Komik Indonesia di Era Baru?

Komik Indonesia di Era Baru?

Oleh -
0 132
History of Indonesia comics

Era 2010 dan seterusnya (setidaknya sampai catatan ini ditulis) dicatat oleh Imansyah Lubis – sebagaimana terlihat pada gambar di bawah – sebagai era di mana komik Indonesia berhasil bertahan hidup dari invasi komik terjemahan. Sekilas pandang, kenyataan ini hadir sebagai kabar yang menggembirakan. Menjamurnya terbitan komik (seorang teman pernah mencatat bahwa tahun 2013 menghasilkan sekitar 100-an judul komik), munculnya talenta-talenta baru, serta kecenderungan untuk bermain pada tema-tema yang belum pernah dijamah sebelumnya (misalnya bisa kita lihat pada contoh Enjah yang bermain di ceruk tema horor yang serius, seri kecil-kecil punya karya, The raid, dan lain sebagainya), menjadi sebuah indikasi awal mengenai naiknya kuantitas produksi komik.

Raise of new Era

Walau begitu, saya cenderung berpendapat bahwa apa yang terlihat di medan komik Indonesia saat ini sebetulnya baru mencapai tahap eksperimentasi. Bukan dalam arti visual, melainkan dalam arti industrial. Maksudnya apa yang tercatat di atas lebih mencerminkan situasi struktural penerbitan yang dibidangi oleh perusahaan penerbit tertentu dengan visi dan misinya masing-masing. Pada struktur tersebut, perluasan pasar dan percobaan tampaknya akan terus dilakukan demi mengakomodasi tema-tema yang “menarik”. Akan tetapi boleh dibilang – meski dalam generalisasi yang terburu-buru – bahwa gambaran umum dari apa yang bisa kita di tahun 2010 adalah medium komik itu sendiri (dengan kaidah bentuknya) masih diperlakukan semata sebagai hiburan.

Walau masih berada di taraf tersebut, bukan berarti komik-komik yang muncul kehilangan gregetnya. Paling tidak jika kamu melongok keluar struktur, masih terdapat komik (kebanyakan non-produk-cetak) yang bermain di tema-tema yang jarang disentuh (G30S dengan contoh Djinah – Years of Silence garapan Evans Poton), tema-tema yang diangkat dari sastra karya Pramoedya Ananta Toer (Redi Murti dengan Jurnal-nya), serta tema-tema simbolik yang penuh dengan metafor (Abdoel Semute dengan karyanya yang saya sendiri tidak tahu judulnya, namun salah satu petilannya bisa ditemukan di sini). Belum lagi bila kita memasukkan mereka yang setia dengan jalur komik fotokopi (seperti X-Go, komikus asal Surabaya) yang juga memiliki kekhasan tema tersendiri. Komik-komik yang berada di luar mainstream penerbitan dengan temanya yang berbeda dengan komik-komik mainstream ibarat kata merupakan sebuah pemanis di medan komik Indonesia era 2010-an. Jika kita melongok keluar, maka medan yang kita pijak sebetulnya sungguh sangat ramai.

*Teks oleh: MHadid. Gambar oleh: Imansyah Lubis