Kisah Harimau dari Madiun

Kisah Harimau dari Madiun

Oleh -
2 623
Aksen-Harimau-Dari-Madiun

Perhatian, ulasan di bawah ini sangat mungkin MENGANDUNG SPOILER. Karena itu kami menyarankan Anda untuk mempertimbangkan ulang membaca ulasan ini, terutama jika tidak merasa nyaman dengan hal tersebut. Versi pertama tulisan ini dikeluarkan tahun lalu, pada bulan Maret. Pembaharuan dilakukan demi kepentingan diskusi komik tersebut pada tanggal 26 Juni 2015 di Rumah IVAA, Yogyakarta. 

Berbeda dengan Hidup itu Indah (Cendana Art Media, 2010) yang umum disebut secara populer sebagai komik opini, Aji Prasetyo menyodorkan sebuah tema yang berbeda lewat Harimau dari Madiun, sebuah komik yang pada tahun 2013 ikut serta bertanding di dalam ring Kompetisi Komik Indonesia. Lalu mengapa saya mengatakan bahwa Harimau dari Madiun berbeda dengan Hidup itu Indah (maupun Teroris Visual sebagai karya termutakhir yang disodorkan oleh Aji)?

Pembaca setia Hidup itu Indah dan juga Teroris Visual kemungkinan besar tidak akan menemui banyak kesulitan untuk memahami bahwa keduanya adalah ruang kecil di mana isu-isu yang ditumpahkan oleh Aji seakan-akan tidak punya batasan (mulai dari persoalan tanah, lagu yang dikomikkan, setan, sejarah, PNS, pengurusan KTP, Facebook, dan lain sebagainya) dan semuanya disajikan melalui format ilustrasi-sekuensial plus teks.

Orang telanjur melihat keserupaan pada Hidup itu Indah dan Teroris Visual: keduanya menyajikan format yang malahan membuat apa-apa yang ingin dibicarakan Aji seakan membaur begitu saja dan saling berdesakan meminta perhatian. (“Eklektik”, kalau kita ingin menyebutnya dalam istilah yang lebih keren). Walau demikian, saya ingin meluangkan fokus di sini pada fragmen sekuensial dalam Hidup itu Indah, yang sebetulnya sudah memperlihatkan minat Aji terhadap narasi dengan konteks sejarah Indonesia di masa kolonial. Sebagai bukti, coba Anda buka kembali bab mengenai ‘Perang Jawa’ dan ‘Perang Jawa: Darimana Dendam itu Bermula’ pada komik yang diterbitkan oleh Cendana Art Media pada tahun 2010 itu.

Minat Aji terhadap perang Jawa terus berlanjut melalui Harimau dari Madiun meski judul ini bukan satu-satunya pelabuhan di mana Aji menyalurkan minatnya itu. Konten dalam  Harimau dari Madiun  mau saya perlakukan sebagai satu fragmen dari keseluruhan kisah mengenai perang Jawa yang petilan-petilannya sebenarnya tidak hanya dihadirkan lewat Hidup itu Indah, namun juga lewat karya lain seperti Kidung Malam yang dimuat di kompilasi Kumpulan Cergam Kampungan: Romansa (Februari 2010). Dengan tiga fragmen yang muncul di tiga judul yang berbeda, apakah Aji kemudian terobsesi dengan perang Jawa? Saya tidak tahu benar.

Justru pada minat Aji pada sejarah itulah segalanya tampak menjadi lebih pelik, sebab yang menjadi bahan sajian adalah persinggungan antara komik dan sejarah. Berhadapan dengan dua titik tolak yang berbeda, tiga pertanyaan kemudian memungkinkan untuk mengambang di permukaan: bagaimana fakta sejarah diperlakukan lewat bentuk komik – sebagai ruang di mana orang bisa bermain-main dengan imajinasinya? Selanjutnya, apakah ‘sejarah’ yang diungkap melalui bentuk komik merupakan kumpulan data-data yang siap diuji berkali-kali dan dipertanggungjawabkan kebenarannya? Lebih jauh lagi, apakah Aji berusaha mengungkap fakta sejarah lewat komik, ataukah dia bermain-main dengan imajinasinya untuk menafsirkan sejarah yang sudah ditulis oleh orang lain dengan metode yang khas bidang keilmuan tersebut?

Harimau dari Madiun adalah karya sekuensial yang menarasikan satu babak dalam epos perang Jawa (1825-30), terutama yang berkaitan erat dengan sepak terjang Alibasah Sentot Prawirodirjo. Sekilas pandang orang bisa dengan mudah melihat irisan antara komik dan sejarah, oleh karena titik berat utamanya adalah seorang tokoh panglima perang yang “nyaris tak terkalahkan”. Sentot yang diacu oleh Aji adalah tokoh sejarah, dan sampai di sini pula tadinya saya menduga bahwa Harimau adalah komik yang berusaha mengungkap fakta di sekitar Sentot yang kelak bisa menjadi kebenaran sejarah baru. Namun dugaan saya keburu dipatahkan oleh Aji sendiri.

Mengapa Sentot Prawirodirjo memutuskan berhenti perang dan bergabung dengan militer kerajaan Belanda? Panglima perang andalan Pangeran Diponegoro itu tidak pernah menulis tentang apa yang dipikirkannya, sehingga hal itu tetap menjadi misteri dalam sejarah. Orang boleh menebak sesukanya. Mungkin saja dia takut mati. Atau mungkin tergiur iming-iming kekayaan yang ditawarkan Belanda. Atau, siapa tahu bangsawan itu sudah tidak kuat lagi hidup bergerilya. Dan masih banyak kemungkinan lain.

“Harimau dari Madiun” adalah komik (atau lebih tepatnya novel grafis, mengingat betapa serius alur dan banyaknya catatan kaki) yang saya buat di tahun 2013 adalah spekulasi saya tentang motivasi pemuda belia itu mengakhiri perang. Butuh banyak literatur untuk memperkuat analisa. Saya pelajari latar belakang keluarganya, perwatakan pribadinya, dan kondisi di medan tempur perang jawa di penghujung tahun keempat. Saya yakin semua itu berkaitan dan menjadi dasar pertimbangan Sentot.

Di antara semua literatur, buku karya Peter Carey lah yang paling banyak saya rujuk. Bagaimana tidak, beliau adalah sejarawan Inggris yang mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk menggali sejarah Diponegoro dan konflik seputar perang jawa. Tak pelak, obsesi mengejar Sentot mempertemukan saya dengan beliau.”

Dari tiga baris kutipan di atas, orang bisa melihat setidaknya tiga hal penting yang berkaitan dengan proses ‘menjadi’-nya Harimau. Pertama adalah karya tersebut diciptakan berdasarkan literatur tertentu (saya menduga yang dimaksud Aji sebagai ‘literatur’ adalah sumber-sumber bacaan sejarah yang terkait dengan perang Jawa). Kedua adalah adanya rujukan yang dijadikan kiblat oleh Aji, yakni karya-karya Peter Carey. Dan ketiga adalah rasa penasaran sang komikus yang berhilir pada sebuah pertanyaan mengapa Sentot Prawirodirjo memutuskan berhenti perang dan bergabung dengan militer kerajaan Belanda. Dengan demikian, rasanya pendakuan Aji membuat pembaca lebih dekat dengan jawaban untuk pertanyaan ketiga yang saya umumkan di atas, yakni: Harimau Dari Madiun adalah sebuah karya di mana sang komikus [berusaha] bermain-main dengan imajinasinya guna menafsir sejarah dalam kaitannya dengan sosok Sentot Prawirodirjo.

Rasa penasaran sang komikus terpenuhi sebab ia sendiri menyediakan jawaban tegas untuk itu, yakni pada babakan ketika Sentot Prawirodirjo bersama rombongan pasukannya mengunjungi sebuah desa untuk “menyaksikan bakti kesetiaan dan dukungan” para penduduk terhadap perjuangan mereka. Pada babakan tersebut, Sentot Prawirodirjo mendapati seorang nenek yang rela mempersembahkan seekor ayam yang “kalaupun tidak sampai dinikmati oleh anak-anaknya [yang pergi berperang namun belum kembali pulang], semoga bisa dinikmati oleh mereka, anak dari para ibu lainnya”. Sekonyong-konyong, Sentot Prawirodirjo turun dari kuda, berjalan sembari merutuk perang yang harus segera diakhiri. Pada sebuah babakan, pertemuan dan dialog antara Sentot Prawirodirjo dengan seorang nenek yang kesepian karena lima anaknya belum pulang dari medan perang itulah yang dikesankan sebagai sebuah penyelesaian, pemenuh dahaga bagi rasa penasaran Aji sendiri atas sebuah pertanyaan yang ia ajukan. Perang harus segera selesai sebab semakin membuat rakyat kelaparan.

Satu misteri telah terpecahkan dan Aji sudah “menebak sesukanya” lewat dramatisasi adegan antara Prawirodirjo dan seorang nenek yang tak dikenalnya. Artinya, pembaca dengan mudah mengenali adegan tersebut sebagai salah satu pemicu yang kelak dalam rangkaian sekuensial Harimau dari Madiun turut mempengaruhi keputusan sang panglima untuk menghentikan perang. Akan tetapi satu misteri tetap dibiarkan mengambang sampai akhir. Alih-alih “menebak” mengapa Prawirodirjo memutuskan untuk bergabung dalam kesatuan militer Belanda, Aji memilih untuk tidak menyediakan satupun petunjuk yang mengarah pada jawaban atas pertanyaan tersebut. Apakah kelak Aji akan menyajikan jawabannya ketika komik tersebut diterbitkan dalam format buku yang lebih tebal? Entahlah. Namun menjadi jelas pula bahwa Aji masih menyisakan ruang kosong yang barangkali memang dibiarkan terbuka oleh sang komikus.

Aji sendiri memang sepertinya telah menetapkan hati untuk memfokuskan diri pada narasi tentang Sentot sebagai karakter utama yang bakal mengisi plot demi plot di dalam Harimau Dari Madiun. Hanya saja fokus kisah kemudian bergeser sedemikian rupa oleh karena ada pemain tambahan yang mengisi ruang narasi dengan berbagai plot kisahnya sendiri. Maka kemudian pembaca tidak bisa melewatkan tokoh Kliwon. Yang disebut terakhir ini justru memberi kesempatan bagi kita untuk merenungi apa makna perang Jawa bagi kebanyakan rakyat jelata cum prajurit perang seperti Kliwon.

Lebih jauh lagi, tokoh Kliwon menurut saya memiliki energi kehidupan yang jauh lebih menarik dibandingkan dengan Sentot Prawirodirjo sendiri – yang ironisnya dijadikan tokoh sentral dalam keseluruhan narasi Harimau. Kliwon adalah pemanah ulung yang sebelum perang meletus bekerja sebagai petani. Ia memiliki istri dan seorang anak yang ditinggalkannya pergi berperang. Apa yang membuat saya jatuh hati kepada Kliwon adalah wataknya yang ambivalen. Hal ini terlihat jelas dalam sebuah dialog angan-angan antara Kliwon dan istrinya yang bertanya mau jadi apa sang pemanah ketika perang berakhir nanti. Dengan tegas Kliwon menyatakan ingin kembali menjadi petani ketika perang usai, sebab bertani bukanlah pekerjaan sepele, melainkan membutuhkan tangan dingin untuk menyuburkan benih yang ditanamnya. Dengan begitu ia tidak perlu lagi membunuh lawan yang sama seperti dirinya: suami dan anak dari seseorang. Pandangan hidup yang ditawarkan oleh Kliwon menjadi sangat bertolak belakang dengan adegan sebelumnya, terutama ketika dia dan prajurit Prawirodirjo yang lain dengan tanpa ampun membunuh para prajurit yang menjaga benteng Belanda. Tidak diketahui sebab apa yang membuat pandangan hidup Kliwon berubah sedemikian drastis, sebab Aji sendiri malah memilih untuk tidak menyediakan plot tersebut. Padahal barangkali menarik untuk menyediakan plot tersendiri supaya pembaca bisa mengetahui mengapa Kliwon bisa sampai pada sebuah kebijaksanaan hidup seperti yang dimaksud di atas. Bukankah perang biasanya memang sebuah medan di mana pandangan hidup seseorang bisa berubah dengan drastis?

Apakah keputusan Kliwon menjadi prajurit hanya didasarkan pada alasan untuk menunjukkan baktinya pada Diponegoro, ataukah dia memang memiliki kesadaran politis yang kuat, bahwa rakyat sedang menderita dan dia terpanggil untuk membelanya? Jika ya, apa yang kemudian membuatnya berubah pikiran, di mana pada gilirannya ia menjadi seseorang yang di satu sisi harus memenuhi kewajibannya sebagai prajurit namun di sisi lain adalah seorang pria dengan tanggung jawab dan kasih sayang pada anak dan istrinya? Jawaban tidak tersedia. Dengan meniadakan plot yang menyediakan jawaban atas perubahan pandangan hidup Kliwon, berarti pupus pula harapan orang untuk melihat sebuah pengayaan materi narasi dalam sebuah komik.

Dimensi ambivalensi itulah yang kemudian membuat perhatian saya sebagai pembaca teralihkan. Walau tak begitu memuaskan, oleh karena saya gagal mendapatkan jawaban atas perubahan cara pandang Kliwon. Namun di sinilah dimensi pemikiran Kliwon membuat hidupnya sebagai orang biasa menjadi lebih menarik dibandingkan panglimanya sendiri. Di titik ini pula, Harimau dari Madiun menurut saya menampilkan lapis narasi dengan fokus penokohan (yang turut membangun keseluruhan plot) bercabang: tidak hanya jatuh kepada tokoh utama, melainkan juga kepada tokoh sampingan yang mungkin tadinya hanya mau diperlakukan sebagai hidangan pendamping. Ini bisa menjadi hal menarik sejauh diolah dengan baik. Pembaca “dipaksa” untuk tidak hanya fokus pada kehidupan seorang Prawirodirjo, namun juga penasaran pada tokoh lain seperti Kliwon. Namun sejauh yang saya nikmati dari komik tersebut, tokoh Prawirodirjo kehilangan “aura”-nya sebagai tokoh utama oleh karena watak ambivalensi pada Kliwon yang membuat Harimau memiliki nuansa lebih dari sekedar komik dengan setting perang Jawa dan kehidupan priyayinya yang mengajak rakyat mengangkat senjata untuk menentang kekuasan keraton.

Di atas saya telah menyinggung soal dua karya Aji lainnya yang juga meletakkan setting-nya pada perang Jawa, yakni Kidung Malam dan dua bab dalam Hidup Itu Indah. Ada perbedaan tegas antara narasi Kidung Malam dan Harimau. Bila yang disebut terakhir maunya memfokuskan narasi pada perjuangan seorang panglima perang (kelas yang berada di tingkat jauh di atas rakyat jelata), maka fokus pada Kidung Malam ada pada rakyat jelata bernama Dayat yang pada perang Jawa tergabung bersama korps Bulkiyo.

Hanya saja kalau Harimau juga ikut menekankan plot pada ambivalensi Kliwon, Kidung tidak begitu, dan dengan demikian menjadi satu dimensilah ia. Maksudnya, perang adalah perang dan semua prajurit (baca: rakyat jelata) siap membaktikan hidupnya demi membela yang teraniaya serta Pangeran Diponegoro. Akan tetapi beruntung bahwa Kidung masih menyajikan ironi, di mana pembelaan mati-matian Dayat atas pangeran dan rakyatnya itu malah membuat istri dan keluarganya menderita. Setidaknya saya mendapatkan kesan bahwa Aji masih menganggap perang sebagai entitas buas yang tidak perlu dirayakan dengan selebrasi, melainkan direnungi dengan cara mengalihkan pandangan pada nasib keluarga yang ditinggalkan di rumah dan menunggu ayah sekaligus suaminya kembali. Ironi dan ambivalensi yang masing-masing tergambar jelas lewat Kidung dan Harimau sangat berbeda dengan apa yang disodorkan Aji lewat dua bab dalam Hidup itu Indah. Yang terakhir ini memasukkan unsur humor ke dalam setting perang Jawa. Ilustrasi-humoris menjadi cermin yang merefleksikan serangkaian teks informatif (teks yang menerangkan fakta yang menjadi pengetahuan umum mengenai konteks yang diacu) di mana tulisan, pada gilirannya, menjadi narator (dalam hal ini komikusnya sendiri). Di sana gambar seakan-akan menjadi parasit yang tanpanya teks sesungguhnya bisa hidup mandiri. Di sana pula keduanya hidup berdampingan dan boleh dibilang saling berebut menampilkan mana yang lebih pantas diperhatikan pembaca. Sekilas pandang jejak-jejak metode penyampaian semacam itu masih terasa baik pada Kidung maupun Harimau, meski dengan intensitas yang berbeda.

Lalu kiranya ada perbedaan jelas antara cara penyajian gaya visual di dalam Hidup itu Indah dan Kidung Malam, serta terlebih lagi pada Harimau dari Madiun. Perbedaan yang saya maksud tampak jelas terlihat elemen-elemen visual yang ditonjolkan pada masing-masing karya. Maksudnya begini: Kidung Malam merupakan wahana bagi Aji, tempat di mana ia berani bermain-main menggoreskan arsiran tebal yang terlihat sangat dominan dari satu panil ke panil lain. Karena bermain dengan arsiran tebal, volume gambar menjadi cenderung terlihat penuh dengan garis-garis kasar pada bidang-bidang tertentu yang membentuk bayangan. Dengan kata lain, pilihan Aji atas kepenuhan arsiran memguatkan citra, baik pada objek maupun subjek, meski mata ini kemudian kesulitan untuk melihat konsistensi nada gelap-terang yang seharusnya bisa dinikmati dengan elok dari sebuah benda/objek maupun dari subjek/karakter. Formasi visual serupa harus diakui juga digunakan oleh Aji untuk bab Perang Jawa di dalam Hidup itu Indah.

Jika dibandingkan dengan kedua judul yang disebut di atas, orang bisa menikmati perubahan drastis dalam soal visual yang diterakan Aji lewat Harimau dari Madiun. Halaman demi halaman dalam Harimau diimbuhi dengan warna-warna lembut. Sapuan-sapuan halus namun tegas baik pada figur karakter demi karakter maupun pada latar alam mengesankan cueknya Aji atas modalitas visual yang mengejar gaya keras yang disajikannya lewat Kidung Malam. Garis-garis tipis namun luwes dan minim arsiran pada karakter membuat segi visual dari Harimau membantu membentuk kelembutan yang tentu saja sangat berbeda dari apa yang bisa kita nikmati dari dua komik lain yang saya rujuk sebelumnya.    

Dengan menyebut bahwa komik ini ada hubungan dengan sejarah, apakah kemudian kita bisa Harimau disebut sebagai dokumen sejarah tertulis? Rasanya tidak, dalam arti saya menduga bahwa Aji tidak berusaha untuk bekerja mencari fakta a la sejarawan, untuk kemudian menyodorkan kebenaran sejarah baru. Dengan kata lain, saya menduga Aji Prasetyo menambahkan perombakan di sana-sini atas dokumen sejarah (bukan demi menciptakan versi sejarahnya sendiri, melainkan – mungkin – untuk tujuan yang lebih sederhana: intrepretasi atas sejarah yang sudah dimapankan oleh sejumlah akademisi seperti Peter Carey, misalnya) yang dipunyainya, guna membuat narasi mengenai perang Jawa menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan dan misi pribadinya sebagai komikus yang pengin “menebak” apa sebetulnya motif Sentot Prawirodirjo ketika ia memutuskan menghentikan perang dan kemudian bergabung dengan militer Belanda sesudah perang usai.

Ikhtisar
Setengah Matang
Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.
  • Karna Mustaqim

    Saya sih membedakan kartun mas Aji yang ‘Hidup itu Indah’ adalah genre komik/kartun editorial, yang artinya termasuk dalam kartun2 yang mengomentari penggalan2 peristiwa tertentu.
    Sedangkan kartunnya yang ‘Harimau dari Madiun’ adalah genre komik/kartun kategori buku komik yang merupakan tafsiran bebas atas sesebuah sejarah.
    Bagian2 yang ‘hilang’ atau ‘baru ditemukan’ seringkali meninggalkan lubang tanda tanya yang menganga, dan medium komik/kartun punya ‘kebebasan’ bawaan yang memberikan kebebasan tafsir bagi siapa saja (yg bisa bikin komik) untuk membuat tafsiran pribadi dengan atau tanpa referensi ‘ilmiah’.
    Will Eisner dengan The Plot:The Secrets Story of the Protocols of the Elders of Zion, yang berusaha meluruskan sejarah pengkambing-hitaman rencana Zionis yg ditabalkan kepada setiap Yahudi, Larry Gonick the serial sejarah dalam bentuk kartunnya yg jenaka (tapi ada sadis2nya) mengambil tipe tafsir humoris terhadap perjalanan sejarah manusia, dan Eric Shanower seri Age of Bronze menafsirkan kisah legenda Yunani se-realistik mungkin. Ketiga contoh komikus ini menerapkan penelusuran bibliografi yang lumayan ketat (sehingga cenderung lebih ilmiah), namun potensi kebebasan dalam tafsir pada medium komik, membuat pertimbangan bahwa komik dapat dinyatakan valid sebagai ‘ilmiah’ dengan rujukan dan referensi yang ketat, masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat baca kita yang mayoritas melihat argumen dalam bentuk teks-teks buku lazimnny karya tulis lebih afdol, lebih valid, dan lebih di-akreditasi oleh lembaga pendidikan dan penelitian, ketimbang… media komik.

    • Yap, mas. Anda benar. Tapi izinkan kami menambahkan beberapa fakta kecil: dalam kasus komiknya Aji, sang komikus mengakui sendiri dalam diskusi 26 Juni lalu di IVAA, bahwa ada bagian di mana imajinasi pribadi pengarang menelusup di babakan tertentu.

      Sebagian memang tafsir/analisis bebas atas dokumen sejarah tertentu (misal dalam kasus Harimau Dari Madiun: kenapa Sentot memilih untuk berhenti berperang, yang sebabnya dirinci dengan mendetail oleh Aji), sebagian yang lain adalah reka yang murni fiksi (misal: kehadiran tokoh Kliwon dalam Harimau Dari Madiun).

      Di diskusi itu pula, Aji mengaku menggunakan karya dua orang yang dijadikan referensi, yakni pertama tiga buku Peter Carey tentang Diponegoro dan buku Saleh A Djamhari tentang Strategi Menjinakkan Diponegoro.

      Kemudian, Aji memang meriset beberapa hal untuk komiknya, namun yang perlu ditekankan – berdasarkan pendakuan Aji sendiri yang kami ceritakan di atas – Harimau Dari Madiun mendasarkan sumbernya pada “sumber sekunder”, yakni kebenaran sejarah yang ditulis oleh orang lain dengan metode yang khas keilmuan sejarah.

      Kliwon kemudian menjadi sebuah karakter yang menarik, oleh karena dia murni rekaan alias bagian fiktif yang memperkaya Harimau Dari Madiun – walau menurut beberapa orang komik tersebut menjadi kehilangan fokus penokohannya.