Era Komik Digital dan Usangnya Secarik Kertas?

Era Komik Digital dan Usangnya Secarik Kertas?

Oleh -
0 50
Japanese_man_reading_manga

Ada beberapa orang yang selalu suka ketika menikmati komik di atas berlembar-lembar kertas yang dijilid rapi. “Bau kertasnya itu loh, bro,” kata teman kami suatu kali. 

Japanese_man_reading_mangaJesslee Cuizon
Ya, mungkin selalu ada sesuatu yang spesial ketika memegang sebuah buku komik di tangan dan kemudian mata kita memandang segala macam detil yang disediakan oleh gambar dan panil-panil yang disediakan di dalamnya. Karakter pada sebuah buku komik terkadang lebih tua dibandingkan pembacanya. Khusus bagi mereka yang antusias terhadap buku komik, bentuk komik menawarkan sebuah perjalanan baru, dunia penuh warna yang fantastis.

Kendati demikian waktu terus berjalan dan teknologi berkembang. Saat ini anda bisa melihat bagaimana medan komik dan cara baca berubah karena penemuan teknik digital. Ada banyak komik yang diciptakan secara digital, dan jumlahnya pun terus bertambah; secara bersamaan, ada juga buku komik yang tersedia dalam edisi digitalnya.

Comic Con India berkerjasama dengan Readwhere.com minggu lalu menyelenggarakan helatan kedua dari event bertajuk ‘free comic book weekend’. Menurut TheHindu, event ini menunjukkan angka unduhan yang cukup fantastis. Sebanyak 30,000 kali unduhan terjadi – meningkat sebanyak 15,000 unduhan dibandingkan tahun lalu. “Komik digital sangat mudah diakses dan harganya pun lebih murah. Ada banyak variasi komik digital dan lebih banyak bidang lapang untuk menambahkan efek suara dan animasi. Dari sisi penjualan dan distribusi, komik digital terkadang harganya jauh lebih murah dibandingkan buku komik,” kata Manish Dhingra, co-founder readwhere.com, seperti dikutip oleh TheHindu.

Kendati demikian, ada sebuah pertanyaan yang wajib diajukan: ketika ada orang yang memiliki kesenangan tersendiri ketika membaca buku komik, bisakah kesenangan tersebut digantikan oleh pengalaman menikmati komik digital? Gokul Gopalakrishnan, seorang komikus dan peneliti komik, punya jawaban untuk pertanyaan ini. Dia setuju bahwa ruang digital merupakan panggung yang bagus bagi komikus pemula guna menunjukkan karyanya. “Tetapi ada satu kekurangan. Versi digital dari buku komik tertentu sangat berbeda. Penciptaan sebuah buku komik – mulai dari bagaimana cerita diletakkan sampai bagaimana gambar dibentuk – melibatkan proses yang sangat berbeda. Saya pernah menciptakan komik baik lewat kertas maupun di atas tablet. Dan meski apa yang saya hasilkan adalah sama, versi komik pada kertas sangat berbeda dengan apa yang saya ciptakan lewat tablet. Imajinasi saya bekerja lebih baik di atas kertas. Saya suka rasa tekanan pena di atas kertas,” kata Gopalakrishnan.

Dia kemudian menambahkan bahwa antara membalik halaman di dalam buku komik dan membandinkannya dengan menaik-turunkan layar pada komputer anda menyajikan pengalaman kognitif yang berbeda. “Ketika seorang pembaca membalik sebuah halaman, dia bisa mengambil jeda guna memahami cerita yang barusan ia baca. Anda membolak-balik buku komik dan mata anda menjelajahi seluruh halaman yang ada. Sementara anda tidak bisa melihat keseluruhan halaman (horizontal – ed) pada layar tablet. Meski demikian, format digital bekerja baik pada komik strip seperti Peanut dan Calvin and Hobbes. 

Tentang komik digital ini, India tampaknya menjadi sebuah contoh baik bagi perkembangan teknologi komik. Toko buku komik di India sangat sedikit, yang tentu saja pada gilirannya berpengaruh terhadap distribusi. “Kami memutuskan untuk menyajikan komik digital, semuanya, pada ‘free comic book weekend’. Apa yang anda butuhkan hanyalah sebuah ponsel pintar dan jaringan 3G. Bidang macam ini cocok untuk penerbit yang lebih kecil seperti Vimanika, Orange Radius, Pop Culture publishing dan Chariot,” kata Jatin Varma, pendiri Comic Con India. Akan tetapi kendati mendukung publikasi komik digital, Jatin adalah seorang yang konvensional. Dia memiliki iPad dan Kindle, namun dia mengatakan bahwa membaca komik melalui dua alat tersebut mengurangi pengalaman membaca.

Kalau anda pikir bahwa ada paradoks di sana: 1) si A mendukung penyebaran komik digital, dan 2) si A tidak suka membaca komik digital karena memberikan pengalaman berbeda dengan membaca komik cetak; maka anda benar. Di satu sisi mungkin komik digital menjadi sebuah alternatif yang bagus, murah, dan mudah diakses, namun di saat bersamaan kelihatannya masih banyak orang yang menyukai kenikmatan membaca komik di atas berlembar-lembar kertas.

Sumber: TheHindu

a 'Yes' man