Kho Wan Gie: Orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia (bagian 2)

Kho Wan Gie: Orang-orang Tionghoa di Medan Komik Indonesia (bagian 2)

Oleh -
0 216
Komik Tionghoa

Setelah sebelumnya menyajikan bagian pertama dari kisah orang-orang Tionghoa di medan komik Indonesia. Jurnal komik online kini memuat lagi seri berikutnya yang akan memaparkan tema yang sama. Kami berterima kasih kepada Iqra Reksamurty yang bersedia membagi tulisannya di sini.


 Oleh: Iqra Reksamurty

Untuk memberi gambaran mengenai perkembangan komik Tionghoa pada masa Orde Baru, dibawah ini dijelaskan posopografi* para komikus Tionghoa serta kontribusinya dalam dunia komik Indonesia terutama pada masa Orde Baru.

  1. Kho Wan Gie

Sebagai seorang komikus, Kho Wan Gie jelas berhak menyandang predikat yang istimewa, bukan hanya karena dirinya dianggap sebagai “penduduk” Indonesia pertama yang membuat komik Indonesia, namun ia juga terus berkarya sepanjang hidupnya sampai akhir hayatnya.

Kho Wan Gie terlahir di Indramayu pada bulan Agustus  tahun 1908, ia bersama dengan Siauw Tik Kwie atau Otto Swatika, komikus Sie Djin Koei, mereka belajar seni lukis dari pelukis Belanda Jan Franck dan H. Van Vethhuizen.

Pada tahun 1927, ia mencoba berkonsentrasi penuh pada dunia lukis dengan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai seorang pelayan toko dan mulai bekerja pada majalah Panorama. Dua tahun kemudian ia pindah ke harian Sin Po. Ang Jan Goan, pemilik surat kabar tersebut kemudian memintanya untuk menggambar serial komik di hariannya. Mula-mula karakter yang dipakai oleh Kho Wan Gie tidak memiliki nama tetap, baru pada tanggal 17 Januari 1931, tokohnya diberi nama “Put On” alias “si Gelisah”. Karakternya ini kemudian menjadi idola baru para pembaca Sin Po yang kehadirannya ditunggu setiap hari Kamis. Apabila absen sekali saja, harian ini akan mendapatkan banyak surat pertanyaan dari para pembacanya.

Riwayat hidup seorang karakter komik strip biasanya akan ikut pada media tempat dia berada, pada masa pendudukan Jepang, Jepang melarang semua media massa terbit, dan harus seizin dengan Jepang. Koran Sin Po dibredel; terlebih lagi karena surat kabar ini memiliki afiliasi kuat dengan Tiongkok. Setelah kemerdekaan, Put On kembali berlanjut, kali ini melalui majalah Pantjawarna dan Wartha Bakti. Sampai kemudian majalah-majalah tersebut dibredel pasca G30S karena beraliran kiri.

Kho Wan Kie kemudian memakai nama pena Sopoiku, yang dalam bahasa Indonesia berarti “siapa itu”. Nama pena tersebut memiliki berbagai tafsiran, antara lain bahwa Kho Wan Kie sebenarnya ingin agar para pembacanya dulu segera mengenalnya beserta tulisannya.

Sebagai Kho Wan Gie, dia hanya membuat Put On. Namun setelah majalah Wartha Bakti tempat Put On berada dibredel. Dengan nama barunya Sopoiku justru menjadi lebih produktif dan eksploratif dalam berkarya. Pasca G30S dia berhenti membuat Put On dan membuat komik lain dengan karakter-karakter baru seperti Nona Agogo, Bolong Jilu (Agen Rahasia 013), Dalip dan Dolop, dan Djali Tokcer.

Salah satu nilai kekuatan Kho Wan Gie dalam berkomik ada pada dialeknya, Kho wan Gie cenderung memakai bahasa yang santai, gaul, dan juga mencirikan identitas. Dalam Put On dialek Melayu yang unsur Tionghoa-nya tampak sangat kental terutama pada masa sebelum kemerdekaan. Dalam Djali Tokjer dialek betawinya yang  terasa kuat. Dari bahasa-bahasa yang dipakai dapat dilihat transisi dialek dari masa ke masa.

Karakter Put On sebenarnya sangat menarik karena menggambarkan bagaimana kehidupan peranakan Tionghoa di Indonesia. Walaupun karakter Put On merupakan seorang keturunan Tionghoa, namun karakter ini sangat nasionalis. Terlihat dengan bagaimana karakter ini sangat mengidolakan Bung Karno dan juga selalu menghadiri upacara 17 agustus.

Pada masa Orde Baru, karakter-karakter Kho Wan Gie tidak ada yang menunjukan ciri-ciri etnis Tionghoa. Meski demikian dialek yang ada pada komik-komiknya masih dengan kuat menggambarkan karakternya sebagai seorang yang hidup di daerah Jakarta. Kho Wan Gie juga menjauhkan komik-komiknya dari kehidupan-kehidupan glamor seperti yang banyak terjadi dalam komik-komik roman remaja, suasana dalam komiknya lebih dekat dengan masyarakat yang berada pada kelas menengah ke bawah.

Kho Wan Gie terus membuat komik dari tahun 1930 sampai akhir hayatnya di tahun 1983, dan hanya sempat terhenti pada masa pemerintahan Jepang. Bisa dibilang Kho Wan Gie telah melewati berbagai era di Indonesia, yaitu  dari  masa kolonial,  masa  revolusi (perang pasca kemerdekaan – ed), “orde lama”, dan juga orde baru. Meskipun Kho Wan Gie memakai nama samaran Sopoiku dalam berkarya, ia tidak mengganti namanya dalam kehidupan pribadinya. Pada saat Kho Wan Gie meninggal, koran-koran tetap mencantumkan nama aslinya.

Catatan editor: 

*Posopografi: biografi kolektif yang berisi catatan tentang orang-orang penting.