Komik 17+ dan Pertanyaan tentang Kedewasaan

Komik 17+ dan Pertanyaan tentang Kedewasaan

Oleh -
0 938
Cover Komik 17+

Tapi adalah sesuatu yang absurd sebenarnya, saat waktu itu studio menentukan bahwa komik yang bagus itu adalah suatu literary work, bukan komoditas yang bisa diserap publik sebanyak-banyaknya -terutama anak-anak. Tapi bagaimana itu nantinya supaya punya daya hidup?

Kalau anda sempat membaca nukilan dari Kharisma Jati tentang komik terbarunya, 17+, maka anda akan dengan mudah menemukan rangkaian kalimat seperti di atas. Konteks pada kutipan itu sebetulnya berkaitan dengan konteks masa lalu, di mana pada tahun 2005 Jati dan teman-temannya sempat mendirikan studio Woh dengan berbagai macam idealisme yang berseliweran di kepala para anggotanya. Nah, Studio Woh itu sendiri sekarang sudah mati, namun toh kenyataan ini tidak menghalangi kita untuk bertanya: bagaimana yang literary itu dihadirkan lewat komik tersebut? Komik 17+ pertama-tama bermaksud menyodorkan kepada pembacanya sebuah dunia remaja-anak sekolahan yang mulai memasuki fase menjadi dewasa.

Dunia yang diacu oleh 17+ menguak sebuah semesta sekuensial di mana literary work yang dimaksud oleh kutipan di atas berasosiasi secara bebas dengan inti cerita 17+, yang pada dasarnya berkutat di seputar bagaimana para tokoh cerita di dalamnya menemukan kedewasaan bepikir. Plot pada 17+ dihidupkan oleh keseharian Yudi serta tiga orang sahabat, Dewi, Tika, dan Nina. Ditambah dengan kehadiran Bimo, tokoh misterius yang agaknya dimaksudkan sebagai karakter yang sanggup menambah bobot cerita, 17+ membangun fondasi cerita mengenai kedewasaan dari kelima tokoh tersebut.

Komik 17+ ini memiliki cerita bergaya realis. Saya menyebutnya dengan cara demikian karena masing-masing tokoh pada komik ini sanggup mendeskripsikan perasaan, dilema hidup dan latar belakangnya dalam porsi yang cukup, dan dengan demikian menjadi meyakinkan secara realis. Ambilah satu contoh misal pada tokoh Nina yang pada satu babak dalam 17+ diceritakan mengalami dilema hidup oleh karena orang tuanya memaksanya menjadi seseorang yang tidak ia inginkan. Orang tua yang memaksakan keinginan mereka dan anak yang tidak berdaya serta tak memiliki pilihan lain kecuali menurut kepada orang tuanya.

Dari seorang anak SMA bernama Nina, saya dengan mudah menemukan konflik psikologis-individual yang bisa saja dekat dengan pengalaman pribadi masing-masing pembacanya. Tentang Nina ini saya juga penasaran. Bagaimana dia mengatasi dilema psikologis semacam itu. Apakah dia kemudian akan memilih untuk menantang orang tuanya dan memilih jalan hidupnya sendiri, atau dia akhirnya akan menuruti kemauan orang tuanya tanpa melakukan pemberontakan sedikit pun. Atau malah Jati takkan memberikan solusi apapun untuk rasa penasaran saya ini.

Tetapi mungkin ini menyebalkan. Dalam Komik 17+, alur cerita yang membawa pembacanya untuk menikmati konflik terkesan disembunyikan. Dalam arti konflik itu sendiri masih hadir dalam bentuk bibit. Konflik yang masih tersembunyi itu antara lain bisa kita lihat lagi pada tokoh Bimo yang dalam satu babakan sempat diceritakan membeli barang misterius dari seorang penjual misterius. Barang apa yang dibelinya dari penjual itu, dan apa fungsinya bagi keseluruhan alur penceritaan? Ini adalah dua pertanyaan yang jawabannya masih ditutup rapat oleh Jati. Pilihan Jati untuk menutup rapat pengembangan konflik dalam 17+ merupakan pilihan yang wajar, oleh karena komiknya sendiri memang direncanakan terbit dalam 3 jilid.

Jadi semua yang disajikan lewat jilid satu 17+ adalah hidangan pembuka, dan memang akan menjadi percuma seandainya semuanya diungkap sejak awal. Tetapi walau konflik masih tersembunyi rapat, komik 17+ setidaknya sanggup memancing rasa penasaran. Di permukaannya menjadi jelas pula bahwa lewat cerita yang bergaya Realis, Jati bermaksud menggunakan elemen dilema psikologis untuk memperkuat pengayaan pengalaman pada masing-masing tokoh.

Meski ulasan ini terkesan optimis, namun pembaca masih perlu menunggu 2 jilid lagi untuk menilai apakah  konflik psikologis yang sudah hadir secara samar-samar mampu menghidupkan cerita tentang masa peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa dengan cara yang mengasyikkan dan tidak membosankan.

Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.