Keluar Saung Review

Keluar Saung Review

Oleh -
0 185
Sampul Keluar Saung

Ketika menikmati suguhan berupa halaman pembuka komik Keluar Saung (karya Ockto Baringbing, Ino Septian, dan Argione Dunbalack), ekspektasi pertama yang muncul di benak saya adalah karya ini memang ingin bercerita tentang seorang yang keluar dari zona nyaman untuk berkarir di bidang lain sesuai hobinya. Ekspektasi saya itu tidak salah, karena komik tersebut memang memfokuskan ceritanya kepada Bayu, tokoh yang keluar dari zona nyaman (yang dimaksud dengan zona nyaman adalah keluar dari karirnya di kantoran) untuk bekerja sebagai fotografer lepas.

Sekilas pandang, halaman pembuka (gambar 1) pada komik Keluar Saung memang bermaksud untuk menyajikan dilema psikologis, atau persisnya dilema yang muncul adalah akibat dari menumpuknya pekerjaan kantoran ditambah tekanan atasan yang seakan tidak peduli kepada beban pekerjaan yang mesti dihadapi anak buahnya. Dilema itu tidak disebutkan secara eksplisit, alias tidak ada scene demi scene dalam panil demi panil yang menyajikan gambaran detail mengenai betapa repotnya seorang pekerja kantoran yang diwajibkan meladeni kemauan bosnya.

Gambar Halaman 1 Keluar Saung

Tadinya saya memang memiliki harapan: setidaknya komik ini menyajikan ihwal cerita mengenai betapa dilematisnya pilihan yang dihadapi oleh seseorang ketika ia bermaksud meninggalkan pekerjaannya sekarang, yang walau sangat tidak diinginkan, namun masih tetap dikerjakan karena menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Bukankah dilema seperti ini sudah banyak dihadapi oleh orang-orang yang hidup di zaman postmodern seperti sekarang ini? Meskipun begitu, komik tersebut memang tidak memiliki keinginan untuk menyajikan detil cerita seperti yang saya harapkan itu.

Secara keseluruhan yang terasa kurang dari Keluar Saung adalah detil cerita yang disajikan lewat plot tertentu, padahal potensi keseluruhan sangat menarik untuk dikembangkan lebih lanjut lagi. Yang saya maksud dengan detil cerita bisa dilihat, misalnya, pada deskripsi mengenai Toro, seorang anak yang secara kejiwaan terganggu oleh karena kematian orang tuanya. Konflik yang dibangun berdasarkan kejiwaan seseorang yang terganggu biasanya lebih menarik karena bisa menjadi unsur yang menggigit dalam membangun logika sekuen dalam cerita. Sayangnya, plot demi plot yang dirajut dalam komik tersebut, yang berpusat pada Toro sebagai anak yang kejiwaannya terganggu, cenderung disajikan semata sebagai deskripsi dan bukan sebagai bagian yang perlu diceritakan kompleksitas kejiwaannya.

Yang saya maksudkan sebagai kurangnya cerita mengenai kompleksitas kejiwaan Toro adalah bahwa hubungan tokoh tersebut dengan orang-orang di sekitarnya (terutama neneknya) diceritakan dengan menyisakan rasa hambar, seakan-akan dalam hubungan itu tidak ada kerumitan sama sekali. Toro menjadi stress sejak orang tuanya meninggal, dan satu-satunya keluarga yang tersisa adalah neneknya yang telah berkorban dengan memberikan “kenyamanan” bagi Toro. Pembaca sama sekali tidak diberi tahu mengapa Toro apa sebab Toro mengalami gangguan kejiwaan. Benarkah meninggalnya orang tua Toro cukup sebagai alasan kuat terganggunya jiwa Toro? Bukankah peristiwa kematian bisa memberi dampak yang cukup besar bagi psikologi orang terdekatnya, apabila penyebab diceritakan secara lebih rinci ketimbang sekadar mendeskripsikan sebab-sebab terganggunya jiwa di permukaannya saja.

Konstelasi plot yang diceritakan dalam komik Keluar Saung seharusnya menimbulkan perasaan yang cukup rumit di benak Toro sendiri dan dengan demikian tidak gampang bagi orang luar seperti Bayu untuk terlibat dalam kondisi semacam itu, malah sampai menjadi hero bagi Toro dan neneknya. Sayup-sayup heroisme dalam diri Bayu menjadi fokus penceritaan yang sayang sekali menenggelamkan potensi plot yang membangun keseluruhan cerita.

Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.