Komik Sebagai Medium untuk Mengeksplorasi Place

Komik Sebagai Medium untuk Mengeksplorasi Place

Oleh -
0 300
Gambar 2 - Warisan
Gambar 2

Catatan Editor: Di bawah ini adalah artikel yang ditulis oleh Shaun Houston yang berjudul Why is it Like That Here? Comics as a Medium for Exlporing our Varying Sense of Place dan ditayangkan di Popmatters.com pada 24 Februari 2013. Walau beberapa kata kunci terasa abstrak atau mungkin tidak dikenal sebagian pembaca Indonesia (sebagai misal, establishing panels, dan juga beberapa judul komik yang disebut di bawah), namun artikel ini dirasa penting untuk kami terjemahkan karena mengeksplorasi tema menarik yang berkaitan dengan kesadaran tempat dalam sebuah komik yang bisa memunculkan beragam pengalaman terutama dalam kaitannya dengan bagaimana seorang pembaca komik bisa sampai merasa bahwa tempat yang mereka lihat dari sebuah komik adalah real.

Artikel ini diterjemahkan oleh Hidayat. Gambar yang dipakai dalam artikel terjemahan ini sesuai dengan yang dipasang di artikel aslinya. Editor hanya melakukan perubahan tata letak gambar dan caption.

[hr]

Oleh: Shaun Houston

Salah satu kenikmatan ketika membaca komik sebagai seorang ahli geografi kultural adalah tarikan ke wilayah di mana kreator yang berbeda menghadapi pertanyaan tentang tempat (place). Tempat yang diatur sedemikian rupa di dalam buku bisa diperlakukan secara sederhana sebagai latar atau sebagai sesuatu yang sedemikian signifikan bagi tindakan karakter. Tempat bisa diciptakan atau nyata. Beberapa panil penuh dengan detil kontekstual, sementara yang lain mungkin tidak menyajikannya.

Variasi semacam ini tentu bisa ditemukan di media naratif lainnya, akan tetapi menurut saya hanya komik – karena digambar dengan tangan, karena menjadi produk dari sebagian kecil kreator dan karena dibatasi oleh anggaran penciptaan – yang memberikan seniman dan penulis sebuah jenis kebebasan unik untuk membuat dan merombak tempat untuk cerita mereka.

Salah satu komik yang sering saya gunakan untuk kelas pengantar Geografi Kultural adalah Local karya Brian Wood dan Ryan Kelly (Oni Press, 2008). Masing-masing nomor terbitan pada seri ini mengambil tempat di berbagai kota yang berbeda di Amerika Utara. Wood menulis dalam komentarnya untuk nomor terbitan pertama, bahwa “Local adalah sebuah seri cerita pendek tentang orang-orang dan tempat di mana mereka hidup.” Di antara “kampung halaman” yang diikutsertakan adalah Portland, Oregon, Park Slope, Brooklyn, dan Toronto, Ontario. Dia kemudian melanjutkan:

“Sekarang saya sedikit terobsesi dengan ide-ide mengenai lokasi dan kampung halaman … kehidupan berjalan dengan sangat berbeda ketika anda keluar dari pusat populasi utama, dan beberapa film terbaik yang telah saya tonton dan buku-buku yang telah saya baca mengambil tempat di lokasi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”

Sebagaimana Wood merasakannya, pilihan untuk berfokus pada kota dan lingkungan yang secara universal tidak dikenal memunculkan masalah tentang bagaimana merepresentasikan tempat-tempat tersebut dengan cara yang akan menarik hati pendatang baru maupun orang lokal: “Lokasi tidak bisa menjadi cerita. Masuk ke dalam detil-detil dari tempat spesifik memunculkan resiko mengalienasi siapa saja yang tidak hidup di sana. Cerita Local akan menjadi universal … Tetapi untuk orang lokal, ceritanya akan berisi penunjuk (landmark) dan acuan yang akan mudah dikenali secara cepat.”

Salah satu cara yang dipilih oleh Wood dan rekannya Ryan Kelly untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan “establishing panels” yang berfungsi sebagai jalan masuk ke sebuah tempat, menampilkan detil yang mungkin memberikan perasan berada “di sana” serta lokasi spesifik atau fitur yang tidak begitu berarti kecuali seseorang sudah terbiasa di sana.

Nomor terbitan kedua dari seri tersebut berlangssung di Minneapolis, Minnesota. Panil pembuka dan halaman menyajikan suasana dengan lanskap musim dingin, pohon meranggas, tiupan salju, serta akumulasi kendaraan, jalan-jalan dan trotoar; pendek kata, segala kualitas visual yang merujuk pada konteks tertentu cenderung masuk akal untuk sebagian besar pembaca dari Amerika Utara. Suasana yang dibangun juga menyajikan sebuah restoran Amerika-China bergaya klasik, the Red Dragon, dan toko minuman keras, Hum’s; keduanya terlihat otentik pada diri mereka sendiri, mulai dari bentuk khas sambungan, garis atap, sampai tipografi dan desain tanda-tanda spesifik.

Fitur-fitur seperti sudut jalanan, kaki langit, penunjuk, dan etalase yang disajikan dengan mendetil oleh Kelly memainkan peranan penting dalam membuat tempat-tempat pada Local tampak nyata, terlepas dari apapun bentuk pengalaman individual dengan kota yang mungkin muncul. Saya mungkin tidak akrab dengan Minneapolis, tetapi bentuk gambar terlihat dan terasa seperti tempat di mana saya bisa menemukan dan mengunjunginya. Jika saya akrab dengan kota tersebut, saya mungkin mengenalinya atau dengan mudah bisa menemukan apa yang saya lihat.

Sebuah teks lain yang sering saya gunakan adalah Persepolis karya Marjane Satrapi. Sama halnya seperti Local, Persepolis adalah sebuah buku yang menyoroti tempat, tetapi pendekatan Satrapi guna menunjukkan kota pada ceritanya sangat berbeda dengan karya Wood dan Kelly. Tidak seperti seni pada karya Kelly yang sangat padat dan penuh dengan detil, gambar Sartrapi bersih dan sederhana.

Rasa akan sebuah tempat yang disajikan di Persepolis lebih berkurang intensitas detilnya dan lebih banyak berasal dari penyesuaian diri pengarang dengan petanda lokasi-kulural. Daripada memfokuskan diri pada lanskap fisik atau membangun setting lingkungan, Sartrapi berfokus pada apa yang orang-orang lakukan di tempat-tempat berbeda guna membawa pembaca ke soal “di mana” dan “kapan”. Praktik-praktik macam ini termasuk: gaya berpakaian, gaya rambut, apa yang orang makan, bagaimana mereka menghabiskan waktu, dan norma apakah yang mereka ikuti, langgar, atau lawan. Dari serangkaian isyarat tersebut, anda akan selalu tahu apakah Marjane berada di Tehran atau Wina dan apa baginya arti berada di satu tempat dibandingkan tempat lain.

Persepolis
Diekstrak dari The Complete Persepolis. Sumber gambar: Popmatters

Baik Wood, Kelly dan Satrapi sama-sama peduli kepada representasi atas yang aktual, tempat-tempat manusia. Mereka menyajikan tantangan atas realisme, baik secara harafiah maupun dalam istilah yang cenderung dekat dengannya. Walau bebas dari kewajiban kepada “real”, kreator yang memiliki cerita yang mengambil tempat di dunia fiksional masih harus menyampaikan rasa-akan-lokasi dengan tepat.

Won Ton Soup
Diekstrak dari Won Ton Soup Vol 2 #1. Sumber gambar: Popmatters

Sebagai contoh pada buku Won Ton Soup (Oni Press, 2007 & 2009), James Stokoe menciptakan dunia dan latar yang secara visual kaya, menyampaikan sebuah rasa-akan-tempat yang seakan bisa diraba dan sebuah perasaan gamblang tentang perbedaan kultural di antara “di mana” pada sebuah halaman dan “di mana” pada diri pembaca. Berkebalikan dengannya, kota pada Powers (Marvel Icon, 2000-sekarang) karya Brian Michael Bendis dan Michael Avon Oeming lebih merupakan sebuah ide seram (a noirish idea) tentang sebuah metropolis daripada sebuah tempat yang mungkin anda kunjungi jika ia ada. Di sini kota adalah murni sebuah fiksi naratif, satu yang tidak perlu maupun tidak ingin dianggap sebagai nyata, namun diperlakukan sebagai seperangkat referensi untuk kota-kota fiktif lain dari film, televisi, novel kriminal, dan komik lain.

Bagi semua orang, tempat tidak pernah terlihat dan terasa serupa sepanjang waktu. Subjektivitas yang nyata pada komik membuat medium ini hampir sempurna untuk menjelajahi berbagai kesadaran tentang tempat; mulai dari blok kota anda mungkin hidup di dunia paling fantastis, yang bisa dibayangkan sebagai dunia yang bisa ditangkap kesadaran anda.

[highlight]Shaun Huston adalah seorang profesor di bidang Geografi dan Kajian Film di Western Oregon University, di mana ia mengajar Geografi Politik dan Kultural. Dia juga adalah pembuat film. Filmnya yang berjudul Comic Book City, Portland, Oregon, USA (2012) adalah sebuah film dokumenter tentang komunitas pencipta komik di Portland, Oregon [/highlight]

Editor Jurnal komik Online. Penulis buku Meledek Pesona Metropolitan (2013). Menghidupi hasrat sebagai kurator komik dan penulis musik (metal). Sisi samping: seni, organizer dan bahan bacaan.