Kenang-kenangan Dua Figur di Dalam Industri Komik Amerika (bagian 2)

Kenang-kenangan Dua Figur di Dalam Industri Komik Amerika (bagian 2)

Oleh -
0 45
Dua-figur-komik-amerika

“Dick Ayers adalah salah satu raksasa di Marvel Age of Comics,” kata Danny Fingeroth kepada Washington Post. Dia adalah figur kedua setelah Al Feldstein yang akan saya bicarakan di sini.

Dick Ayers meninggal pada 4 Mei lalu karena menderita penyakit Parkinson. Sementara dia dikenal sebagai salah seorang kreator Ghost Rider, Ayers juga dikenang dalam benak banyak penggemar komik Amerika sebagai peninta untuk karya-karya Jack Kirby yang terbit pada periode 1950-an sampai 1960-an.

Dick Ayers mulai memasuki industri komik Amerika pada akhir 1940-an, ketika Perang Dunia II sedang berlangsung. Dia sempat membuat komik strip ketika bergabung di Army Air Cops. Segera setelahnya dia menggarap komik Jimmy Durante untuk Magazine Enterprises, selain bekerja untuk Siegel dan Shuster satu dekade setelah mereka berdua mengguncang dunia industri pahlawan super dengan karakter Superman.

Namanya hampir terkenal dalam waktu singkat setelah dia menciptakan karakter supernatural bernama Ghost Rider untuk Tim Holt #11 (1949) bersama dengan penulis Ray Krank. Ghost Rider muncul dan hidup di Tim Holt, A-1 Comics, Red Mask, B-Bar-B Riders. Karakter tersebut sangat populer sampai-sampai dibikinkan komik sendiri pada tahun 1950, meski tidak berlangsung lama. Histeria massa yang dipicu protes pemuka agama, otoritas, dan para orang tua, yang menganggap komik sebagai bacaan buruk membuat karakter tersebut mati ditahun 1954 – hal serupa juga menimpa E.C. Comics di periode yang sama. Biang keladi kematian Ghost Rider dan E.C. Comics pun sama, tidak lain adalah Comics Code Authority.

Ghost Rider mengalami kematian karena tidak digunakan, meski kemudian Marvel menghidupkannya kembali pada Februari 1967 lewat seri Ghost Rider #1. Seri yang dihidupkan kembali itu ditulis oleh Gary Friedrich dan Roy Thomas, dengan Ayers menggarap sisi visualnya.

Namun yang benar-benar membuatnya terkenal di antara para fans adalah periode di mana dia bekerja untuk Marvel, antara era 1950-an sampai 60-an. Era tersebut adalah era ketika ia melakukan penintaan untuk banyak serial monster yang terbit di tahun 1960 – yang semuanya digambar oleh Jack Kirby. Dia tetap bekerja di Marvel pada tahun 1960, pada rentang periode yang kerap kali disebut ‘Silver Age of Comics’. Disebut demikian karena banyak karakter pahlawan super Amerika lahir di periode ini. Ayers seringkali menjadi peninta buku-buku komik pahlawan pertama, termasuk “Fantastic Four”, di mana dia melakukan penintaan di atas garis pensil garapan Kirby. Beberapa kali dia sempat menjadi penciler, termasuk untuk karakter pahlawan super seperti Human Torch di “Strange Tales” dan juga buku-buku komik lain seperti “Rawhide Kid.”

Namun agaknya pencapaian Ayers yang paling banyak diingat oleh para penggemar adalah ketika ia melakukan penintaan sekaligus menjadi penciler untuk Sgt. Fury and the Howling Commandoes. Mula-mula ia meninta nomor #1-3 dari seri tersebut yang terbit pada Mei sampai September 1963, kemudian ia mengambil alih tugas Kirby sebagai penciler untuk nomor #8 yang terbit pada Juli 1964. Sejak itulah dia kemudian menangani  Sgt. Fury and the Howling Commandoes sebagai penciler selama sepuluh tahun – kecuali untuk nomor #13 di mana dia kembali ke formasi awal di mana dia meninta dan Kirby bertindak sebagai penciler, dan juga lima isu lain yang digarap oleh penciler lain.

Seri Sgt. Fury and the Howling Commandoes yang digarap Ayers (di mana dia menjadi penciler) bersama dengan Gary Friedrich diingat banyak orang sebagai seri yang terlihat lebih “berisi”. Mereka berdua berkolaborasi di nomor #42 sampai #44 yang muncul pada bulan Mei sampai Juli 1967.

Baik Ayers maupun Feldstein memiliki peran masing-masing dalam jagat perkomikan di Amerika sana. Dan masing-masing memiliki rekam jejaknya sendiri yang kemudian diingat oleh para penggemar mereka berdua. Namun satu hal yang perlu dicatat: saya pribadi lebih menyukai Feldstein, karena pekerjaannya di “MAD” membuat majalah tersebut tampak terlihat sebagai upaya untuk mengejek dunia orang dewasa yang hipokrit. Feldstein dalam sebuah wawancara dengan New York Times pada tahun 1981 mengatakan: “Apa yang sudah saya lakukan adalah membawa absurditas dunia orang dewasa yang dilihat anak-anak, dan berusaha menunjukkan kepada anak-anak bahwa dunia orang dewasa tidaklah semahakuasa kelihatannya. Kami berkata kepada mereka: ada banyak sampah di dunia ini dan kalian semua harus waspada terhadapnya.”