Arsip: Hikayat Musang Berjanggut

Arsip: Hikayat Musang Berjanggut

Oleh -
0 1361
Aksen-Hikayat-Musang-Berjanggut

Nomor ArsipAS0001KmK
JudulHikayat Musang Berjanggut
KomikusTaguan Harjo
Penerbit/Tahun TerbitGrafiti / 1991
Jumlah Halaman66
Ulasann/a

Hikayat Musang Berjanggut: Preview

Suatu kali saya membongkar tautan berita di laman Facebook, dan di sana saya bertemu dengan sebuah komik (sebagian orang menyebutnya cergam, cerita bergambar) berjudul Hikayat Musang Berjanggut karya Taguan Harjo. Komik tersebut dijual cukup murah di sebuah laman Facebook yang agaknya diciptakan khusus untuk kolektor komik kelas berat (baca: mereka yang mau membeli komik klasik Indonesia berharga mahal). Spontan saya memesannya dan jadilah sekarang komik tersebut sebagai koleksi saya.

Sudah lama saya penasaran dengan Taguan Harjo. Bukan apa-apa. Dia berkali-kali disebut oleh teman saya sebagai pencerita ulung. Dan ihwal itulah yang menarik perhatian saya terhadap komikus yang termasuk bagian dari generasi emas komik medan tahun 1950-an sampai awal 1960-an (oleh Marcell Bonneff, komik medan periode 1960-1963 disebut-sebut sebagai salah satu periode gemilang dalam sejarah komik Indonesia). Dalam sebuah obrolan ringan dengan Hasmi, bapak yang membidani kelahiran Gundala Putera Petir, sang komikus senior itu juga menyebut Taguan sebagai komikus yang punya kualitas lebih. Rupanya dia menyukai Taguan.

Singkat cerita, saya ingin tahu sejauh mana kualitas figur Taguan sebagai seorang pencerita ulung. Namun dengan sangat terpaksa saya belum mampu menilai kualitasnya secara keseluruhan, oleh sebab saya kekurangan koleksi komik Taguan Harjo. Akan sangat tidak adil bila saya menilai kualitas karya Taguan hanya berdasarkan sebuah Hikayat Musang Berjanggut belaka.

Musang Berjanggut berjumlah 66 halaman, di mana masing-masing halaman disodorkan dengan meninggalkan format komik seperti yang kita tahu sekarang – yang secara umum digunakan oleh kebanyakan komikus kontemporer. Artinya, orang akan sulit menemukan sebuah panil demi panil yang berisi balon kata, caption, maupun onomatope. Bentuk seperti itu ditinggalkan jauh oleh Taguan. Dia memilih untuk menghantarkan ceritanya dengan cara menjereng gambar terpisah dengan kata-kata. Dalam satu halaman ada empat baris. Baris pertama khusus untuk visual, baris kedua untuk kata-kata; baris ketiga untuk visual, baris keempat untuk kata-kata. Format semacam itu membuat visual dan kata-kata saling bergantung satu sama lain.

Hikayat Musang Berjanggut mula-mula terbit sebagai cergam bersambung di harian WASPADA Medan, pada tahun 1957. Oleh pengantar penerbit yang diletakkan di halaman pertama, cergam bersambung tersebut mula-mula diberi judul Mencari Musang Berjanggut. Versi yang ada di tangan saya adalah versi terbitan yang baru, dengan kerangka cerita yang – oleh penerbitnya – disebut tidak banyak menyimpang dari aslinya. Bedanya – masih menurut penerbit – terletak pada isi ilustrasi, jumlah panel, nama, dan peran beberapa tokoh kunci, serta desain halaman.

Kisah dalam komik tersebut sebetulnya digubah dari cerita Melayu berjudul The Bearded Civet Cat. Taguan sendiri menyebut karyanya itu sebagai usaha untuk “menghadirkan kembali khazanah (cerita – red) lama […] untuk generasi baru yang belum mengenalnya”. Dalam bentuk buku, Musang Berjanggut didesain sebagai buku dengan format besar ukuran 21x29cm. Jika sulit membayangkan ukuran Hikayat Musang Berjanggut, cobalah Anda bayangkan ketika tangan memegang komik Asterix yang terjemahannya sudah diterbitkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Hikayat Musang Berjanggut: Galeri