Harya Suraminata

Harya Suraminata

Oleh -
0 221
Hasmi

Kalau mau menyebut satu nama komikus legendaris yang cukup produktif, orang bisa mengarahkan pandangan dan memori mereka ke sebuah nama, Harya Suraminata. Di medan komik Indonesia, nama tersebut lebih banyak diingat lewat inisialnya, Hasmi. Ia adalah bapaknya Gundala Putera Petir. Hasmi lahir di Yogyakarta pada 25 Desember 1955.

Sebagai karakter komik, Gundala adalah pahlawan super yang cukup ikonik. Kemunculan perdananya tercatat di sebuah buku komik yang diterbitkan oleh Ketjana Agung Publishing. Bahkan di awal 1980-an karakter tersebut diangkat oleh sutradara Lilik Sudjio ke atas layar lebar. Wikipedia mencatat bahwa ada 23 judul buku komik yang mengusung kisah Gundala, yang semuanya terbit di antara tahun 1969 sampai 1982. Masih menurut sumber yang sama, seri Gundala berakhir di judul Surat dari Akherat.  Karakter tersebut pernah muncul – meski sebentar – sebagai komik strip di harian Jawa Pos. Ini terjadi pada tahun 1988.

Hasmi mengingatkan kami kepada RA Kosasih. Bukan karena gaya gambarnya serupa, namun karena konon katanya ia adalah penggemar berat karya-karya RA Kosasih dan termasuk anak yang keranjingan menikmati komik-komik bapak komik Indonesia itu. Jurnal komik online pernah iseng bertanya ke beberapa orang tentang siapa Hasmi. Kebanyakan orang menjawab serupa: ia adalah bapaknya Gundala. Meski begitu bukan berarti ia tidak menciptakan komik lain di luar genre superhero. Sekitar tahun 1967/1968, tahun-tahun di mana komik silat sedang booming, Hasmi dikompori oleh Jan Mintaraga. Jan meminta supaya Hasmi juga menciptakan komik silat. Singkat cerita, ia menurutinya dan jadilah kemudian sebuah judul: Merayapi Telapak Hitam yang diterbitkan oleh penerbit Kumala dengan jumlah eksemplar sekitar lima ribu buah buku komik. Merayapi Telapak Hitam terbit dalam dua jilid. Meski lebih dikenal sebagai bapaknya Gundala, ada cukup banyak komik silat yang diciptakan oleh Hasmi. Dua judul yang lain meliputi Keringat Janur Kuning dan Gajah Abur-Abur – keduanya diterbitkan oleh Kencana Agung.

Bagaimanapun, Gundala adalah karakter komik yang paling nyantol di ingatan publik pembaca komik di Indonesia. Akan tetapi orang jelas tidak bisa menyepelekan kehadiran Maza, karakter lain yang juga diciptakan oleh Hasmi. Maza muncul untuk pertama kalinya pada tahun 1968 dan memiliki kekuatan untuk memanggil jin Kartubi melalu belati yang dibawanya.

Perihal Gundala, ada cerita menarik tentangnya. Konon katanya Gundala merupakan pahlawan super yang lahir atas keinginan Hasmi sendiri. Ketika ditawari penerbit Kencana Agung untuk membuat karakter pahlawan super, Hasmi meminta kepada penerbit agar ia bisa menciptakan karakter yang lahir atas inisiatifnya sendiri. Singkat kata, lahirlah Gundala yang terinpirasi dari pahlawan super Amerika, Flash (ciptaan Harry Lampert dan Gardner Fox). Bagi Hasmi, kekurangan Gundala bukan berasal dari diri karakternya itu sendiri, melainkan dari komikusnya. Hasmi mengatakan bahwa wawasannya sangat terbatas, dan karena kebanyakan konsep pahlawan super Amerika berdekatan langsung dengan science fiction, Gundala sebetulnya adalah hasil salah kaprah. Mengapa demikian? Sebab menurut Hasmi, tokoh Sancaka – insinyur kimia – yang menjadi alter ego Gundala seharusnya bukan insinyur kimia melainkan biologi. Tidak jelas kenapa Hasmi berpikir demikian; maksudnya, mengapa harus insinyur kimia. Meski begitu, Hasmi menganggap bahwa seharusnya insinyur biologi bisa menjadi lebih tepat untuk menjelaskan perihal alter ego Gundala, si Sancaka itu.

Gundala adalah karakter yang lebih kuat di unsur mitos, sebab itu ia lebih cocok di lingkungan agraris dengan karakter masyarakat yang berjarak dengan teknologi, kata Hasmi.

Gundala termasuk dalam daftar pahlawan super Indonesia yang sangat meledak ketika pertama kali diperkenalkan. Hasmi pernah mempertemukan Gundala dengan Batman dan Superman dalam kisah komik berjudul Trouble yang terbit sekitar tahun 1970-an. Ketika itu Hasmi tidak menyangka bahwa pertemuan Gundala dengan kedua tokoh Superman dan Batman membuat Trouble meledak hebat di pasaran. Sekitar sepuluh ribu eksemplar Trouble terjual habis. Cerita tidak berhenti sampai di sini.

Hasmi kemudian menciptakan sensasi lagi melalui Bentrok Jago Dunia yang menurutnya terinspirasi dari Marvel (Hasmi tidak mengatakan dengan jelas perihal ini, namun kami menduga yang dimaksud olehnya adalah the Avengers yang merupakan judul komik berisi cerita kumpulan pahlawan super Amerika yang pertama kali diterbitkan Marvel pada tahun 1963). Pada seri Gundala yang lain, persisnya Tiwilawuh dan Dokter Joko, Hasmi berinisiatif untuk mencampur cerita pahlawan super dengan horor dan silat. Kedua judul yang terakhir ini memicu kontroversi yang menurut cerita Hasmi diangkat di majalah wanita (dia tidak ingat betul apa nama majalahnya, namun dia menyebut antara Femina dan Kartini). Menurut cerita Hasmi sendiri, keduanya waktu itu dianggap sebagai komik terburuk dan harus ditarik dari peredaran, oleh karena campuran horor dan kekerasan yang mungkin dianggap tidak patut.

Hasmi menerima anugerah Cilvasastra di ajang Festival Komik Nasional 2012 . Setelah seri Gundala Putera Petir selesai, praktis Hasmi tidak punya pekerjaan lain. Ia kemudian banting setir menjadi bintang tamu di sejumlah sinetron dan bahkan sempat menjadi penulis skenario untuk film Kelabang Sewu, Harta Karun Rawa Jagitan, Lorong Sesat, dan beberapa skenario lain – yang sayang sekali informasinya tidak dimiliki oleh Akademi Sekuensial. Hasmi kini tinggal di Yogyakarta, di kelurahan Karangwaru Lor. Kebanyakan penduduk Karangwaru Lor memanggilnya dengan sebutan om Bik, dan mereka juga mengenalnya sebagai tukang gambar (bukan semata ‘komikus’ yang lebih terspesialisasi). Menurut informasi penduduk sekitar, Hasmi juga yang menggambar mural di sepanjang bantaran kali kecil di kampung Karangwaru Lor yang kini telah tertata apik. Ia juga aktif sebagai penulis skenario untuk teater Stemka dan acara ketoprak yang ditayangkan di stasiun TVRI Yogyakarta.

*ditulis dari berbagai sumber, yang paling utama dan banyak dipakai adalah Mata Jendela edisi 03/2012 (Juli – September) (editor MHadid)

 

Gundala cuci nama
Hak Cipta Karya: Hasmi
a 'Yes' man

ARTIKEL SERUPA

komikus-Hans-Jaladara

0 67
Kho-Wan-Gie

0 117
Excerpt from Happy Ending - Azisa Noor

0 151
Beng Rahadian

0 206
Iblis Mengamuk di Mataram

0 164
Tiga Manula ke Singapura

0 140