Komik Brondoyudo Manyun Binangun: Jogja Siapa Yang Punya?

Komik Brondoyudo Manyun Binangun: Jogja Siapa Yang Punya?

Oleh -
0 121

Oleh: M Daniel Fahmi Rizal

Yogyakarta memang tak pernah habis menggambarkan keistimewaannya. Dalam berbagai media Jogja sering dihadirkan dengan ciri khasnya yang kuat. Budayanya, masyarakatnya, pemandangannya, tak bisa lepas dari kata “istimewa” yang selama ini disandangnya.

Pun dalam media komik. Sudah banyak komik menggambarkan latar cerita kota Jogja. Komikus lokal Jogja pun dengan bangga turut menumpahkan suasana kotanya dalam karya komik. Bentuk kecintaan mereka terhadap Jogja. Salah satu komik yang “memakai” Jogja adalah  “Brondoyudo Manyun Binangun” (Jogja in ComicYogyakarta: Urban Piktoral, 2006).

“Brondoyudo Manyun Binangun” mengambil Jogja sebagai latar ceritanya. Berceritakan tentang perselisihan dua buah kelompok masyarakat, cerita bermula dengan hadirnya dua kubu karakter. Kubu pertama diceritakan merupakan orang-orang mantan pengayuh becak di Malioboro. Kelompok yang lain merupakan orang-orang yang menguasai sudut lahan di Malioboro saat itu. Kedua kelompok tersebut berebut lahan di sebelah utara Malioboro. Kelompok kedua bersikeras bahwa itu tanah mereka. Kelompok pertama menganggap bahwa belasan tahun lalu mereka dijebak oleh kelompok kedua untuk memberikan lahan tersebut. Mereka ingin mengambil tanah itu kembali agar bisa kembali hidup dan bercengkrama dengan sastrawan dan seniman Malioboro. Tidak ada kompromi yang terjadi diantara kedua kubu. Bentrok fisik pecah. Kedua kubu saling serang. Masing-masing menghadirkan kekerasan untuk memenuhi kemauan masing-masing. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Tentu akan lebih menarik bila kita baca sendiri komiknya.

Menghadirkan unsur lokal khas Jogja, komik “Brondoyudo Manyun Binangun” dapat memberikan suasana masyarakat Jogja “pinggir jalan”. Orang-orang yang sering luput dari perhatian pemerintah tersebut memiliki cara tersendiri untuk memenuhi hajat hidupnya.

Karakter yang dihadirkan pada kedua kelompok menunjukkan bagaimana Jogja jadi milik semua orang. Tercatat tokoh dalam komik ini ada yang menggunakan dialek Banyumasan, dialek Madura, bahasa Ibu kota, dan lain sebagainya. Berbagai karakter tersebut hadir untuk bisa hidup di utara Malioboro. Betapa Jogja begitu dicintai masyarakat Indonesia.

Bukan apresiasi namanya jika tidak memberikan kritik dan masukan. “Brondoyudo Manyun Binangun” memang mampu menghadirkan multikultural dalam penggambaran karakter-karakternya. Namun pemakaian bahasa daerah pada karakter-karakternya bisa menimbulkan ketidakpahaman terhadap pembaca. Apalagi karakter yang dihadirkan tidak hanya dari satu daerah, bagi pembaca yang tidak jei dan berusaha mengerti akan terlewat begitu saja maksud dari beberapa panel yang memuat bahasa daerah tertentu.

Selain itu penggunaan gaya American cartoon pada komik ini akan menimbulkan kebingungan dalam meraba target pembaca. Sebagaimana kebanyakan komik dengan gaya American cartoon, target pembaca yang dituju adalah anak-anak atau paling tidak bisa dinikmati semua umur. “Brondoyudo Manyun Binangun” berbeda. Walaupun dia menggunakan gaya kartun, namun terdapat unsur kekerasan di dalamnya. Beberapa panel menunjukkan pertarungan fisik antara dua kubu. Bukti bahwa komik ini memiliki segmentasi khusus. Bukti lain terkait segmentasi komik ini adalah penggunaan bahasa dalam adegan perkelahian yang cenderung kasar. Memang terasa realis, karena karakter yang digambarkan adalah karakter jalanan. Namun dengan gaya kartun dan menggunakan bahasa “jalanan”, terlihat jelas bahwa komik ini tidak bisa begitu saja dinikmati anak-anak.

Terlepas dari semua itu komik ini bisa menjadi alternatif untuk kembali menikmati suasana  Jogja.  Karakter yang multikultur menunjukkan bagaimana Jogja bisa menjadi milik semua orang. Selain itu ending yang menggigit juga bisa menjadi tamparan bagi siapapun yang bertanggungjawab akan keistimewaan Jogja. Komik ini bisa menjadi bacaan ringan namun mengetuk hati bagi pecinta Jogja. Perubahan memang sebuah keniscayaan, dan justru keniscayaanlah yang menjadi alasan untuk tidak menghilang (atau menghilangkan?). Selamat membaca .