FKN 2012 | Kesadaran Sejarah (Film) Komik

FKN 2012 | Kesadaran Sejarah (Film) Komik

Oleh -
0 119
Water reflection

Oleh: Boy Nugroho

Pemutaran Film Komik merupakan satu kepingan dari gelaran FKN ( Festival Komik Nasional, 27-30 Desember) di JNM (Jogja National Museum). Empat hari berturut-turut, ada delapan kali pemutaran film yang semuanya diangkat dari judul komik. Film-film yang ditayangkan adalah Gundala Putra Petir (1981), Jaka Sembung (1981), Jaka Sembung vs Si Buta (1983), Mandala Siluman dari Sungai Ular (1987), Si Jampang (1989) dan Sorga Yang Hilang: Si Buta dari Gua Hantu (1977).

Program pemutaran film di sebuah festival Komik adalah sebentuk pengakuan peran film dalam gerak laju perkembangan Komik. Bisa dikatakan pula bahwa Komik sebagai rangkaian gambar naratif adalah saudara kandung dari Film yang merupakan rangkaian gambar bergerak (yang bercerita). Bahkan, aktivitas ngomik (story board) telah menjadi elemen penting dari produksi film.

Namun Film telah mengalami lompatan yang jauh mengesankan dibanding komik. Terbukti dari kuantitas film yang diproduksi berdasarkan cerita komik. Dalam industri sebesar Hollywood, ini sudah menjadi hal biasa. Bahkan, tolok kesuksesan sebuah komik bisa diukur dari bagaimana rumah produksi tertarik untuk memfilmkannya. Contoh lain berasal dari Jepang, hubungan antara Anime dan Mangasudah menjadi tradisi yang sulit dipisahkan. Bagaimana dengan Indonesia?

Membuat film berdasarkan cerita komik adalah strategi paling mudah dipahami dalam logika modal.

Ketika sebuah judul komik memiliki basis penggemar yang masif, itulah saat tepat untuk meningkatkan intensitas laba. Seorang produser akan lebih tertarik untuk mendanai film-komik karena sudah ada segmen penonton yang jelas. Para penonton film (yang belum tentu pembaca komik) adalah target yang menggiurkan. Sementara itu, pembaca komik (yang difilmkan) minimal akan melirik media lain (film) yang menuturkan cerita favoritnya. Itu merupakan ciri dari film sebagai produk budaya yang mampu dikelindankan dengan produk budaya lainnya. Hal yang serupa juga terjadi dalam hubungan antara film dengan produk budaya lain. Sebagai contoh, tengoklah judul-judul film kontemporer yang (diklaim) meraih kesuksesan komersil dan hampir semuanya berawal dari novel-novel (yang juga diklaim) best seller.

Namun, identitas komik di Indonesia hampir senasib dengan Film. Perfilman Indonesia pernah menempati posisi sebagai industri hiburan yang produktif dan dinamis. Hingga akhir tahun 80-an, ada banyak judul yang menghiasi layar-layar bioskop. Di masa itu, film Indonesia disebut-sebut mengalami era keemasan dan gedung bioskop beserta layar tancap benar-benar menempatkan ruang hiburan rakyat. Penyebab jatuhnya perfilman Indonesia sering dilayangkan kepada dominasi film-film impor yang menguasai jalur-jalur distribusi. Ada banyak gedung bioskop yang akhirnya mati suri dan lumat ditelan usia. Hiburan (audio visual) rakyat akhirnya tergeser oleh televisi dan lahirlah gedung-gedung bioskop yang cuma bisa diakses oleh kelas tertentu. Sementara itu, film nasional terpaksa harus membangkitkan diri melalui militansi dari berbagai pegiat film. Proses ini terus berlangsung dan film masih menebalkan  identitas dari segi kuantitas dan kualitas.

Indonesia pun pernah mengalami sejarah komik yang mengagumkan. Sebagai bacaan populer, edisi-edisi komik yang bertebaran membekaskan ingatan-ingatan romantis dari generasi yang beruntung beberapa dekade lalu. Judul-judul yang diterbitkan pun beragam, mulai dari cerita silat hingga kisah-kisah percintaan. Bahkan, komik sempat menjadi bacaan subversif yang dianggap mengusik anyaman moralitas rezim di masa itu. Saat judul-judul impor mulai membanjiri toko-toko buku, kreativitas para seniman komik memang tidak terbabat habis. Namun dilematika lain menghantui; ke mana karya-karya mereka akan didistribusikan? Jika karya tersebut diterbitkan, apakah masyarakat akan menerima seperti halnya dengan manga atau komik impor lainnya?

***

Seperti Film, sejarah dari komik Indonesia adalah sejarah perjuangan dari komik itu sendiri. Di masa kini, mengharapkan sebuah film yang diangkat dari komik merupakan hal yang sulit untuk dibayangkan. Meskipun itu bisa saja terjadi jika beberapa produser mendadak berniat untuk me­­-remake film-komik lama. Namun, bagaimana dengan film adaptasi dari komik kontemporer? Hal itu mungkin akan diikuti oleh pertanyaan semacam; apa yang dimaksud dengan ‘komik kontemporer Indonesia’? Seperti yang telah disinggung sebelumnya, sebuah film harus memiliki basis massa yang jelas jika ingin meraih kesuksesan komersil. Dalam skema industri besar, sepertinya peluang komik belum sebanding untuk diperhitungkan dengan novel-novel so-called best seller.

Meski komik jauh lebih mengakar dalam budaya pop dibandingkan film atau novel, perbincangan perihal komik sering dianggap tidak serius. Akibatnya, Komik masih mencari legitimasi budaya. Tidak hanya pengakuan-pengakuan yang sifatnya estetis, namun juga mapan secara simbolik. Sementara itu, sudah banyak kajian Film yang dilembagakan dalam ranah akademik dan (secara klise) dirangkul oleh Negara sebagai bagian dari strategi kebudayaan. Berbagai festival film tetap semarak diselenggarakan sebagai kesadaran budaya. Makin banyak kalangan yang melakukan studi-studi film dengan tujuan akademis dan seharusnya mampu menggenapkan identitas perfilman itu sendiri. Sedangkan komik lokal masih saling berbenah dalam aktivitas-aktivitas yang tersebar dalam komunitas seni dan fans base. Uniknya, dalam konteks keterbatasan distribusi, peran kritik sosial yang ditawarkan komik-komik lokal terkesan lebih menyentil, tajam dan kadang-kadang sadis.

Ketidakseriusan dalam pembicaraan komik disinyalir bersumber dari empat asumsi dasar. Pertama ialah perdebatan definisi dari komik sebagai gambar bercerita atau cerita bergambar. Alih-alih memperlakukan komik sebagai seni populer yang sarat dengan potensi kritik, apa yang terjadi ialah upaya berbau elitis dengan menasbihkan istilah semacam novel grafis. Fakta bahwa komik merupakan transformasi* antara huruf dan gambar seolah-olah dikategorikan dalam posisi berlawanan. Mana yang lebih penting; gambar atau huruf? Bukan persoalan gambar berhuruf atau huruf bergambar, namun rangkaian imajinasi naratif dalam komik itulah yang menjadi penting untuk diposisikan. Menggali dan merayakan perdebatan perihal kedalaman definisi memang penting, namun itu cenderung memunculkan tendensi-tendensi elitis yang bisa meminggirkan peran komik sebagai produk budaya yang mudah dipahami. Kedua, masih banyak yang melirik sebelah mata kepada komik sebagai media literasi. Komik sering diletakkan sebagai sub bacaan atau panduan visual untuk memperjelas deskripsi dari tulisan. Hal ini mengarah pada asumsi ketiga yang sering mempersoalkan hubungan antara komik dan karikatur. Terakhir, komik masih sering dianggap sebagai bacaan anak-anak yang tak perlu dianggap serius.

***

Pemutaran film-film lama di FKN dipahami sebagai proses penyadaran sejarah dalam konteks kekinian. Generasi terbaru harus menyadari bahwa komik dan film pernah menjalin hubungan layaknya industri Hollywood. Bahkan, film-film tersebut berhasil menerjemahkan bahasa komik dengan mempertahankan ide-ide dasar melalui pengembangan cerita. Karakter Gundala dan si Buta misalnya, mereka sangat ikonik dengan kostum yang mudah diingat. Kita pernah dan masih memiliki tokoh-tokoh tersebut yang dalam khasanah budaya populer sering disebut sebagai superhero. Ketika mereka ditampilkan dalam film, bahasa visual yang ditawarkan (dalam segala keunggulan dan keterbatasan) mampu mendekatkan karakter terhadap para penonton.

Apalagi film-film tersebut itu juga sering ditayangkan dalam layar tancap. Satu keunikan yang sebenarnya bisa menjamah penonton lebih luas namun tandus tergerus oleh televisi dan bioskop-bioskop besar. Film-film semacam Jaka Sembung memang menawarkan bumbu kekerasan, sadisme, mistisme, klenik, jimat, sensualitas dan religiusitas. Namun, keberanian menyajikan realitas dalam karya fiksi di masa itu patut menjadi cermin bahwa komik sebagai karya seni juga harus berani menuturkan realitas dalam kerangka estetis. Selain itu, proses negosiasi dengan industri film terbukti memperkaya bahasa sinematik. Film-film laris dari Hollywood menerjemahkan aspek-aspek visual dari rangkaian panel komik menjadi bukan sekadar ornamen pelengkap. Hal tersebut mampu menebalkan konteks peristiwa tanpa membatasi kreativitas dan imajinasi.  Pada  akhirnya, (Film) komik adalah kesadaran untuk menuturkan narasi visual yang mengoyak sekaligus mampu mengolah daya tafsir dalam sajian yang populer dan selalu mudah dinikmati.

Catatan Editorial: 

*Kata ‘transformasi’ dipakai di sini untuk menggantikan kata ‘hibrid’ yang mulanya dipakai oleh penulis. Alasannya? sebab kata yang pertama dianggap lebih pas untuk memperjelas sifat komik yang dekat dengan makna transformasi, yakni “perubahan rupa”. Lebih jauh lagi, “transformasi” dipakai karena terasa lebih pas untuk menggambarkan bentuk dan sifat komik: statis namun dibangun dari paduan gambar-gambar dan kata-kata (tertulis) guna menghasilkan bentuk yang bukan murni keduanya.