan menceburkan dirinya secara langsung dalam perjuangan tersebut. Hal tersebut nampak dari bagaimana para penonton dan reporter memaki maki Rambo saat ia memilih menyerah. Tidakkah itu nampak seperti kita?

Sepengetahuan saya, ini adalah komik kedua yang dibuat berdasarkan cerpen dari Seno Gumira Ajidarma, setelah yang pertama yang berjudul Taxi Blues karya Erwin Prima Arya. Di sisi cerita, jangan tanya soal kepiawaian Seno merangkai kata kata menjadi kalimat yang puitis, juga penuh kritik, yang tentunya menjadi salah satu kekuatan komik ini. Selain itu, komik setebal 40 halaman ini juga menghadirkan gambar gambar yang apik dalam panel panelnya, dengan blok blok hitam dan putih, juga menjadi nilai tambahnya.

Beberapa hal kecil yang terlewat, barangkali adalah tak ada pencantuman tahun terbit dan penomoran tiap tiap halaman. Mungkin tidak terlalu penting, tapi saya kira hal itu cukup menyulitkan
apabila seandainya ada yang ingin membahas komik ini halaman per halaman.

Ikhtisar
Adaptasi Sastra ke dalam Komik
Penikmat banyak hal: komik, musik, film, sastra, sejarah, hutan, gunung, tebing batu, goa, sungai, ide dan wacana, perempuan, alkohol, tembakau, agama, dan apa saja. Bekerja di bidang kehutanan sebagai Chain of Custody specialist dan berharap selalu muda.