Cinta Itu Buta: Sebuah Review

Cinta Itu Buta: Sebuah Review

Oleh -
0 134
Cinta-Itu-Buta

Oleh: Ahmad Alhamra Putra

Catatan Editorial: komik yang dibahas di sini hanyalah satu fragmen dari keseluruhan tema yang disodorkan lewat Cinta Itu Buta (Metha Studio, 2013)Fragmen yang dibahas adalah tema komik terakhir yang menceritakan diskriminasi sosial yang dialami seorang anak karena cap ayahnya yang dianggap sebagai bagian dari PKI.

Judul komik ini adalah istilah lama yang tertanam di antara masyarakat. Perihal cinta yang tak pandang bulu dalam menjatuhkan orang-orang ke dalamnya membuat kalimat ‘cinta itu buta’ begitu tenarnya. Mungkin inilah kenapa Gerdi WK selaku komikus dari komik  ini memilih judul tersebut untuk komiknya.

Komik ini sendiri memberi kesan miris karena membahas soal perjuangan hidup anak-anak bangsa yang ayahnya pernah menjadi tahanan politik pasca gerakan penghakiman terhadap PKI. Perjuangan mereka agar diterima dalam sosialita rakyat Indonesia yang menjadi sorotan di komik ini membuat komik ini memiliki nilai plus dan pelajaran berharga bahwa masa lalu yang membayang-bayangi kehidupan bisa diatasi dengan kerja keras dan tidak seharusnya menjadi beban teus-terusan.

Pada halaman-halaman awal, saya tidak mendapati kesan soal cinta macam apa yang dimaksud dalam Cinta Itu Buta. Cerita diawali masa kecil tokoh utamanya yang tidak diberikan nama. Ya, penokohan dalam komik ini hanya sebatas ‘ibu’, ‘ayah’, ‘Kakak ke-sekian’. Hanya salah satu kakak dari tokoh utama saja yang dikenalkan sebagai Leni. Sisanya anonim, termasuk tokoh utamanya.

Pada awalnya tokoh utama dimaki oleh teman sebayanya yang tengah bertaruh uang agar pergi meninggalkan mereka karena tuduhan membawa sial sebagai anak PKI. Tokoh utama menangis dan ibunya datang, tidak mampu membela si anak dan menyuruhnya main dengan kakaknya saja. Hal ini menyatakan bahwa apa yang dikatakan rekan-rekan si tokoh utama adalah benar, bahwa tokoh utama kita adalah anak dari anggota PKI. Inilah awal mula konflik yang akan dijadikan bahan utama dari komik ini.

Komik ini menceritakan alur kehidupan keluarga si tokoh utama sepeninggal ayahnya mendekam di penjara sebagai tahanan politik. Betapa kesulitan demi kesulitan menghadang mereka untuk bertahan hidup dan tidak putus sekolah. Tapi sayang, satu demi satu dari mereka harus menghadapi jalan berbeda-beda. Kesemuanya diceritakan dalam bentuk narasi oleh si tokoh utama, bungsu dari tujuh bersaudara yang ayahnya adalah seorang tahanan politik dan ibunya menjadi satu-satunya yang menopang mereka.

Pada akhir narasi tentang peliknya kehidupan si tokoh utama di masa lalu, gambaran masa kini disajikan. Bahwasanya sebenarnya saat ini si tokoh utama telah melewati itu semua dan tumbuh dewasa, bahkan hingga ke perguruan tinggi, tidak seperti keenam kakaknya yang memiliki nasib berbeda-beda. Narasi tersebut adalah bentuk cerita si tokoh utama yang diobrolkan dengan seorang gadis sebayanya yang memanggilnya, ‘Mas’.

Penyajian lompatan alur yang mulus, gambar dan latar yang bagus, serta mimik wajah yang kebanyakan ekspresif dan tepat, menjadikan komik ini begitu lancar dan enak dibaca. Cara komikusnya menggambarkan kehidupan mereka yang berat dan pembagian tokohnya yang imbang benar-benar memanjakan otak untuk membaca sambil berpikir. Meski tidak diberi garis panel yang jelas hingga terkadang menjebak, penggambarannya yang tepat sudah membantu saya sebagai pembaca untuk menikmati alur komik ini.

Sayang di beberapa titik, seperti secara tiba-tiba cerita berubah menjadi nyaris sepenuhnya narasi setelah di halaman-halaman awal diisi penuh dengan balon percakapan agak mengagetkan. Meski pergantian tersebut dengan mulus diletakkan di halaman selanjutnya.

Selain itu ceritanya juga tidak memiliki ending yang memuaskan dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Cinta Itu Buta yang menjadi judul komik tersebut. Mungkin maksudnya si gadis muda memilih si tokoh utama tanpa memandang latar keluarganya. Sayang penyajiannya hanya dilakukan lewat gambar terakhir, di mana si gadis menyandarkan tubuhnya pada si tokoh utama. Memberi gambaran bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang mencintai satu sama lain, dan gadis itu telah dibutakan oleh cintanya secara positif pada si tokoh utama.

Komik ini cukup pendek dan packed karena jumlah halamannya yang terbatas. Namun penyajiannya cukup apik untuk dinikmati hingga akhir. Gambar-gambarnya menyiratkan keadaan tokoh-tokohnya tanpa perlu diberi balon dialog. Peletakkan ending-ending kehidupan keenam kakak si tokoh utama saat ini juga cukup jelas, meski di beberapa gambar mimik wajah karakternya terasa kurang dramatis. Namun secara keseluruhan, komik ini penyajiannya pantas diacungi jempol.