Deidra Dengue Danar: Komik Pendek Berselimut Racun Aedes Aegypti

Deidra Dengue Danar: Komik Pendek Berselimut Racun Aedes Aegypti

Saat sampai pada halaman kedua komik ini —saya sedang dalam perjalanan di kereta jarak pendek saat membacanya— saya segera berjanji dalam hati untuk menuliskan sedikit komentar saya. Saat itu, sebenarnya perasaan saya sedang kalut. Biasalah, banyak urusan duniawi yang membuat hati dan otak saya menjadi tidak karuan, tapi tak perlu saya ceritakan di sini karena itu bukan urusan anda, dan anda juga tidak akan peduli. Lagi pula saya bukan Deidra Mesayu, pembuat komik yang akan saya tulis reviewnya ini. Kalau anda nanti membaca komiknya, anda akan tahu mengapa saya menulis begini.

Chandra Agusta | Sekuensi.com

Pertama, untuk mempermudah, walaupun bentuk karya Deidra ini adalah ilustrasi berteks (seperti tertulis pada pengantarnya yang ditulis oleh kritikus komik kita yang termasyhur a.k.a M. Hadid), atau teks berilustrasi, saya akan tetap menyebutnya sebagai sebuah komik. Saya tidak tahu, dan tidak ingin memperdebatkan, apakah dalam karya ini unsur-unsur komik itu sudah tercapai atau tidak, namun karena karya ini berada dalam sebuah kompilasi komik milik kolektif Barasub yang punya jargon “Manifeskuensi”, kita anggap saja ini memang komik.

Komik setebal 25 halaman (termasuk cover depan dan belakang) ini berjudul Deidra Dengue Danar, Komik Pendek Berselimut Racun Aedes Aegypti, merupakan komik kedua dalam kompilasi komik bertajuk Beringas Vol. 2. Bentuknya, kalau dilihat-lihat dan dimirip-miripkan, mungkin dapat digolongkan ke dalam kategori graphic diary, seperti komiknya Tita Larasati dengan Curhat Tita-nya. Sudah barang tentu sebagai graphic diary, ceritanya sangat personal. Saya tidak tahu apakah ini benar-benar kisah nyata si komikus, tapi anggap saja begitu, dan disitulah letak kekuatan ceritanya.

Ia memulai narasinya dengan memperkenalkan dirinya sendiri, sebagai seorang yang aneh (walaupun ia menegaskan bahwa banyak orang punya kecenderungan mengaku-ngaku sebagai orang aneh). Ia juga mempertegas karakter dirinya dengan menceritakan kebiasaan-kebiasaannya, hobinya, dan hal yang dibencinya, yaitu nyamuk. Dari nyamuk inilah semua cerita dimulai. Pacarnya digigit nyamuk dan terserang demam berdarah. Ia dengan kasih sayang dan pengorbanan yang tidak sedikit merawat sang pacar sampai sembuh. Sialnya, setelah sembuh pacarnya justru kencan dengan mantannya. Mereka kemudian putus, dan ia patah hati. Dalam suasana patah hati itu ia memberikan tips-tips bagaimana mengatasinya hingga ia sembuh dari luka hatinya.

Sebuah cerita yang sebenarnya sangat sederhana, tapi kalau anda membaca komik ini, anda akan mengetahui kuatnya Deidra dalam membangun narasi. Dalam cerita yang sederhana itu, dengan balutan kalimat-kalimat dan ilustrasinya, Deidra menyampaikan rasa cintanya, kemarahannya, serta tips-tips menghadapi keadaan patah hati, membuat saya terhanyut, ikut terharu, lalu ikut marah dan jengkel, untuk kemudian ikut merasa bahagia karena semua berakhir baik-baik saja. Tentu saja saya membacanya sambil tertawa-tawa. Menertawakan nasib buruk orang lain mungkin adalah salah satu bentuk hiburan terbaik.

Chandra Agusta | Sekuensi.com

“Aku menangis hebat. Aku menangis meski tetap hebat”, tulis Deidra dalam adegan ketika ia mengetahui pacarnya berboncengan dengan mantannya. Sebuah kalimat ajaib yang membuat saya memaki dalam hati.
Lalu ada kalimat: “Akupun bertanya-tanya kenapa setelah dia meledek menu lauk keluargaku yang selalu cuma tahu dikuahi santan, aku masih ingin dia tetap bersamaku sambal menangis tersedu-sedu.” Lalu: “Aku ingin meninju perut laki-laki yang menghina cara hidup dan sistem lauk keluargaku padahal dia beli sepatu vans minta aku menambah seratus ribu…” Sistem lauk? Apa itu? Sialan betul.

Mungkin kemampuan untuk menceritakan kisah hidupnya ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang ekstrovert, yang dengan senang hati mengisahkan cerita pribadinya kemudian membagikannya ke publik, untuk kemudian kita baca sambal tertawa sambil guling guling di lantai kereta saking lucunya. Agak ironi juga sih, tapi saya pikir komik ini dibuat untuk tujuan itu (ini mungkin perlu dipertanyakan ulang, karena komik ini dimuat dalam kompilasi bernama Beringas :p), dan itu berhasil untuk saya. Jadi di kereta, mendung yang menggelayuti perasaan saya tadi jadi agak sedikit menjadi cerah. Dan seperti kalimat saya di paragraf pertama tadi, saya jadi tidak perlu menceritakan kekalutan hati saya, terutama karena saya mungkin tidak bisa menyusun kalimat yang lucu dan menghibur, dan karena kelucuan tersebut hari ini, saat tulisan ini dituliskan, sudah menjadi milik komik ini.

Jakarta, 1 Mei 2017

Ikhtisar
Kocak
Penikmat banyak hal: komik, musik, film, sastra, sejarah, hutan, gunung, tebing batu, goa, sungai, ide dan wacana, perempuan, alkohol, tembakau, agama, dan apa saja. Bekerja di bidang kehutanan sebagai Chain of Custody specialist dan berharap selalu muda.